Senin, 29 Mei 2017

Dua Tamsil Sepak Bola untuk Cerita Politik Kita

Sabtu, 22 April 2017 18:12:00 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Dua Tamsil Sepak Bola untuk Cerita Politik Kita

I. Prabowo dan Timnas Belanda
Jika trofi jadi patokan, Belanda tak seharusnya dikenang sebagai negara sepak bola. Tidak pernah pegang Piala Dunia. Hanya sekali menyabet Piala Eropa. Tak sebanding dengan Jerman, Italia, Brasil, atau Argentina.

Namun sepak bola tak selamanya berurusan dengan trofi. Dalam dunia sepak bola, Belanda justru layak dikenang sebagai 'The Maker', contoh bagaimana sebuah negara mampu melahirkan filosofi bermain yang dimodifikasi dan mengilhami lahirnya filosofi lain. Belanda memproduksi para pemain dan pelatih bermental juara, meski tak punya tim nasional yang mampu memanen trofi secara rutin.

Total Football yang dipatenkan Rinus Michels mengawali pohon silsilah filosofi taktik dan menyediakan dahan bagi Tiki-taka dan Gegenpressing. Sebelum Tiki-taka dipatenkan Guardiola, Johan Cruyff yang menjadi anak emas Rinus telah membangun fondasinya di Barcelona.

Tim Nasional Belanda jarang menghadirkan gelar juara. Tapi alumnusnya seperti Cruyff, Gullit, Rijkaard, Koeman mengompensasi kegagalan itu dengan memborong sekian trofi saat menjadi manajer klub, dengan cara bermain yang tak jauh-jauh amat dari gaya tim nasional Belanda.

Dalam dunia politik Indonesia, saya kira takdir Belanda tak jauh-jauh seperti Prabowo Subianto. Mantan komandan Korps Pasukan Khusus itu tak pernah berhasil menyukseskan diri sendiri dalam kontestasi politik pemilihan presiden. Tahun 2009, bersama Megawati Soekarnoputri, Prabowo dipecundangi pasangan Susilo Bambang Yudhoyono - Boediono. Tahun 2014, dia dikalahkah Joko Widodo.

Namun siapapun tak bisa menampik, Prabowo adalah desainer kemenangan Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama dalam Pemilihan Gubernur DKI 2012 dan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno dalam Pemilihan Gubernur DKI 2017. Tak ada yang berani pasang taruhan tinggi untuk kemenangan Jokowi terhadap petahana saat itu, sebagaimana tak ada yang berani menjagokan Anies bisa menang telak atas Basuki saat ini.

Namun seperti filosofi sepak bola tim nasional Belanda, Prabowo memahami bahwa dalam politik yang terpenting adalah kerjasama rapi bak orkestra. "Sepakbola itu kalau tidak kerjasama, kalau hanya mengandalkan satu atau dua primadona ya kayak Brasil tadi malam," katanya, usai menyaksikan kekalahan Brasil 1-7 dari Jerman, di semifinal Piala Dunia, Rabu (9/7/2014).

Itu yang ditunjukkannya saat mendesain kemenangan Jokowi dan Anies dalam pilgub DKI. Dia menjadi pusat yang menyeimbangkan banyak elemen di kubunya. Dia tahu politik adalah kerja kolektif, sebagaimana Total Football yang membutuhkan semua pemain untuk menyerang dan bertahan bersama sebagai satu kesatuan. Tidak boleh ada ego.

Sejak 1988, tim nasional Belanda tak pernah lagi menjuarai turnamen besar kendati selalu tampil apik. Apakah Prabowo juga akan bernasib seperti Belanda pada pemilu 2019? Itu bakal jadi kisah menarik lainnya.    

II. Megawati, Jokowi, dan 'Samuel Eto'o'
Apa kesamaan antara Megawati, Joko Widodo, dan Pep Guardiola? Benar, membuang salah satu pilar penting dalam tim mereka sekaligus merasakan pedihnya pembalasan dari 'sang terbuang'.

Salah satu kesalahan Pep dan Barcelona adalah menendang Samuel Eto'o dari Nou Camp. Eto'o adalah ujung tombak penting dalam petualangan Barcelona merebut sekian trofi di bawah kepemimpinan Pep Guardiola. Bersama Eto'o, Barcelona merebut dua gelar juara La Liga (2005 dan 2006), Juara Piala Champions (2006), dan Piala Super Spanyol (2006 dan 2007). Namun semua memori indah ditutup dengan amarah sang ujung tombak.

Eto'o merasa tidak mendapat rasa hormat sepatutnya dari Pep. "Xavi bilang bahwa mereka ingin aku bertahan tapi aku harus berbicara pada Guardiola. Aku bilang “Tidak akan, jika Anda tidak menghormatiku, maka aku juga begitu'," katanya.

Eto'o terbang ke Inter Milan. Kemarahannya menjadi bensin saat Inter bertemu dengan Barca di semi final Piala Champions 2009. "Dari awal sampai akhir komentar mereka tentang saya, semuanya bohong," katanya kepada media massa, sebelum pertandingan. Hasilnya, Inter Milan menenggelamkan Barca dan menjadi juara Piala Eropa di bawah bimbingan Mourinho.

Dalam tim Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono adalah Samuel Eto'o. Banyak yang menyebut SBY sebagai salah satu jenderal cendekia di TNI dan Megawati 'mendepaknya' dari kabinet. Pemilu 2004, SBY meruntuhkan kedigdayaan Mega dan terpilih menjadi presiden RI. Lima tahun kemudian, SBY kembali mengalahkan Megawati yang berduet dengan Prabowo Subianto.

Joko Widodo juga mendepak Anies Baswedan dari posisi Menteri Pendidikan dan menimbulkan tanda tanya. Anies sendiri mengaku tidak tahu apa alasan Jokowi menurunkannya. Pemilihan Gubernur DKI 2017 tiba, dan Anies muncul dari bayang-bayang 'underdog' mengalahkan Basuki Tjahaja Purnama yang didukung penuh rezim Jokowi.

III. Pelajaran Penting
Jose Mourinho pernah mengatakan, dalam sebuah tim sepak bola, kita bisa memiliki pemain top, stadion terbaik, fasilitas terhebat, strategi pemasaran terbagus. "Tapi jika kita tidak menang, semuanya akan dilupakan."

Saya kira begitu juga dalam politik hari ini. Kemenangan adalah jejak. [wir/but]

Tag : politik

Komentar

?>