Sabtu, 18 Nopember 2017

Hikayat di Bawah Mistar Gawang

Kamis, 19 Oktober 2017 12:25:14 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Hikayat di Bawah Mistar Gawang
foto: getty images

- Esai untuk Choirul Huda -

Saat saya masih anak-anak dan remaja, penjaga gawang adalah posisi yang paling dihindari saat bermain sepak bola. Kisah kiper bakal jadi legenda tak dikenal dalam imajinasi kami. Itu hanya posisi 'pupuk bawang' bagi anak yang termuda atau anak yang tidak bisa menggocek bola melewati pemain sebanyak-banyaknya. Legenda hanya untuk pemain depan atau tengah yang pandai mencetak gol atau main aksi tipu-tipu. Singkat kata, posisi striker adalah posisi kelas dewa, penjaga gawang adalah posisi kaum pariah.

Sesekali posisi penjaga gawang memang diisi salah satu anak yang pandai mengolah bola. Namun itu lebih karena dia ingin istirahat sebentar setelah capek menggiring bola dan mencetak gol sendirian. Kalau sudah begitu, ia pasti tak menginginkan ada satu pun pemain yang menjadi bek atau pemain bertahan. "Maju semua, biar aku yang jadi kiper," katanya.

Penjaga gawang lebih mudah dilupakan daripada seorang penyerang. Bahkan selama ratusan tahun sejarah sepak bola dunia, harga transfer seorang kiper seringkali jauh lebih murah daripada seorang striker atau bahkan bek. Dalam catatan singkat profil pemain di media massa, selain jumlah pertandingan yang dijalani, yang tercatat adalah jumlah gol yang dicetak.

Tak ada jumlah clean sheet atau jumlah penyelamatan yang pernah dilakukan sepanjang karir seorang kiper. Orang lebih memilih mengenang gol yang tercetak di gawang lawan daripada penyelamatan di gawang sendiri. Membobol lebih mudah diingat daripada menyelamatkan diri dari kebobolan. Kita harus berterima kasih kepada 'Money Ball' yang, diakui atau tidak, memicu tren penggunaan statistik secara masif di dunia sepak bola, dan sejak saat itu angka penyelamatan para kiper pun tercatat dalam sejarah.

Jimmy Greaves dikenang para fans Chelsea karena mencetak 132 dalam 169 pertandingan untuk klub tersebut dalam rentang waktu 1957-1961. Tapi tak ada yang mengenang berapa ratus penyelamatan yang dilakukan kiper William Foulke. Dia lebih dikenang sebagai kiper gendut asal Blackwell yang bikin penyerang Derby County John Goodall kehilangan dua gigi depannya, atau membanting penyerang Liverpool George Allan dalam pertandingan bersalju. Liverpool memperoleh hadiah penalti, dan Andrew McCowie mencetak gol yang berujung kemenangan The Reds.

Ada memang beberapa penyelamatan yang dikenang dunia sampai sekarang. Salah satunya lompatan ajaib kiper Inggris Gordon Banks yang berhasil menepis bola hasil tandukan pemain legendaris Brasil Pele dalam Piala Dunia 1970. Semua sudah mengangkat tangan untuk merayakan gol itu. Hari itu Banks membuat orang bertepuk tangan. Namun hari ini orang lebih mengenang Pele yang mencetak 1.200 gol sepanjang karirnya.

Orang mungkin juga mengingat penyelamatan ajaib kiper Liverpool Jerzy Dudek yang menghalau bola tandukan dan tendangan beruntun dalam waktu sepersekian detik dari penyerang AC Milan Andri Shevchenko, dalam final Liga Champions 2005 di Istanbul. Penyelamatan yang meruntuhkan moral para pemain AC Milan, yang mulai percaya bahwa ada 'tangan tak terlihat' yang mendorong Liverpool untuk menjadi juara. Namun semua memuji Steven Gerrard yang menginspirasi Liverpool mengejar ketertinggal 0-3. Andai tidak ada 'keajaiban enam menit di Istanbul' yang diawali gol dari kepala Gerrard, Dudek mungkin akan dikenang sebagai kiper terpayah yang dimiliki Liverpool dalam pertandingan final Piala Eropa. 

Rene Higuita sempat bikin orang melongo saat menyelamatkan gawangnya dengan gerakan 'scorpion kick'. Ini gerakan menyapu bersih tidak dengan menangkap atau meninju bola, melainkan menendangnya dengan gerakan akrobat. Tapi aksinya tak akan tercatat dalam statistik buku sejarah. Berapa kali Higuita bikin aksi penyelamatan penting? Tak ada yang tahu, walau orang akan ingat 'scorpion kick'.

Higuita meyakini filosofi, bahwa kiper seharusnya diperkenankan berekspresi menggiring bola layaknya sepuluh pemain lain di lapangan. Ia tumbuh dengan cita-cita menjadi penyerang tengah (yang tidak tercapai). Tak heran jika kemudian kiper berambut panjang kriwil-kriwil ini juga punya kemampuan menjadi eksekutor tendangan bebas. Tapi siapa yang akan mengingatnya sebagai pembawa revolusi taktik permainan sepak bola? Orang lebih mengenang legenda Belanda Johan Cruyff sebagai ideolog Total Football yang menyatakan, bahwa serangan total dimulai dari seorang kiper. 

Sebaliknya, kiper lebih mudah dijadikan kambing hitam seperti yang dialami Moacyr Barbosa dari Brasil. Kegagalan Brasil menjuarai Piala Dunia 1950 menciptakan trauma dan, bahkan takhayul nasional, bahwa kiper tim nasional sebaiknya tidak diserahkan kepada orang berkulit hitam. Kegagalan mengantisipasi bola yang ditendang pemain Uruguay Alcides Ghiggia membuat Barbosa menjadi pesakitan di mata rakyat Brasil selama bertahun-tahun hingga maut menjemput.

Brasil kalah 1-2 dan gagal menjadi juara di kandangnya sendiri. Orang lupa berapa penyelamatan yang dilakukan Barbosa sebelum pertandingan final itu, sehingga dinobatkan menjadi kiper terbaik sepanjang turnamen. Orang tidak peduli bahwa sebelum Ghiggia menghadapi Barbosa, ada sekian pemain Brasil yang gagal menghadang aliran bola pemain Uruguay. Orang lupa bahwa sepak bola adalah permainan tim: bertahan dan menyerang bersama sebagai satu kesatuan. Orang hanya butuh kambing hitam. Agak ganjil mengambinghitamkan pemain depan. Kiper paling mudah jadi sasaran. Apalagi Barbosa memang berkulit hitam. Ada rasialisme di sini, dan Barbosa mati dengan menanggung dosa kolektif tim nasional Brasil seorang diri.

Eduardo Galeano dalam buku Soccer in Sun and Shadow menulis sepenggal prosa indah tentang penjaga gawang:  He is alone, condemned to watch the match from afar. Never leaving the goal, his only company the two posts and the crossbar, he awaits his own execution by firing squad.

He wears the number one in his back. The first to be paid? No, the first to pay. It is always the keeper's fault. And when it isn't, he still gets blamed.... With a single slip-up the goalie can ruin a match or lose a championship, and the fans suddenly forget all his feats and condemns him to eternal disgrace. Damnation will follow him to the end of his days.
   

Namun tak ada yang bisa membendung takdir sejarah untuk para prajurit di bawah mistar. Legenda bisa tercipta dari mana saja, termasuk dari seorang penjaga gawang yang mati di lapangan. Namanya diabadikan. Sebagai penghormatan, nomor punggungnya tak akan digunakan lagi sepanjang hayat klub yang diperkuatnya terakhir kali, seperti Choirul Huda, kiper Persela Lamongan.

Kematian Huda tak ubahnya puisi patriotik khas seorang kiper. Para kiper berdiri sendirian dan menatap tajam bola bergulir dari kaki ke kaki. Lawan. Kawan. Lawan kawan. Sampai pada satu titik, para kiper harus berani memutuskan kapan menerjang maju untuk memungut bola dari kaki pemain lawan. Para kiper, orang terakhir di garis pertahanan. Saat pemain depan kehilangan bola, mereka bisa mengandalkan pemain gelandang. Para pemain tengah masih berharap kepada pemain belakang saat gagal menghadang laju bola tim lawan. Para bek mengharapkan kiper benar-benar bagus agar tak kebobolan, dan penjaga gawang hanya bisa berharap pada dirinya sendiri.

Dalam final Piala FA 1956, tak ada satu pun yang menyadari bahwa Bert Trautmann menjaga gawang Manchester City dari gelombang serangan pemain Birmingham dalam keadaan terluka. Dia dengan gagah berani menerjang bola yang tengah digocek penyerang Birmingham Peter Murphy. Kaki Murphy menyepak kepala Trautmann dan membuat kiper asal Jerman itu tak sadarkan diri.

Trautmann ngotot melanjutkan pertandingan begitu sadar. City berhasil menjuarai Piala FA, Beberapa hari kemudian baru diketahui jika leher Trautmann patah selama pertandingan. Trofi dan nyawanya berada pada tapal batas tipis hari itu. Dia dianugerahi gelar The Footballer of The Year dan menjadi legenda di kalangan suporter Man City.

Namun, menurut jurnalis Jonathan Wilson, apa yang dialami Trautmann mengubah persepsi orang terhadap penjaga gawang. Sebelumnya ada anggapan bahwa menghadapi risiko dan menyongsong bahaya adalah bagian dari tugas seorang penjaga gawang. Namun setelah apa yang dihadapi Trautmann, otoritas sepak bola mulai berpikir bahwa kiper seharusnya lebih banyak mendapat perlindungan. Sebelumnya pada 1931, penjaga gawang Glasgow Celtic John Thomson meninggal dunia setelah berbenturan dengan penyerang Glasgow Rangers Sam English. Catatan ini semakin panjang dengan kematian Choirul Huda setelah berbenturan sendiri dengan kawan setimnya dalam pertandingan Persela melawan Semen Padang, di Stadion Surajaya Lamongan, 15 Oktober 2017.

Hey, keeper, prepare for the fight
You are a sentry in the goal.
Imagine there is a border behind you.

(Lagu film Vratar, 1937) [wir] 


Tag : sepakbola

Komentar

?>