Sabtu, 21 Oktober 2017

Tol Surabaya-Kertosono, Hindari 'Jalur Horor' Saradan

Kamis, 29 Juni 2017 11:34:50 WIB
Reporter : Rahardi Soekarno J.
Tol Surabaya-Kertosono, Hindari 'Jalur Horor' Saradan

MUDIK adalah kegiatan perantau atau pekerja migran untuk kembali ke kampung halamannya. Mudik di Indonesia identik dengan tradisi tahunan yang terjadi menjelang hari raya besar keagamaan misalnya menjelang Lebaran.

Pada saat itulah ada kesempatan untuk berkumpul dengan sanak saudara yang tersebar di perantauan, selain tentunya juga sowan dengan orang tua. Transportasi yang digunakan antara lain pesawat terbang, kereta api, kapal laut, bus dan kendaraan pribadi seperti mobil dan sepeda motor, bahkan truk dapat digunakan untuk mudik. Tradisi mudik muncul pada beberapa negara berkembang dengan mayoritas penduduk Muslim, seperti Indonesia.

Saya pun mengikuti tradisi mudik. Tahun ini tujuan mudik saya adalah Madiun Jawa Timur, Solo dan Klaten Jawa Tengah. Di tiga daerah itu merupakan kerabat dari istri saya yang aseli Kota Brem Madiun. Kami pun berangkat dari Surabaya pukul 10.30 WIB pada Senin (26/6/2017) atau hari lebaran kedua.

Mumpung tol fungsional Surabaya-Mojokerto-Kertosono difungsikan satu lajur untuk arus mudik lebaran mulai 19 Juni hingga 27 Juni, saya pun memanfaatkannya. Tol fungsional dibuka pukul 06.00 pagi hingga pukul 17.00 sore. Pada 28 Juni-2 Juli, tol fungsional digunakan untuk arus balik dari Kertosono kembali ke Surabaya.

Kami pun meluncur dari Surabaya melalui pintu masuk tol Bundara Waru. Rambu-rambu peringatan di jalan tol mengatakan agar laju mobil maksimal batas kecepatan hanya 40 km/jam. Perjalanan lewat tol lancar. Surabaya ke Mojokerto ditempuh hanya dengan waktu 20 menit. Pengemudi cukup membayar tarif tol Rp 1.500.

Tampak petugas gabungan dari PT Jasa Marga (operator tol Surabaya-Mojokerto), kepolisian dan Dishub berada di setiap perlintasan jalan desa. Ini untuk memberikan kesempatan warga desa untuk melintasi jalan tol menggunakan sepeda motor atau sepeda engkol, karena jembatan atas tol belum selesai dibangun.

Satu yang menjadi catatan penulis adalah masih banyaknya debu di jalan tol yang mengganggu perjalanan. Hanya beberapa titik yang terlihat petugas menyemprotkan air untuk mengurangi debu itu. Selain itu, jalan tol memang ada yang mulus dan masih bergelombang. Tapi pengendara jelas memakluminya. Namanya juga masih fungsional dan 'dipaksakan' untuk arus mudik balik lebaran yang sangat membantu memecah kemacetan arus di pertigaan Mengkreng.

Petugas juga menyediakan Rest Area dadakan di tol fungsional itu bagi pengendara yang ingin melepas lelah sebentar, makan minum, buang air kecil dan melaksanakan sholat.

Perjalanan pun dilanjutkan ke Kertosono via tol fungsional Mojokerto-Jombang (Bandar Kedungmulyo). Di pintu masuk tol Mojokerto menuju Kertosono dikenakan tarif Rp 15.500 untuk mobil golongan I dan Rp 19.000 untuk mobil golongan II. Keluar Jombang (Bandar Kedungmulyo) bayar kembali Rp 11.000.

Kita akan menemui dua jembatan Balley di tol Jombang menuju Kertosono yang dioperasikan oleh PT Marga Harjaya Infrastruktur (MHI) ini. Jembatan Balley ini untuk menyambung akses tol yang memang belum selesai dibangun.

Pengendara dari exit tol Bandar Kedungmulyo Jombang hanya cukup memutar balik kanan saja untuk masuk ke tol kembali menuju exit Kertosono. Jadi, nggak perlu keluar ke jalan nasional di wilayah Perak-Jombang. Perjalanan dari Mojokerto-Kertosono via tol hanya memakan waktu sekitar 1 jam. Artinya, Surabaya-Kertosono hanya butuh 1 jam 20 menit. Nantinya keluar exit Kertosono adalah Desa Patianrowo-Nganjuk, pengendara akan diarahkan ke jalur alternatif untuk tujuan Madiun-Solo.

Untuk masuk jalan utama Saradan-Caruban, penulis bersama pengendara lainnya harus melalui jalur alternatif di dalam kawasan hutan atau dinamakan Alas Wilangan Nganjuk. Kanan-kiri hanya terlihat hamparan pohon jati. Ini sepertinya jalur alternatif baru yang disiapkan tahun ini. Melalui jalur Saradan-Caruban-Madiun, arus sedikit merambat tapi Alhamdulillah lancar. Yang macet adalah jalur sebaliknya keluar dari Saradan, hingga 5 km. Jalur horor kemacetan Caruban-Saradan macet adalah masalah klasik yang sampai saat ini belum berhasil terpecahkan oleh pemerintah setempat dan aparat kepolisian. Surabaya ke Madiun harus ditempuh 10 sampai 12 jam ketika musim lebaran. Ini karena banyaknya pintu perlintasan KA, volume kendaraan meningkat dan jalur Nganjuk yang menyempit.

Perjalanan penulis dari Surabaya menuju Madiun via tol fungsional Surabaya-Kertosono bisa menghemat waktu sekitar 3 jam lebih. Ini karena memasuki Kota Madiun sekitar pukul 19.00 malam dan memasuki Kota Solo atau Surakarta via jalur Ngawi-Sragen pada pukul 22.00 malam.

Hindari Saradan saat Arus Balik


Setelah bersilaturrahmi ke kerabat di Madiun, Solo, Klaten dan berlibur di DI Yogyakarta, penulis pun kembali ke Surabaya. Berangkat dari Jogja pada Rabu (28/6/2017) pukul 09.00 pagi, tiba di Surabaya pukul 22.00 malam. Jogja-Surabaya bisa ditembus 10 jam via jalur alternatif Klaten-Solo-Sragen-Ngawi-Bojonegoro-Babat-Lamongan-Gresik. Penulis menghindari balik lewat jalur Caruban-Saradan yang macet parah hingga 10 km.

"Saya dari Madiun pulang ke Sidoarjo lewat Caruban-Saradan memakan waktu 10 jam. Saya berangkat pukul 14.00 siang, tiba di rumah Sukodono Sidoarjo pukul 24.00 malam. Tahu begitu saya lewat Bojonegoro kalau lebih lancar dan tidak macet, meski lebih jauh," ujar Rossa Ummu Daffa kepada beritajatim.com. Rossa adalah teman istri penulis yang melakukan perjalanan mudik ke Madiun dan balik via Saradan.

Perkataan Rossa menjadi perbandingan penulis karena pada jam yang sama, penulis sedang berada di Ngawi. "Ayo nanti siapa dulu yang tiba di rumah. Kita Bismillah lewat jalur alternatif Bojonegoro, temanmu Rossa lewat Caruban-Saradan," kata saya kepada istri meyakinkan. Hehehe.

Memasuki Bojonegoro dari Ngawi, kita akan bertemu dengan wilayah Margomulyo. Margomulyo adalah sebuah kecamatan di Bojonegoro. Kecamatan ini terletak 69 km arah barat dari pusat Kota Bojonegoro. Kecamatan ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Ngawi dan terkenal dengan keberadaan masyarakat Samin di Dusun Jepang, Desa Margomulyo.

Kita akan diajak naik tanjakan dan turun agak curam menempuh perjalanan balik lewat Bojonegoro. Memasuki hutan jati sekitar 1 jam. Meskipun agak jauh karena memutar untuk menuju Surabaya, tapi paling tidak perjalanan lancar jaya dan tidak menemukan kemacetan sama sekali. Kalaupun macet hanya sebentar saat melewati Pasar Babat-Lamongan karena ada penyempitan arus.

Selamat menempuh arus balik. Ingat! Hindari jalur Caruban-Saradan agar perjalanan balik anda lebih nyaman dan tidak kram otak serta kaki anda. Semoga hehehe. [tok/but]

Tag : politik

Komentar

?>