Jum'at, 17 Agustus 2018

Menguji Mesin PDIP dan Soekarnois di Pilgub Jatim 2018

Kamis, 18 Januari 2018 16:07:14 WIB
Reporter : Rahardi Soekarno J.
Menguji Mesin PDIP dan Soekarnois di Pilgub Jatim 2018

Soekarnois, kata keramat ini muncul kembali jelang Pilgub Jatim 2018. Nama besar Bung Karno dijadikan ikon kampanye guna meraih dukungan suara.

Pasangan cagub-cawagub Jatim dari koalisi PKB-PDIP-Gerindra-PKS, Saifullah Yusuf (Gus Ipul) adalah Puti Guntur Soekarno Putri, anggota DPR RI dari PDIP.

Puti adalah anak dari Guntur Soekarnoputra dan merupakan cucu Bung Karno. Puti menggantikan Abdullah Azwar Anas, pasangan Gus Ipul sebelumnya, yang mengundurkan diri dengan menyerahkan mandat ke DPP PDIP.

Iseng-iseng buka Google mencari arti Soekarnois dan Soekarnoisme, ternyata bermakna berbeda. Soekarnois artinya pengagum ajaran Bung Karno dan Soekarnoisme adalah sebagai pengikut paham dari Soekarno.

Dengan diturunkannya Puti Guntur Soekarnoputra, PDIP ingin 'mengirim pesan' kepada pengagum Bung Karno di Jatim untuk segera merapatkan barisan. Banteng-banteng tua dan muda merasa terpanggil untuk memenangkan pasangan Gus Ipul-Puti di Pilgub Jatim.

"Kami tidak ingin membandingkan Mas Anas dengan Mbak Puti Soekarno. Keduanya sama-sama punya kelebihan dan kekurangan. Tapi dengan diturunkannya Mbak Puti ke Jatim, kaum Nasionalis, Soekarnois dan Marhaenis di Jatim akan bersatu. Jualan Mbak Puti lebih mudah di kader PDIP dan kawasan Mataraman. Merahnya lebih jelas dan trah Soekarno," ujar salah seorang pengurus PA GMNI Jatim yang juga kader PDIP.

Seorang pejabat saat berdiskusi dengan beritajatim.com berani menegaskan, jika pasangan Gus Ipul-Mas Anas yang diturunkan melawan Khofifah-Emil, kemungkinan kalah sangat besar. Tapi ketika Puti Guntur Soekarno yang diturunkan, masih ada kemungkinan menang sangat besar.

"Kemarin saya bilang kalah, jika ada yang tanya bagaimana Gus Ipul-Anas melawan Khofifah-Emil. Saya sekarang berani bilang Gus Ipul-Puti mungkin menang, peluangnya menang sangat besar," tukasnya.

Pengamat ekonomi dan politik Jatim, Basa Alim Tualeka menjelaskan, pihaknya memprediksi Gus Ipul-Puti Soekarno akan menjadi lawan berat dan seimbang bagi Khofifah-Emil.

Basis PDIP di kawasan Mataraman dan Arek akan menjadi solid dengan diturunkannya trah Soekarno. "Kalau pasangan Gus Ipul-Puti yang menang, berarti Soekarnois dan Soekarnoisme di Jatim mengalahkan kekuatan figur seperti Khofifah dan Emil. Tapi jika kalah, artinya aliran atau isme di Jatim tak berlaku lagi dan lebih melihat figur atau kinerja," tuturnya.

Basa Alim adalah pendukung pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (Karsa) pada Pilgub Jatim 2008. Pada Pilgub Jatim 2013, mantan Bakal Calon Walikota Surabaya yang ikut penjaringan di Demokrat ini berpindah mendukung pasangan Khofifah-Herman S Sumawiredja (Berkah). Pilgub kali ini mendukung siapa?

"Saya belum memutuskan mendukung siapa. Saya akan sholat istikharah dulu. Pada saatnya nanti, saya pasti akan menentukan pilihan. Hingga hari ini, baik Gus Ipul dan Khofifah terus berkomunikasi dengan saya," katanya.

Untuk diketahui, pilgub Jatim 2018 menjadi menarik ketika Khofifah yang sebelumnya menjabat Mensos (sekarang diganti Idrus Marham) dan Ketua Umum PP Muslimat NU, kembali turun gelanggang kali ketiga untuk bertarung menghadapi Wagub Jatim Gus Ipul.

Jika mencermati hasil Pilgub Jatim 2008 dan 2013 terlihat fakta sangat menarik. Ini karena Pakde Karwo berhasil memenangkan pertarungan melawan rival terkuatnya, Khofifah Indar Parawansa, sebanyak dua kali pilgub.

Dan dua-duanya juga harus melewati mekanisme gugatan perselisihan hasil suara di Mahkamah Konstitusi (MK).

Pilgub terakhir yakni pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur untuk periode 2014-2019 digelar pada 29 Agustus 2013 lalu.

Istilah 'El Clasico' menjadi sebutan banyak pengamat yang memprediksi bahwa pertarungan politik di Pilgub Jatim 2013 merupakan tanding ulang Pilgub 2008 sebelumnya. Rupanya ramalan ini menjadi sebuah kenyataan yang tak terelakkan.

Seperti halnya Pilgub 2008 yang harus berakhir di MK, Pilgub 2013 juga harus berakhir di tangan MK. MK mulai membuka acara pembacaan putusan untuk sengketa Pilgub Jatim pada Senin, 7 Oktober 2013 pukul 16.00 WIB. Sebagai pemohon adalah pasangan Khofifah Indar Parawansa-Herman S Sumawiredja (Berkah) dengan kuasa pemohon Otto Hasibuan. Dengan acara sidang pengucapan putusan. Nomor perkaranya adalah nomor 117/PHPU.D-XI/2013. Sebagai termohon adalah KPU Jatim dan termohon terkait pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (Karsa).

Hasilnya, MK menolak seluruhnya permohonan penggugat Berkah. Dan, artinya menguatkan kemenangan Karsa yang telah ditetapkan melalui rekapitulasi KPU Jatim. Ini adalah kemenangan KarSa untuk kali kedua melawan Khofifah sejak Pilgub 2008.

KPU Jatim, melaui Surat Keputusan bernomor 24/KPTS/KPU-Prov-014/2013, memastikan pasangan petahana Soekarwo-Saifullah Yusuf, sebagai pemenang pemilukada Jatim, periode 2014-2019.

Pada Pilgub 2013, pasangan Karsa yang diusung Partai Demokrat dan didukung 31 partai politik (parpol) parlemen dan nonparlemen, berdasarkan hasil rekapitulasi KPU Jatim, memperoleh 8.195.816 suara atau 47,25 persen.

Peringkat kedua diraih Berkah diusung PKB dan didukung beberapa parpol non parlemen meraih suara 6.525.015 suara atau 37,62 persen.

Pasangan 'merah' Bambang DH-Said Abdullah diusung PDIP, berada di urutan ketiga hanya mengumpulkan 2.200.069 suara atau 12,69 persen.

Sedang pasangan Eggi Sudjana-M Sihat (Beres) dari jalur perseorangan mendapat 422.932 suara atau 2,44 persen.

Dalam coblosan yang dilaksanakan, Kamis (29/8/2013), Karsa berhasil unggul di 26 dari 38 kabupaten/kota di Jatim.

Ke-26 daerah tersebut, masing-masing Bojonegoro, Kota Mojokerto, Bangkalan, Sampang, Nganjuk, Jombang, Ngawi, Surabaya, Kabupaten Pasuruan, Kota Pasuruan, Magetan, Kota Probolinggo, Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, Kabupaten Kediri, Kota Kediri, Kota Blitar, Batu, Bondowoso, Situbondo, Kabupaten Madiun, Kota Madiun, Tulungagung, Kota Malang dan Lumajang.

Sedangkan Berkah unggul di 12 daerah, masing-masing Gresik, Pamekasan, Tuban, Lamongan, Kabupaten Mojokerto, Sumenep, Sidoarjo, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Blitar, Kabupaten Malang, Jember dan Banyuwangi.

Sedangkan pilgub 2008, putaran pertama pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (Karsa) berada pada posisi teratas dengan 26,44 persen suara.

Khofifah Indar Parawansa-Mudjiono (Kaji) di posisi kedua dengan 24,82 persen suara, Sutjipto-Ridwan Hisjam (SR) di posisi ketiga dengan 21,19 persen suara, Soenarjo-Ali Maschan Moesa (Salam) di posisi keempat dengan 19,34 persen suara, dan Achmadi-Suhartono (Achsan) di posisi kelima dengan 8,21 persen suara.

Dengan komposisi perolehan suara seperti itu, Pilgub Jatim harus dilaksanakan dua putaran, yang diikuti oleh Karsa dan Kaji. Putaran kedua pilgub yang dilaksanakan tanggal 4 November 2008.

Hal tersebut ditunjukkan dengan meningkatnya suara pasangan Khofifah Indar Parawansa-Mudjiono (Kaji) pada putaran kedua, setelah PDIP bergabung dan menyokong Khofifah, suara antarkeduanya tidak terpaut jauh.

Hasil rekapitulasi 38 KPU kabupaten/kota menunjukkan bahwa pasangan Kaji mendapatkan suara 49,8 persen dan Soekarwo-Saifullah Yusuf (Karsa) 50,2 persen. Kaji menang di 16 kabupaten/kota dan Karsa menang di 22 kabupaten/kota. Ini berarti Karsa menang 0,4 persen.

Sementara hasil penghitungan manual KPU Jawa Timur, pasangan Karsa mendapat 7.729.944 suara atau 50,20 persen, dan pasangan Kaji mendapat 7.669.721 suara atau 49,80 persen. Perolehan hanya selisih 60.223 suara atau 0,4 persen, dan 506.343 suara dinyatakan sebagai tidak sah.

Hasil inilah yang lantas menuai protes tim Kaji dengan mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK). Sampai akhirnya MK mengabulkan gugatan dengan menggelar pemilihan ulang di Bangkalan dan Sampang, Madura, serta hitung ulang di Pamekasan. Hanya saja, hasil pemilihan dan hitung ulang tetap memenangkan pasangan Karsa atas Kaji.

PDIP dan PKB yang mendukung pasangan Gus Ipul-Puti Guntur Soekarno di Pilgub Jatim 2018, jika dilihat fakta politik sebelumnya, memang masih belum beruntung pada Pilgub Jatim 2008 dan 2013. PDIP ketika itu mengusung Sutjipto-Ridwan Hisjam dan Bambang DH-Said Abdullah. Sedangkan, PKB mengusung Achmadi-Suhartono dan Khofifah-Herman.

Pada Pilgub Jatim 2018, PDIP dan PKB bersatu ditambah kekuatan Gerindra-PKS mendukung Gus Ipul-Puti. Apakah koalisi ini akan menang? Wallahualam. Jika menang, PDIP dan PKB akan mencetak sejarah dan mematahkan kekalahan di 2008 dan 2013. Semoga! [tok/air]

Penulis adalah wartawan bidang politik-pemerintahan beritajatim.com

Tag : politik

Komentar

?>