Jum'at, 20 Oktober 2017

Tentu (Bukan) 125 Tahun Kesunyian

Jum'at, 29 September 2017 15:44:24 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Tentu (Bukan) 125 Tahun Kesunyian

Sejarah Liverpool Football Club dalam 125 tahun memang bukanlah sejarah kesunyian. Liverpool bukanlah Macondo, desa imajinasi dalam novel One Hundred Years of Solitude karya Gabriel Garcia Marquez. Namun ada kalanya para pendukung Liverpool tak ubahnya Jose Arcadio Buendia, tokoh utama dalam novel itu, yang merindukan kejayaan dan mudah terpikat dengan sesuatu yang baru dan mungkin ganjil.

Selama 125 tahun, pemain dan manajer datang dan pergi ke Anfield, seperti para pendatang bertandang ke Macondo membawa harapan dan janji kejayaan nan fana. Sebagian terbukti, sebagian lagi pepesan kosong. Sebagaimana Buendia yang tak meninggalkan desanya, hanya pendukung Liverpool setia dengan mimpi-mimpi dan tak beranjak pergi. Saya selalu membayangkan para fans Liverpool seperti Buendia saat menyambut kedatangan gipsi yang membawa kaca benggala raksasa untuk membakar jerami. Semangat membuncah dan percaya bahwa kaca benggala itu bisa dijadikan senjata perang. Ia beli kaca benggala itu dengan menukar dua batang magnet yang awalnya diperoleh juga dari Si Gipsi. Saat Si Gipsi membawa balok es, Buendia menyerahkan uang hanya untuk menyentuh permukaannya yang dingin. Lalu Buendia hidup dengan imajinasi tentang kaca benggala, magnet, dan balok es.

Dalam konteks Liverpool, Gipsi ini adalah sosok pemilik klub yang datang menyodorkan Rafa Benitez, Roy Hodgson, Kenny Dalglish, Brendan Rodgers, sampai Jurgen Klopp. Gipsi juga menawarkan gemerlap ketika mendatangkan Andy Carroll, Luis Suarez, Christian Benteke yang semuanya mengkreasi imajinasi dan mimpi.

Selama 125 tahun, para fans Liverpool hidup dengan imajinasi bagaimana klub mereka besar dan menguasai Eropa. Sebagian imajinasi itu menjadi kenyataan: Liverpool sekian lama menguasai Liga Inggris dan menjadi juara Eropa. Sisanya hanya harapan yang berkali-kali berujung kegagalan.

Dua puluh lima tahun pertama, 1892-1917, adalah masa sebelum Perang Dunia I. Setelah resmi berdiri pada 3 Juni 1892, Liverpool berhasil mengisi rak trofi dengan tiga gelar juara Liga Inggris, tiga gelar Divisi II, satu gelar Liga Lancashire, dan satu Charity Shield. Di masa ini, dikenal apa yang disebut sebagai 'Team of the Macs'. Tim ini adalah tim Liverpool pertama yang dibangun John McKenna yang semuanya terdiri dari orang-orang Skotlandia. McKenna sendiri adalah orang Irlandia.

Kesuksesan Liverpool pada masa ini berbarengan dengan peristiwa-peristiwa besar di dunia. Gelar juara Liga Inggris pertama diboyong ke Anfield pada 1901, dan pada tahun yang sama Ratu Victoria wafat. Setelah terdegradasi pada 1904, Liverpool kembali ke Divisi Satu setahun kemudian bersamaan dengan publikasi Teori Relativitas Einstein. Tahun 1906, Liverpool kembali memuncaki Liga Inggris ketika gempa bumi hebat terjadi di San Fransisco, Amerika Serikat.

Dua puluh lima tahun kedua, 1917-1942, bukan masa yang hebat. Namun The Reds masih bisa membawa dua trofi Liga Inggris dan klub membangun atap di atas tribun The Kop di Anfield.Situasi politik Inggris terdampak situasi Eropa. Perang Dunia II meletus. Depresi Ekonomi Besar terjadi pada 1932. Sebagian pemain Liverpool dikirim ke medan perang. Sebagian selamat, sebagian menuju akhirat. Salah satu pemain yang ikut bertempur dengan tank adalah Bob Paisley. Syukurlah, ia selamat. Puluhan tahun kemudian, ia memimpin The Reds menuju kejayaan di Eropa dan Inggris.

Dua puluh lima tahun ketiga, 1942-1967, adalah periode roller-coaster di antara bau mesiu. Sebenarnya sepak bola tak terhenti seratus persen gara-gara perang. Liverpool masih berkompetisi di Football League North, League War Cup, dan Lancashire Senior Cup. Liverpool menjadi juara Lancashire Senior Cup pada 1944. Begitu perang berakhir, Liverpool menggelar tur pramusim di Amerika Serikat pada 1946. Setahun kemudian, Liverpool menjadi juara Liga Inggris untuk keenam kalinya. Namun pada 1954, The Reds terdegradasi ke Divisi Dua.

Lalu datanglah Bill Shankly pada 1959 menggantikan Phil Taylor sebagai manajer. Ia membangkitkan klub yang sedang terpuruk, memberikan kepercayaan diri. Tiga tahun kemudian, Liverpool kembali ke Divisi Satu dan menjuarainya pada 1964, bertepatan saat The Beatles mulai merebut hati para gadis di Amerika Serikat. Tahun 1965, Shankly mempersembahkan Piala FA untuk pertama kalinya setelah mengalahkan Leeds United 2-1.

Tahun 1966, Liverpool kembali menjadi juara Liga Inggris. Tahun itu juga Inggris menjadi tuan rumah Piala Dunia sekaligus menjuarainya untuk pertama kali dalam sejarah. Total selama periode 25 tahun ketiga ini, Liverpool memboyong empat gelar Liga Inggris, satu Piala FA, tiga gelar Charity Shield, dan satu gelar Divisi II.

Seperempat abad keempat, 1967-1992, adalah puncak kejayaan Liverpool. Dalam buku sejarah Liverpool, ini bab yang sangat penting, karena pada masa ini The Reds menjuarai Liga Inggris sebelas kali, Piala FA empat kali, Piala Liga empat kali, Piala UEFA dua kali, Piala Champions Eropa empat kali, Charity Shield sebelas kali, English Super Cup satu kali, dan Piala Super Eropa satu kali.

Berbeda dengan Manchester United yang sukses dengan satu manajer, Alex Ferguson, pada 1986-2013, Liverpool memetik sukses dengan lima manajer: Bill Shankly, Bob Paisley, Joe Fagan, Kenny Dalglish, dan Graeme Souness. Semua manajer tersebut lahir dan besar dari rahim Anfield, kecuali Shankly yang datang dari Huddersfield saat Reds masih di titik semenjana. Bahkan, pada 1984, di bawah kepemimpinan Joe Fagan, Liverpool menjadi klub pertama Inggris yang menjuarai tiga trofi dalam setahun: Liga Inggris, Piala Eropa, dan Piala Liga pada 1984.

Namun bab mengenai perjalanan 25 tahun keempat ini tak hanya berisi kejayaan, tapi juga kesedihan. Glory and tragedy. Selama rentang masa ini, terjadi dua tragedi yang menewaskan ratusan penonton, yakni Tragedi Heysel 1985 yang menewaskan 39 orang dan Tragedi Hillsborough 1989 yang menewaskan 96 orang.

Tragedi Hillsborough menandai masa kelam 25 tahun kelima. Sejak 1992 hingga 2017, di era Liga primer, Liverpool tak sekalipun pernah merasakan gelar juara Liga Inggris. Benar, Reds masih berhasil menjuarai Piala Champions Eropa sekali, dua kali Piala FA, tiga kali Piala Liga, satu piala UEFA, dua Piala Super Eropa, dan dua Charity Shield. Bahkan pada tahun 2001, di bawah komando Gerrard Houllier, The Reds kembali meraih treble dengan Piala FA, Piala Liga, dan Piala UEFA. Namun sebagaimana judul buku Anthony Stanley, ini seperti 'A Banquet Without Wine'. Jika trofi Liga Primer adalah sebuah anggur, Liverpool tak pernah mencicipinya dalam sebuah perjamuan. Seperti Buendia yang tak pernah merasakan hasil sesungguhnya dari barang-barang ganjil yang dibelinya dari seorang Gipsi. [wir/ted]

Tag : sepakbola

Komentar

?>