Jum'at, 20 Oktober 2017

Revolusi Berawal dari Toilet di Anfield

Selasa, 05 September 2017 10:45:14 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Revolusi Berawal dari Toilet di Anfield

"Bersediakah Anda menjadi manajer klub sepak bola terhebat di negeri ini?"

Ketua Dewan Direksi Liverpool Football Club Tom Williams memberikan pertanyaan berbau promosi layaknya produsen kecap kepada Bill Shankly pada sebuah malam di musim dingin. Shankly saat itu memanajeri klub Huddersfield, dan Liverpool jelas tidak hebat-hebat amat.

Liverpool memang pernah meraih lima gelar Liga Inggris. Namun gelar terakhir itu datang pada 1947. Dua belas tahun kemudian, saat Williiams menemui Shankly, mereka masih berkutat di Divisi Dua, sama dengan Huddersfield.

Shankly setuju. Nessie, istrinya, tersenyum. Anfield tujuan berikutnya. Kisah seorang legenda tengah ditulis pada Desember 1959.

Namun di Liverpool, revolusi tidak selamanya berawal dari sepak bola itu sendiri. Toilet di Stadion Anfield adalah pemula. Toilet yang memalukan. Bau. Jorok. "Bahkan sebagian besar tidak bisa disiram," kata Shankly kepada Williams di ruang kerjanya, usai makan siang.

"Toilet yang mana?" tanya salah satu direktur.

"Toilet di tribun penonton," sahut Shankly. Ia tidak perlu mengingatkan dua kali, bahwa orang-orang yang berdiri di tribun itu menyisihkan sebagian gaji mereka untuk menghibur diri di setiap akhir pekan, sekaligus untuk membayar gaji pemain, dan tentu saja, gajinya.

Shankly menyebutkan daftar panjang setelah toilet. Bukan daftar pembelian pemain, melainkan perbaikan rumput di Anfield, renovasi fasilitas latihan di Melwood, pengecatan dinding yang muram, dan peralatan latihan, termasuk seragam pemain untuk berlatih. "Setelah itu, sisanya serahkan kepada saya untuk bekerja."

Tujuh tahun kemudian, Liverpool mengangkat trofi juara Liga Inggris pada 1964, menjuarai Piala FA pada 1965, dan nyaris meraih trofi Eropa Cup Winners Cup sebelum akhirnya dikalahkan Borussia Dortmund 1-2 dalam partai final di Glasgow, Skotlandia, 5 Mei 1966.

Tujuh tahun. Bahkan Claudio Ranieri yang hari ini disebut sebagai pembuat keajaiban dengan membawa Leicester City mennjadi juara Liga Primer Inggris pun tak mampu membuat skenario seperti itu. Hanya Brian Clough yang mampu menandingi dengan menyulap dua kesebelasan 'rongsokan', Derby County dan Nottingham Forest, menjadi kekuatan hebat di Britania.

Mungkin itulah yang membuat Shankly dicintai banyak orang. Bukan karena sederet gelar juara semata. Koleksi trofinya toh tak sebanyak Bob Paisley selama 15 tahun menjadi penguasa di Anfield. Dia dicintai karena menghormati martabat fans, bahkan dalam urusan buang air.

Entahlah, saya penasaran: mungkinkah sepak bola Indonesia merintis revolusinya sendiri seperti Shankly melalui perbaikan fasilitas stadion? Mungkinkah revolusi sepak bola Indonesia justru tidak berawal dari cetak biru muluk-muluk soal pembinaan usia dini, kompetisi berjenjang, atau liga yang glamor, melainkan justru dari tribun penonton?

Rute revolusi Shankly masuk akal dan manusiawi, untuk menjawab problem sebuah negara yang selalu menjadi Sisifus dalam urusan keterpurukan prestasi sepak bola seperti Indonesia. Sederhananya begini saja: bagaimana hendak menjaga keamanan penonton agar tak ada yang mati gara-gara ribut di stadion, jika urusan yang paling sepele saja diabaikan. Tanpa penonton, tidak ada industri sepak bola. Tidak ada rating televisi. Tidak ada penjualan 'merchandise'.

Toilet adalah ruang tamu peradaban, dan bukan rahasia lagi, sebagian besar stadion di Indonesia tak menyediakan toilet yang layak bagi penonton, terutama di tribun teras kelas ekonomi. Kemewahan buang air kecil dan besar hanya bisa ditemui di tribun utama atau VIP. Selebihnya, bau amonia tercium dari sejumlah sudut tribun kelas ekonomi.

Saya masih ingat, jeda paruh pertandingan bukan masa yang menyenangkan bagi penonton di tribun ekonomi Stadion Gelora 10 Nopember, Surabaya. Mendadak dari deretan tribun bagian atas mengalir air walau tak hujan. Pesing. Orang-orang menghadap tembok, membuka ritsluiting. Sebagian menadah urin di dalam botol bekas air mineral yang sewaktu-waktu bisa jadi misil untuk dilemparkan ke tengah lapangan.

Tak ada musala. Terlepas dari fakta bahwa tak semua suporter sepak bola adalah orang yang relijius, namun keistimewaan untuk salat di musala hanya berlaku bagi mereka yang membeli tiket lebih mahal di tribun VIP. Sisanya, saya pernah menyaksikan satu dua suporter berjamaah atau sendirian salat di beberapa sudut lokasi stadion. Ada musala di luar stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya. Lumayanlah, bisa salat sebelum memasuki masa sepak mula. Namun terakhir saya salat di sana, air keran untuk wudu kadang (atau mungkin seringkali?) macet.

Ada seseorang, entah siapa, mengunggah foto sejumlah suporter Malaysia salat berjamaah di salah satu lokasi di stadion saat pertandingan semifinal sepak bola Sea Games. Saya tidak tahu, apakah itu sebelum atau di tengah masa jeda. Namun seingat saya 'caption' fotonya menggugah: mungkin ini yang membuat tim nasional Malaysia menang atas Indonesia malam itu.

Divine intervention. Campur tangan ilahiah. Tentu saja itu teori yang sulit dibuktikan. Kita hanya bisa meyakininya. Ini masalah iman. Namun terlepas apakah Anda beragama atau agnostik, bertuhan atau ateis, bisa menahan kandung kemih untuk tidak buang air sembarangan atau mudah ngompol, tentu setuju bahwa peradaban sepak bola seharusnya dibangun dari fasilitas stadion.

"Football is not just a matter of life and death: it's much more important than that," kata Shank.

Tentu saja, Bill, terutama jika kita cemas ketinggalan waktu salat atau kebelet di tengah pertandingan. [wir/air]

Esai ini ditulis untuk memperingati hari lahir Manajer Liverpool Bill Shankly, 2 September 1913. Selama 15 tahun menjadi manajer, ia mempersembahkan tiga gelar Liga Inggris, dua Piala FA, dan satu Piala UEFA.

Tag : sepakbola

Komentar

?>