Sabtu, 23 September 2017

Prabowo Bilang Ada Makar, Luhut Membantah

Kamis, 17 Agustus 2017 15:00:20 WIB
Reporter : Ribut Wijoto
Prabowo Bilang Ada Makar, Luhut Membantah

PRABOWO Subianto dan Luhut Binsar Panjaitan adalah dua tokoh nasional yang terbukti memiliki integritas dan wawasan kebangsaan sangat matang. Keduanya sama-sama memiliki latar belakang militer.

Saat masih aktif di Tentara Nasional Indonesia (TNI), karier keduanya sangat cemerlang. Tak heran, keduanya bertabur bintang, sarat penghargaan. Ketika memasuki purnawirawan pun, karier di bidang politik cukup sensasional. Saat ini, Prabowo didaulat memimpin partai Gerindra dan Luhut dipercaya menjadi menteri.

Di balik kecemerlangan karier, Prabowo dan Luhut ternyata pernah terlibat perbedaan sikap yang cukup signifikan. Sebuah momentum dalam sejarah Indonesia yang diungkapkan oleh Sintong Panjaitan melalui buku biografinya yang disusun oleh Hendro Subroto berjudul: Sintong Panjaitan, Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando, terbitan Kompas tahun 2009.

Melalui buku setebal 520 halaman, Sintong sempat mengungkapkan tentang peristiwa Maret 1983 di Kopassandha (sekarang Kopassus). Ketika itu, Jenderal TNI M Yusuf menjabat Menhankam/ Panglima ABRI, Letjen TNI Benny Moerdani sebagai Asisten Hankam/ Kepala Intelstrat/ Asitentel Kopkamtib, Kolonel Inf Sintong Panjaitan Komandan Grup 3/ Sandiyudha Kopassandha di Karianggo, Makassar.

Mayor Inf Luhut Pandjaitan dan Kapten Inf Prabowo Subianto ketika itu baru saja menyelesaikan pendidikan di Grenzschutzsgruppe 9 (GSC 9), suatu satuan antiteror Polisi Federal Perbatasan (Bundesgrenzshutz) di Jerman Barat. Keduanya lulus sempurna. Padahal rata-rata 80 persen siswa gagal lulus pendidikan GSC 9.

Suatu saat, Luhut dan Prabowo menghadap M Yusuf yang sedang meninjau Kopassandha. Keduanya kompak mengusulkan detasemen antiteror yang baru dengan nama Detasemen 81/ Antiteror. Usul disetujui. Luhut ditunjuk sebagai Komandan Den 81/ Antiteror. Sedangkan Prabowo sebagai wakilnya.

Bulan Maret 1983, Luhut dikejutkan oleh adanya situasi siaga dan laporan bahwa Prabowo berencana menculik beberapa perwira tinggi ABRI. Terdiri dari Letjen TNI LB Moerdani, Letjen TNI Soedharmono, Marsdya TNI Ginanjar Kartasasmita, Letjen TNI Moerdiono. Selain terkejut, Luhut juga heran. Sebab dua hari sebelumnya, Prabowo masih mengajak Luhut untuk mendukung LB Moerdani agar diangkat sebagai Menhankam/ Panglima ABRI.

Melihat kejanggalan rencana dan kebijakan situasi siaga itu, Luhut meredam sekaligus mengambil tindakan tegas. “Sekarang kalian semua ke dalam. Tidak seorang pun anggota Den 81 yang keluar pintu, tanpa perintah Luhut Pandjaitan, sebagai komandan,” ujar Luhut kepada seluruh anggota.

Selanjutnya, Luhut memanggil Prabowo. Hasilnya cukup mengejutkan pula. Prabowo mengaku mendapat informasi bahwa LB Moerdani hendak makar. “Pak Benny mau melakukan coup d’ etat (kudeta alias makar, red),” kata Prabowo.

Kepada Luhut, Prabowo menuturkan bahwa LB Moerdani telah mempersiapkan aksi makar melalui pengumpulan senjata. LB Moerdani juga disebutnya telah melakukan penyadapan.

Mendapat laporan itu, Luhut seketika membantah. Luhut menjelaskan, senjata yang dikumpulkan oleh LB Moerdani merupakan senjata yang bakal dikirim ke Pakistan. Nantinya senjata akan disalurkan kepada para pejuang Mujahiddin Afganistan untuk dipakai melawan tentara Uni Soviet. “Jadi Pak Benny memainkan peranan itu. But it is nothing to do with coup d’ etat,” kata Luhut.

Mendapat penjelasan Luhut, Prabowo ternyata tetap pada keyakinannya. Hanya saja, rencana Prabowo akhirnya tidak terwujud. Bahkan LB Moerdani justru benar-benar ditunjuk sebagai Panglima ABRI, menjabat sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan, juga Pangkopkamtib.

Peristiwa yang diungkap Sintong Panjaitan itu terjadi 34 tahun lalu. Lantas bagaimana Prabowo Subianto dan Luhut Pandjaitan menanggapinya?

Tidak ada komentar eksplisit dari kedua belah pihak. Tetapi teman dekat Prabowo yang sekaligus mantan Kepala Staf Kostrad (Kakostrad) Mayjen (Purn) Kivlan Zen membantah keras pernyataan Sintong Panjaitan. Kivlan membantah bahwa Prabowo hendak melakukan penculikan terhadap beberapa jenderal.

"Sintong itu mengigau," kata Kivlan Zen dalam sebuah wawancara, Jumat (13/3/2009).

Meski begitu, Kivlan tidak memungkiri bahwa Prabowo memiliki info tentang ambisi LB Moerdani untuk menjadi Panglima ABRI. Tidak hanya itu, Prabowo tahu persis rencana jangka panjang LB Moerdani.

Runutannya adalah sebagai berikut. “Menurut Prabowo, LB Moerdani itu berencana menjadi Panglima ABRI kemudian menjadi Wakil Presiden dengan meminta dukungan dari Fraksi ABRI. Dari kursi Wapres itu, dia berencana mengambil alih kursi Pak Harto. Itu Prabowo tahu semua dan dia cerita langsung sama saya,” papar Kivlan.

Sayangnya, menurut Kivlan, Presiden Soeharto tidak percaya ketika Prabowo melaporkan informasi tersebut. Sebaliknya, Prabowo justru menerima imbasnya. Dia disingkirkan. Sempat dikeluarkan dari staf Kopassus dan dijadikan Kepala Staf Kodim Bogor.

Kivlan juga mencurigai motivasi Sintong Panjaitan mengungkapkan cerita buruk tentang Prabowo. “Dia (Sintong) itu merasa Prabowo itu telah menggagalkan karirnya dari Pangdam Udayana. Waktu itu dia diberhentikan dari dinas militer gara-gara peristiwa Santa Cruz di Timor Timur pada 12 November 1991. Itu kan banyak pasukan huru hara yang meninggal dan demonstran banyak yang terbunuh,” tutur Kivlan.

Bagaimana dengan tanggapan dari pihak Luhut Pandjaitan terhadap peristiwa yang diungkapkan oleh Sintong Panjaitan?

Luhut ternyata tidak membantah bahwa hubungan pribadinya dengan Prabowo diwarnai dengan beberapa silang pendapat. Sebagai dua orang yang bersahabat selama puluhan tahun, menurutnya, tidak mungkin selalu kompak. Adanya perbedaan pendapat pastilah tidak bisa dihindari. Tetapi untuk hal-hal yang prinsip, Luhut mengakui kalau keduanya selalu dukung mendukung.

Dalam laman resmi Facebooknya, Luhut pernah mengungkap keistimewaan hubungannya dengan Prabowo.  "Saya kenal Pak Prabowo sejak dari pangkat Letnan. Sudah lebih dari 30 tahun kami berteman, walaupun kadang kami berbeda pendapat. Tapi kalau kami sudah bicara tentang NKRI, kami jadi sepakat, kami jadi satu dan kokoh. Kami tidak mau ditawar soal itu," tulis Luhut.

Begitulah, perjalanan panjang negeri Indonesia sejak sebelum merdeka hingga masa sekarang, senantiasa diwarnai oleh riak-riak. Letupan-letupan. Debat. Perbedaan tafsir. Kesemuanya itulah yang justru mendewasakan. Toh, kesemuanya terjadi dalam satu koridor yang sama, yakni menjaga keutuhan sekaligus memajukan Negara Kesatuan Rebupublik Indonesia. [but]

Tag : politik

Komentar

?>