Selasa, 25 Juli 2017

Surat untuk Special Wan

Coach Iwan Setiawan, Apa Kabar?

Senin, 01 Mei 2017 16:00:38 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Coach Iwan Setiawan, Apa Kabar?
Iwan Setiawan, Pelatih Kepala Persebaya Surabaya

Dua hasil pertandingan awal Persebaya Surabaya dalam kompetisi Liga 2 di luar ekspektasi bonek dan semua orang pencinta bajul ijo, termasuk saya.

Ditahan 1-1 oleh Madiun Putra di kandang sendiri setelah sempat tertinggal dan dikalahkan Martapura 2-1 di kandang lawan jelas bukan hasil yang pantas bagi klub sepak bola dengan reputasi panjang seperti Persebaya. Tentu Anda tak perlu diceramahi soal reputasi klub ini.

"Persebaya adalah bagian dari identitas besar masyarakat di sana (Surabaya). Surabaya adalah Persebaya, begitu pula sebaliknya," tulis Antony Sutton, ekspatriat asal Inggris yang menulis buku Sepakbola: The Indonesian Way of Life.

Bonek merebut kembali klub ini (dalam arti sebenarnya) dari rezim penguasa sepak bola Indonesia setelah tak diakui sejak 2010. Mereka memindahkan yel-yel dan 'chant' dari stadion ke jalanan, mengepung lokasi kongres, hingga menempuh perjalanan ratusan kilometer menuju Jakarta untuk merebut hak mereka atas klub ini.

Bagi Bonek, Persebaya bukan sekadar klub sepak bola. Persebaya merepresentasikan apa yang menjadi bagian dari kota ini: keberanian dan semangat pantang menyerah. Never-say-die. Semangat yang dikagumi Sutton.

"Orang Surabaya tak hanya berguling, berhenti, lalu mati. Mereka akan bertarung sekuat tenaga untuk apa yang mereka yakini sebagai milik mereka. Suatu hari di tahun 1945 mereka melakukannya untuk kota mereka dan kini mereka kembali mengulanginya, kali ini untuk kepercayaan mereka, sepak bola, untuk Persebaya," tulis Sutton.

Jadi, Bung Iwan, kecintaan Bonek dan warga Surabaya terhadap Persebaya sudah melampaui urusan kemenangan dan kekalahan.

Mereka memang mencintai kemenangan. Mereka memang mencintai tiga angka dalam setiap pertandingan. Bill Shankly, manajer Liverpool yang legendaris itu selalu mengingatkan: 'first is first, second is nothing'. Mereka sepakat nomor dua tak akan pernah dikenang (kecuali mungkin untuk tim nasional Belanda pada Piala Dunia 1974).

Namun bagi mereka, kemenangan tak boleh mengorbankan prinsip-prinsip dasar kota ini: keberanian dan penghormatan terhadap nilai-nilai perjuangan bersama.

Tahun 1988, manajemen Persebaya mengalah 0-12 kepada Persipura Jayapura, hanya untuk menendang PSIS Semarang dari babak selanjutnya kompetisi Divisi Utama.

Mereka menolaknya, dan hari itu Stadion Gelora 10 Nopember lebih lengang daripada biasanya.

Seringkali Persebaya kalah dalam pertandingan-pertandingan penting. Mereka tak pernah keberatan asalkan itu melalui sebuah perjuangan luar biasa.
Tahun 2010, saat Green Force kalah 0-1 di kandang Arema Indonesia di Malang melalui gol penalti di menit akhir, mereka menyambut kedatangan bus pemain sejak memasuki Tol Waru dan mengawalnya hingga Wisma Eri Irianto di Karanggayam Surabaya.

Filosofi mereka adalah filosofi yang menolak arogansi. 'Tak ada Bonek yang lebih Bonek' menunjukkan bahwa tak boleh ada satu pun orang yang menyatakan diri lebih baik daripada yang lain. 'Lebih baik' harus berasal dari pengakuan bersama, bukan klaim pribadi.

'Low profile high product' adalah semboyan lama yang mereka yakini bahwa lebih baik merunduk bagai padi tapi menghasilkan butiran beras berkualitas.

Oleh karena itu, Bung Iwan: mereka pernah tak menyukai seseorang yang bermulut besar yang mengatakan tim lain adalah tim yang memainkan sepak bola kampung, tim yang memainkan sepak bola banci, sementara dia sendiri gagal menciptakan tim hebat bermental juara.

Lebih dari itu, mereka membenci seseorang yang tak bisa menghargai orang yang telah mengorbankan sebagian waktu dan hidup mereka untuk Persebaya.

Banyak yang bilang, Anda meniru Mourinho yang senang memprovokasi lawan dengan pernyataan-pernyataan arogan. Itulah sebabnya Anda disebut 'Special Wan' di kalangan suporter.

Namun jujur saja, saya terkejut saat di media sosial tersiar kabar bahwa Anda dengan penuh emosi menantang sekelompok Bonek yang kecewa usai pertandingan di Martapura, Minggu (30/4/2017).

Saya jujur saja, tidak terlampau percaya dengan kabar itu. Rasanya tidak masuk akal dan tidak 'nyambung' dengan semua pernyataan Anda saat awal masuk Persebaya.

"Rasanya pada saat Bonek berjuang untuk tim ini dengan perjuangan yang begitu luar biasa, kok saya ingin perjuangan itu bisa kami jadikan filosofi di dalam tim Persebaya," kata Anda, sebagaimana dikutip Jawa Pos beberapa waktu lalu. Bagi saya, pernyataan Anda saat itu sangat benar.

Bung, seorang dengan reputasi seperti Mourinho pun tak pernah dengan kurang ajar mengacungkan jari tengah atau menantang suporter klub yang dilatihnya. Mou tahu, tanpa fans, apalah arti klub sepak bola.

Shankly pernah mengatakan, ada tiga pilar yang membuat klub menjadi hebat: pelatih-pemain-suporter. Saat satu pilar tak menghormati pilar lainnya, maka sebuah klub tak akan pernah menjadi besar.

Tak pernah ada dalam sejarah besar Persebaya seorang pelatih yang berani menghina Bonek, terutama setelah apa yang dilakukan para suporter untuk memperjuangkan kembalinya klub tersebut ke tengah sepak bola nasional.

Jujur saja, Bung, Anda tidak pernah masuk daftar orang yang diinginkan Bonek untuk melatih klub kebanggaan mereka. Membayangkan pun saya yakin mereka tidak pernah.

Namun saat manajemen menunjuk Anda, mereka mencoba menghargai. Tentu saja, Anda keliru besar jika berharap bahwa mereka akan diam saja melihat ada yang tak beres di Persebaya.

Bonek dibesarkan dalam kultur protes dan perlawanan. Itu ada dalam DNA masyarakat kota yang diwariskan kakek-kakek mereka.

Anda bukan satu-satunya pelatih yang pernah mendapat cacian Bonek saat Persebaya bermain di luar harapan. Saat mereka meneriakkan kekecewaan kepadamu, itu sebenarnya tanda cinta terhadap Persebaya. Itu ungkapan lain untuk mengatakan: 'bangunlah, ini Surabaya!'. Tak ada yang lebih besar daripada Persebaya. Pemain dan pelatih datang dan pergi. Hanya Persebaya yang menetap di kota ini.

Seharusnya Anda paham dan menyadari hal ini pada sore itu di Martapura. Karena jika Anda tak bisa memahami itu, maka Anda tak pernah pantas berada di antara mereka yang mencintai Persebaya segenap hati dan mengucapkan 'Salam satu nyali'. [wir/ted]

Komentar

?>