Kamis, 14 Desember 2017

Basofi dan Tidak Semua Bondo Nekat

Selasa, 15 Agustus 2017 11:31:23 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Basofi dan Tidak Semua Bondo Nekat
Mantan Gubernur Jatim, HM Basofi Sudirman (almarhum).

Mantan Gubernur Jawa Timur Basofi Sudirman meninggal dunia. Dia layak dikenang karena banyak hal. Namun bagi dunia sepak bola, khususnya suporter Persebaya Surabaya, Basofi layak dikenang karena memperkenalkan kosakata baru bagi kaum perusuh sepak bola: Bonling atau Boling, Bondo Maling. Bermodalkan mencuri.

Basofi menulis tentang Bonling dalam artikel berjudul 'Mereka Tidak Perlu Dibela'. Artikel ini adalah bagian dari buku bunga rampai 'Bonek Berani karena Bersama' terbitan Hipotesa pada November 1997. Buku ini terbit setelah Persebaya menjuarai Liga Indonesia III dan nama Bonek diidentikkan dengan kerusuhan, keonaran, dan kriminalitas.

Basofi mengawali artikelnya dengan pertanyaan retoris: 'Apa sih hebatnya bonek (bondo nekat) dan boling (bondo maling)?' Dengan pertanyaan ini, sejak awal Basofi sebenarnya hendak mengajak publik untuk mengikuti logika dan nalar lagu 'Tidak Semua Laki-laki'.

Dalam lagu dangdut yang masyhur itu, Basofi bercerita tentang seorang pria yang membesarkan hati kekasihnya yang mengalami trauma terhadap lawan jenis karena selalu dikecewakan. "Tidak semua laki-laki bersalah kepadamu," demikian liriknya.

Basofi membagi penonton sepak bola menjadi tiga kalangan. Pertama, mereka yang dapat diidentifikasi sebagai pecinta murni olahraga yang tahu pula caranya mencintai olahraga. "Kalangan ini adalah mereka yang selain suka terhadap olahraga, juga suka terhadap kondusivitas dan 'suasana' perolahragaan yang baik," tulisnya.

Kedua, mereka yang sesungguhnya murni mencintai olahraga dan mencurahkan segala potensinya - terkadang dengan tanpa mempertimbangkan keterbatasan dirinya - demi olahraga yang digemarinya. Basofi memasukkan Bonek pada tipe kedua ini.

"Salah satu yang menonjol dari Bonek adalah kekuatan atau gairah dukungannya yang dengan luar biasa dicurahkan untuk tim andalannya. Kalangan ini bahkan rela mempertaruhkan apa saja. Secara sosiologis, kalangan ini sangat potensial untuk menggairahkan dunia perolaharagaan kita," tulis Basofi.

Lebih jauh, Basofi menyebut Bonek menempati posisi strategis dalam perjuangan bangsa. "Kalau tidak ada Bonek yang berani mencegat moncong NICA, mungkin 10 November akan meninggalkan kisah yang lain buat bangsa Indonesia."

Basofi mengapresiasi karakter bondo nekat sebagai sesuatu yang dibutuhkan dalam hidup. Menurutnya, dalam perspektif positif, bondo nekat 'merupakan sebuah simbol bagi kesungguhan yang dahsyat untuk mencapai atau memperjuangkan sebuah kemenangan'.

Basofi memisahkan Bonek dari penonton sepak bola tipe 'bonling (bondo maling)'. Ini tipe terakhir penonton sepak bola, yakni mereka yang pura-pura munri mencintai sepak bola, tapi berperilaku sebaliknya.

Dengan keras dalam artikel itu, Basofi menghantam para Bonling atau Boling ini. "Mereka memanipulasikan dan menghitamkan citra Bonek untuk mencederai olahraga dengan bertamengkan fanatisme."

"Mereka para bonling ini menyamar menjadi Bonek, lantas menjambret, merampok, meresahkan, merusuhkan dan menyusahkan warga masyarakat. Jumlah mereka yang bonling sesungguhnya tidak banyak, tapi karena proses penyamarannya dilakukan di tengah-tengah para Bonek, mereka menjadi setetes tinta masuk ke nair. Terkesan mewarnai - meskipun - dengan warna kemungkaran," tulis Basofi.

Basofi menyebut suporter bonling sebagai pengkhianat yang menggunakan dua format. "Pertama, format bunglon. Itulah yang mereka gunakan tatkala menyusup ke tengah Bonek untuk menyebarkan kemungkaran."

"Kedua, tampil dengan format yang 'antitesa'. Yang ini bonling intelektual namanya. Cara kerjanya ditujukan untuk mem-back up rekannya di lapanghan dengan menggunakan opini dan dalil-dalil sosial. Sehingga tatkala para bonling tadi berbuat kemungkaran di masyarakat, orang-orang ini lantas mencari-cari kambing hitamnya, atau mencarikan dasar legitimasinya, agar kemungkaran para bonling terhapus mudharatnya (kejelekannya)."

Tahun ini, tulisan Basofi sudah berusia dua dekade. Selama dua dasawarsa pula, Persebaya mengalami pasang dan surut, termasuk dibekukan selama bertahun-tahun oleh PSSI, sehingga tidak bisa mengikuti kompetisi sepak bola nasional.

Selama bertahun-tahun pula Bonek menjadi barisan terdepan menghadapi PSSI dan memperjuangkan agar Persebaya bisa berkompetisi kembali.

Hari ini, kita menemui generasi baru Bonek yang berbeda dengan 20 tahun silam saat Basofi menulis. Bonek generasi baru ini rata-rata lahir pada tahun 1990-an, dan belum menikmati masa jaya Persebaya di era akhir kompetisi perserikatan dan masa awal Liga Indonesia.

Mereka tumbuh di zaman informasi mudah diakses dan membuat dunia sebesar ponsel cerdas di saku celana. Generasi baru yang lebih toleran dan permisif terhadap nilai-nilai baru dalam sepak bola. Jadi tak heran jika sepak bola tak semaskulin dulu. Hari ini mudah sekali menemukan kaum perempuan dan anak-anak menyaksikan Persebaya di Stadion Gelora Bung Tomo. Sepak bola tak lagi menyeramkan.

Generasi baru ini tetap nekat. Tak ada yang berubah, karena bagi Bonek generasi baru ini, kenekatan adalah simbol keberanian yang secara alamiah ada dalam gen mereka. Mereka tetap menjadikan perang kota 10 November 1945 sebagai simbol keberanian dan identitas.

Jadi jangan heran, jika selama Persebaya bertanding di kota-kota lain dalam kompetisi Liga 2, Bonek mendominasi stadion. Mereka datang secara mandiri dan tanpa minta kawalan polisi sebagaimana suporer lain di Indonesia.

Namun generasi baru Bonek ini lebih kreatif dan santun. Mereka menciptakan banyak lagu untuk dinyanyikan di stadion. Datanglah ke Gelora Bung Tomo saat hari pertandingan, dan Anda akan mendengar selama 90 menit, mereka bernyanyi tanpa putus. Tidak lagi terdengar lagu dengan lirik menghujat suporter lain yang berakhir dengan kata-kata 'dibunuh saja'.

Alih-alih menghujat suporter rival, mereka lebih sibuk membuat koreografi kertas tiga dimensi di tribun untuk menyampaikan pesan kepada para pemain di lapangan, bahwa pilihannya hanya menang. Kekalahan bukan opsi.

Ada ikatan kuat antara Bonek dan para pemain Persebaya hari ini. Setiap kali usai mencetak gol, pemain selalu berlari ke tribun di belakang gawang untuk merayakannya bersama suporter. Mereka juga mengawali dan mengakhiri pertandingan dengan nyanyian 'Anthem Persebaya'.

Namun tentu saja, tidak ada kisah yang sempurna. Kendati sudah jauh berkurang, masih beberapa kali terdengar ulah suporter berseragam hijau yang melakukan aksi kekerasan dan bikin onar di jalan. Dalam konteks ini, agaknya kita perlu kembali menghidupkan kosakata 'Bonling' atau 'Boling' yang diperkenalkan Basofi.

Selama bertahun-tahun, media sosial menjadi alat bagi Bonek untuk berkomunikasi dan menyampaikan pesan perjuangan. Hasilnya efektif. Aksi 'kosongkan Surabaya hijaukan Kediri', aksi 'Revenge with Flower', boikot pertandingan, dan sejumlah aksi unjuk rasa bisa berjalan melalui komunikasi media sosial. Media sosial berperan seperti radio pada era perang kota 1945: media konsolidasi, informasi terbaru soal Persebaya dan Bonek, sekaligus menyampaikan pesan pembakar semangat.

Media sosial bisa dijadikan medium untuk menyebarkan kosakata 'Bonling' sebagai pembeda dengan Bonek. Dalam strategi diskursus sosial, ini adalah strategi 'eksklusi' yakni mengucilkan para perusuh dengan mendelegitimasi mereka sebagai kelompok yang tak layak menyandang status 'Bonek'. Ini bagian dari 'labeling': pendukung Persebaya yang tertib adalah Bonek, para biang onar berseragam hijau adalah Bonling atau Boling.

'Labeling' ini perlu disebarkan secara masif melalui media sosial, termasuk laman-laman yang dikelola kelompok-kelompok suporter Persebaya, sehingga memunculkan efek malu dan memarjinalkan orang-orang yang berbuat onar dengan mengatasnamakan kecintaan mereka terhadap Persebaya.

Dalam 'labeling' seperti ini, konsep 'liyan' atau 'the other' dalam daftar oposisi biner bisa dibuat. Sebut saja:

Bonek vs Boling
Chant kreatif vs chant rasis
Tertib vs rusuh
Membantu vs mencuri
Respek vs benci
Rivalitas 90 menit vs rivalitas ngawur
Menghormati pengguna jalan vs merusak kendaraan berplat nomor kota rival


Daftar itu bisa diperpanjang dengan menekankan nilai-nilai positif ada pada Bonek dan nilai-nilai negatif ada pada Boling. Ini akan memunculkan rasa malu bagi suporter Persebaya yang berbuat onar, karena dengan demikian mereka tak lagi diakui sebagai Bonek. Saya kira, itu yang diinginkan Basofi dalam artikel tersebut. Ringkasnya: jangan lagi menoleransi perilaku negatif, jika tak ingin kerja keras Bonek memperbaiki diri selama ini hancur.

Basofi menutup artikelnya dengan berpesan kepada Bonek untuk lebih jeli melihat bonling yang menyusup. "Kesukaan bonling itu memang membuat keruh. Setelah itu baru mereka mengail. Tinggallah para Bonek yang menanggung beban psikologisnya. Lha herannya, kok Bonek yang diperalat iku adem ayem thok? Yo opo, rek?"[wir/air]

Tag : sepakbola

Komentar

?>