Kamis, 24 Agustus 2017

Evaluasi Laga Perdana Persebaya

Ini PR Serius Pelatih Bajul Ijo

Jum'at, 21 April 2017 16:30:43 WIB
Reporter : Kuntoro Rido Astomo
Ini PR Serius Pelatih Bajul Ijo

Surabaya (beritajatim.com) - Nervous atau grogi di pertandingan pertama, itu wajar. Sebab, pertandingan pertama, entah itu turnamen atau kompetisi, memang cukup berat. Karena, banyak tekanan yang bisa menjadi beban pemain.

Jangankan Persebaya yang ditahan imbang 1-1 Madiun Putra yang dianggap 'Tim Kampung'. PSS Sleman, pada laga perdananya juga kalah di kandang oleh PSCS Cilegon.

Belum lagi klub atau timnas level dunia, pun juga tidak pernah mudah melalui pertandingan perdananya meski melawan tim yang di atas kertas bisa dikalahkan dengan gampang.

Tapi melihat pertandingan perdana Persebaya di Liga 2 melawan Madiun Putra di Stadion Gelora Bung Tomo, Kamis (20/4/2017) petang kemarin, sepertinya ada yang salah.

Kenapa? Karena hampir semua pengamat mengatakan, Persebaya adalah salah satu tim yang paling siap mengarungi Liga 2. Bahkan, ada yang berani memprediksi, Persebaya adalah calon kuat juara Liga 2.

Namun kenyataannya, saya melihat, secara teknis Persebaya justru sebaliknya, alias tidak siap. Loh, kok bisa? Ya, tentu saja semua berdasarkan apa yang terjadi di pertandingan Kamis malam itu.

Hampir semua pemain tidak dalam kondisi siap tempur, khususnya pilar Bajul Ijo. Namun, pelatih Persebaya, Iwan Setiawan tetap memaksakan untuk turun. Iwan menyebut, Rendi Irwan, Yogi Novrian dan Andri Muliadi, harus turun tidak dalam kondisi 100 persen lantaran masih mengalami cedera. Sedangkan Rachmat Latief dan Dimas Galih, juga demikian karena masih sedikit sakit.

"(Rachmat) Latief sakit. Rendi (Irwan) cedera, Yogi (Novrian) cedera, Andri (Muliadi) cedera, Dimas (Galih) sampai last minute masih flu. Tapi dipaksakan main," beber Iwan.

Padahal seharusnya, kompetisi resmi adalah puncak dari persiapan panjang yang sudah diprogramkan juru taktik. Ibarat balap motor, mesin kendaraan sudah harus ready 100 persen pada hari H balapan. Kalau perlu, kendaraan dikarantina agar tidak terjadi kerusakan sebelum hari balapan.

Nah, kembali ke Persebaya, sebagai pelatih, Iwan mestinya bisa menjaga kondisi pemainnya, baik dari sisi stamina, kebugaran hingga mental bertanding. Entah melalui program latihan, pendekatan psikologis atau spiritual. Sehingga pada saat pertandingan resmi, kondisi pemain siap 100 persen.

Apalagi, jika dibandingkan dengan Madiun Putra, persiapan Persebaya jauh lebih panjang yakni sekitar 2 bulan lebih. Sedangkan Madiun Putra, mereka baru berkumpul sekitar 3 minggu.

Namun hasilnya, secara stamina kedua tim tidak jauh berbeda. Saat pertandingan, dari sisi stamina, pemain kedua tim sama-sama kedodoran hingga akhirnya banyak yang bertumbangan.

Apakah ada yang salah dari pola latihan hingga treatment Iwan ke pemainnya? Mungkin saja. Karena, masa persiapan yang lebih panjang dari Madiun Putra, Persebaya harusnya lebih baik.

Tapi, Iwan menyalahkan mental bertanding pemainnya saat ditahan imbang Madiun Putra. "Mental pemain hari ini sangat buruk. Saya sangat kecewa. Mereka terlihat sangat nervous di pertandingan pertama. Jauh berbeda dari pertandingan sebelumnya saat lawan Persegres. Entah saya tidak tahu sebabnya," aku Iwan.

Saya pikir, sebagai pelatih yang sudah malah melintang di sejumlah klub nasional, menurut saya, Iwan tidak sepantasnya mengambinghitamkan mental pemainnya.Sebab semua tahu, Persebaya adalah tim besar yang memiliki historis panjang di belantika sepakbola nasional. Sehingga melawan Persebaya, motivasi semua tim akan berlipat ganda. Itulah yang dilakukan Madiun Putra, Kamis malam.

Nah, jika hal itu bisa dipahami Iwan, mungkin laga Persebaya Kamis malam bakal berbeda. Apalagi, Iwan mengaku adalah pelatih terbaik di dunia dalam hal memotivasi pemain. Tapi sekali lagi, faktanya Iwan tidak memperlihatkan hal itu dan justru masih menyalahkan mental pemainnya.

Kemudian terakhir, statement Iwan yang kerap membuat 'panas kuping' calon lawannya, saya pikir juga bisa menjadi bumerang terhadap Persebaya. Mungkin, Iwan bersikap seperti itu karena ingin meningkatkan tensi pertandingan agar lebih menarik. Namun bagi saya, hal itu justru menjadi preseden buruk. Karena, Persebaya akan kehilangan respect dari banyak tim. Yang ada, mereka justru membenci dan termotivasi untuk mengalahkan dengan cara apapun.

Ingat, sekali lagi Persebaya adalah tim besar. Walau tanpa psywar, setiap klub yang akan berhadapan dengan Persebaya, secara psikologis, otomatis sudah membebani calon lawannya.

Saat Persebaya juara Liga Indonesia di tahun 1997 dan 2004, baik almarhum Rusdy Bahalwan maupun Jacksen F Tiago sebagai pelatih, sangat jarang bahkan hampir tidak pernah melontarkan psywar. Yang ada, kedua pelatih justru kian merendah meski timnya diunggulkan. Itulah kenapa banyak tim respect dengan Persebaya kala itu.

Untuk itu, jika Persebaya masih ingin bisa bersaing di Liga 2, apalagi dengan target juara, Bajul Ijo harus berbenah secepatnya. Dan saya yakin, Iwan juga senada. Sebab perjalanan masih panjang. Masih banyak waktu untuk evaluasi.

Ekspektasi tinggi yang diinginkan Bonek, pendukung Persebaya, sebenarnya juga cukup wajar mengingat Green Force adalah tim besar. Jadi, jangan sampai pengelolaan Persebaya yang kini sudah profesional dan wah, justru bertolak belakang di sektor teknis, yakni besar di media, namun lemah secara fakta.[kun]

Tag : persebaya

Komentar

?>