Minggu, 17 Desember 2017

Coutinho, Neymar, dan Ini Hanya Soal Waktu

Sabtu, 19 Agustus 2017 18:24:38 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Coutinho, Neymar, dan Ini Hanya Soal Waktu
foto: Liverpool Echo

Duo Brasil jadi tokoh utama saga bursa transfer musim panas tahun ini: Phillipe Coutinho dan Neymar. Mereka membuktikan bahwa loyalitas pertama para pemain sepak bola hari ini bukan prestasi apalagi sejarah besar klub.

"Greed is good," kata Gordon Gekko dalam film Wall Street besutan Oliver Stone. Maka hanya soal waktu seorang pemain berganti seragam layaknya tentara bayaran, dan para fans sepak bola dipersilakan menyanyikan 'Soldier of Fortune' Deep Purple di stadion dengan syahdu. Saat itulah kita menyadari: pemain datang dan pergi, hanya suporter yang setia bernyanyi dan berteriak di stadion.

Awalnya, adalah Neymar. Tak ada yang menyangka dia bakal dengan enteng meminta dimasukkan dalam daftar transfer agar bisa boyongan ke Paris Saint Germain, klub kaya baru yang tak punya catatan prestasi panjang. Bahkan, majalah Four Four Two edisi Juni 2017 menempatkannya di sampul depan dengan judul 'Neymar, How He'll Fix Barca After Tehir Season of Insanity'.

Artikel jurnalis Andrew Murray menyebut Neymar bakal memainkan peran penting dan keluar dari bayang-bayang Lionel Messi dan menjadi raja baru di Nou Camp. Dia disetarakan dengan Johan Cruyff, Hristo Stoichkov, Luis Figo, Rivaldo, Ronaldinho, dan tentu saja Messi. Angka statistik bicara banyak soal kemampuannya: 100 gol dalam 177 pertandingan La Liga, Liga Champions, Copa del Rey, Supercopa Spanyol, dan Piala Dunia Antarklub.

Neymar melengkapi trisula depan Barca bersama Messi dan Lusi Suarez. Saat Messi absen, 45 persen serangan Barcelona berasal dari sayap kiri milik Neymar. Saat Messi bermain, 35 persen serangan Barca juga berasal dari kiri. Padahal, Neymar bukan pemain kidal.

Entah sejak kapan para cukong di PSG jatuh cinta kepada Neymar. Tapi patut diduga, mereka kepincut setengah mati saat Neymar menampilkan pertunjukan orkestra untuk menenggelamkan PSG 6-1 di babak 16 Besar Liga Champions, 9 Maret 2017. Kemenangan besar ini membalas kekalahan 0-4 di Paris pada leg pertama. Ini 'comeback' terbaik dalam sejarah Piala Eropa Antarklub. Saat itu Neymar mencetak dua gol di pengujung pertandingan.

Legenda Brasil Romario Faria menyebut Neymar pemain terbaik dunia saat ini. "Pemain terbaik adalah yang bermain bagus untuk klub dan tim nasionalnya," katanya menunjuk Neymar.

Cinta butuh bukti, bukan hanya janji. PSG memecah celengan untuk memecahkan rekor transfer pemain dunia dengan menebus buyout clause Neymar di Barca: 200 juta poundsterling atau Rp 3,4 triliun. Neymar pun mengubah target capainnya: bukan lagi bergabung dengan klub yang terbukti paling berprestasi di Eropa. Kini ia memilih bergabung dengan klub yang disebutnya "one of the most ambitious clubs in Europe".

"Ambisi Paris St-Germain memikat saya, bersama dengan passion dan energinya," kata Neymar.

Catat: ambisi. Janji, bukan bukti. Cita-cita, bukan realita. Akan, bukan sudah. Dengan kata lain: uang. Uang. Uang. Catat ini: Neymar bakal digaji 40,7 juta pound per tahun atau Rp 701 miliar dan 782 ribu pound per pekan atau Rp 13,476 miliar.

Jadi, selamat tinggal Katalunya. Lupakan Fariz Rastam Munaf. 

"Hasta La Vista Mi Amor..." 

Penuh Cinta

Di hariku Kan Kembali

Kan Kuingatkan Janji

Cintamu di Barcelona

Cinta mungkin ada di Barca. Tapi uang ada di Paris.

Kepanikan melanda Barca. Skuad andalan mereka mulai menua. Gerrard Pique sudah 30 tahun. Sang kapten Iniesta sudah 33 tahun. Mascherano 33 tahun. Messi menginjak kepala tiga. Begitu juga Suarez. Arda Turan 30 tahun. Sergio Busquets 29 tahun. Mereka butuh darah baru. Sang dirijen sekaligus pemecah kebuntuan setelah Xavi pensiun.

Solusi: Coutinho.

Problem: pemain kelahiran Rio de Janeiro, 12 Juni 1992 itu baru saja menandatangani perpanjangan kontrak hingga 2022 dengan Liverpool pada 25 Januari 2017. Tanpa pasal pelepasan atau buyout clause.

Namun ini sepak bola industri. Bahkan orang yang 'kukuh iman' dan 'mister nice guy' seperti Cou pun akhirnya menghadapi godaan. Dua godaan itu bernama Barcelona dan agen pemain. Bagi pemain Amerika latin mana pun, Barcelona adalah mitos dan godaan. Siapa yang tak tertarik bermain untuk klub ini. Bahkan Diego Armando Maradona melewatkan masa mudanya di sini sebelum berjaya di Napoli. Jadi saat Barca datang mengetuk, klub mana pun harus bersiap untuk menghadapi turbulensi.

Godaan kedua tentu saja agen pemain. Mereka jarang menempati kepala berita media massa mana pun, tersembunyi di tempat antah-berantah antara klub, manajer, dan pemain. Namun manteranya sudah jelas: rayulah agen jika ingin mendapatkan pemain. Liverpool sudah merasakannya dalam saga transfer Raheem Sterling. Sang agen Aidy ward memainkan peran besar untuk membuat Sterling pindah ke Man City.  

Tanggal 28 Juli 2017, jurnalis Guillem Balague mengatakan, sudah ada kesepakatan antara Barca dengan dua agen Countinho, Kia Joorabchian dan Giuliano Bertolucci. Tak butuh waktu lama, mendadak terdengar kabar bahwa Cou meminta kepada Klopp agar dimasukkan dalam daftar jual.

Para fans Liverpool mulai putus asa. Sebagian mulai tak yakin John Henry akan mempertahankan Coutinho. Investor utama Liverpool, Fenway Sports Group, lebih dekat dengan citra 'jual pemain semahal mungkin, beli semurah mungkin'. Money over glory. Mereka menunjuk kasus penjualan Luis Suarez ke Barca beberapa tahun lalu. Saat itu, Suarez juga baru saja menandatangani perpanjangan kontrak. Situasi ini tampaknya kurang lebih sama dengan situasi Cou.

Tentu saja situasinya tak seidentik itu. Kepindahan Suarez ke Barcelona bukanlah kejutan dadakan. Semua orang tahu, setidaknya di internal Liverpool FC. Setidaknya Steven Gerrard. Saat tawaran dari Arsenal datang, Gerrard yang meyakinkan Luis untuk tidak pergi. Dia mengirimkan pesan pendek saat Luis di Jepang untuk pemusatan latihan tim nasional Uruguay. Intinya: Luis hanya layak pergi ke klub raksasa di luar Inggris. Itu artinya Barca, bukan klub London yang tak pernah menjadi juara Eropa.

Orang juga lupa ada variabel tunggal penting: Jurgen Klopp.

Baca rekam jejak Klopp. Dia sosok yang percaya bahwa tidak ada pemain yang lebih besar daripada klub. Dia tidak percaya pemain bintang, karena percaya bisa mencetaknya alih-alih membelinya.

Dalam wawancara dengan situs This is Anfield mengenai bukunya 'The Anatomy of Liverpool', jurnalis Jonathan Wilson menyebut hanya ada sedikit tim yang mencoba mengedepankan filosofi bermain tim ketimbang individu. "Borussia Dortmund dan Liverpool salah satunya," katanya.

Saat itu, Liverpool dilatih Brendan Rodgers dan Dortmund dilatih Jurgen Klopp.

Klopp adalah tipikal pelatih keras kepala yang berani mengatakan 'jangan bikin gara-gara sama saya'. Dialah penguasa ruang ganti, bukan pemain. Mamadou Sakho mencoba meremehkan otoritas Klopp, dan kita semua tahu ia kemudian berada di mana: bermain dengan tim Liverpool U23 dan dipinjamkan ke Crystal Palace. Kontraknya masih beberapa tahun lagi, dan Klopp sama sekali belum meliriknya untuk memperbaiki zona pertahanan Reds yang payah.

Kini, Coutinho mau menjajal Klopp? Kita belum tahu bagaimana sikap Klopp. Cou belum bisa turun ke lapangan karena cedera punggung. Namun Klopp sudah bersikukuh: Cou tidak untuk dijual. Sikap ini didukung FSG. Tiga kali Barca melemparkan tawaran, tiga kali pula ditolak. Terakhir Barca menawarkan 118 juta pound.

Klopp sudah benar menampik tawaran Barca dan mengabaikan keinginan Cou. Ini masalah otoritas. Jika Cou lepas kendali dan pergi ke Barcelona, maka uang yang diterima Liverpool tak sepadan dengan turbulensi di ruang ganti pasca transfer. Klopp akan kehilangan otoritas. Padahal ia sudah berhasil membangun mentalitas pantang menyerah dan hasrat untuk menang yang lama hilang dari Anfield. Tak ada jaminan setelah melepas Cou dengan enteng, Klopp tak akan kehilangan pemain-pemain hebat lainnya. Hanya masalah waktu bagi klub raksasa dan kaya raya untuk mengetuk pintu bagi Sadio Mane.

Klopp tentu tak ingin Liverpool bernasib seperti Southampton yang tidak ke mana-mana, karena menjual bakat-bakat terbaik mereka. Bahkan manajer sehebat Ronald Koeman pun memilih mundur dan pindah ke Everton karena kecewa melihat tak ada ambisi untuk meraih trofi di St. Mary.

Apalagi permintaan Cou untuk pindah terlampau mendadak. Klopp tak punya cukup waktu untuk mencari penggantinya musim panas ini. Maka realistis, jika kemudian Liverpool tak mengizinkan Cou pergi dengan ongkos berapapun.

Ini keputusan berisiko memang. Dalam sepak bola industri hari ini, riskan mempertahankan pemain yang sudah setengah hati. Rumusnya jelas: jual selagi mahal. Namun sekali lagi, ini masalah otoritas. Lagipula semua dilakukan dengan perhitungan penuh. Jika Coutinho bermain setengah hati bagi Reds, Klopp menyiapkan bangku cadangan untuknya. Jam terbang Cou akan jauh berkurang, dan tahun depan Piala Dunia bakal digelar di Rusia. Semua orang tahu apa konsekuensi bagi Coutinho jika tak mampu menunjukkan performa maksimal di klubnya saat ini. Antrean pengguna nomor punggung 10 cukup panjang di Brasil.

Jadi, Barca boleh melupakan Coutinho sampai di sini. Entah lagi jika kemudian mendadak mereka berani menebus kaki Cou dengan duit 200 juta pound dan tanpa klausul macam-macam. Saya tak terlalu yakin Klopp dan FSG tetap keras kepala. Uang sebesar itu terlampau indah untuk dilewatkan, terutama dengan prospek membangun skuad mentereng yang bertahan dalam waktu yang lama. [wir]

 

Tag : sepakbola

Komentar

?>