Minggu, 22 Oktober 2017

Delapan Tahun Bersama Egrang

Minggu, 10 September 2017 16:29:27 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Delapan Tahun Bersama Egrang
foto/tanoker.org

SAYA membuka esai dengan pengakuan: saya sama sekali tidak bisa naik egrang. Berapa kali saya sudah pernah mencoba, hasilnya nihil. Naik, beberapa kali langkah jatuh. Tak semudah yang dibayangkan ternyata. Teman-teman saya mencetak kaos dengan gambar saya sedang naik egrang, dan menyebutnya 'The Kopler'. Koplak Jember.

Koplak dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti dungu. Namun tentu apa yang dilakukan Farha Ciciek dan suaminya Suporahardjo merawat Festival Egrang selama sewindu tanpa campur tangan negara di sebuah desa yang jauh dari pusat kota, Desa Ledokombo, Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember, Jawa Timur, jauh dari kata bodoh. Ini pilihan cerdas untuk mengawali dan menguatkan konsolidasi sosial dengan menggunakan kekayaan tradisi lokal.

Semula ini hanyalah keisengan Supo yang membuatkan dua anaknya, Mokhsa Imanahatu Atolu dan Zen Zerozona, permainan. Mereka baru saja pindah dari Jakarta, karena Supo ingin merawat sang ibu yang sudah sepuh. Ia memanggil kembali memori masa kecil dan menebas beberapa batang bambu di belakang rumah. Egrang adalah semacam kaki panjang buatan dari bambu yang membuat para pemakainya berdiri lebih jangkung. Di Ledokombo, alat ini bukan hanya untuk bermain, tapi juga dipakai saat banjir.

Supo membikin beberapa egrang untuk anak-anak tetangga. Ia dan Ciciek menggelar lomba kecil-kecilan setiap hari Minggu. Pemenangnya mendapat uang saku lima ribu rupiah. Anak-anak pun berdatangan ramai.

Supo dan Ciciek mulai menyadari bahwa mereka bisa memulai sesuatu yang bermakna di sini. Melalui egrang, mereka menyuntikkan motivasi dan pembelajaran nilai-nilai sosial filosofis tentang alam, tentang kerjasama, dan kebersamaan. Lomba-lomba kecil itu bertransformasi menjadi festival. Mokhsa yang tumbuh remaja membuat egrang menjadi seni yang mengasyikkan untuk menari. Dari egrang, lahirlah komunitas belajar bernama Tanoker yang berarti kepompong.

Supo dan Ciciek menggunakan jaringan organisasi non pemerintah dan dunia akademis untuk menguatkan festival ini dari tahun ke tahun. Tanpa banyak publikasi kencang nan mahal dan bantuan dari pemerintah, festival ini menarik perhatian beberapa tokoh penting. Dosen dan mahasiswa asing datang.

Dari egrang, Ciciek membuka kesadaran baru masyarakat Ledokombo dalam urusan domestik: pengasuhan anak-anak. Kehadiran anak-anak untuk bermain egrang menarik keikutsertaan para orang tua, dan Ciciek tak membuang kesempatan untuk mentransformasikan nilai-nilai keluarga demokratis.

Ciciek membuka semacam sekolah pengasuhan untuk ibu-ibu rumah tangga dan para suami di desa itu: Parenting For Peace. "Dari keluarga untuk perdamaian. Damai harus datang dari keluarga."

Ciciek membangun pengasuhan bersama berbasis komunitas. Ini tak lepas dari banyaknya anak buruh migran di desa itu yang kurang mendapat perhatian dari keluarga besar mereka. Ciciek ingin komunitas masyarakat ikut bertanggung jawab terhadap pengasuhan nilai-nilai anak-anak itu. Bukan hanya orang tua, tapi tokoh masyarakat, guru sekolah, guru ngaji, takmir masjid, atau muslimat pengajian.

Prinsipnya: orang terdekat adalah orang tua. Anakmu adalah anak kita bersama. "Nenek moyang kita dulu begitu. Tapi kemudian hilang, karena proses sosial, politik, dan ekonomi, nuclear family rusak, sehingga extended family juga rusak. Ada proses individualisasi. Paguyuban hilang digantikan patembayan," kata Ciciek.

Ada 200 perempuan dan 15 orang lelaki yang bergabung dalam pelatihan pengasuhan bersama ini. Mereka belajar bahwa hidup tak sesederhana masa silam. Internet masuk ke telepon genggam anak-anak, dan ini bagaikan kotak Pandora: tak hanya kebaikan, tapi juga keburukan di dalamnya yang memicu dekadensi moral.

Para lelaki dalam pelatihan pengasuhan bersama itu mendapat suntikan pengetahuan tentang perspektif jender untuk memandang relasi keluarga. Ada perdebatan tentu saja. Namun mereka bisa memahami, bahwa pengasuhan anak-anak adalah tugas bersama. Para nenek dan kakek pun dirangkul, karena mereka bagian dari keluarga besar yang mengasuh anak saat para orang tua pergi bekerja ke luar negeri.

Mereka diberi pemahaman, bahwa memanjakan cucu bukanlah opsi karena hanya akan menciptakan generasi yang mudah patah. Ancaman 'generasi yang hilang dan manja' di depan mata, jika anak-anak itu dibiarkan tumbuh berkembang tanpa dukungan nilai-nilai tradisional.

Singkat kata: mereka belajar cara mengidentifikasikan peran di dunia yang berubah. Betapa hebatnya sesuatu yang berawal dari egrang. [wir/suf]

Esai ini ditulis untuk menyambut Festival Egrang Tanoker Ledokombo di Jember yang memasuki usia sewindu pada 23 September 2017.

Tag : budaya

Komentar

?>