Senin, 29 Mei 2017

Jangan Mimpi FPI Bubar karena Habib Rizieq dan Firza Husein

Rabu, 26 April 2017 11:34:42 WIB
Reporter : Ribut Wijoto
Jangan Mimpi FPI Bubar karena Habib Rizieq dan Firza Husein

SETELAH 19 tahun berdiri, tahun ini, Front Pembela Islam (FPI) kembali mendapat ujian. Bentuk ujian yang berbeda.

FPI berulang kali, selama bertahun-tahun, berhadapan dengan kelompok lain di masyarakat karena pertentangan nilai agama. Pokok persoalannya, FPI berusaha menegakkan syariat Islam kadang dengan jalan kekerasan. Di pihak lain, ada yang tidak setuju dengan cara FPI. Konflik pun terjadi.

Sejauh ini, konflik-konflik itu dapat dilalui FPI dengan selamat. Sebaliknya, benturan-benturan justru membuat badan FPI semakin mekar dan kaki-kaki FPI kian kokoh.

Tapi saat ini persoalannya lain. Imam Besar FPI Habib Muhammad Rizieq Syihab diterpa dugaan kasus asusila dengan Ketua Yayasan Solidaritas Sahabat Cendana Firza Husein. Dugaan perbuatan tidak senonoh. Tudingan yang menjurus pada zinah. Apakah FPI akan bisa melawati ujian yang lain ini? Ada 2 kemungkinannya.

Kemungkinan pertama, dugaan kasus terhadap Habib Rizieq tidak terbukti. Polda Metro Jaya gagal membuktikan adanya perzinahan antara Habib Rizieq dengan Firza Husein. Bahwa, foto-foto dan percakapan mesum via whatsapp yang selama ini beredar luas di media sosial ternyata bohong (hoax). Jika ini yang terjadi, FPI dipastikan selamat. Justru FPI semakin solid dan bertambah tambun. Sebab, FPI bakal bicara kemana-mana kalau mereka mendapatkan rongrongan luar biasa dan Kuasa Tuhan yang menyelamatkannya.

Kemungkinan kedua,  dugaan terbukti. Habib Rizieq dan Firza Husein terbukti melakukan tindakan asusila. Merujuk kepada kasus artis Ariel Peterpan beberapa tahun lalu, Habib Rizieq sangat mungkin bakal ditahan. Jika kemungkinan ini yang terjadi, tidak bisa tidak, ujian terhadap FPI memang cukup berat dihadapi.

Apakah FPI bakal bubar jika Imam Besar Habib Rizieq terbukti melakukan tindakan asusila? Jawabannya, tentu tidak! Jangan mimpi FPI bubar gara-gara kasus satu orang.

FPI adalah organisasi yang  telah teruji waktu. Presiden Indonesia boleh berganti-ganti tetapi FPI tetap pada jalur yang telah digariskan. FPI mampu melewati era kepempimpinan Presiden Habibie, Presiden Gus Dur, Presiden Megawati, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan sekarang Presiden Jokowi. Walau presiden Indonesia berganti, pengajian FPI tetap saja bergulir secara ajek (rutin).

Benturan (kadang pemikiran kadang sampai fisik) terhadap FPI bukan berasal dari satu atau dua kelompok saja. Selama belasan tahun, FPI tercatat pernah berbenturan dengan kolompok Islam moderat, kelompok Islam liberal, kelompok nasionalis, kelompok gay, kelompok agama selain Islam, kelompok etnis keturunan Cina, dan lain-lain. Toh, bukannya susut, cabang-cabang FPI di daerah semakin banyak.

Melihat beragam benturan  itu, kasus satu orang, walaupun itu Imam Besar Habib Rizieq, terlalu kecil untuk bisa menjadi penyebab bubarnya FPI.

FPI adalah organisasi masyarakat (ormas) besar yang sadar dengan kerapian struktur. Memiliki sistem pemilihan dan kurun kepengurusan yang jelas. Pengurus dibentuk tiap 5 tahun sekali. Jika satu pengurus mundur atau berhalangan tetap, secara otomatis, pengurus di bawahnya bakal mengisi kekosongan posisi. Artinya, organisasi tidak berbasis pada ketokohan tetapi pada struktur dan pembagian bidang kerja.

Lihatlah kerapian Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga dari FPI. Mereka memilahnya seperti halnya struktur organisasi modern. Misalnya kepengurusan di Dewan Tanfidzi DPP FPI; ada posisi ketua umum, wakil ketua umum, sekretaris umum, bendahara umum, ketua bidang dakwah, ketua bidang hisbah, ketua bidang jihad, ketua bidang penegakan khilafah, ketua bidang organisasi. Kerapian struktur juga diterapkan pada organisasi FPI di daerah. Selama ini, fungsi-fungsi struktur tersebut bisa berjalan dengan baik.

Sebagai organisasi modern, FPI paham akan perubahan zaman. Perkembangan teknologi tidak membuat FPI gagap. Sebaliknya, FPI dengan nyaman memanfaatkannya. Di sektor teknologi cyber misalnya, FPI memanfaatkannya dengan membuat website. Jemaah FPI gencar bersuara melalui media sosial twitter, facebook, maupun grup whatsapp.

Pengurus FPI juga tidak alergi media massa. Jika sedang dalam pertikaian dengan kelompok lain, pengurus FPI membuka diri dengan wartawan. Bahkan, pengurus berinisiatif menggelar jumpa pers guna mengungkapkan kronologi peristiwa. Tentu saja kronologi versi FPI. Salah satunya ketika terjadi penolakan masyarakat terhadap pembentukan FPI cabang Semarang, Ketua Advokasi Hukum Front Pembela Islam Jawa Tengah, Zaenal Abidin Petir, langsung mengeluarkan statemen.

"Di Semarang, FPI akan menjadi ormas yang humanis, tidak anarkis dan taat dengan hukum. Kami akan bersinergi dengan masyarakat. Kami juga akan membantu masyarakat yang memang memerlukan bantuan baik hukum atau lainnya," kata Zainal Abidin Petir, Jumat (14/4/2017).

Mengapa FPI bisa bertahan ditempa zaman? Kerapian organisasi sebenarnya bukanlah jawaban utama. Faktor fundamen dari ketahanan FPI adalah sesuatu yang bersifat transendental. Melampaui batas keduniawian, yakni hubungan manusia dengan tuhannya.

Roda organisasi FPI digerakkan oleh spirit surgawi. Mereka bergerombol jalan kaki teriak-teriak di panas yang terik, mereka memblokir tempat pertemuan kaum gay, berduyun-duyun mendatangi sidang Ahok, mereka keluar masuk swalayan yang berjualan minuman keras, mereka rutin mengaji kitab suci Alquran, menggelar acara dakwah; kesemuanya demi kehidupan yang lebih baik di akhirat nanti. Kehidupan seperti yang dijanjikan oleh agama Islam.

Sejak berdiri pada 17 Agustus 1998, FPI mengaku akan berjuang untuk 'Penerapan Syariah Islam dan Penegakan Khilafah melalui jalan da’wah, hisbah dan jihad sesuai dengan Manhaj Nubuwwah'. FPI bermaksud menegakkan amar ma´ruf nahi munkar secara káffah di segenap sektor kehidupan, dengan tujuan menciptakan umat sholihat yang hidup dalam baldah thoyyibah dengan limpahan keberkahan dan keridhoan Allah ´Azza wa Jalla.

Harus diakui, banyak pihak mencibir pola pergerakan FPI. Tidak sedikit yang meragukan spirit transendental visi FPI. Tudingan bahwa FPI digerakkan oleh kepentingan ekonomi dan politik, itu bukanlah berita baru. FPI sudah kenyang dengan tudingan-tudingan. Toh kenyataannya, orang yang bersimpati terhadap FPI bukannya semakin berkurang.

Sebagai organisasi yang secara eksplisit memproklamirkan dirinya berdiri menegakkan syariat Islam, FPI memiliki jejak panjang dalam sejarah Indonesia.

Tidak bisa dipungkiri, keinginan untuk menegakkan syariat Islam merupakan cita-cita yang tidak pernah luntur di Indonesia. Cita-cita selalu diperjuangkan, bahkan, sejak Indonesia belum lahir. Sejarah mencatat, para tokoh kemerdekaan memasukkan kalimat ‘dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya’ dalam Piagam Jakarta. Melalui pertimbangan yang alot, kalimat itu dihapus ketika Piagam Jakarta diadopsi untuk Pembukaan UUD 1945.

Polemik pencoretan 7 kata di Piagam Jakarta kembali menyeruak dalam sidang-sidang Konstituante antara tahun 1957 sampai tahun 1959. Konstituante adalah 550 wakil rakyat hasil Pemilu 1955 yang tugasnya membentu undang-undang dasar pengganti UUDS 1950. Perdebatan tentang Piagam Jakarta ini turut andil dalam deadlock sidang Konstituante. Perdebatan cukup sengit, adu argumentasi tajam. Hasilnya tanpa kesepakatan. Voting pun tidak memenuhi kuorum karena pihak yang ingin memasukkan perihal penegakan syariat Islam dengan pihak yang menentangnya, kekuatan mereka nyaris seimbang.

Sejarah Indonesia mencatat pula, penegakan syariat Islam ikut menyertai spirit pemberontakan Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia (DI/ TII). Artinya, perjuangan FPI bukanlah perjuangan kemarin sore. Perjuangan FPI memiliki jejak panjang dalam sejarah Indonesia. Seperti telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat, seperti takdir Indonesia.

Tapi sekali lagi, kali ini berbeda. Imam Besar FPI tidak terlibat kasus dalam kaitan langsung dengan penegakan syariat Islam. Habib Rizieq diduga berbuat maksiat.

Lepas dari putusan hukum, apakah Habib Rizieq nantinya terbukti maksiat atau tidak, kasus ini menjadi pelajaran penting bagi para ulama. Jangan sekali-sekali bermain api nafsu berahi. Sebab, ulama adalah kalangan yang dipercaya Nabi Besar Muhammad SAW untuk menuntun umat ke jalan yang benar. Ulama adalah pewaris para nabi. Jika ulama tidak bisa menjaga nafsu berahi, entah apa jadinya nasib umat.

Sebagai seorang ulama, godaan nafsu berahi harus diakui cukup besar. Kepercayaan umat terhadap ulama kadang bersifat lahir batin. Apapun yang diucapkan ulama, kerap kali, diikuti oleh umat. Dan di antara sekian umat, tentu saja, ada wanita-wanita cantik. Jika ulama menghendaki, ada saja umat yang kebetulan wanita cantik yang bersedia secara suka rela. Bahkan, rela menjadi istri kedua atau istri ketiga. Inilah tantangan berat bagi keteguhan spiritualitas ulama. 

Islam membolehkan umat maupun ulama untuk beristri lebih dari satu. Tapi jika istri kedua ternyata lebih muda, lebih segar, lebih cantik dari istri pertama. Dan jika istri ketiga lebih muda, lebih segar, lebih cantik dari istri kedua. Itu tentu saja jauh dari tauladan Nabi Muhammad SAW. Inilah tantangan berat bagi keteguhan spiritualitas ulama, termasuk di dalamnya tantangan bagi para pemimpin FPI. [but]

Tag : politik

Komentar

?>