Selasa, 26 September 2017

Belajar dari Sejarah Ahok dan Soenarjo

Senin, 31 Juli 2017 15:58:03 WIB
Reporter : Ainur Rohim
Belajar dari Sejarah Ahok dan Soenarjo
Ainur Rohim, Penanggung Jawab media online beritajatim.com

Sejumlah lembaga survei menempatkan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) sebagai bakal calon gubernur (Cagub) Jatim dengan tingkat elektabilitas politik tertinggi. Dibandingkan dengan Khofifah Indar Parawansa (Mensos RI), Tri Rismaharini (Walikota Surabaya), dan figur lain, elektabilitas politik Gus Ipul--panggilan akrab Saifullah Yusuf--paling tinggi.

Atas realitas politik tersebut, apakah jaminan Gus Ipul dipastikan bakal memenangkan Pilgub Jatim 2018 dengan mudah? Banyak perspektif yang mesti dipelajari dan jadi pertimbangan sebelum mengambil konklusi bersifat final.

Sebab, politik adalah seni kemungkinan dengan berbagai variabel dan indikator yang mempengaruhi, baik bersifat predictable maupun unpredictable. Politik itu seperti gelang karet: kadang mengembang dan kadang mengkerut.

Tempo hampir setahun adalah waktu sangat lama dan lebih dari cukup untuk membalikkan seluruh dan atau sebagian prediksi politik, terutama hasil final kontestasi politik terbuka seperti Pilgub Jatim. Yang digadang-gadang menang, bahkan memenangkan kontestasi dengan mudah, karena dinilai tak ada rival politik sebanding, ternyata hasil akhirnya bisa lain.

Pilgub DKI Jakarta 2017 setidaknya memberikan pelajaran penting. Apa itu? Figur cagub yang digadang-gadang bakal menang mutlak dan telak: Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sekaligus Gubernur DKI Jakarta incumbant, akhirnya harus menelan pil pahit dikandaskan Anies Rasyid Baswedan, yang baru masuk arena gelanggang kontestasi sekitar 7 bulan menjelang perhelatan politik digelar.

Banyak lembaga survei kredibel jauh-jauh hari sebelum hari H Pilgub DKI Jakarta 2017 memposisikan Ahok dengan tingkat elektabilitas tertinggi. Sekitar setahun sebelum pilgub digelar, elektabilitas Ahok jauh di atas angka 50%. Kelihatannya saat itu tak mungkin mengalahkan Ahok, mengingat yang bersangkutan di-back up banyak elite ekonomi, politik, sosial, media, dan lainnya, yang kuat dan mantap di posisinya masing-masing.

Apa yang kemudian terjadi? Ternyata Ahok kalah vis a vis Anies di putaran kedua Pilgub DKI Jakarta. Pendukungnya meratapi kekalahan itu berhari-hari dan tak lekas bisa move on melihat hasil akhir kontestasi politik di DKI Jakarta itu. Seolah tak ada yang percaya bahwa pasangan Ahok-Djarot bisa dikalahkan.

Sejumlah parpol besar, menengah, dan kecil merapat ke kubu Ahok. Misalnya, PDIP, Partai Golkar, PKB, PPP, Partai Hanura, Partai NasDem, dan lainnya. Tapi, itulah hasil kontestasi politik. Sulit diprediksi secara presisi sebagaimana matematika, fisika, dan kimia. Ahok kalah dan Anies menang. Itu pelajaran pertama dari Pilgub DKI Jakarta 2017, yang memorinya belum lama berlalu dari ingatan kita bersama.

Jauh sebelum itu, di Jatim, tepatnya menjelang Pilgub Jatim 2008, nama Ketua DPD Partai Golkar Dr Soenarjo, mantan Sekretaris Daerah Provinsi Jatim dan pernah menjabat sebagai Wakil Gubernur (Wagub) Jatim periode 2003-2008, tingkat elektabilitasnya tinggi. Soenarjo, birokrat tulen yang sangat berkompeten sebagai dalang wayang kulit, itu memiliki tingkat elektabilitas politik sangat tinggi sekitar setahun sebelum Pilgub Jatim 2008.

Saat itu, menjelang Pilgub Jatim 2008, banyak pengamat politik, tokoh politik, tokoh masyarakat, tokoh media, elite ekonomi, dan elite sosial lain memiliki kesimpulan sementara: Tak mungkin mengalahkan Soenarjo di Pilgub Jatim 2008. Sekitar setahun menjelang Pilgub Jatim 2008, sejumlah lembaga survei memposisikan elektabilitas politik Soenarjo lebih dari 50%. Ibaratnya, saat elektabilitas Pakde Karwo masih di kisaran 5%, Soenarjo posisinya beratus-ratus persen vis a vis Pakde Karwo.

Soenarjo juga memiliki rekam jejak pengalaman birokrasi lengkap dan paripurna. Soenarjo punya kompetensi mendekati massa pemilih di akar bawah, terutama di kawasan Mataraman Jatim, dengan pendekatan kultural, karena kemampuan khususnya: dalang wayang kulit. Soenarjo juga menjabat Ketua Partai Golkar Jatim.

Kombinasi tiga kapasitas dan kompetensi melekat pada diri Soenarjo: birokrat tulen (administrator pemerintahan), politikus partai besar (jalur politik), dan dayang wayang kulit (jalur kultural). Terlebih- lebih yang digandeng Soenarjo adalah KH Ali Maschan Moesa, Ketua PWNU Jatim. Pimpinan eksekutif ormas dari massa Islam Tradisional terbesar di Jatim dan di Indonesia.

Di sisi lain, Soekarwo (Pakde Karwo) berangkat dengan kapasitas dan label birokrat tulen, yang tak pernah terjun lagi di politik praktis setelah era Reformasi 1998. Pakde Karwo lebih banyak duduk di posisi dan jabatan yang berhubungan dengan keuangan daerah. Pakde Karwo seorang spesialis, bukan generalis layaknya back ground politikus lapangan, seperti Sutjipto, Ridwan Hisjam, dan Soenarjo.

Hasil akhir yang kita lihat adalah pasangan Pakde Karwo-Gus Ipul dan pasangan Khofifah Indar Parawansa-Brigjen TNI Purn Mujiono lolos ke putaran kedua. Tiga pasangan lain: Soenarjo-Ali Mashan Moesa (Partai Golkar), Sutjipto-Ridwan Hisjam (PDIP), dan Achmady-Brigjen TNI Purn Suhartono (PKB) kandas di babak pertama. Pilgub Jatim 2008 akhirnya dimenangkan pasangan Pakde Karwo-Gus Ipul setelah melalui 3 kali putaran pertarungan.

Bagaimana respon Soenarjo setelah dinyatakan tak lolos ke putaran kedua Pilgub Jatim 2008? Mantan Sekdaprov Jatim itu mengatakan, tak masalah jika kalah dalam Pilgub Jatim, karena ia masih memiliki banyak tugas lain. Namun, dia meminta Partai Golkar mawas diri dan berkonsolidasi, menyusul kekalahan partai berlambang pohon beringin itu di sejumlah pilkada.

Ketua Umum DPP Partai Golkar saat itu, Muhammad Jusuf Kalla, yang juga Wakil Presiden, mengaku bisa menerima kekalahan calon yang diusung Golkar. ”Karena inilah wujud demokrasi,” katanya. Menurut JK, Pilgub Jatim berlangsung menarik. Jatim yang merupakan basis PKB, tapi suara untuk calon PKB justru paling rendah. Ini membuktikan antara figur dan partai tak ada relevansinya.

Satu catatan penting dari Pilgub Jatim 2008 dan Pilgub DKI Jakarta 2017: leading elektabilitas politik di babak-babak awal prakontestasi bukan jaminan figur tertentu bakal memenangkan kontestasi dengan mudah. Kendati paradigma ini tak berlaku pada hasil Pilgub Jatim 2013. Di mana pasangan Pakde Karwo-Gus Ipul (KarSa) sejak awal diprediksi bakal memenangkan pertarungan vis a vis Khofifah-Herman Sumawiredja, Bambang DH-Said Abdullah, dan Eggy Sudjana-M Sihat.

Leading-nya Gus Ipul di babak-babak awal Pilgub Jatim 2018 jangan sampai mengakibatkan bersangkutan dan tim pemenangannya terlena. Belajar dan mengambil hikmah politik dari sejarah politik pilgub provinsi lain maupun di Jatim di masa lalu, adalah hal penting yang tak boleh diabaikan. Terlebih-lebih Pilgub Jatim 2018 besar kemungkinan bakal menghadapkan antartokoh potensial dari NU dalam posisi bertanding, bukan bersanding. [air]

Penulis adalah Penanggung Jawab beritajatim.com

Tag : politik

Komentar

?>