Jum'at, 20 Oktober 2017

Apakah Selamanya Politik Itu Kejam

Selasa, 10 Oktober 2017 10:57:04 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Apakah Selamanya Politik Itu Kejam

TAHUN 1983, Iwan Fals merilis album berjudul 'Sumbang' yang juga salah satu judul lagu. Seperti biasa, album ini berisi lagu-lagu protes sosial khas Iwan yang sumpek di masa Orde Baru. Album ini juga mendefinisikan dan memandang bagaimana politik, yang boleh jadi menjadi panduan mayoritas penggemarnya.

Setan-setan politik kan datang mencekik
walau di masa paceklik tetap mencekik
Apakah selamanya politik itu kejam
Apakah selamanya dia datang unttuk menghantam
Ataukah memang itu yang sudah digariskan?
Menjilat, menghasut, menindas
Memperkosa hak-hak sewajarnya

Definisi Iwan tersebut, hari ini menjadi definisi jamak semua orang yang tak terlibat di dalam urusan politik. Definisi ini menjadi 'perlawanan' terhadap definisi formal teoritis Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang mengartikan politik sebagai:
1. (Pengetahuan) mengenai ketatanegaraan dan kenegaraan (seperti tentang sistem pemerintahan atau dasar pemerintahan).
2. Segala urusan dan tindakan (kebijakan, siasat, dan sebagainya) mengenai pemerintahan negara atau terhadap negara lain.
3. Cara bertindak (dalam menghadapi atau menangani suatu masalah); kebijakan.

KBBI bicara politik sebagai 'das solen', sesuatu yang semestinya. Politik menyangkut pemerintahan dan kepentingan orang banyak. Namun interpretasi terhadap politik memang terbelah. Di satu sisi, politik ditafsirkan sebagai satu bentuk pertarungan memperebutkan kekuasaan. Ini sebuah konflik laten dan terus-menerus antara satu individu dengan individu lain, satu kelompok dengan kelompok lain yang sifatnya tak stabil dan tak tetap. Dalam tafsir ini, ada adagium ‘tak ada lawan dan kawan abadi kecuali kepentingan’. Kepentingan dalam hal ini apalagi jika bukan kekuasaan.

Pandangan politik kotor sangat mungkin berasal dari tafsir ini. Mao Tse Tung mengatakan, politik adalah perang tanpa pertumpahan darah dan perang adalah politik dengan darah tertumpah. Bahkan Perdana Menteri Inggris Winston Churchill punya penilaian bahwa politik lebih kejam daripada perang. “Dalam perang, Anda terbunuh sekali. Dalam politik, Anda terbunuh berkali-kali.”

Tafsir ini melapangkan jalan bagi pandangan Machiavellianisme: the end justifes the mean, tujuan menghalalkan cara. Niccolo Machiavelli memisahkan moralitas dengan politik. Politik adalah untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan. Tidak boleh ada welas asih, belas kasih, rasa kemanusiaan. Bahkan Machiavelli pernah merisalahkan bahwa pemimpin yang ditakuti lebih baik daripada pemimpin yang dicintai. Rasa hormat dan keseganan seharusnya dibentuk dari rasa takut, bukan cinta. Dengan kata lain: politik itu rasional.

Petuah Machiavelli ini diyakini Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew saat masih berkuasa. “Antara dicintai dan ditakuti, saya selalu percaya Machiavelli yang benar. Jika tidak ada yang ditakuti dari dari saya, saya tak berarti.”

Ada cerita pendek berjudul Pelajaran Pertama bagi Calon Politisi.yang ditulis Kuntowijoyo, seorang sastrawan dan intelektual Muhammadiyah. Dalam cerpen itu, Kuntowijoyo bercerita tentang seorang pengusaha konveksi berusia 37 tahun bernama Sutarjo yang mencalonkan diri menjadi kepala desa di Jogjakarta. Rivalnya adalah seorang pensiunan TNI. Dalam pemilihan, Sutardjo memakai tanda gambar ‘padi’ dan sang pensiunan kapten memakai tanda gambar ‘senapan’.

Sutardjo adalah warga Muhammadiyah. Namun dia diisukan tak ‘bersih lingkungan’ dan anak seorang yang terlibat G30S. Kakeknya adalah mantan lurah, dan kuburannya dikeramatkan menjadi tempat mencari nomor togel.

“Politik itu the art of possible. Tidak harus lurus, tapi boleh bengkok-bengkok. Jangan lugu begitu. Politik itu seperti silat, balikkan kelemahan jadi kekuatan,” kata penasihat politik Sutardjo.

Maka Sutardjo menempuh jalan yang tak lazim bagi seorang warga Muhammadiyah: merenovasi kuburan kakeknya, menyalakan kemenyan, dan menabur kembang. Dia ingin menunjukkan diri sebagai sosok yang toleran, maka digelarlah sarasehan bertema toleransi di desanya. Dia juga menggelar pengajian akbar dengan mengundang kiai dari NU.

Semua cara ditempuh. Biaya dikeluarkan. Namun akhirnya Sutardjo harus menyerah di bilik suara. Dia kalah lihai dan licin melawan pesaingnya. Sudah begitu, dia masih diomeli istrinya. “Saya kira engka dhedhel-dhuwel luar dalam, Mas. Akhirat tidak, dunia gagal. NU bukan, Muhammadiyah mboten. Politikus bengkok-bengkok meleset, orang agama jalan lurus urung.”

'Politikus bengkok-bengkok' inilah yang membuat kita melupakan politik sebagai ikhtiar untuk mencapai kesepakatan bersama dalam menciptakan kesejahteraan, kemakmuran, dan melindungi kepentingan orang banyak. Kerja-kerja politik adalah kerja-kerja mencari titik permufakatan. Politik seperti ini membutuhkan rasa saling mempercayai dan konsistensi memegang komitmen. Ada titik temu semua pihak yang berbeda pandangan, ideologi, maupun kepentingan, bahwa ada sesuatu yang lebih besar yang harus diperjuangkan: kepentingan publik.

Tahun 2018 dan 2019 adalah tahun politik. Mesin-mesin politik sudah dipanaskan. Kita menanti apakah memang nalar 'politik bengkok-bengkok' masih akan berkuasa atau ada sesuatu yang lebih baik. [wir/but]

Tag : politik

Komentar

?>