Kamis, 19 Oktober 2017

9 Agustus, Kota Nagasaki Hancur dalam 1 Detik

Rabu, 09 Agustus 2017 12:48:12 WIB
Reporter : Ribut Wijoto
9 Agustus, Kota Nagasaki Hancur dalam 1 Detik

MASIH pukul 11.02 ketika bom atom dijatuhkan dari pesawat, aktivitas warga Nagasaki masih belum lama berselang. Dalam hitungan detik, bom mengubah begitu banyak hal. Sekitar 20 ribu warga Nagasaki seketika tewas. Puluhan ribu lainnya luka parah lalu meninggal. Mereka yang tidak tewas pun, dipaksa rela menyandang cacat seumur hidup.

Nagasaki. Ibukota prefektur (semacam provinsi) Nagasaki ini dikenal sebagai kota pelabuhan. Pantai dan pegunungan menjadi pemandangan alami yang didesain secara apik. Berbeda dengan wilayah lain di Jepang, kota Nagasaki mendapat lebih banyak pengaruh dari Eropa dan negara-negara sesama Asia.

Walau tidak yang paling besar, industri tumbuh subur di wilayah ini. Pelabuhan Nagasaki menerima kedatangan orang-orang Asia lain dan orang-orang Eropa. Pengaruh budaya Eropa masuk pula. Maka tidak heran di kota ini ada beberapa situs agama Nasrani.

Namun dalam hitungan detik, tanggal 9 Agustus 1945, peradaban Nagasaki hancur. Tidak ada kesempatan dan tempat berlindung bagi warga Nagasaki untuk lepas dari kematian. Bagi warga yang berada lumayan jauh dari pusat ledakan, sebagian besar warga mengalami luka bakar mengerikan. Akibat luka dan rasiasi nuklir, nyawa mereka pun tidak tertolong dalam jangka beberapa hari atau beberapa minggu. Warga yang tidak tewas, mereka dipaksa rela menyandang cacat seumur hidup.

Pengeboman Nagasaki sebenarnya berada di luar rencana. Dalam rencana awal, Amerika tidak hendak menjatuhkan bom ke kota Nagasaki. Sasaran adalah kota Fukuoka. Tapi karena saat itu awan gelap menutupi langit Fukuoka, rencana diubah, Nagasaki jadi korbannya.

72 Tahun berlalu, kota Nagasaki kini bangkit kembali. Nagasaki mengembalikan citra mereka sebagai kota pelabuhan yang berwatak industri dan wisata. Pabrik, perkantoran, rumah, perbukitan, dan birunya laut berpadu. Nagasaki berspirit industrial tetapi asri, berwatak wisata sekaligus atraktif dalam perdagangan.

Walau tidak sama persis, Nagasaki sebenarnya bisa dijadikan contoh perencanaan dan penataan kota-kota pantai di Indonesia, termasuk Surabaya. Khusus Surabaya, Walikota Tri Rismaharini memiliki perhatian besar terhadap tata kota. Infrastruktur tanpa lelah dibenahi. Taman-taman dibangun bersanding dengan gedung-gedung bertingkat, beriringan dengan bisingnya jalan raya. Kota pun menjadi lebih asri dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Namun sayangnya, Surabaya belum terlalu menampilkan citranya sebagai kota pelabuhan. Ikon-ikon wisata Surabaya pun juga jauh dari watak maritim. Memang ada usaha pengembangan wisata di Kenjeran, Tanjung Perak, sekitar Suramadu, dan sepanjang Kalimas. Tapi pesonanya belum sanggup menyedot passion wisatawan untuk datang berkunjung. Jika ada kesempatan, coba saja menyusuri sungai Kalimas, maka akan terlihat, banyak hal yang perlu dibenahi.

Watak maritim Surabaya saat ini justru kalah jauh dibandingkan masa penjajahan Belanda. Pemerintah Hindia Belanda lebih punya pakem bahwa pengembangan Surabaya disesuaikan dengan takdir alamnya, yakni kota pinggir laut. Atas pegangan pada pakem maritim, Hindia Belanda bahkan menyempatkan diri memecah Kalimas dan membangun sungai besar mulai Jagir Wonokromo hingga melintasi MERR.

Kembali pada Nagasaki. Jepang mengabadikan peristiwa bom atom melalui Nagasaki Peace Park. Di tengah taman itu, ada sebuah tugu yang menandai pusat jatuhnya bom. Tugu yang merekam sekaligus mencatat ribuan nama-nama korban tewas. Tidak lengkap rasanya berkunjung ke Nagasaki tanpa mampir ke Peace Park.

Melalui Nagasaki Peace Park pula, kita diingatkan bahwa ancaman bom atom bukanlah urusan masa silam semata. Teknologi justru mengembangkan daya ledak nuklir secara berlipat ganda. Terbaru, daya ledak nuklir telah bergerak 440 ribu kali lebih dahsyat dibanding bom atom yang memporak-porandakan kota Nagasaki.

Negara-negara maju baik secara terus terang maupun diam-diam tidak lelah untuk mengembangkan daya hancur nuklir. Teknologi nuklir seakan menjadi ajang prestise tiap negara. Mereka berlomba-lomba menebar ancaman kepada negara-negara lain.

Seakan dua sisi mata uang yang berlawanan, melalui Dewan Keamanan PBB, mereka selalu berseru agar pengembangan nuklir dikendalikan, dan pada saat yang sama, mereka mengundang para ilmuwan agar daya ledak nuklir mereka lebih dahsyat dibanding negara lain. Saat sekarang di seluruh dunia diperkirakan terdapat 15.000 hulu ledak nuklir. Sebagian besar, atau kurang lebih 80 persennya, adalah milik Amerika Serikat dan Rusia.

Begitulah, standar ganda negara maju tak pelak merembet ke negara lain. Iran, Pakistan, China, Korea Utara, dan negara-negara lain bersemangat turut dalam karnaval (perayaan) penghancuran dunia.

Korea Utara misalnya. Dalam satu tahun terakhir, Korea Utara beberapa kali menggelar ujicoba hulu ledak nuklir terbesar dalam sejarahnya. Bom nuklir yang memiliki ledakan jauh lebih besar ketimbang bom atom Nagasaki. Pyongyang juga mengklaim berhasil menguasai teknologi miniaturisasi hulu ledak nuklir.

Uji coba itu tentu saja memantik reaksi negara tetangga. Jepang dan Cina terpaksa melakukan uji radiasi darurat di perbatasan. Pemerintah Jepang terpaksa mengirimkan pesawat buat memonitor radiasi. Hal serupa dilakukan Cina yang menggelar uji radiasi darurat di kawasan perbatasan. Kedua negara termasuk Korea Selatan mendesak Korea Utara untuk menghentikan uji coba nuklir yang bisa memperburuk situasi. Tapi seperti yang diduga banyak pihak, Korea Utara tidak peduli.

Desakan dan tudingan paling keras dilontarkan oleh Amerika Serikat. Sama saja. Korea Utara tidak peduli. Justru saat ini, antara Korea Utara dan Amerika Serikat telah saling ancam. Keduanya mengaku siap perang. Lantas, bagaimana jika perang nuklir ini benar-benar terjadi? Mungkin tidak hanya satu atau dua negara yang terkena imbasnya. Mungkin nyawa warga seluruh dunia ikut terancam. Termasuk kita di Indonesia.

Indonesia sendiri memiliki tiga reaktor nuklir yang dikembangkan sejak tahun 1960-an. Ketiganya adalah reaktor nuklir yang dikelola BATAN, yakni TRIGA di Bandung diresmikan sejak 1965, lalu reaktor Kartini di BATAN Yogyakarta sejak 1979, dan reaktor RSG-GAS di Puspitek Serpong yang diresmikan pada 1987.

Tapi berbeda dengan Korea Utara, bangsa Indonesia  tidak mengarahkan nuklir untuk senjata mematikan. Indonesia memanfaatkan nuklir sebagai alternatif sumber energi.

Beberapa waktu lalu Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kemenristekdikti Ali Ghufron Mukti menuturkan, nuklir bisa menjadi alternatif energi untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Namun sayangnya, menurut Ali Ghufron, pengembangan reaktor nuklir terkendala oleh stigma negatif yang beredar di masyarakat.

"Soalnya pemanfatan nuklir sebagai energi terbarukan masih menjadi perdebatan di tengah masyarakat. Banyak yang mengidentikkan nuklir dengan hal-hal negatif, seperti untuk bahan peledak atau perusak lingkungan. Padahal, tenaga nuklir nyatanya dapat dimanfaatkan sebagai energi listrik yang murah," ucap Ghufron, 8 Agustus 2017 lalu. [but]

Komentar

?>