Minggu, 21 Januari 2018

Moneyball, Politik, dan Seperti Restoran

Jum'at, 12 Januari 2018 13:35:18 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Moneyball, Politik, dan Seperti Restoran
Sumber foto: www.phoenixcg.com

Mengapa politik menarik, bahkan bagi mereka yang semula membencinya? Pertama, mungkin, karena di sana ada urusan menang dan kalah. Kita harus meraba opsi-opsi tentang kemungkinan seseorang yang kita sukai untuk menjadi pemimpin memenangkan kontestasi.

Sosok ideal tentang seorang pemimpin tak akan ada harganya jika tidak memenangkan pertarungan memikat pemilih di bilik suara.

Kedua, mencari sosok yang ideal itu pun juga menjadi perkara lain yang tak mudah disimpulkan. Terlalu banyak variabel, terlalu banyak faktor untuk menentukan dan menyebut seseorang menjadi sosok ideal untuk didukung dan dicalonkan dalam kontestasi politik elektoral.

Itulah yang kemudian membuat politik jadi terasa menggairahkan: karena kita tidak tahu pasti apa yang akan terjadi. Kita bisa melakukan saintifikasi atau membuat kalkulasi matematis. Namun dalam politik, adagium kuno 'satu tambah satu tak selalu menghasilkan angka dua' masih berlaku. Ini yang terjadi setelah mundurnya Abdullah Azwar Anas dari pencalonan wakil gubernur Jatim.

Siapa pengganti Anas? Pertanyaan ini mengasyikkan. Kita menebak tentang beberapa kemungkinan jawaban. Kadang berbau konspirasi, karena kita tahu bahwa politik adalah persekutuan, juga persekongkolan.

Sayangnya, sebagaimana laiknya persoalan politik lain di negeri ini, pertanyaan dan jawaban tentang hal itu tak lagi menjadi milik publik. Politik dikotakkan menjadi persoalan orang per orang, individual elite, dan ini berarti hanya urusan perebutan posisi dan kuasa. Penentuan nama-nama berada di tangan sejumlah orang yang bisa dihitung dengan jari.

Kali ini ini publik diibaratkan hanyalah penonton drama atau film yang memiliki banyak sutradara dan aktor. Atau bahkan mungkin kita tak tahu pasti mana sutradara, mana aktor utama, mana hanya figuran.

Publik masih belum masuk dalam benak para elite politik, kecuali keluar begitu saja dalam bibir mereka saat berpidato atau ditanya wartawan. Publik baru bermakna ketika sudah dikuantifikasi menjadi angka jumlah pemilih yang berhak masuk ke bilik suara untuk mencoblos.

Dalam politik, persepsi adalah segalanya. Dan Brown mengingatkan kembali teori dasar politik ini dalam novelnya Origin. Novel yang bercerita tentang konspirasi dan soal apa yang tampak dan dikatakan di depan mata tak selamanya sebagaimana terlihat.

Tapi di situlah kemudian persoalan politik di Indonesia: semua menganggap persepsi dibangun dalam jangka pendek dengan melupakan memori dan rekam jejak jangka panjang.

Dalam soal persepsi dan rekam jejak ini, mungkin kita perlu belajar dari konsep Moneyball. Konsep ini ditemukan dan dipopulerkan di cabang olahraga baseball oleh Billy Beane, seorang general manager di klub Oakland A's, yang kemudian juga digunakan masif di sepak bola.

Ia mengubah cara pandang banyak orang tentang pencarian pemain berbakat. Sebelum Moneyball ditemukan, para pemandu bakat klub mencari pemain-pemain muda berdasarkan penilaian kasat mata dengan menggunakan sejumlah kriteria teknis.

Hasilnya tak selalu akurat. Beane pernah merasakannya saat menjadi pemain. Pencari bakat mengetuk pintu rumahnya dan menyodorkan tawaran menjadi pemain baseball profesional. Beane bimbang. Ia mencintai baseball, namun sudah mendapatkan tawaran untuk kuliah di salah satu perguruan tinggi. Kuliah atau jadi atlet profesional. Dua-duanya membutuhkan dedikasi, tidak bisa dikerjakan rangkap.

Beane akhirnya memilih menjadi atlet baseball, dan gagal. Semua penilaian para pemandu bakat ternyata mentah, saat ia harus benar-benar berkompetisi. Beane undur diri, dan memilih mengurusi manajemen, termasuk mencari pemain-pemain yang dianggap remeh oleh para pencari bakat.

Dia menggunakan statistik dan rekam jejak pemain tersebut dan menemukan fakta bahwa pemain yang diremehkan tak selalu sejelek anggapan para pemburu bakat. Beane menunjukkan jelek atau baik hanya masalah persepsi para pencari bakat. Rekam jejak yang tercatat detail adalah kunci mengubah persepsi.

Politik di Indonesia dalam satu dekade terakhir secara intensif sudah menggunakan pendekatan saintifik melalui jajak pendapat maupun survei untuk mengukur popularitas dan elektabilitas partai maupun politisi.

Polling dan survei ini bukannya tak punya kelemahan: mereka hanya mengukur persepsi publik terhadap aktor politik, terhadap nama-nama yang dimunculkan penyurvei. Dalam politik elektoral, jika seorang kandidat tak memiliki elektabilitas dan popularitas yang bagus dalam survei, itu pertanda tak perlu repot-repot melanjutkan proses pemilihan.

Namun ada kalanya survei hanya pembacaan awal. Persepsi publik coba diperbaiki dengan gelontoran kampanye jika ternyata di luar harapan.

Publik diperlakukan seperti pencari bakat massal. Mereka disodori sejumlah nama dan diminta menentukan mana yang terbaik untuk menjadi pemimpin. Di sinilah cacat itu muncul: bagaimana mungkin publik tahu seseorang benar-benar pilihan terbaik atau bukan.

Mereka hanya mendasarkan diri pada persepsi yang dibentuk media massa maupun gosip di media sosial. Sebagaimana pemandu bakat di baseball yang bikin Beane jengah, publik hanya melihat apa yang kasat mata dan tampak di permukaan, apa yang terjadi saat ini, dalam momentum kekinian.

Maka ketika Puti Guntur Soekarno muncul sebagai kandidat wakil gubernur pendamping Saifullah Yusuf dalam pemilihan gubernur Jawa Timur, mendadak nama cucu Presiden Soekarno itu menjadi kata kunci yang banyak dicari di Google. Siapa dia? Berapa usianya? Apa zodiaknya? Apa pekerjaannya? Apa latar belakangnya? Siapa ayahnya? Siapa suaminya? Berapa jumlah anaknya? Orang mencoba merangkai informasi layaknya puzzle. Orang membutuhkan rekam jejak, cerita masa lalu, catatan masa silam.

Politik memang tak bisa sepenuhnya diperlakukan seperti baseball dan sepak bola. Namun rekam jejak yang tercatat rapi tak bisa berbohong soal kualitas atlet maupun politisi. Dengan Moneyball, Beane menolak pasrah terhadap persepsi dan opini para pancari bakat. Demikian halnya (seharusnya) partai politik.

Partai politik memiliki tanggung jawab moral untuk menjawab keingintahuan publik dan memberikan penjelasan meyakinkan tentang sosok kandidat yang disodorkan menjadi pemimpin negara. Itulah seharusnya kenapa partai memiliki rekam jejak kuat terhadap seorang politisi yang terjun dalam sebuah pemilihan. Tak hanya berdasarkan sejarah lisan atau getok tular, tapi juga data dan statistik kuat, mengenai sang politisi sejak muda, bahkan sebelum dia memasuki arena politik.

Saya selalu membayangkan ada bank data yang menyimpan, katakanlah, akumulasi berapa kali sang kandidat membolos atau tidak naik kelas, maupun mungkin hasil tes psikologinya di sekolah.

Selama berada di birokrasi (kalau kandidat yang hendak dicalonkan adalah birokrat), berapa kali institusinya masuk dalam catatan buruk audit Badan Pemeriksa Keuangan. Selama menjadi pengusaha, berapa kali kandidat itu berutang di bank, bagaimana kondisi usahanya, berapa kali bangkrut, berapa hutangnya, dan semacamnya.

Rumit memang. Namun rekam jejak menjadi penting, karena kita semua meyakini bahwa manusia tak sekali jadi dan terbentuk oleh proses pengalaman sepanjang hidupnya. Tugas partai politik adalah mencari tahu, menelisik hingga gorong-gorong atau lubang terkecil, mengungkap tidak saja yang terang namun juga kelam dari seorang sosok kandidat pemimpin. Negara membutuhkan seseorang dengan standar tinggi, bukan semenjana.

Tak ada yang mengingkari, sebagaimana klub sepak bola, partai politik membutuhkan kemenangan dalam kompetisi, yang sayangnya tak selalu dicapai dengan mengedepankan kualitas kandidat. Persepsi di atas rekam jejak kualitas. Namun sebagaimana sepak bola juga, kecerobohan penentuan kandidat dalam politik elektoral hanya akan merugikan partai dalam jangka panjang saat berkuasa.

Presiden Florentino Perez dengan serampangan pernah menghina Claude Makalele sebagai pemain yang hanya bisa mengoper ke samping dan tak bisa menggocek bola. Kontrak Makalele diakhiri dan pindah ke Chelsea. Madrid jeblok, Chelsea berjaya.

Perez hanya melihat apa yang kasat mata dan diolah menjadi persepsi. Yang tidak dibacanya adalah: statistik dan rekam jejak taktik permainan menunjukkan Makalele memiliki peran untuk menjadi perusak permainan lawan dengan memangkas aliran bola yang menyerbut zona pertahanan Madrid. Hanya dia yang bisa. Bukan superstar seperti Zinedine Zidane.

Partai politik ada kalanya seperti sebuah klub sepak bola. Ia tak selalu membutuhkan superstar untuk menjadi juara dalam menjalankan pemerintahan. Superstar tak selalu cocok untuk mengelola kekuasaan negara, sebagaimana Mario Balotelli yang tak cocok dipasang sebagai ujung tombak klub Liverpool. Superstar adalah persepsi yang dibentuk (sebagian besar) oleh pers dan tak selamanya terkait dengan urusan kualitas menyeluruh yang terbaca dari rekam jejak historis.

Partai politik ibarat restoran yang menyajikan menu makanan berkualitas untuk rakyat yang menjadi pelanggan. Celakalah sebuah restoran yang lebih memperturutkan persepsi dan minat pelanggan terhadap cita rasa sebuah makanan, tanpa memperhatikan kualitasnya.

Politik adalah urusan rekam jejak: moral maupun intelektual. Kita sering abai. Mungkin itulah kenapa demokrasi kita selalu tersandung persoalan yang sama, dan partai politik mengulangi siklus kegagalan menghadirkan sosok pemimpin yang berkualitas dan amanah. Kita memasuki bilik suara dengan penuh harap, namun mengakhirinya dengan kekecewaan selama lima tahun. [wir/air]

Sumber foto: www.phoenixcg.com

Tag : politik

Komentar

?>