Selasa, 17 Juli 2018

Kasus Azwar Anas, Siapa Paling Diuntungkan?

Selasa, 09 Januari 2018 01:33:00 WIB
Reporter : Ribut Wijoto
Kasus Azwar Anas, Siapa Paling Diuntungkan?

PERHELATAN PEMILIHAN GUBERNUR Jawa Timur (Pilgub Jatim) 2018 yang dalam beberapa bulan atau satu tahun terakhir berjalan landai tiba-tiba mendapatkan goncangan. Seminggu ini, ruang politik di media massa formal maupun media sosial dikejutkan oleh beredarnya foto-foto syur mirip Bupati Banyuwangi sekaligus kandidat Calon Wakil Gubernur Abdullah Azwar Anas.

Pro kontra merebak. Anas akhirnya memilih mundur alias mengembalikan mandat dukungan dari Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan. Kepala daerah sarat prestasi nasional dan internasional itu mengaku menjadi korban pembunuhan karakter. Dan atas saran para kiai serta menjaga kepentingan lebih luas, Anas batal melanjutkan pentahapan Pilgub menjelang hari-hari pendaftaran ke KPUD. Meninggalkan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) tanpa pendamping.

Menjadi ranah aparat kepolisian untuk mencari orang yang pertama kali menyebar foto-foto syur mirip Anas. Tapi ada satu ihwal yang menarik dan patut dicermati: Siapakah pihak yang paling diuntungkan dari kasus Anas?

Beberapa orang memahami, politik adalah seni mendapatkan dan merawat kekuasaan. Ibarat musik, warna suara penyanyinya kadang lembut seperti keroncong. Kadang dinamis plus penuh improvisasi seperti jazz. Kadang menghentak-hentak seperti warna vokal grindcore. Artinya, banyak cara yang bisa ditempuh untuk mendapatkan kekuasaan. Dan dalam kasus Anas, hentakannya luar biasa keras. Anas pun terancam terpental.

Sebagai mantan mahasiswa FISIP (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik), saya pernah diajari bahwa dalam setiap kecelakaan politik –entah sengaja entah kebetulan-  ada pihak-pihak yang diuntungkan. Bisa lembaga bisa pula perseorangan.

Secara kelembagaan, PDI Perjuangan sebenarnya berada pada posisi dirugikan sekaligus diuntungkan. Dirugikan karena pernyataan dukungan terhadap Anas yang disampaikan Ketua Umum PDI Perjungan Megawati bukan melalui proses instan. Tahapan-tahapan berliku telah ditempuh. Ketika telah terpilih pun, partai berlambang kepala kerbau bermoncong putih ini mengeluarkan energi besar untuk menghidupkan mesin partai. Upaya untuk nyosialisasikan sosok Anas ke khalayak riuh maupun ke simpatisan dan kader internal. PDI Perjungan dituntut bekerja sangat keras karena telah 2 periode Pilgub dikalahkan oleh calon dari Partai Demokrat. Tiba-tiba pentahapan itu runtuh oleh munculnya foto syur.

Di sisi lain, PDI Perjuangan sebenarnya juga diuntungkan. Kasus Anas meledak beberapa hari menjelang pendaftaran. Walau sangat mepet, PDI Perjuangan memiliki waktu untuk mengganti kandidat yang bakal diusung dalam Pilgub Jatim 2018. Sosok yang lebih tepat sebagai pendamping Gus Ipul.

Coba jika kasus Anas meledak setelah proses pendaftaran? Tidak ada waktu lagi untuk mengubah kandidat. Kasus berbau pornografi itu bisa saja menyembur ke segala arah dan energi PDI Perjuangan terkuras banyak sehingga tidak maksimal dalam menjalankan strategi pemenangan pilkada. Sama seperti yang menimpa Ahok (Basuki Tjahaja Purnama) pada Pilgub DKI Jakarta tahun lalu. Dimana kasus penistaan agamanya muncul setelah proses pendaftaran. Sebuah kasus yang sama sekali tidak diduga oleh tim pemenangan, termasuk PDI Perjuangan. Ahok yang semula selalu memuncaki survei akhirnya harus mengakui keunggulan Anies Baswedan.

Kali ini, PDI Perjuangan diuntungkan karena memiliki waktu untuk mempertimbangkan kembali dukungan terhadap Azwar Anas. PDI Perjuangan seakan diingatkan oleh sang penyebar foto syur  bahwa Anas bukan semata kepala daerah sarat prestasi. Anas juga berpotensi jadi ‘kartu mati’ karena bila terbukti foto-foto syur itu memang benar dirinya maka banyak kalangan bakal mencap Anas sebagai tokoh berkopyah hitam namun bertindak asusila.

Perlu dicatat, PDI Perjuangan sampai saat ini belum menyetujui pengunduran diri Anas. Sehingga, tidak tertutup kemungkinan, Anas tetap didukung untuk maju bersama Gus Ipul. Dan bila itu terjadi, PDI Perjuangan tentunya telah mempertimbangkan pilihan jurus untuk menangkal bila ada serangan foto-foto syur babak selanjutnya.

Partai-partai poros ketiga yang terdiri dari Gerindra-PAN-PKS juga menangguk keuntungan dari kasus Azwar Anas. Terbukti, koalisi ini langsung menawari dukungan terhadap Gus Ipul. Syarat yang disodorkan adalah pilihan sosok cawagubnya. Bila pendamping Gus Ipul dinilai cocok, ketiga partai itu siap menjalin koalisi bersama PKB dalam Pilgub Jatim 2018.

Seperti diketahui, Gerindra-PAN-PKS sudah menjalin komunikasi cukup lama untuk berkoalisi dalam usaha merebut kursi Jatim 1. Banyak nama yang telah menjadi pembahasan. Mulai dari Bupati Bojonegoro Suyoto, mantan Bupati Lamongan Masfuk, mantan pembalap Moreno, artis Anang Hermansyah, Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni, Ketua Kadin Jatim La Nyalla Mattalitti, mantan Katua MK Mahfud MD, mantan Rektor ITS M Nuh, Yenny Wahid sang putri mendiang Gus Dur, dan beberapa nama lainnya. Sayangnya hingga kemarin (Senin, 8 Januari 2018) sosok yang bakal diusung belum juga menemui titik temu.

Ketika Gus Ipul tiba-tiba terancam kehilangan pendamping, kesempatan itu langsung direspon dengan tawaran koalisi. "Kami akan melakukan pembicaraan dengan Gus Ipul. Ketiga partai ini (Gerindra-PAN-PKS) akan memberikan dukungan. Tapi kami harus tahu siapa wakilnya dulu (pengganti Anas)," kata Ketua DPD Partai Gerindra Jatim Soepriyatno, Minggu (7/1/2018) kemarin.

Selain lembaga partai, kasus Azwar Anas secara tidak langsung juga menguntungkan beberapa tokoh tertentu.

Bupati Ngawi Budi Sulistyono atau akrab disapa Kanang semula masuk sebagai salah satu kandidat kuat penamping Gus Ipul. Kanang merupakan kader PDI Perjuangan yang sukses memenangi dua kali Pemilihan Kepala Daerah di Ngawi. Keberadaan Kanang diharapkan mampu menjadi pendulang suara untuk wilayah Mataraman. Kanang dinilai merepresentasikan keterwakilan kultur Mataraman yang meliputi wilayah Ngawi, Magetan, Madiun, Ponorogo, Magetan, Trenggalek,  Tulungagung, bahkan Kediri.

Begitu PDI Perjuangan mengumumkan dukungan resmi terhadap Azwar Anas, nama Kanang pelan-pelan tenggelam. Nah, adanya kasus Anas menaikkan kembali peluang Kanang untuk maju Pilgub Jatim sebagai pendamping Gus Ipul.

Runutan logika yang sama juga terjadi pada Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni. Mantan kader PKB yang kini menyeberang ke Partai Gerindra itu semula santer bakal disandingkan dengan Khofifah Indar Parawansa. Partai NasDem sebagai salah satu pengusung Khofifah berulang kali menyebut nama Ipong sebagai sosok yang pas untuk menduduki kursi Jatim 2. Namun ternyata koalisi pendukung Khofifah lebih memilih Bupati Trenggalek Emil Dardak.

Kali ini, pintu kembali terbuka untuk Ipong. "Ini setelah Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengembalikan mandatnya ke PDIP dan batal menjadi cawagubnya Gus Ipul, nama saya diperhitungkan kembali dan mungkin bisa," kata Ipong kepada wartawan di Hotel Elmi Surabaya, Minggu (7/1/2018) malam.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini juga diuntungkan oleh adanya kasus Anas. Informasi yang beredar, kader-kader PDI Perjuangan termasuk Ketua Umum Megawati meminta Risma untuk bersedia mendampingi Gus Ipul. Sayangnya, hingga hari ini, Risma enggan mengambil kesempatan tersebut. Namun peta politik bisa saja berubah drastis dalam tempo cepat. Sebagai kader PDI Perjuangan, Risma sebenarnya wajib tunduk bila ditugaskan partai. Salah satunya bila ditugaskan untuk maju dalam Pilgub Jatim 2018.

Sebagai rival berat Gus Ipul, sosok Khofifah diuntungkan pula oleh prahara yang menimpa Azwar Anas. Dalam beberapa kali survei, pasangan Khofifah – Emil Dardak masih sedikit di bawah pasangan Gus Ipul – Azwar Anas. Jika nantinya popularitas dan elektabilitas pendamping Gus Ipul tidak sekuat Anas, Khofifah bisa melenggang mulus untuk memenangi Pilgub Jatim.

Itulah deretan lembaga partai dan tokoh politik yang mendapatkan keuntungan besar dari kasus Azwar Anas. Tidak menutup kemungkinan ada pihak-pihak lain yang juga diuntungkan. Tapi perlu dicatat pula, keuntungan ini bukanlah semata-mata sebuah kesengajaan. Ia lebih bersifat dampak dari kecelakaan politik. Semacam mendapat durian runtuh.

Pada hakikatnya, Pemilihan Gubernur merupakan wujud pesta demokrasi yang melibatkan warga Jawa Timur sebagai penonton sekaligus aktor utama (baca: pemegang kedaulatan). Kita berharap pesta demokrasi ini tidak dinodai oleh insiden-insiden yang mengganggu ketentraman sosial. Kita ingin pesta demokrasi berlangsung gembira dan warga Jawa Timur mendapatkan pemimpin terbaik. [but]

Tag : pilgub jatim

Komentar

?>