Senin, 29 Mei 2017

Pelajaran Pilgub DKI, Kita Korban Adu Domba

Sabtu, 13 Mei 2017 19:17:31 WIB
Reporter : Ribut Wijoto
Pelajaran Pilgub DKI, Kita Korban Adu Domba

TULISAN ini masih sekadar hipotesa, praduga. Saya belum melakukan riset ataupun kajian mendalam. Meski begitu, saya meyakini, tulisan ini penting untuk digulirkan agar menjadi bahan diskusi menyikapi situasi politik Indonesia saat ini. Bahwa, situasinya sudah sangat genting.

Dua arus besar sedang bertarung dalam peta politik nasional. Arus pertama adalah golongan nasionalis penjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Arus kedua adalah golongan Islam penganut Nabi Besar Muhammad SAW. Bisa jadi pemberian identitas ini tidak seutuhnya benar. Tetapi memang begitulah penajaman identitas yang sedang berkembang di media-media sosial.

Bahkan masing-masing warga media sosial (netizen) memberikan julukan kepada lawan politiknya. Golongan nasional diberi julukan ‘kaum penista agama’. Sebaliknya, golongan Islam garis keras dijuluki ‘kaum bumi datar’. Dua julukan yang sama-sama bernuansa mengejek. Cemooh.

 Akun media sosial di Indonesia yang mungkin jumlah melebihi total penduduk itu tiap hari disibukkan dengan cemooh dari kedua kubu. Ada saja isu yang digulirkan. Satu isu belum terklarifikasi, sudah muncul isu-isu lain yang lebih keras. Saling adu share ujaran kebencian.

Saya menduga, 10 persen jumlah ujaran kebencian di media sosial, baik dari kubu (yang dikesankan) sekuler maupun kubu (yang dikesankan) Islam garis keras itu berasal dari tempat yang sama, dompet yang sama. Ironinya, jumlah 10 persen itu menjadi leader dan selalu mengontrol isu. Selebihnya adalah korban adu domba.

Mengapa orang-orang mau menjadi korban adu domba? Agar lebih mudah menjelaskan, saya meminjam pemikiran dasar Sigmund Freud tentang teori kepribadian. Id, ego, superego.

Secara sederhana, id adalah naluri yang mendorong untuk dipenuhi. Id bermuatan prinsip-prinsip kesenangan. Ambisi, keinginan berkuasa, keinginan untuk dipuji, keinginan bebas dari segala kepedihan berada di sini sebagai bagian dari kodrat manusia yang tidak pernah merasa puas. Jika dorongan id tidak dipenuhi, manusia berada pada situasi gelisah.

Superego adalah norma atau aturan yang berlaku di masyarakat. Akidah akhlak yang diajarkan agama pun berada pada komponen ini. Superego mengerem id agar tidak terlalu bergelora. Sebab kerap kali, superego bertentangan dengan id. Pemenuhan superego membuat manusia bisa diterima baik di lingkungan masyarakat. Jika orang mengabaikan superego, masyarakat bakal mengecap sebagai tidak wajar.

Ego berupa prinsip-prinsip realitas. Sikap yang dipilih manusia untuk bertindak. Ego menyeimbangkan dorongan id dan norma-norma superego. Ego yang terlalu dikuasai id membuat orang terasing dalam lingkungan. Sebab cenderung serakah atau mau menang sendiri, semata-mata menguber hawa nafsu kepuasan, tanpa memperhatikan aturan maupun tata krama.

Maka Freud menandaskan, ego adalah struktur kepribadian yang berurusan dengan tuntutan realita,berisi penalaran dan pemahaman yang tepat. Id tidak mungkin dihilangkan (sebab kodrat manusia) tetapi pemenuhannya tetap dalam koridor superego.

Lantas bagiamana kaitannya dengan situasi politik saat ini yang berjibun dengan ujaran kebencian? Pada mulanya adalah kesamaan aspirasi. Selebihnya adu domba.

Sebagai penganut Islam, mereka (golongan pertama) merasa ingin menegakkan ajaran agama sesuai Alquran dan Hadits. Aspirasi itu saat ini sedang menemui momentum yang tepat untuk diperjuangkan.

Sebaliknya, kaum nasionalis menginginkan keutuhan NKRI yang memberi ruang kerukunan berbhineka tunggal ika. Ketika ada satu kaum dianggap mendesakkan pahamnya untuk dijadikan regulasi pemerintahan, mereka merasa perlu untuk berjuang mematahkannya.

Di Indonesia selama puluhan tahun sejak merdeka hingga menjelang Pemilihan Gubernur Daerah Khusus Istimewa Jakarta, ada komitmen untuk saling menghormati antar umat bergama. Ketika itu, di mana-mana orang diingatkan agar menghindari isu SARA (suku, agama, ras, antar golongan).

Tapi sepertinya peringatan itu kini telah jebol. Ujaran kebencian tiap hari bersliweran. Ego orang-orang itu seperti dikuasai oleh id sekaligus merasa tengah berjuang sesuai koridor superego.

Saya menduga situasi ini diciptakan oleh suatu kekuatan tertentu. Salah satu sarana yang dipakai media sosial.

Pengandaian cara kerja pengadu domba adalah sebagai berikut: Pengadu domba membentuk sebuah tim cyber yang terdiri dari puluhan orang. Tim ini menciptakan akun-akun di media sosial yang jumlahnya ratusan atau bahkan mungkin ribuan. Jadi satu anggota bisa memiliki puluhan akun.

Tim dibagi dalam dua identitas. Satu bagian mengidentifikasi dirinya sebagai kelompok Islam garis keras. Satu bagian lagi mengidentifikasi sebagai bagian dari kelompok nasionalis.

Tim pengadu domba yang mengidentifikasi sebagai Islam garis keras tiap hari mengeluarkan isu-isu ataupun ujaran kebencian terhadap kaum nasionalis. Sekaligus, mereka mengesankan sebuah kondisi bahwa Islam di Indonesia sedang terancam. Maka dibutuhkan perjuangan untuk melawan dengan cara apapun. Begitu setiap hari, sepanjang waktu.

Tim pengadu domba yang mengidentifikasi sebagai nasionalis tiap hari mengeluarkan isu-isu ataupun ujaran kebencian terhadap kaum Islam garis keras. Sekaligus, mereka mengesankan sebuah kondisi bahwa nasionalisme di Indonesia sedang terancam. Maka dibutuhkan perjuangan untuk melawan dengan cara apapun. Begitu setiap hari, sepanjang waktu.

Momentum yang dipakai adalah Pilgub DKI Jakarta. Lebih spesifik, ucapan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang dinilai menistakan kitab suci agama Islam.

Mengapa harus Pilgub DKI Jakarta? Karena Jakarta adalah ibukota Indonesia. Apapun yang terjadi di Jakarta bisa segera melebar luas seantero Indonesia. Mengapa harus Ahok? Karena Ahok adalah calon guberrnur yang saat itu paling populer. Terlebih, Ahok berasal dari kaum minoritas (keturunan China dan bergama Nasrani).

Kinerja dari tim pengadu domba ini menerobos dinding id dan superego orang-orang. Ketika ideologi atau ajaran yang diyakini sedang diserang, id orang-orang serentak memerintah ego untuk mengambil tindakan. Minimal tindakan pencegahan atau selanjutnya tindakan balasan. Dorongan dari id ini dibenarkan oleh superego karena mengatas-namakan pembelaan terhadap nilai-nilai norma.

Lacur yang terjadi, isu dan ujaran kebencian kebencian dari tim pengadu domba lantas menjadi viral di media sosial. Dibagi-bagi (share) orang-orang yang merasa memiliki kesamaan aspirasi. Dianggap sebagai bagian dari tindakan penyelamatan ideologi sekaligus usaha pembalasan terhadap orang-orang yang dinilai menyerang.

Selanjutnya akun-akun asli dari orang-orang yang telah dikuasai id mengkreasi sendiri ujaran kebencian. Ujaran yang dibagi-bagikan (share). Sehingga tercipta situasi produksi massal ujaran kebencian dari kubu nasionalis dan kubu islam garis keras.

Pada situasi itu, tim dari pengadu domba tetap melibatkan diri dalam produksi ujaran kebencian. Sekaligus, mereka terus mengontrol agar situasi kacau (chaos) tetap terjaga.

Padahal sesungguhnya, semua orang-orang tersebut sebatas korban. Menjadi korban adu domba dari sebuah kekuatan besar, yang entah apa kepentingannya. Jangankan orang-orang yang melontarkan ujaran kebencian, Ahok pun korban. Bahkan Anies Baswedan juga korban.

Sebagai calon yang memenangi Pilgub DKI Jakarta, dalam situasi ini, Anies Baswedan sulit untuk diterima oleh orang-orang berasal dari kaum nasionalis. Bandingkan bila Pilgub DKI Jakarta berlangsung dengan lebih damai, pastilah kemenangan Anies Baswedang bisa lebih sempurna. Dia akan diakui oleh pendukungny sekaligus mendapat respek dari pendukung Ahok. Tetapi situasinya terlanjur chaos. Bahkan setelah Pilgub DKI Jakarta selesai, ujaran kebencian tetap gencar diproduksi.

Apakah hipotesa saya ini benar atau salah? Saya tidak tahu pasti. Saya hanya sedang berusaha agar situasi politik Indonesia kembali ramah. Biarlah ajang pilkada serentak berjalan secara fair play.

Semua tahu, tahun ini pilkada terbesar ada di DKI Jakarta. Sedangkan tahun depan, 2018, pilgub bakal digelar di tiga provinsi besar di pulau Jawa. Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Sangat disayangkan jika situasi di DKI Jakarta berulang di tiga provinsi tersebut. Satu tahun berikutnya lagi, 2019, Indonesia menggelar ajang demokrasi yang lebih besar, yakni Pemilihan Presiden (Pilpres).

Tentu tiap warga berhak menentukan pilihan calon gubernur atau presiden yang paling seusai dengan identitas mereka. Apakah calon yang merepresentasikan kaum Islam garis keras ataupun calon yang merepresentasikan kaum nasionalis. Hanya saja, kerukunan tetap harus dijaga. Bersaing tanpa harus menghujat, tanpa harus dengan cara menjatuhkan kelompok lain, zero ujaran kebencian. Sebab ketika calon telah terpilih, toh dia bukan pemimpin suatu kaum tertentu. Dia adalah pemimpin untuk seluruh warga. Dia bertanggung jawab untuk menyejahterakan seluruh warga. [but]

Tag : politik

Komentar

?>