Rabu, 22 Nopember 2017

Esai Politik

Emil Dardak dan Politik Selebriti

Senin, 13 Nopember 2017 10:24:11 WIB
Reporter : Ainur Rohim
Emil Dardak dan Politik Selebriti
Ainur Fohim, Penanggung jawab beritajatim.com. [Foto: dok/bj.com]

Nama Emil Elestianto Dardak--populer dipanggil Emil Dardak--pada detik-detik menentukan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jatim 2018 terlihat sangat penting. Politikus kelahiran Jakarta, 20 Mei 1984, disebut-sebut sebagai kandidat kuat yang bakal digandeng Khofifah Indar Parawansa sebagai calon wakil gubernur (Cawagub).

Berkembang pula isu bahwa Emil Dardak adalah kandidat terkuat untuk posisi cagub dari Poros Ketiga (Partai Gerindra, PKS, dan PAN) di Pilgub Jatim 2018. Poros PDIP-PKB mengusung Saifullah Yusuf-Abdullah Azwar Anas dan Poros Partai Golkar-Partai Demokrat merapat ke Khofifah Indar Parawansa.

Emil Dardak yang menikahi artis Arumi Bachsin, pada 30 Agustus 2013, menang sangat meyakinkan di Pilkada Kabupaten Trenggalek pada 2015. Dia yang berpasangan dengan Moechamad Nur Arifin mengantongi suara dukungan sekitar 76% lebih.

Arumi Bachsin, istri Emil Dardak, adalah seorang artis dan bintang sinetron sebelum 'memilih jalan hidup baru' setelah menjadi istri Emil Dardak. Warna politik selebriti tak bisa sepenuhnya dilepaskan dari jalan karir politik Emil Dardak, meskipun Emil Dardak tak pernah sekali pun meniti karir dan jalan hidup di dunia selebriti.

Berotak encer dan menyandang gelar doktor (S3) bidang Ekonomi Pembangunan termuda di Jepang dari Ritsumeikan Asia Pacific University, pada usia 22 tahun. Pendidikan S1 Emil Dardak dituntaskan di Australia, tepatnya di Universitas New South Wales. Sedang gelar S2 dan S3 didapatkan dari Ritsumeikan Asia Pacific University, Jepang. Dia sempat menjadi World Bank Officer di Jakarta, dan Media Analysis Consultant di Ogilvy.

Membaca dan memahami Emil Dardak dalam perspektif sebagai politikus an sich terlihat kurang tepat. Sebab, bagaimana pun posisinya istrinya, Arumi Bachsin, sebagai artis dan selebriti tak mungkin bisa dilepaskan dari proses Emil Dardak menapaki dunia politik yang terjal dan penuh ketidakpastian.

Di sisi lain, memahami dan menempatkan Emil Dardak sekadar sebagai celebrity politician juga tak pas. Dia terjun ke dunia politik dengan modal kapasitas dan kompetensi personal yang sangat memadai.

Hal itu diperkuat dengan aspek akseptabilitas politiknya yang dimiliki, yakni nasab keluarga besarnya di Kabupaten Trenggalek, yang pernah menjadi tokoh penting NU di daerah itu. Dan nasab lain dari keluarga besarnya yang mengalir darah militer. Fakta-fakta itu penting di tengah masih menguatnya kultur patrimonial di masyarakat kita, terutama warga pedesaan.

Dalam perspektif teoritis ilmu politik, kajian Ikhsan Darmawan dari Universitas Indonesia (2015), menyebutkan, hubungan antara selebriti dan politik dapat dilihat dari beberapa aspek. Aspek pertama adalah keterlibatan selebriti dalam politik. Ada dua tipe keterlibatan selebriti dalam politik.

Pertama, celebrity endorser. Dalam konteks pemilu, selebriti menggunakan endorsement tersebut dengan tujuan menarik calon pemilih. Dengan endorsement-nya, selebriti membentuk bagaimana seorang calon yang ikut dalam pemilu dilihat oleh publik.

Meskipun selebriti bukan yang memutuskan, selebriti membantu menambah penerimaan calon dengan calon pemilihnya. Endorsement dari selebriti diyakini mempengaruhi sikap memilih calon, persepsi terhadap kredibilitas calon, dan intensitas perilaku memilih.

Kedua, celebrity politician. Celebrity politician adalah mereka yang terpilih atau dicalonkan dalam pemilu dan berlatar belakang dari kalangan entertainment, industri pertunjukan, olahraga, dan menggunakan popularitasnya untuk terpilih (Street, 2004) .

Meski belum sampai 3 tahun memegang tampuk pemerintahan di Kabupaten Trenggalek, Emil Dardak merupakan tokoh dan pemimpin muda yang populer di Jatim. Emil Dardak sejajar dengan Abdullah Azwar Anas, Bupati Banyuwangi dan Tri Rismaharini, Wali Kota Surabaya, meski kiprah Anas dan Risma di ranah pemerintahan lokal jauh lebih lama. Emil lebih populer dibanding kepala daerah lama di Jatim yang sekarang menempuh periode kedua kepemimpinan di daerahnya masing-masing.

Posisi dan latar belakang Arumi Bachsin, istri Emil Dardak, ikut berpengaruh mendorong akselerasi popularitas politik Emil Dardak, selain kapasitas dan kapabilitas pribadi Emil Dardak yang mumpuni. Kultur masyarakat kita lebih mudah dan lebih cepat memahami latar ketokohan dan popularitas seseorang karena berada di jalur entertain, dibanding di jalur lain seperti politik, intelektual, ekonomi, sosial, dan lainnya.

Hal itu seiring makin menguatnya kultur pop di masyarakat kita, terutama kalangan generasi muda. Penetrasi informasi keartisan via infotainment di televisi yang tayang di pagi, siang, dan sore hari makin mempercepat proses delivery informasi dari central infotainment di Jakarta ke daerah-daerah.

Pemirsa dan publik lebih mudah, cepat tanggap, dan ngeh informasi infotainment dibanding informasi politik, pemerintahan, ekonomi, sosial, dan lainnya. Dalam perspektif demikian, istri Emil Dardak, Arumi Bachsin, secara langsung maupun tak langsung, sadar atau tak sadar, bisa berperan sebagai endorsement bagi mobilitas karir Emil Dardak di dunia politik.

Secara faktual, Arumi Bachsin juga terlihat memahami secara mendasar posisinya sebagai istri pejabat publik dan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan baru yang berbeda 180 derajat dengan lingkungan lamanya. Tak pernah muncul isu tak sedap tentang rumah tangga pasangan politikus dan selebriti ini.

Faktor lain adalah Emil Dardak adalah tipologi pemimpin daerah yang sangat menyadari arti penting dan strategis media, khususnya media online. Emil Dardak bisa memanfaatkan, mendayagunakan, dan menjalin relasi bersifat simbiosis mutualism dengan media massa secara maksimal, proporsional, dan efektif, untuk tujuan 'kampanye' program pembangunan daerah yang dipimpinnya.

Di samping itu, karena latar belakang pendidikan yang mumpuni dan pengalamannya di lapangan profesional di level internasional, bukan hal sulit bagi Emil Dardak mengartikulasikan dan mengkomunikasikan langkah-langkah yang telah dilakukannya di Trenggalek, terutama usaha 'mengkampanyekan' keberhasilan pembangunan di daerah ini.

Emil Dardak tahu menu apa yang dibutuhkan media massa dalam perspektif dapur redaksi dan menu berita tersebut sejalan dengan ekspektasinya untuk 'mengkampanyekan' Trenggalek di level regional dan nasional. Emil Dardak termasuk figur media darling dalam relasinya dengan media massa. Konten pernyataan Emil Dardak memang bernas, substanstif, argumentatif, dan linier dengan kebutuhan dapur redaksi media.

Sebagai figur media darling yang memiliki nilai strategis tinggi dalam praktek demokrasi elektoral, sosok Emil Dardak tentu saja memenuhi sejumlah prasayarat untuk melakukan mobilitas politik bersifat vertikal. Dari jabatan Bupati Trenggalek ke posisi calon wakil gubernur atau calon gubernur Jatim. Posisi media darling benar-benar dipahami Emil Dardak sebagai modal politik penting dan utama melakukan perubahan positioning politiknya dari kawasan peripheral ke pusat pemerintahan di Jatim.

Fakta penting lain dari keberadaan Emil Dardak sekarang adalah pandangan dikotomi politik, kultural, dan sosial mapping perpolitikan Jatim. Ada dua kawasan politik-sosial penting di Jatim: Pertama, kawasan Tapal Kuda, bercirikan komunitas Islam, warna politik hijau, dan dekat dengan kelompok partai berasas Islam dan atau berbasis konstituen kelompok Islam.

Kedua, kawasan Mataraman, yang dicirikan komunitas Nasionalis, warna politik merah, Islam sinkretis, dan dekat dengan parpol berhaluan ideologi Nasionalis. Dikotomi politik ini terus terpelihara dan diyakini tetap eksist, terutama di era kebebasan politik dan penerapan demokrasi elektoral seperti sekarang.

Secara faktual, Emil Dardak karena kapasitasnya sebagai Bupati Trenggalek dan latar belakang sejumlah parpol yang mengusungnya dalam Pilkada Trenggalek, dipandang sebagai figur yang merepresentasikan kawasan Mataraman. Pelabelan politik ini sedikit banyak menguntungkan Emil Dardak di tengah dinamika politik Pilgub Jatim 2018 sekarang, setelah Saifullah Yusuf (Gus Ipul) sebagai cagub berpasangan dengan Abdullah Azwar Anas sebagai cawagub.

Gus Ipul dan Anas berangkat dari latar sosio-kultural yang sama: Islam Tradisional (NU), dan keduanya juga berasal dari kawasan Tapal Kuda. Sekalipun Gus Ipul dan Anas diusung dua partai yang berbeda secara ideologis: PDIP sebagai partai Nasionalis dan PKB partai yang sebagian besar konstituennya dari kalangan Islam Tradisional (NU).

Karena itu, logika politik sederhana dengan mudah memposisikan Emil Dardak sebagai figur representasi Mataraman di diskursus Pilgub Jatim 2018. Perkembangan politik ini konstruktif bagi Emil Dardak khususnya, dan Kabupaten Trenggalek pada umumnya. Sebab, selama ini kepemimpinan puncak pemerintahan di Jatim biasanya berasal dari kalangan petinggi militer (seperti Imam Utomo, Basofi Sudirman, Soelarso, Wahono, dan lainnya) dan elite birokrasi kenyang pengalaman (seperti Soekarwo).

Praktek politik demokrasi elektoral dalam bentuk pemilihan langsung dalam penentuan figur pemimpin di tingkat lokal, regional, dan nasional memberikan benefit kepada figur populis, yang bersumber dari kapasitas personal bersifat internal yang bersangkutan, maupun karena dukungan endorsement dari orang dekat dari figur politikus tersebut.

Emil Dardak yang beristrikan Arumi Bachsin, seorang selebriti dan publik figur, tentu saja diuntungkan dengan posisi personalnya di ranah publik, yakni terjadinya akselerasi popularitas dan akseptabilitas politik figur Emil Dardak di mata warga Jatim, khususnya di kalangan kaum milenial. Apalagi pasangan Emil Dardak dan Arumi Bachsin selama ini tak pernah diterpa isu tak sedap menyangkut manajemen domestik rumah tangganya. [air]

Penulis adalah penangung jawab beritajatim.com dan mahasiswa program magister (S2) Ilmu Politik FISIP, Unair Surabaya

Tag : politik

Komentar

?>