Selasa, 26 September 2017

Kuda Hitam Pilgub Jatim: Heru Tjahjono Jelmaan Pakde Karwo

Selasa, 02 Mei 2017 00:16:05 WIB
Reporter : Ribut Wijoto
Kuda Hitam Pilgub Jatim: Heru Tjahjono Jelmaan Pakde Karwo

JAWA TIMUR sudah menjalani dua kali pemilihan gubernur secara langsung, tahun 2008 dan tahun 2013. Dua-duanya berlangsung sengit, dua-duanya dimenangkan Soekarwo atau biasa disapa Pakde Karwo.

Mengapa Pakde Karwo mampu memborong dua kali kemenangan? Bagaimana peluang kandidat di Pilgub Jatim yang digelar 27 Juni 2018 mendatang?

Kemenangan Pakde Karwo secara beruntun tidak pernah diraih secara mudah. Terlebih, Pakde Karwo tidak diusung oleh partai utama di Jawa Timur, yakni Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Apalagi Pakde Karwo bukanlah sosok yang teramat populer.

Toh faktanya, Pakde Karwo tampil sebagai juara. Mengapa? Pertama, Pakde Karwo jeli membaca karakter pemilih di Jawa Timur. Kedua, Pakde Karwo memiliki pasangan yang tepat.

Karakter pemilih di Pilgub Jatim berbeda jauh dengan Pilgub DKI Jakarta. Di DKI Jakarta, semua pemilih berada di wilayah perkotaan. Sebagai masyarakat kota, warga cenderung menentukan sendiri  pilihannya. Faktor media massa dan media sosial punya peran penting dalam penentuan calon yang bakal dicoblos.

Sedangkan di Jawa Timur, banyak daerah yang masyarakatnya sangat patuh terhadap kiai atau pengasuh pondok pesantren. Misalnya sebagian besar masyarakat Madura, Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Jember, Lumajang, Probolinggo, Pasuruan, Jombang, juga Sidoarjo.  Adapun tokoh masyarakat sangat menjadi panutan di daerah-daerah lainnya. Misalnya Tulungagung, Kediri, Blitar, Malang, Ponorogo, Pacitan, Madiun, Nganjuk, Ngawi, Magetan, dan Trenggalek.

Dua karakter itu merepresentasikan dua kultur (budaya) dominan di Jawa Timur, yaitu santri dan abangan. Ketika tidak didukung oleh partai besar, Pakde Karwo berserta tim pemenangannya berkeliling mendatangi tokoh-tokoh yang berpotensi membawa suara besar. Strategi ini rupanya jitu.

Kinerja Pakde Karwo menjadi lebih mudah karena didukung oleh pasangannya, yaitu Saifullah Yusuf (Gus Ipul).  Pakde Karwo representasi kaum abangan sedangkan Gus Ipul mewakili kaum santri. Duet abangan dan santri ini terbukti ampuh.

Pakde Karwo telah menang dalam dua periode, dan sesuai aturan, dilarang ikut pilgub Jatim 2018. Maka, pilgub tahun depan, Jawa Timur dipastikan bakal dipimpin oleh gubernur anyar. Siapa?

Nama-nama telah muncul di permukaan untuk bertarung dalam pesta demokrasi lima tahunan di Jawa Timur. Sebut saja Wakil Gubernur Gus Ipul, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa yang telah dua kali menjadi runner up di belakang Pakde Karwo, Walikota Surabaya Tri Rismaharini, Ketua DPRD Jatim Abdul Halim Iskandar, Bupati Banyuwangi Azwar Anas, mantan Bupati Probolinggo Hasan Aminuddin, Bupati Bojonegoro Suyoto, Bupati Trenggalek Emil Dardak, anggota DPR Fraksi Golkar Ridwan Hisjam dan Adies Kadir, Bupati Ngawi Kanang Budi Sulistyono, dan mantan Bupati Tulungagung Heru Tjahjono.

Hasil beberapa survei, ada tiga nama paling populer. Terdiri dari Gus Ipul, Risma, dan Khofifah. Tetapi tentu saja, popularitas dan elektabilitas setahun jelang coblosan tidak bisa dijadikan ukuran. Kasus Ahok contohnya. Setahun jelang pilgub, popularitas dan elektabilitasnya berada di kisaran 60 sampai 70 persen. Ternyata, Ahok kalah dari Anies Baswedan yang sebelumnya sama sekali tidak disebut oleh survei. Pilgub Jatim 2008 lalu, nama Pakde Karwo juga kalah populer dibanding dua kompetitornya, yaitu Sekjen PDIP Sutjipto dan Wagub Jatim sekaligus dalang handal Soenarjo.

Pada situasi ini, nama Heru Tjahjono patut diperhitungkan. Dia adalah sosok yang sangat mirip Pakde Karwo.

Heru Tjahjono saat ini dipercaya Pakde Karwo untuk memimpin Dinas Perikanan dan Kelautan Pemprov Jatim. Ketika pelantikan dulu, Kamis (16/1/2014), Pakde Karwo mengakui bahwa Heru Tjahjono bukanlah ahli perikanan. Tapi melihat pada jiwa kepemimpinannya, Pakde Karwo percaya bahwa Heru Tjahjono mampu menjadi nahkoda yang cocok untuk meningkatkan sektor perikanan Jawa Timur.

Pilihan Pakde Karwo ternyata tepat. Selama memimpin Dinas Perikanan, Heru Tjahjono membuat beberapa terobosan yang dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan. Misalnya terobosan ‘menjebol dokumen kapal’ dan ‘underwater restocking’.

Menjebol dokumen kapal merupakan inovasi dari dalam melayani dokumen kapal dan perizinan usaha penangkapan ikan secara jemput bola, atau secara langsung mendatangi kelompok nelayan yang ada di sekitar pesisir pantai. Sedangkan underwater restocking adalah penenggelaman rumah ikan dan penebaran bibit ikan yang tujuannya untuk percepatan sumber daya ikan dalam hal penyediaan stock ikan tangkap bagi nelayan.

Atas keberhasilan dua terobosan itu, tahun lalu, Heru Tjahjono mendapatkan penghargaan ‘TOP 99 Inovasi Pelayanan Publik’ dari Menteri PAN-RB Yuddy Crisnandi. “Underwater restocking adalah inovasi yang sangat dibutuhkan saat ini, karena dengan menebar rumah ikan dan benih ikan di laut pada lokasi yang tepat, maka dampak yang diperoleh pada masa yang akan datang sangatlah baik,”kata Menteri Yuddy ketika itu.

Heru Tjahjono sebelumnya juga sukses dua periode memimpin Kabupaten Tulungagung. Pada sektor anggaran, Pendapatan Asli Daerah (PAD) meningkat tajam. Sektor pertanian, Doktor lulusan Universitas Brawijaya Malang bidang Kajian Lingkungan dan Pembangunan itu mampu menjadikan Tulungagung sebagai lumbung padi nasional. Sektor infrastruktur, pengaspalan jalan dilakukan sampai pelosok desa.

Secara spesifik, Bupati Heru sukses ‘menyulap’ Kecamatan Tanggunggunung, Pucanglaban dan sebagian Kalidawir menjadi daerah yang terbebas dari krisis air bersih. Padahal, ribuan warga di tiga daerah itu, bertahun-tahun selalu didera krisis air bersih, utamanya saat musim kemarau. Heru juga mengubah Alun-alun Kota menjadi taman asri sehingga bisa dipakai sebagai sarana rekreasi gratis bagi seluruh warga. Secara umum, walau kota kecil, Bupati Heru mampu menjadikan Tulungagung tampak rindang dan tertata rapi.

Sukses memimpin dinas perikanan dan memimpin kabupaten Tulungagung itu masih belumlah menampakkan keistimewaan Heru Tjahjono. Poin utama dari keistimewaan Heru Tjahjono adalah pola kepemimpinannya. Sebuah pola yang sangat mirip dengan yang diterapkan oleh Pakde Karwo.

Selama memimpin kabupaten Tulungagung, Heru Tjahjono mampu menerapkan motto ‘Guyup Rukun’. Tidak hanya dalam bentuk kata-kata atau tulisan di papan pinggir jalan, motto guyup rukun mengejawantah dalam praktek kehidupan sehari-hari. Menjadi spirit dalam berkomunikasi dengan kawan maupun lawan politik. Menjadi arah dalam memaksimalkan berbagai potensi di masyarakat.

Tokoh yang sejak mahasiswa gemar berorganisasi itu (Heru adalah ketua BEM Fakultas Teknik UNS) dikenal sebagai orang yang doyan ngobrol dengan banyak tokoh dan banyak kepentingan. Sehingga ketika dia memimpin Tulungagung, hubungan antara eksekutif dengan legislatif sangat mesra. Program Pemkab mendapat dukungan penuh dari DPRD. Sebaliknya, usulan-usulan dari DPRD mendapat perhatian serius dari Pemkab.

Bukan saja wakil rakyat atau pejabat, Bupati Heru juga dekat dengan seluruh lapisan masyarakat. Sebagai contoh, tiap bulan Ramadan tiba, Heru secara bergiliran mengundang masyarakat untuk buka bersama di Pendopo Kongas Arum Kusumaning Bangsa yang juga dijadikan rumah dinasnya.  Rakyat yang diundang ke pendopo tak dibeda-bedakan. Tukang becak, fakir miskin, yatim piatu, kepala desa, guru dan kepala sekolah, bidan, kiai, hingga tukang sampah. Itu dilakukan tiap hari sebulan penuh, sejak tahun pertama menjabat bupati.

Ketika tahun 2008 Heru Tjahjono maju kembali dalam pemilihan bupati, seluruh partai besar memberikan dukungan. Termasuk PDIP, partai utama di Tulungagung. Bahkan PDIP menjadi partai pertama yang merekomendasikan Heru Tjahjono untuk maju kembali. Padahal pada tahun 2003, PDIP merupakan rival berat.

Kemampuan menjalin komunikasi dan mengakomodasi beragam kepentingan sangat dibutuhkan untuk memimpin Jawa Timur yang terdiri dari beragam suku dan beragam latar belakang. Kapasitas dan karakter Heru Tjahjono sudah teruji dalam segi ini.

Tidak hanya mengakomodasi beragam kepentingan, politisi yang tekun membaca sembarang buku (baik fiksi maupun non fiksi) itu juga sosok yang tidak pelit. Dia gemar membantu. Kepada siapapun, tanpa pandang bulu, Heru Tjahjono ringan tangan. Di Tulungagung sendiri, Heru Tjahjono punya kegiatan unik. Bertahun-tahun dia suka membagikan ratusan mainan kepada anak-anak. Sering kali dibagikan kepada semua anak yang bermain di Alun-alun Tulungagung.

Seorang teman pernah bercerita. Dia bersama rombongan dari Jawa Timur bertemu dengan Heru Tjahjono yang sedang kunjungan keluar pulau Jawa. Mereka bertemu di toko asesoris cinderamata. Begitu mengetahui ada rombongan dari Jawa Timur, Heru Tjahjono langsung suka rela membayar seluruh cinderamata yang dipesan oleh rombongan.

Pola komunikasi guyup rukun itulah yang mendekatkan Heru Tjahjono dengan pola komunikasi Pakde Karwo. Pengamat politik dari Unair, Priyatmoko, pernah menggambarkan kepandaian Pakde Karwo dalam menjalin komunikasi.

“Di DPRD Jawa Timur itu bisa dibilang hanya satu fraksi. Ketika semuanya satu suara dalam mendukung program Pemprov, bukankah itu sama saja dengan satu fraksi,” kata Priyatmoko ketika menjadi narasumber di Sekolah Politik Ciliwung 65, Selasa (25 April 2017).

Menurut Priyatmoko, Pakde Karwo selalu terbuka dengan segala masukan dari pihak manapun. Biasanya  masukan bakal diolah dan diperinci. Setelah  program didetailkan dan diperhitungkan perinciannya, pihak yang memberi usul bakal diajak komunikasi ulang. Diajak musyawarah perihal kemungkinan realisasi dari program tersebut.

Pola komunikasi mengedepankan ngobrol dan musyawarah inilah yang sekarang langka di Indonesia. Situasi yang merebak justru saling memperkuat kelompok sendiri sekaligus usaha menjatuhkan kelompok lain. Beberapa kandidat yang bakal bertarung di Pilgub Jatim 2018, tampaknya juga memiliki latar belakang kepemimpinan yang keras, tidak suka kompromi. Heru Tjahjono jauh dari sifat ngotot dan keras. Dia cenderung lebih banyak mendengar lantas mengakomodasi berbagai kepentingan secara wajar.

Seperti juga Pakde Karwo, Heru Tjahjono adalah petarung ulet dalam ajang pemilihan kepala daerah. Menjelang pilgub 2008, Pakde Karwo yang berlatar belakang birokrat ikut dalam konvensi PDIP. Lawan yang dihadapi tidak tanggung-tanggung, yaitu Sutjipto sang Sekjen PDIP, tangan kanan Megawati. Toh ternyata, setelah sama-sama keliling DPC PDIP se Jawa Timur, Pakde Karwo mendapatkan suara jauh lebih banyak dibandingkan Sutjipto.

Kapasitas Heru Tjahjono juga sama. Pada pemilihan bupati Tulungagung tahun 2003, Heru Tjahjono yang berlatar belakang birokrat hanya didukung oleh Fraksi PKB. Sedangkan partai paling dominan saat itu adalah PDIP. Toh hasilnya, Heru Tjahjono memenangi pemiliihan dengan meraup 25 suara dari 45 kursi di DPRD Tulungagung.

Sedangkan pada pemilihan bupati Tulungagung tahun 2008, oleh sebab sudah teruji dan mampu berkomunikasi dengan banyak kalangan, Heru Tjahjono seperti tidak menemukan lawan berat. Dia sukses meraup kemenangan mutlak 77 persen.

Sebagai pengendali utama uang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), Heru Tjahjono tidak terlepas dari dugaan penyimpangan atau dugaan memperkaya diri sendiri. Salah satunya, dugaan korupsi dana stimulus infrastruktur daerah dari pemerintah pusat tahun anggaran 2009 dan tahun 2010 sebesar Rp 41,2 miliar. Akibat kasus ini, 5 pejabat masuk penjara. Salah satunya Kepala Dinas PU Binamarga dan Cipta Karya Kabupaten Tulungagung. Beberapa kalangan menilai, Bupati Heru Tjahjono sebagai kepala daerah yang memegang kebijakan tertinggi seharusnya juga turut bertanggung jawab. Terlebih, sebagian uang korupsi diduga mengalir ke kantong pribadi Heru  Tjahjono.

Selama memimpin Dinas Perikanan dan Kelautan Jawa Timur, Heru Tjahjono pernah dituding bermain-main dalam hal lelang proyek dengan cara penunjukan langsung (PL). Tetapi sejauh ini, dugaan dan tudingan terhadap Heru Tjahjono belum pernah terbukti.

Lantas jika memang maju dalam pemilihan gubernur Jawa Timur 2018, siapakah pasangan yang cocok dalam mendampingi Heru Tjahjono? Merujuk pada sukses pasangan Pakde Karwo – Gus Ipul, Heru Tjahjono perlu mencari tokoh yang berlatar belakang seperti Gus Ipul.

Latar belakang Heru Tjahjono mirip Pakde Karwo. Keduanya sama-sama birokrat. Keduanya beragama Islam tetapi bukan kiai atau pemuka agama. Bisa dibilang, Pakde Karwo dan Heru Tjahjono lebih merepresentasikan kaum abangan.

Oleh sebab abangan, Heru Tjahjono membutuhkan pasangan yang berlatar belakang santri. Tokoh yang mampu memudahkan Heru Tjahjono membangun komunikasi dengan kantong-kantong suara di Madura, Tapal Kuda, maupun daerah berbasis Islam.

Jika melihat nama-nama yang beredar saat ini, kandidat berlatar belakang santri adalah Gus Ipul, Khofifah, Halim Iskandar, dan Hasan Aminuddin. Gus Ipul dan Khofifah sudah pasti tidak mungkin. Jika maju Pilgub Jatim, keduanya tentu dalam posisi gubernur, dan bukan wakil gubernur. Peluang terbuka bagi Halim Iskandar dan Hasan Aminuddin. Selain keduanya, ada banyak tokoh NU yang layak dipilih untuk mendampingi Heru Tjahjono memimpin Jawa Timur.

Berkaca pada kapasitas dan pengalamannya, Heru Tjahjono sangat layak diperhitungkan untuk bersaing di Pilgub Jatim 2018. Apalagi bila Heru Tjahjono mendapatkan pasangan yang tepat, bukan tidak mungkin, bakal mendulang suara terbanyak. [but]

Tag : pilgub jatim

Komentar

?>