Senin, 22 Oktober 2018

Puisi adalah Kompleksitas

Senin, 15 Januari 2018 01:25:26 WIB
Reporter : Ribut Wijoto
Puisi adalah Kompleksitas

PUISI adalah kompleksitas. Puisi tidak berpretensi untuk mereduksi dunia hanya pada aspek kesedihan, kekalutan, cinta berahi, keterasingan. Puisi membaurkan segala aspek. Merenggut kekinian, kesilaman, mengaplikasi utopia, mengaburkan janji, dan merasuki mimpi. Kompleksitas, inilah kemungkinan terakhir dari kepenyairan Indonesia.

Sejak mula penciptaan puisi modern Indonesia, para penyair senantiasa mereduksi dunia. Memang, mereduksi dunia berawal dari kenyataan bahwa menyajikan dunia utuh adalah kemustahilan. Apalagi puisi, ruang beberapa bait yang kerap mengimpikan adanya minimalitas kata, efisiensi pengucapan.

Lacur yang terjadi, mereduksi dunia menjadi pilihan paling rasional. Muncul deretan puisi yang hanya berkonsentrasi tema cinta, puisi-puisi berreligius, puisi kepahlawanan, pun juga puisi yang berkutat dengan ideologi politik.

Namun begitu, kerja reduksionis bukanlah kerja sia-sia. Mereduksi dunia yang sekaligus memetaforkan, sama artinya dengan membedah satu ekor kelinci untuk tujuan mengetahui struktur universal organ tubuh seluruh kelinci. Ia semacam perwakilan. Lewat satu peristiwa cinta, puisi mampu mempresentasikan sepi, sedih, keinginan mengakhiri hidup, kejantanan, narcisus, berahi.

Sejarah kepenyairan kita membuktikan tesis sihir minimalis ini. Lihatlah puisi berjudul “Dada” dari Afrizal Malna. Sehari. Waktu sama sekali tak ada, dada. Bumi terbaring dalam tangan yang tidur, dada. Ingin jadi manusia terbakar dalam mimpi, dada.

Hanya lewat beberapa baris yang berpusatkan pada kata “dada”, Afrizal mampu merengkuh bermacam-macam tema. Tidak hanya aneka tema, Afrizal sekaligus mampu mendedahkan sikap subyektif atas tema. Di penggalan puisi “Dada”, Afrizal memaparkan keterasingan manusia oleh sebab kemajuan peradaban. Percepatan waktu yang dikelola oleh peradaban jauh meninggalkan dimensi waktu pada individu manusia. Peradaban bergerak melampaui langkah-langkah kaki manusia. Alhasil, manusia menjadi kehilangan waktu. Pengelolaan waktu oleh manusia menjadi tidak aktual. Keterasingan. Waktu aktual manusia hanya menggelibat dalam wilayah mimpi.

Di puisi “Dada”, Afrizal merambahi tema kemajuan peradaban, konsepsi tentang waktu, keterasingan, dan mimpi. Tema-tema ini bisa diperlebar dengan mengaitkan puisi “Dada” dengan gerakan Dadaisme di Eropa. Kata “dada” juga bisa dipahami sebagai “lambaian tangan” ataupun “organ tubuh yang berkonotatif dengan perasaan”. Artinya, ketika Afrizal mereduksi dunia melalui metafor “dada”, ia telah berusaha merebut kompleksitas problem dunia.

Sebelum reduksionitas model Afrizal Malna, kepenyairan Indonesia mencatatkan nama-nama gemilang. Ada reduksionis model penyair Amir Hamzah, penyair Chairil Anwar, penyair Sutardji.

Hanya saja, meski mencatatkan kegemilangan, ada satu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri: reduksionitas tetaplah bukan kompleksitas. Kejernihan tradisi puitik Melayu yang diusung oleh Amir Hamzah hanya mampu berkutat pada dua wilayah tema, cinta lelaki-wanita dan cinta pada Tuhan. Pembicaraan para kritikus terhadap puisi Amir Hamzah pun hanya berputar-putar pada dua tema tersebut.

Sedangkan Chairil Anwar, puisinya bergerak lebih lebar. Puisi-puisi Chairil memiliki tiga tema pokok: kerasnya paham individualis, tragiknya hubungan lelaki-perempuan, dan kepahlawanan di masa perang kemerdekaan.

Adapun Sutardji hanya memaksimalkan tema keterasingan dan tema keinginan bersatu dengan Tuhan.

Kepenyairan Afrizal pun lebih terfokus pada usaha merepresentasikan keterasingan manusia akibat kemajuan peradaban. Sungguh, keempat penyair gemilang Indonesia tersebut tetap bertumpu pada model kompleksitas yang reduksionis.

Selain makai tema bermodel reduksionis, keempat penyair juga melakukan reduksi model bahasa puitik.

Amir Hamzah memaksimalkan tradisi puitik Melayu untuk menciptakan bahasa puitik baru. Hasilnya bangunan puisi dengan keketatan rima, irama, dan lirisitas berbasis Melayu. Ia semacam rayuan: Angin pulang menyejuk bumi. Menepuk teluk menghempas emas. Lari ke gunung memuncak sunyi. Berayun-alun di atas alas.

Chairil Anwar berangkat dari puncak pencapaian Amir Hamzah. Meski begitu, Chairil menampilkan sikap amat berbeda. Kepenyairan Chairil ditujukan pada konsepsi “menonjok pada pokok” dan “menembus tulang sebagai rontgen”. Agar tegas berbeda dengan pendahulunya, Chairil menyatakan, “kami tidak ingat kepada me-lap-lap hasil kebudayaan lama sampai berkilat dan untuk dibanggakan”.  Chairil pun berseru: Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani. Sedang kepada cermin aku enggan berbagi.

Berbeda lagi dengan Sutardji, penyair berdarah Riau ini merebakkan tradisi mantra. Kata-kata diolah-mainkan agar mencapai orisinalitas magis. Bahkan, Sutardji sering keluar dari makna. Lihatlah puisinya: dukaku dukakau dukarisau dukakalian dukaangiau. resahku resahkau resahrisau resahbalau resahkalian. oku okau okosong orindu okalian obolong orisau oKau O….

Adapun Afrizal, penyair produk masa milenia ini memaksimalkan idiom-idiom produk teknologi. Kata-kata yang semula hanya mendiami wacana ilmu pengetahuan, bisa hilir mudik memasuki puisi Afrizal. Lihatlah: Sitti menghisap tradisi dan kolonialisme penuh sepatu di situ.

Amir Hamzah, Chairil Anwar, Sutardji, Afrizal Malna gemilang dengan pilihan tema dan pola puitik reduksionis. Soalnya, seperti kata Sapardi Djoko Damono, hidup kerap menuntut lebih kepada penyair, kepada puisi.

Penyair dituntut memberikan bimbingan bagi pembaca, memberikan wejangan dan nasehat. Penyair juga ditantang melancarkan protes terhadap ketimpangan sosial, menulis puisi yang membantu kaum tertindas dan menegakkan keadilan. Penyair juga diharapkan mengungkapkan keajaiban dan keindahan yang tersembunyi dalam kehidupan bathin manusia. Ia pun mungkin saja dikira mendapat ilham untuk menyebarluaskan sabda Allah. Bahkan sama sekali tidak mengherankan jika penyair disuruh hanya bermain kata.

Melihat bejubelnya tuntutan, model puisi reduksionis nyata-nyata tidak mencukupi.

Pada kenyataan ketidakcukupan puisi, pada akhir model reduksionis, terhampar lahan bagi kepenyairan baru. Kepenyairan yang memiliki kecenderungan kuat untuk mencapai kemutlakan kompleksitas puitik.

Puisi tampil tidak hanya dengan satu atau dua aspek kehidupan. Puisi hadir dalam keseluruhan. Ia tidak berpretensi untuk mereduksi dunia hanya pada aspek kesedihan, kekalutan, cinta berahi, keterasingan.

Puisi membaurkan segala aspek. Merenggut kekinian, kesilaman, mengaplikasi utopia, mengaburkan janji, dan merasuki mimpi. Ia berusaha menduplikasi hidup. Membuat kembaran atas dunia. [but]

Tag : seni

Komentar

?>