Selasa, 21 Nopember 2017

Seharusnya Jokowi Tak Copot Anies Baswedan, Begini Akhirnya

Kamis, 20 April 2017 01:18:21 WIB
Reporter : Ribut Wijoto
Seharusnya Jokowi Tak Copot Anies Baswedan, Begini Akhirnya

JIKA tahu akhirnya menjadi pesaing berat Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Pemilihan Gubernur DKI Jakarta, dan bahkan memenanginya, seharusnya Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak mencopot Anies Baswedan dari jabatan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Penyesalan itu mungkin terbersit di benak para pendukung Ahok. Sebuah penyesalan yang wajar.

Tanggal 27 Juli 2016, Presiden Jokowi mengumumkan pergantian susunan kabinet (reshuffle). Salah satu putusan yang cukup mengejutkan, Anies Baswedan diganti.

Jangankan masyarakat umum, Anies Baswedan sendiri turut kaget. Pria bernama lengkap Anies Rasyid Baswedan ini tidak menyangka bakal diganti. Dalam sebuah wawancara dengan media, beberapa hari setelah dicopot, Anies Baswedan mengaku tidak menduga sama sekali kalau akan diganti. Sebab, Anies merasa pekerjaannya baik-baik saja.

“Serapan anggaran Kemendikbud itu nomor dua paling tinggi. Artinya program berjalan. Kemudian soal audit, kami itu berstatus WTP (Wajar Tanpa Pengecualian). Lalu kami juga di posisi B plus atau A minus dalam kinerja kementerian. Jadi termasuk tinggi semua. Dalam opini masyarakat pun Kemendikbud termasuk paling tinggi. Lalu, tingkat kepuasan masyarakat terhadap menterinya juga paling tinggi di antara menteri lain lho,” kata pria kelahiran Kuningan, Jawa Barat, 7 Mei 1969 itu.

Maka, ketika dia dipanggil Jokowi untuk diberitahu perihal perombakan kabinet sekaligus ditanyai tentang jabatan lain yang mungkin diinginkan, Anies Baswedan hanya bisa menjawab bahwa dia belum punya gambaran sama sekali. Menurutnya, beberapa hari menjelang reshuffle, dalam pikiran Anies Baswedan, yang ada hanya tentang kementrian yang dia pimpin. Cucu pejuang kemerdekaan Abdurrahman Baswedan itu tidak punya bayangan tugas di tempat lain.

Publik menduga, ada faktor politis dalam pergantian Anies Baswedan. Artinya, Anies tidak diganti karena kinerja yang kurang bagus. Pergantian Anies lebih pada faktor-faktor lain. Opini paling santer, Anies diganti karena Jokowi ingin mengakomodasi kelompok Muhammadiyah. Makanya, pengganti Anies adalah Muhadjir Effendy, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bidang Pendidikan dan Kebudayaan sekaligus mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang.

Tidak butuh waktu sebulan atau seminggu, nama Anies Baswedan langsung ramai-ramai dihubungkan dengan Pilgub DKI. Situasinya saat itu memang partai-partai sedang sibuk mencari sosok yang mampu mengimbangi Ahok. Sampai pertengahan tahun 2016, elektabilitas Ahok masih di kisaran 60 sampai 70 persen. Dia diprediksi menang mudah.

Begitu dicopot dari jabatan menteri, nama Anies langsung saja melesat meninggalkan nama-nama lain yang lebih dulu mengemuka dalam running Pilgub DKI. Menyalip Dede Yusuf, Rieke Diah Pitaloka, Sandiaga Uno, Adhyaksa Dault, bahkan Yusril Ihza Mahendra. Elektabilitas Anies hanya kalah oleh Ahok, Tri Rismaharini, dan Ridwan Kamil.

Uniknya, Anies Baswedan juga termasuk kandidat yang dipertimbangkan untuk diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Wakil Ketua Bidang Pemenangan Pemilu PDI Perjuangan Gembong Warsono yang mengemukakannya. Uniknya lagi, Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) justru terkesan ogah dengan Anies Baswedan. Alasannya, Anies Baswedan merupakan juru bicara (jubir) tim pemenangan Jokowi saat Pilpres 2014. Lebih-lebih, Anies Baswedan pernah melontarkan kritik terhadap Prabowo.

Tetapi politik kadang kala sulit ditebak, kadang kala justru menabrak logika. Toh akhirnya, Gerindra bersama Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sepakat mengusung Anies Baswedan berpasangan dengan Sandiaga Uno. Pasangan ini dideklarasikan 23 September 2016, artinya belum genap dua bulan sejak Anies Baswedan dicopot dari jabatan menteri. Prabowo mengklaim, Anies dan Sandiaga diusung karena muncul berdasarkan keinginan warga ibu kota. Di mana, ada beberapa elemen yang meminta terjadinya proses pergantian kepemimpinan.

Begitu deklarasi, bukan popularitas yang didapat, nama Anies Baswedan justru tiba-tiba tenggelam oleh kemunculan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang berpasangan dengan Sylviana Murni. Sosok muda dan gagah putra dari mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Tak pelak, ajang Pilgub DKI berubah menjadi seakan-akan pertarungan antara Agus-Sylvi melawan Ahok-Djarot. Sementara pasangan Anies-Sandi seolah sebatas pelengkap.

Hari-hari setelah penetapan pasangan oleh KPU DKI sampai pemungutan suara putaran pertama, media sosial dipenuhi oleh ‘perang’ (dan saling menjatuhkan, saling lempar isu) antara pendukung Agus-Sylvi dengan pendukung Ahok-Djarot. Pemberitaan di media massa juga hampir sama, yaitu didominasi oleh persaingan pasangan Agus-Sylvi dan Ahok-Djarot. Persaingan semakin keras ketika tokoh-tokoh penting di balik dua pasangan itu turut agresif berbicara. Salah satunya adalah sang ayah Agus, yakni SBY.

Secara kebetulan, selama putaran pertama, dua pasangan tersebut sama-sama terjerat oleh kasus hukum. Ahok dilaporkan dalam dugaan kasus penistaan agama. Sedangkan Sylvi diduga melakukan tindak pidana korupsi. Alhasil, keduanya menjadi sasaran empuk pemberitaan. Sebaliknya, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno selalu mengesankan pembawaan teduh.

Dalam ranah lembaga survei, fenomenanya lebih aneh lagi. Jarang hasil survei yang menempatkan Anies-Sandi sebagai pasangan paling unggul. Mayoritas hanya menempatkan di urutan kedua. Posisi urutan pertama hampir selalu ditempati pasangan Agus-Sylvi dan Ahok-Djarot.

Lihat saja hasil survei di putaran pertama. Litbang Kompas merilis keunggulan Ahok-Djarot dengan angka 36,2 persen disusul Anies-Sandi dengan angka 28,5 persen, dan Agus-Sylvi dengan 28,2 persen. Lembaga Survei Grup Riset Potensial (GRP) merilis Agus-Sylvi unggul telak dengan 47 persen, disusul Anies-Sandi 25 persen, dan Ahok-Djarot 23 persen. Manilka Research and Consulting memilih Agus-Sylvi dengan 38,61 persen, Anies-Sandi  25,25 persen, dan Ahok-Djarot 21,70 persen. Hasil survei Alvara yaitu Ahok-Djarot 38,3 persen, Anies-Sandi 32,6 persen, dan Agus-Sylvi sebesar 20,1 persen. Survei lembaga Indikator Politik Indonesia hasilnya Ahok-Djarot 39 persen, Anies-Sandi membuntuti dengan angka 35,4 persen, Agus-Sylvi hanya 23,6 persen.

Baru di putaran kedualah publik seperti melihat persaingan yang sebenarnya antara Ahok-Djarot dengan Anies-Sandi. Manuver-manuver dari kedua pendukung mulai bersliweran. Saling lapor ke pihak berwajib pun turut dilakukan.

Tetapi, publik melihat bahwa performa Anies Baswedan dan Sandiaga Uno tetap kalem. Wajah yang murah senyum dan bicara dengan nada sedang. Bandingkankan dengan Ahok yang terbiasa bicara ceplas ceplos atau Djarot yang berkumis tebal dan hampir selalu memasang wajah serius. Pembawaan Anies-Sandi setidaknya cukup mengerem panasnya aroma persaingan.

Kini pilihan warga Jakarta telah dijatuhkan. Walau belum melalui penetapan KPU, semua hasil quick count menunjukkan kemenangan Anies-Sandi yang rata-rata melampaui selisih 10 persen dibanding perolehan suara pesaingnya. Bahkan, Ahok-Djarot pun secara terbuka telah memberi ucapan selamat atas kemenangan Anies-Sandi.

Satu hal yang perlu jadi catatan bagi Anies-Sandi, dalam berbagai survei, tingkat kepuasan warga Jakarta terhadap kinerja Ahok-Djarot cukup tinggi. Adapun kelemahan pemerintahan Ahok-Djarot, sering tidak harmonisnya hubungan eksekutif dengan legislatif. Itu artinya, banyak kebijakan pemerintahan sebelumnya yang patut untuk dilanjutkan. Sebaliknya, Anies-Sandi harus membuka kran komunikasi yang lebih lancar kepada para wakil rakyat di DPRD. Melihat performa keduanya yang kalem, harmonisasi antara eksekutif dengan legislatif sepertinya bukan suatu suasana yang sulit dicapai.

Warga Jakarta patut menaruh harapan positif untuk 5 tahun ke depan. Sejauh ini, Anies Baswedan dikenal sebagai sosok yang bersih. Pria lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, University of Maryland, dan Northern Illinois University ini tidak pernah tersangkut dengan kasus-kasus korupsi. Selain itu, Anies Baswedan terbiasa berpikir detail dan terencana. Sedangkan aktivitasnya dalam Indonesia Mengajar memberi tanda, Anies Baswedan memiliki komitmen besar terhadap pendidikan dan kesejahteraan kaum kecil.

Selamat buat warga Jakarta, selamat buat Anies Baswedan. [but]

Tag : politik

Komentar

?>