Kamis, 21 September 2017

Data 5 Lembaga Survei

Survei Januari-Juni, Trend Elektabilitas Gus Ipul.....

Kamis, 13 Juli 2017 09:55:04 WIB
Reporter : Rahardi Soekarno J.
Survei Januari-Juni, Trend Elektabilitas Gus Ipul.....

PILGUB Jatim 2018 memang baru digelar setahun lagi atau tepatnya 27 Juni 2018. Sejumlah nama kandidat bermunculan dan mulai atau akan mengambil formulir pendaftaran bakal calon gubernur dan wakil gubernur.

Baru dua parpol yang resmi membuka lowongan pendaftaran: PDI Perjuangan dan Partai Demokrat. PDIP dengan 19 kursi DPRD Jatim adalah parpol pendukung kekuasaan (Jokowi-JK), kalau Partai Demokrat dengan 13 kursi DPRD Jatim adalah parpol penguasa Jatim saat ini (baca: Gubernur Jatim sekaligus Ketua DPD Partai Demokrat Jatim Pakde Karwo).

Catatan beritajatim.com, lima kandidat telah mendaftar di Markas PDIP Jatim sejak 1 Juni hingga akhir masa pengembalian pada 10 Juli 2017. Mereka adalah Saifullah Yusuf (Gus Ipul), Kusnadi, Budi 'Kanang' Sulistyono, Abdullah Azwar Anas dan Suhandoyo. Hanya Gus Ipul mengisi lowongan bacagub. Empat nama lainnya berebut posisi bacawagub.

Mereka yang tidak mendaftar seperti halnya Tri Rismaharini atau Khofifah Indar Parawansa, tidak menutup peluangnya diusung PDIP, jika memang ada 'perintah penugasan khusus' dari Ketum Megawati Soekarnoputri. Ini pernah terjadi saat pilgub Jatim 2008 silam. Pakde Karwo yang mengantongi suara terbanyak DPC PDIP se-Jatim saat Rakerdasus, tapi harus menelan 'pil pahit', karena Bu Mega merekom Alm Pak Tjip (Sutjipto) sebagai cagub Jatim dari PDIP.

Partai berbintang Mercy, Demokrat baru saja membuka pendaftaran pada 12 Juli dan akan ditutup pengembaliannya hingga 31 Juli 2017. Baru satu nama yang mengambil formulir bacagub di hari pertama. Dia adalah Waketum Partai Demokrat Nurhayati Ali Assegaf yang juga anggota DPR RI.

Dijadwalkan pada 16 Juli, Inspektur Provinsi Jatim sekaligus Ketua PA GMNI Jatim Nurwiyatno (Cak Nur) akan mendaftar. Dan, pada 17 Juli giliran Ketua Umum Kadin Jatim La Nyalla Mahmud Mattalitti yang mengambil formulir. Gus Ipul sendiri sudah dianggap mendaftar bacagub di Demokrat Jatim pada 1 Juni, ketika Ketua PBNU ini melakukan silaturrahmi politik dan diterima langsung Pakde Karwo. Setelah dari kantor Demokrat inilah, mantan Menteri Percepatan Pembangunan Desa Tertinggal ini mendaftar bacagub di PDIP.

Jika melihat data pendaftaran di PDIP dan Demokrat, ada delapan nama kandidat yang serius bertarung di pilgub Jatim. Mereka adalah Saifullah Yusuf (Gus Ipul), Kusnadi, Budi 'Kanang' Sulistyono, Abdullah Azwar Anas, Suhandoyo, Nurhayati Assegaf, Nurwiyatno dan La Nyalla.

Tapi, berdasarkan catatan beritajatim.com, lima lembaga survei yang telah merilis hasil survei sejak Januari hingga akhir Juni mencatat ada tiga nama tertinggi popularitas (paling dikenal), akseptabilitas (paling disuka) dan elektabilitas (paling dipilih). Mereka adalah Wagub Jatim Gus Ipul, Walikota Surabaya Risma dan Mensos RI Khofifah.

Survei The Initiative Institute
Jika menilik ke belakang, The Initiative Institute milik Airlangga Pribadi adalah lembaga survei kali pertama yang merilis hasil surveinya tentang popularitas dan elektabilitas calon gubernur atau wakil gubernur menjelang pilgub Jatim 2018. Survei dilakukan Januari-Maret 2017 dan diumumkan ke publik pada 26 April di RM Dapur Desa Surabaya.

Hasilnya, Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menempati peringkat tertinggi tingkat popularitas dan elektabilitasnya. Popularitas Gus Ipul mencapai 82,8 persen dan elektabilitasnya 33,2 persen.

Peringkat kedua ditempati Khofifah Indar Parawansa dengan popularitas 81,4 persen dan elektabilitas 28,3 persen. Kemudian, nama Walikota Surabaya Tri Rismaharini bertengger di urutan ketiga dengan popularitas 75,4 persen dan elektabilitas 26,1 persen.

Survei Indikator Politik Indonesia
Lalu, Indikator Politik Indonesia melakukan survei dengan sampel sebanyak 819 orang pada 3-7 Mei 2017. Hasilnya, elektabilitas Gus Ipul sedikit menurun dibandingkan survei sebelumnya yang dilakukan The Initiative Institute. Dari 33,20 persen, elektabilitas Gus Ipul turun menjadi 32,50 persen.

Risma yang awalnya di posisi ketiga survei The Initiative menanjak di posisi kedua menyalip Khofifah dengan capaian 24 persen. Hanya saja angkanya menurun dari 26,10 persen menjadi 24 persen. Khofifah sendiri melorot ke posisi ketiga di bawah Risma dengan 19,80 persen, menurun dibandingkan survei sebelumnya 28,30 persen.

Peneliti Indikator Politik Indonesia Hendro Prasetyo kepada wartawan di RM Dapur Desa Surabaya, Minggu (11/6/2017) mengatakan, selisih dukungan pada tiga besar nama Gus Ipul, Risma dan Khofifah relatif konstan, masing-masing sekitar 4 persen.

"Jika yang bersaing hanya tiga nama, Gus Ipul mendapat 32,50 persen, Risma 24,00 persen dan Khofifah 19,80 persen. Gus Ipul sedikit melebar selisihnya dengan dua pesaing utamanya Risma dan Khofifah," jelasnya.

Survei Poltracking Indonesia
Gus Ipul menurun sedikit kembali dari 32,50 persen menjadi 32,29 persen. Risma naik 3 persen, dari 24 persen menjadi 27,08 persen. Khofifah menurun sedikit dari 19,80 persen menjadi 19,11 persen.

Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia Hanta Yuda mengatakan, berdasarkan hasil survei yang dilakukan pada 19-25 Mei 2017, Wagub Saifullah Yusuf atau akrab disapa Gus Ipul, memiliki elektabilitas tertinggi pada Pilkada Jawa Timur 2018.

Menurut Hanta, elektabilitas Gus Ipul mencapai 32,29 persen. Sementara tiga kandidat lainnya yakni Tri Rismaharini di urutan kedua dengan 27,08 persen, Khofifah Indar Parawansa 19,11 persen dan Abdullah Azwar Anas 8,47 persen.

"Jika Pilkada Jawa Timur dilaksanakan sekarang, maka Saifullah Yusuf berpotensi unggul menjadi gubernur," ujar Hanta saat peluncuran hasil survei 'Menakar Kandidat Potensial Pilkada Jawa Timur 2018', di bilangan Wahid Hasyim, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (11/6/2017).

Saifullah Yusuf, Tri Rismaharini, dan Khofifah Indar Parawansa merupakan figur-figur yang berpotensi menjadi kandidat kuat gubernur dalam Pilkada Jatim.

Hanta mengatakan, Saifullah Yusuf menjadi figur kandidat yang paling dipersepsikan responden mampu memimpin Jawa Timur dan dinilai religius.

Sementara Tri Rismaharini dipersepsikan sebagai pemimpin yang peduli, merakyat, jujur, antikorupsi, berani dan berprestasi. Selain itu, menurut survei, Saifullah mendapat penilaian kinerja cukup baik sebagai wakil gubernur.

"Tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Gus Ipul sebagai wakil gubernur mencapai 59 persen. Hanya beda 1 persen dengan Gubernur Soekarwo, yakni 60 persen," kata Hanta.

Meski demikian, Hanta mengingatkan bahwa potensi terjadinya pergeseran pemilih sangat mungkin terjadi. Mengingat jadwal pelaksanaan Pilkada Jatim masih menyisakan satu tahun lagi. Peta politik Jawa Timur dinilai masih sangat cair sebab persentase swing voters di Jawa Timur mencapai 43,80 persen.

LSPI

Tren elektabilitas Gus Ipul menurun kembali sedikit dibanding survei Poltracking sebelumnya, dari 32,29 persen menjadi 31,69 persen. Risma juga kembali menurun 3 persen, dari 27,08 persen melorot menjadi 24,31 persen. Khofifah di posisi ketiga mengalami kenaikan dari 19,11 persen merangkak ke 21,74 persen.

Koordinator Riset Lembaga Survei Politik Indonesia (LSPI) Muchtar S Shihab kepada wartawan, Selasa (11/7/2017) di Jakarta mengatakan, dalam survei terbaru lembaganya, elektabilitas Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf (Gus Ipul) sudah mencapai angka 31,69 persen. "Angka ini cukup tinggi dan mempunyai kecenderungan naik di masa survei berikutnya," ujarnya.

Posisi kedua dan seterusnya diduduki oleh Tri Rismaharini dengan elektabilitas sebesar 24,31 persen kemudian Khofifah Indar Parawansa 21,74 persen, Abdullah Azwar Anas 9,32 persen dan Abdul Halim Iskandar 4,97 persen.

Survei terakhir SSC

Lalu, Surabaya Survey Center (SSC) milik Mochtar W Oetomo (dosen Unijoyo Madura) mengumumkan hasil surveinya paling gress yang dilaksanakan pada 10-30 Juni 2018 di 38 kabupaten/kota se-Jatim di Hotel Yello Surabaya, Rabu (12/7/2017).

Hasilnya, jika disimulasikan tiga kandidat, elektabilitas Saifullah Yusuf (Gus Ipul) mencapai 32 persen. Angka ini unggul dibandingkan Walikota Surabaya Tri Rismaharini 30,40 persen dan Mensos Khofifah Indar Parawansa 22,50 persen. Mereka yang belum menentukan pilihan 15,10 persen.

Artinya, elektabilitas Gus Ipul naik sedikit kembali di posisi 32 persen, dari survei yang dilakukan LSPI sebelumnya 31,69 persen. Risma melonjak pesat ke posisi 30,40 persen dari sebelumnya di angka 24,31 persen. Khofifah berada di urutan ketiga dengan 22,50 persen atau naik 1 persen dari 21,74 persen.

"Gus Ipul merupakan figur yang dipersepsikan publik sebagai cagub berpengalaman dan merakyat. Sementara Risma cagub yang tegas dan bersih. Kalau Khofifah sebagai cagub yang pintar dan visioner," kata Direktur SSC Mochtar W Oetomo kepada wartawan.

Jumlah sampel 800 responden, diperoleh melalui teknik pencuplikan secara rambang berjenjang (stratified multistage random sampling). Margin of error sekitar 3,5 persen dan pada tingkat kepercayaan (level of confidence) sebesar 95 persen. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara tatap muka dengan pedoman kuisioner.

Jika disimulasikan 24 kandidat, tingkat popularitas tertinggi adalah Khofifah dengan 90 persen. Kemudian, disusul Gus Ipul 84,60 persen, Risma 79,80 persen, Anang Hermansyah 67,30 persen dan Azwar Anas 65,50 persen.

Sedangkan untuk tingkat akseptabilitas, Risma tertinggi dengan 75,80 persen, Gus Ipul 75,50 persen, Khofifah 67,90 persen, Mahfud MD 39 persen dan Anang Hermansyah 31,10 persen.

Dia menjelaskan, secara umum pemerintahan Gubernur Soekarwo dan Wakil Gubernur Saifullah Yusuf mendapat apresiasi yang baik dari masyarakat. Hal ini terlihat dari sebagian besar rakyat (48,10 persen) berpendapat bahwa
kondisi sekarang lebih baik dibanding kondisi pemerintahan sebelumnya dan hanya 2,10 persen yang berpendapat lebih buruk.

"Dari temuan survei ini, tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Gubernur Soekarwo sebesar 65,80 persen, sedang untuk Wagub Saifullah Yusuf sebesar 49,90 persen," imbuhnya.

Beritajatim.com mencatat tingkat kepuasan publik atas pemerintahan Pakde Karwo dan Gus Ipul berada di angka 50-65 persen. SSC mencatat tingkat kepuasan publik atas kinerja Pakde Karwo 65,80 persen dan Gus Ipul 49,90 persen. Poltracking mencatat di angka 60 persen untuk Pakde dan 59 persen untuk Gus Ipul

"Tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Gus Ipul sebagai wakil gubernur mencapai 59 persen. Hanya beda 1 persen dengan Gubernur Soekarwo, yakni 60 persen," kata Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia Hanta Yuda, berdasarkan hasil survei yang dilakukan pada 19-25 Mei 2017.

Belajar dari Tumbangnya Ahok
Jika belajar dari kasus incumbent Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang survei tingkat kepuasan publiknya mencapai di atas 70 persen, tepatnya 73 persen (LSI Denny JA), tenyata tidak berbanding lurus dengan elektabilitasnya yang didapatnya saat hasil pilkada putaran kedua: hanya 42,04 persen.

KPU Provinsi DKI Jakarta telah mengesahkan hasil rekapitulasi penghitungan suara tingkat provinsi, Minggu (30/4/2017) dini hari. Perolehan suara terbanyak pada putaran kedua Pilkada DKI Jakarta diraih pasangan calon nomor pemilihan tiga, Anies Baswedan-Sandiaga Uno, dengan 57,96 persen suara.

Adapun pasangan nomor pemilihan dua, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat memperoleh 42,04 persen suara. Padahal, survei tingkat kepuasan publik atas kinerja Ahok-Djarot di atas 70 persen atau tepatnya 73 persen versi LSI Denny JA.

Artinya, posisi Gus Ipul yang merupakan setengah incumbent saat ini belum aman. Gus Ipul memang bukan incumbent murni, karena pasangan Pakde Karwo-Gus Ipul tidak maju kembali seperti halnya Ahok-Djarot. Bisa disebut incumbent murni, jika Gus Ipul didukung oleh Pakde Karwo dan Partai Demokrat.

Ingat, Waspada Gus Ipul!

Tren elektabilitas Gus Ipul cenderung stagnan di angka 31-33 persen. Elektabilitas Gus Ipul tertinggi di angka 33,20 persen saat survei di bulan Januari-Maret 2017 yang digelar The Initiative Institute. Terendah 31,69 persen saat survei digelar Juni 2017 oleh LSPI. Dan, posisi survei terakhir SSC hingga akhir Juni, Gus Ipul bertahan di angka 32 persen. Ini harus diwaspadai Gus Ipul dan parpol pendukungnya, agar mengerek terus elektabilitas dengan memperbanyak tatap muka dengan masyarakat. Gus Ipul bisa menggandeng cawagub yang tepat dan membantu elektabilitas. Lihat data di bawah ini, mungkin bisa jadi pertimbangan dan membantu Gus Ipul memilih pasangannya.

Survei SSC menyebut cawagub dari nasionalis lebih diharapkan publik, dibandingkan hanya 16,90 persen publik yang menginginkan cawagubnya juga dari NU dan hanya 11,40 persen yang berpendapat cawagub seharusnya dari kalangan Muhammadiyah. Cawagub dari kalangan pengusaha diharapkan 8,90 persen, birokrat 5,90 persen, artis 0,40 persen dan tidak menjawab 32,10 persen.

Sementara kandidat cawagub yang memiliki elektabilitas paling tinggi adalah Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas 12,90 persen. Disusul nama Ketua PDIP Jatim Kusnadi 7,50 persen, Ketum Kadin Jatim La Nyalla Mahmud Mattalitti 7,40 persen, artis dan politisi PAN Anang Hermansyah 6,90 persen dan Ketua PKB Jatim Abdul Halim Iskandar 6 persen.

Risma meskipun berkali-kali menyatakan tidak bakal maju pilgub, Jatim malah melonjak pesat elektabilitasnya ke posisi 30,40 persen dari survei sebelumnya di angka 24,31 persen. Khofifah berada di urutan ketiga dengan 22,50 persen atau naik 1 persen dari 21,74 persen. Khofifah sendiri hingga saat ini belum memutuskan maju atau tidak di pilgub Jatim. Seringkali Mensos mengatakan checksound ke masyarakat dan menyamakan frekuensi dengan parpol pendukungnya.

Siapa yang cerdas dan tepat memilih pasangan cawagubnya, baik Gus Ipul, Risma dan Khofifah akan memenangkan pertarungan pilgub Jatim 2018. Semoga!!! [tok/suf]

Tag : pilgub jatim

Komentar

?>