Kamis, 16 Agustus 2018

Anis, Mayjen Sudrajat, Sudirman, dan Moreno

Senin, 25 Desember 2017 12:46:01 WIB
Reporter : Ainur Rohim
Anis, Mayjen Sudrajat, Sudirman, dan Moreno
Ainur Rohim, Penanggung Jawab media online beritajatim.com

Nama Moreno Suprapto disebut-sebut sebagai kandidat gubernur dan atau wakil gubernur yang diajukan Partai Gerindra. Benarkah? Lihat perkembangan politik regional yang makin dinamis menjelang pembukaan pendaftaran cagub-cawagub pada awal Minggu kedua Januari 2018 mendatang.

Kemunculan nama Moreno sungguh mengejutkan. Tak ada yang menyangka sama sekali. Moreno, anggota DPR RI periode 2014- 2019, dari daerah pemilihan (Dapil) Malang Raya Jatim, adalah pendatang baru dalam jagat politik nasional. Namanya langsung meroket ketika dijagokan sebagai caleg Partai Gerindra dari Dapil Malang Raya.

Moreno yang masih minim jam terbang di lapangan politik ternyata mampu lolos. Itu prestasi politik tersendiri di tengah persaingan sangat ketat dalam demokrasi elektoral.

Moreno itu sosok generasi milineal di jagat politik sekarang. Kiprahnya di dunia balap mobil memang tak seterkenal kakaknya: Ananda Mikola. Namun demikian, kemunculannya di dunia politik termasuk lempang. Sekali menjagokan masuk Senayan, Moreno mampu lolos dari lubang jarum.

Akankah Moreno bakal mengalami mobilitas vertikal di ranah politik secara cepat? Bisa jadi. Partai Gerindra, PKS, dan PAN telah menggelar pertemuan pada Minggu (24/12/2017) malam untuk membicarakan peluang Moreno dan kandidat lain di Pilgub Jatim dan pilkada provinsi lainnya di Indonesia. Moreno direncanakan diduetkan dengan Suyoto, politikus-pendidik dari PAN, yang kini menjabat Bupati Bojonegoro dua periode.

Apakah duet politikus-pendidik dan politikus-profesional muda bakal terwujud? Sangat mungkin di tengah niatan kuat Partai Gerindra, PAN, dan PKS memunculkan poros ketiga di Pilgub Jatim 2018. Ketiga parpol ini tampaknya enggan memberikan dukungan politik kepada Gus Ipul dan Khofifah, yang sama-sama didukung partai penguasa dan atau partai pendukung kekuasaan sekarang.

Kemunculan Moreno menegaskan sekali lagi keengganan Partai Gerindra terutama, untuk merajut koalisi dengan partai kekuasaan. Moreno diharapkan bisa menapaki jalan sukses Anies Baswedan di Pilgub DKi Jakarta. Moreno (Jatim), Mayjen Purn Sudrajat (Jabar), dan Sudirman Said (Jateng) sedang diuji kapasitas dan akseptabilitas politiknya pada pilgub di 3 provinsi besar di Pulau Jawa.

Partai Gerindra cenderung menjagokan figur dengan karakter kuat, kredibilitas dan reputasi teruji dan popularitas tinggi sebagai kandidatnya, seperti pada kasus Anies Baswedan di Pilgub DKI Jakarta.

Untuk kasus Moreno, tampaknya, aspek tokoh muda, generasi milenial sangat dipertimbangkan dalam konteks ini. Mengingat kompetitornya juga menyuguhkan figur muda dengan karakter kuat dan kapasitas tak diragukan, seperti Abdullah Azwar Anas yang berduet dengan Saifullah Yusuf dan Emil Dardak bersama cagub Khofifah Indar Parawansa.

Memang, dibandingkan dengan Anies Baswedan, Mayjen Purn Sudrajat, dan Sudirman Said, pengalaman dan jam terbang Moreno di lapangan politik dan pemerintahan belum sepadan dengan para seniornya itu.

Pemilihan kepala daerah secara langsung dalam demokrasi elektoral selalu membuka peluang terjadinya kejutan dan ketidakterdugaan, meskipun voting behaviour adalah realitas politik yang bisa dideteksi dan diukur melalui survei dengan metode kuantitatif, yang dilengkapi uji statistik secara obyektif, akurat, dan reliable.

Kita tunggu saja sampai setelah Tahun Baru 2018, apakah koalisi kekuatan oposisional kekuasaan PDIP dan Jokowi ini, bakal menampilkan kandidatnya sendiri di Pilgub Jabar, Jateng, dan Jatim. Apakah Moreno, politikus muda yang perlu jam terbang lebih lama, bakal ditampilkan sebagai kandidat gubernur dan atau wagub Jatim.

Yang pasti, mekanisme pemilihan kepala daerah secara langsung dalam demokrasi elektoral bukan sekadar bagaimana merebut empati dan suara konstituen. Dalam kontestasi politik ini, rekam jejak, track record, kapasitas intelektual, moralitas kandidat, dan seluruh aspek pribadi kandidat pasti diperhatikan, dinilai, dan dikritisi kompetitor dan konstituen secara luas.

Faktor-faktor bersifat personal ini mesti diperhatikan dan dipersiapkan sebaik mungkin. Semoga analisis politik sederhana ini ada guna dan manfaatnya. [air]

Penulis adalah Penanggung jawab beritajatim.com dan mahasiswa program Magister (S-2) Ilmu Politik, FISIP, Unair Surabaya

Tag : politik

Komentar

?>