Senin, 16 Juli 2018

Panpel Persebaya Belum Siap Gelar Laga Besar

Senin, 11 Desember 2017 01:26:10 WIB
Reporter : Kuntoro Rido Astomo
Panpel Persebaya Belum Siap Gelar Laga Besar

Panitia Pelaksana (Panpel) Persebaya sepertinya belum siap menggelar laga besar yang dihadiri puluhan ribu Bonek. Padahal sudah semusim menggelar pertandingan, tapi kesannya justru seperti panpel 'anyaran'.

Buktinya, laga ujicoba perayaan keberhasilan Bajul Ijo promosi ke kasta Liga 1 bertajuk Celebration Game melawan PSS Sleman di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), Sabtu (9/12/2017) malam, berlangsung kacau dan semrawut. Masalah tiket palsu, pengelolaan parkir, hingga rekayasa lalu lintas kendaraan, seolah tidak pernah terpikirkan.

Melubernya Bonek yang diperkirakan seratusan ribu itu, harusnya sudah bisa diprediksi ketika 55 ribu lembar tiket yang dikeluarkan panpel, ludes terjual sejak H-2.

Tapi kenyataannya, panpel lalai. Apalagi ludesnya tiket di gerai ticket box, juga ditengarai diborong para calo. Harga tiket ekonomi yang seharusnya Rp 35 ribu, mendadak mahal hingga mencapai Rp 80 ribu. Selain itu, melubernya Bonek, juga diperkirakan munculnya banyak tiket palsu.



Akibatnya, akses menuju ke GBT macet total. Belasan ribu Bonek, terjebak macet luar biasa di luar stadion. Bahkan, diduga ribuan pemilik tiket asli pertandingan, ikut terjebak dan gagal masuk stadion.

Kondisi ini disebabkan parkir motor meluber ke jalan raya dekat pintu terluar menuju stadion. Belum lagi info ditutupnya portal jalan menuju area stadion sejak pukul 15.00. Padahal, pertandingan baru dimulai pukul 19.30 wib.

"Malam ini pulang ke rumah bersama ribuan Bonek. Banyak perempuan dan anak kecil, walau punya tiket tapi tak bisa masuk area GBT. Apa gunanya rapat panitia pelaksana yang ada manajemen, Kepolisian & Pemkot Surabaya?" tulis pentolan Bonek, Andie Peci yang juga gagal masuk dalam akun media sosial twitternya.

Kejadian ini, mengulang peristiwa ketika Persebaya menggelar laga Home Coming, pada 19 Maret 2017 lalu. Bahkan, saat itu pejabat selevel Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, harus berjalan sejauh 3 km menuju stadion.

Bedanya dengan laga Home Coming, situasi pertandingan celebration game, lebih parah. Di tengah gerimis, ribuan bonek di luar stadion, tidak bisa bergerak sama sekali. Kalau pun bisa, mereka tetap tidak bisa masuk stadion.

Jeli Lihat Momentum

Untuk inovasi dan pemasaran, manajemen Persebaya adalah yang terbaik. Sejak pertama Persebaya diambil alih Jawa Pos, Azrul Ananda adalah sosok yang brilian melihat potensi Bonek. Dengan jumlah luar biasa, Bonek dijadikan sasaran utama manajemen sebagai komoditas.

Sebelum mengarungi kompetisi, panpel Persebaya sudah beberapa kali menggelar laga ujicoba. Dan salah satu puncak kembalinya Persebaya, adalah laga Home Coming yang saat itu juga dihadiri Menpora Imam Nahrawi dan Ketua PSSI, Edy Rahmayadi.

Benar saja, saat itu stadion berkapasitas 55 ribu, penuh sesak oleh Bonek. Sementara di luar stadion, situasi tidak terkontrol. Sebab akses masuk dan keluar stadion, macet total hingga berjam-jam.

Dari sisi pendapatan, mungkin laga Home Coming bisa untung dan juga bisa rugi. Karena saat itu, disamping 45 ribu tiket ludes terjual, panpel juga menyuguhkan banyak entertain yang tidak murah. Jadi, anggap saja impas. Namun dari laga itu, manajemen menuai citra sepadan sebagai pengelola baru.



Berbeda dengan laga celebration game. Keberhasilan Persebaya juara Liga 2 dan naik kasta ke Liga 1, sepertinya dianggap momentum yang pas bagi panpel mengeruk banyak keuntungan untuk tambahan modal bonus pemain.

Maklum, sukses Rendi Irwan dkk itu tidak terbalas dengan bonus spesial. Janji umroh dari presiden klub, Azrul Ananda kepada pemain, ternyata juga dianulir. Mereka hanya mendapat pembagian bonus dari uang hadiah juara Liga 2 sebesar Rp 1 Miliar. Itu pun juga masih belum jelas kapan diberikan karena masih menunggu pencairan dari PT LIB selaku operator Liga 2.

Adopsi Alur Konser Musik
Memang, konteks sewa stadion oleh panpel Persebaya, hanya sebatas area sekitar stadion. Sedangkan di luar area stadion, bukan prioritas panpel. Tapi, jika rentetan ketidaknyamanan penonton sudah terjadi saat menuju stadion, sudah barang pasti harus ikut dipikirkan.

Seperti dalam verifikasi standar homebase suatu klub versi AFC. Akses menuju stadion adalah satu yang utama. Itulah kenapa, Stadion Palaran di Samarinda yang megah dan berstandar internasional, tidak lolos verifikasi untuk perhelatan pertandingan berskala internasional, bahkan nasional.

Sedangkan Persebaya, klub tertua dan salah satu yang terbesar di Indonesia, tidak memiliki pilihan selain menunjuk Stadion Gelora Bung Tomo sebagai home base. Karena jika ngeyel kembali ke Stadion Gelora 10 Nopember, jelas jauh tidak memenuhi standar kelayakan dari segi apapun.

Dalam konteks ini, domain terbesar harus diakui ada di tangan Pemerintah Kota Surabaya. Untuk jangka panjang, kepedulian Pemkot Surabaya atas Persebaya, patut dipertanyakan. Namun untuk jangka pendek, mengingat Liga 1 sudah dalam hitungan bulan akan kembali bergulir, panpel Persebaya harus membuka mata. Masalah minimnya akses menuju stadion, harus segera dicarikan solusi.

Melempar segala kesalahan ke pemkot, justru bakal menjadi bumerang bagi panpel karena terkesan cuci tangan. Sebab merealisasikan perluasan jalan di komplek Stadion Gelora Bung Tomo, jelas tidak bisa singkat. Pembebasan lahan juga butuh waktu. Ingat, sebagian lahan juga bukan milik pemkot.

Pendek kata, solusi jangka pendek, panpel butuh koordinasi serius dari semua aparat keamanan. Bisa saja, akses sepanjang jalan di depan area pintu masuk stadion, disterilkan dari kendaraan beberapa jam menjelang pertandingan. Untuk parkir, panpel bisa mengarahkan di sekitar sebelum area steril. Cara itu sebagian besar sudah diterapkan dalam beberapa panitia konser musik.

Bahkan jika perlu, panpel 'ngebon' aparat TNI untuk membantu kinerja petugas kepolisian dalam menjaga ketertiban dan lalu lintas. Karena bisa dimaklumi, sebesar apapun personil kepolisian, jelas masih tidak sebanding dengan jumlah Bonek. Itu kalau pihak panpel buka mata. Tapi kalau masih tetap saja, jangan salahkan Bonek jika bertindak kurang menyenangkan. Karena Bonek beli tiket untuk menonton dan mendukung Persebaya. Bukan beli tiket untuk menonton macet. Salam Satu Nyali, Wani! [kun]

Komentar

?>