Jum'at, 24 Nopember 2017

Kutukan Lembu Sura dan 152 Sumur Ambles di Kediri

Minggu, 30 April 2017 00:13:52 WIB
Reporter : Ribut Wijoto
Kutukan Lembu Sura dan 152 Sumur Ambles di Kediri

PUKUL 02.00 DINI HARI, tidur Sunarti dikejutkan oleh gemuruh suara dari sumur di bagian belakang rumahnya. Begitu diperiksa, alangkah kagetnya, air bercampur lumpur tiba-tiba naik dari dalam sumur. Dinding sumur yang terbuat dari batu bata pun serentak runtuh. Bersamaan dengan itu, dinding rumah retak.

Peristiwa aneh itu tidak hanya dialami keluarga Sunarti. Dalam rentang seminggu terakhir, sejak 24 April 2017, ada 152 sumur yang tiba-tiba ambles di Kecamatan Puncu Kabupaten Kediri. Warga tidak tahu penyebabnya. Pun tidak ada gejala aneh sebelumnya. Sumur begitu saja ambles.

Sebagai orang Jawa, amblesnya sumur yang secara tiba-tiba dan dalam jumlah yang banyak, itu dipahami sebagai tanda. Ketika hal-hal aneh terjadi dan sulit diterima oleh nalar manusia, ingatan dan bayangan pun melambung ke irasionalitas. Tentang mitos, tentang kegaiban, dan tentang kehendak Allah SWT.

Kediri. Masa silam wilayah ini lekat dengan keberadaan Raja Jayabaya yeng memerintah kerajaan Kadiri alias Daha. Seorang raja waskita yang menelurkan banyak ramalan. Beragam ramalan yang masih sering dipakai untuk menjelaskan berbagai peristiwa puluhan atau bahkan ratusan tahun setelahnya, bahkan sampai saat ini.

Kediri juga mengingatkan pada akhir dari petualangan sosok Lembu Sura. Konon, jasad Lumbu Sura dibuang ke kawah gunung Kelud. Dan sebelum meninggal, Lembu Sura mengeluarkan kutukan dahsyat: Yoh, Kediri mbesuk bakal pethuk piwalesku sing makaping-kaping, yaiku Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, lan Tulungagung dadi kedung.

Dalam versi yang lain, kutukan dari Lembu Sura berbunyi seperti ini: Seksenono yo, para danyang sing mbaurekso gunung Kelud, iki yen Kelud njeblug, Blitar bakale dadi latar, Tulungagung bakale dadi kedung, Kediri bakale dadi kali, Sidokare (Sidoarjo) bakale dadi rawa, lan Ujung Galuh (Surabaya) mbalik nyang asale.

Riwayat Lembu Sura memang kental dengan kisah tentang perjuangan, pengkhianatan, cinta, dan putus asa. Kesemuanya lantas terkubur dalam mistis gunung Kelud.

Satu versi mengisahkan bahwa Lembu Sura adalah salah satu pengikut setia Raden Wijaya yang turut serta berjibaku mendirikan kerajaan Majapahit. Suatu ketika, oleh sebab ketidakpuasan, Lumbu Sura memberontak. Dia dihadapi oleh mahapatih Gajahmada.

Pasukan Majapahit yang dipimpin Gajahmada mengejar Lembu Sura sampai ke lereng gunung Kelud. Konon, kehebatan pertempuran antara Gajahmada dengan Lembu Sura ini sampai menggegerkan alam manusia dan alam lelembut. Akhirnya Lembu Sura tewas oleh tikaman keris Gajahmada. Dan, kutukan pun diikrarkan.

Pada versi yang lain, Lembu Sura digambarkan sebagai sosok setengah manusia setengah makhluk halus. Badannya manusia tetapi kepalanya lembu, maka bernama Lembu Sura.

Kisah bermula dari keinginan Lembu Sura melamar wanita cantik bernama Dewi Kilisuci putri dari Jenggolo Manik. Ada pula yang menyebut, Lembu Sura melamar wanita cantik bernama Dyah Ayu Pusparani, putri dari Raja Brawijaya. Intinya, lamaran Lembu Sura sebenarnya hendak ditolak namun dengan cara tidak langsung.

Lembu Sura boleh memperistri wanita pujaannya asalkan bisa membuat sumur sangat dalam di gunung Kelud. Waktunya dibatasi hanya semalam. Lembu Sura menyanggupi.

Semalaman Lembu Sura mengeduk tanah menggali sumur. Begitu sumur telah sangat dalam dan hampir selesai, sang raja ternyata memerintahkan para prajurit untuk melemparkan batu-batu ke dalam sumur. Padahal di dalam sumur, Lembu Sura masih berpeluh keringat dan terus menggali.

Melihat batu-batu jatuh dari atas dan bahkan mengenai tubuhnya, Lembu Sura menyadari kalau dia telah tertipu. Tapi apa daya. Dia terlanjur terjebak di dalam sumur. Dan batu-batu terus berjatuhan. Menjelang tewas, dalam amarahnya, Lembu Sura pun mengeluarkan kutukan.

Apakah fenomena 152 ambles berkaitan dengan kutukan Lembu Sura? Tidak ada yang bisa memastikan. Mitos hadir seperti bayang-bayang. Lain orang lain pula bayangannya. Beda arah cahaya berbeda pula wujudnya. Ketika cahaya datang dari segala penjuru, bayang-bayang justru sirna.

Lepas dari benar tidaknya, mitos senantiasa bergelibat dalam 3 dimensi sekaligus. Dimensi sosial, transendental, dan ekologi. Mitos bermanfaat untuk menjaga kerukunan di masyarakat. Mitos mengingatkan manusia akan kebesaran Sang Pencipta. Mitos juga mengajari manusia untuk selalu merawat lingkungan.

Tetapi sebagai makhluk Tuhan yang dianugerahi akal budi pekerti, manusia tentu saja tidak berhenti begitu saja mempercayai mitos secara apa adanya. Fenomena sumur ambles di Kediri saat ini sedang dalam penelitian Tim Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung. Penelitian dilakukan bersama Ahli Tanah dari Institut Teknologi Surabaya (ITS) dan ESDM Provinsi Jawa Timur.

Tim Tanggap Darurat Pergerakan Tanah PVMBG melakukan penelitian terhadap permukaan air, struktur tanah, amblesan dan busa yang ditimbulkan.  Dari pengamatan sementara PVMBg, fenomena alam ini biasa terjadi di daerah vulkanik sekitar gunung. Hal ini sesuai karena Kecamatan Puncu, berada di Lereng Gunung Kelud.

PVMBG meneliti lapisan tanah untuk mengetahui seberapa besar rongganya. Kemudian bersama Tim Hydrogeologi, tim akan mengkaji seberapa besar aliran air di dalam tanah. Seluruh sumur ambles akan didata dan dipetakan. Kemudian dianalisis dan dimodelkan. [but]

Tag : budaya

Komentar

?>