Selasa, 21 Nopember 2017

Erdogan dan Transformasi Politik Turki

Selasa, 18 April 2017 14:08:04 WIB
Reporter : Ainur Rohim
Erdogan dan Transformasi Politik Turki
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan.

Pada hari Minggu (16/4/2017), sebanyak 80 juta warga negara Turki memberikan hak suaranya pada referendum di negara itu. Agenda politik ini digelar untuk meminta pendapat rakyat: Apakah Turki tetap mempertahankan sistem pemerintahan parlementer ataukah beralih ke sistem presidensil.

Bagaimana hasilnya? Sebagaimana dilaporkan BBC, hasil referendum, Minggu, menunjukkan, 51,41% suara mendukung wewenang baru kepada presiden dan 48,59% menentang dengan sekitar 99,97% suara sudah dihitung.

Artinya, mayoritas warga Turki menghendaki perubahan sistem pemerintahan dari parlementer ke presidensil, kendati kalangan oposisi negara setempat bakal mengajukan gugatan hukum atas hasil referendum itu.

Turki, negara yang berada di titik persilangan antara Benua Asia dan Eropa, merupakan salah satu ikon negara modern yang sebagian besar warganya beragama Islam. Di Turki modernitas berjalan seiring sejalan dengan nilai-nilai Islam yang telah menyejarah dan melekat di warga negara Turki.

Turki menjadi middle way dalam perspektif negara-negara Islam di kawasan Timur Tengah dan Asia, di tengah kerasnya kompetisi pengaruh politik kawasan antara Arab Saudi (Sunni) versus Iran (Syiah).

Saat ini, Turki dipimpin Presiden Recep Tayyip Erdogan, seorang tokoh politik dan negarawan Turki berasal dari kalangan wong cilik, dididik dengan bekal ilmu keagamaan dan pengetahuan modern yang kuat. Dia memiliki pengalaman di lapangan politik yang matang.

Proses referendum di Turki berjalan biasa-biasa saja, tanpa diiringi gejolak politik yang bisa mengganggu stabilitas politik dan keamanan negara tersebut. Kehidupan warga normal-normal saja. Sebab, referendum merupakan agenda politik yang biasa dilakukan warga Turki. Referendum 16 April 2017 lalu merupakan kali ketujuh sejak Turki modern berdiri tahun 1923 oleh Mustafa Kemal Atturtuk.

Dengan hasil referendum itu, maka sejumlah hal yang bakal diatur dalam konstitusi baru Turki antara lain: Rancangan konstitusi menetapkan pemilihan parlemen dan presiden mendatang akan digelar pada 3 November 2019; Presiden memiliki masa jabatan lima tahun dengan maksimal dua periode; Presiden akan bisa menunjuk langsung para pejabat tinggi, termasuk para menteri kabinet; Presiden juga akan bisa menunjuk satu atau beberapa wakil presiden.

Poin selanjutnya: Jabatan perdana menteri, yang saat ini dipegang Binali Yildirim, akan dihapus; Presiden memiliki wewenang untuk campur tangan dalam peradilan, yang menurut Presiden Erdogan dipengaruhi Fethullah Gulen, ulama yang tinggal di Amerika Serikat, yang dituduh berada di belakang kudeta gagal Juli 2016; Dan Presiden akan menetapkan keadaan darurat atau tidak.

Turki di bawah kepemimpinan Presiden Recep Tayyip Erdogan sedang menjalani proses transformasi politik besar. Transformasi politik besar kedua setelah republik Turki didirikan Mustafa Kemal Attartuk di 1923, dengan mengusung kredo ideologi demokrasi dan sekularisme.

Sebab, selama ratusan tahun, Turki merupakan monarki berwatak teologis (Islam) di bawah Dinasti Utsmani. Erdogan memperkuat karakter dan budaya Turki dalam kredo demokrasi tanpa menafikan nilai-nilai kultural, sosiologis, dan teologis (Islam) yang lama bersemayam di hati sanubari 99 rakyat Turki yang Islam.

Transformasi politik Turki di abad 21 tak bisa dilepaskan dari Erdogan. Perubahan sistem pemerintahan dari parlementer ke presidensil diharapkan mampu melanggengkan bangunan rezim politik Turki sesuai periodisasi jabatan yang digariskan dalam konstitusi. Kabinet tak gampang jatuh-bangun. Turki modern ditopang basis politik dan sosial yang seimbang antara kekuatan bersumber dari kubu sekuler, kubu Islam, dan kubu militer.

Militer di Turki tetap jadi variabel strategis dalam dinamika politik setempat, kendati sempat gagal di kudeta gagal pada Juli 2016. Militer seringkali menjadi penyeimbang tarik-menarik antara kekuatan kubu sekuler versus kubu Islam.

Presiden Recep Tayyip Erdogan adalah determinan lain yang mendorong transformasi besar-besaran dalam sistem pemerintahan Turki di era modern. Dalam buku berjudul: Erdogan, Muadzin Istanbul Penakluk Sekularisme Turki, yang ditulis Syarif Taghian (Desember 2015), disebutkan bahwa Erdogan yang lahir pada 26 Februari 1954 di sebuah desa kecil di Kota Istanbul Turki di masa kecilnya menjalani proses pendidikan agama sangat kental. Proses pembelajaran nilai-nilai agama pada diri Erdogan dari tingkat dasar sampai menengah.

Di Istanbul, Erdogan hidup di antara kedua kekuatan yang bertentangan: Kekuatan masa lalu yang dibangun Turki Utsmani dalam beberapa abad berupa istana, masjid, dan kota-kota klasik versus kekuatan modern yang terlihat dari simbol-simbol baru yang diterapkan republik (Sekuler) Turki. Cerita rakyat telah menjadi metamorfosis untuk menantang sikap keras Erdogan dalam mengembalikan Republik Turki, yang tumbuh atas jargon: Perdamaian dalam Negeri, Perdamaian Dunia, dan Tidak Ada Kawan Bagi Turki Kecuali Turki.

Dalam kehidupannya, Erdogan menjadikan Rasulullah Muhammad SAW sebagai teladan utama dan contoh hidup mulia. Adakah tokoh lain yang diidolakan? Ada. Dia itu adalah Necmettin Erbakan, pimpinan Partai Keselamatan Nasional Islam Turki. Erbakan bisa dikatakan sebagai guru politik dan banyak memberikan akses kepada Erdogan dalam mengasah dan meniti karir politiknya di partai yang dipimpin Erbakan.

Erdogan selalu menghormati Erbakan sebagai guru, sehingga setelah dia keluar dari penjara pada 24 Juli 1999 dan menyatakan keluar dari Partai Refah pada 2001, lalu mendirikan partai baru: Adalet ve Kalkinma (Partai Keadilan dan Pembangunan) yang berbasis pada ideologi ke-Islam-an.

Partai baru pimpinan Erdogan ini selalu berpihak pada keputusan orang banyak dan tak pernah melakukan perselisihan dengan kubu militer Turki, dengan mengatakan, "Aku akan mengikuti politik yang jelas untuk mencapai tujuan yang telah dicanangkan Attartuk, yakni mendirikan masyarakat yang berbudaya dan modern dalam ke-Islam-an yang diyakini 99% penduduk Turki."

Gaya dan langgam politik Erdogan itu merupakan hal baru dari realitas demokrasi di Turki yang berdampingan dengan nilai-nilai religius Islam yang kuat dan dipatuhi warganya. Fakta politik ini yang membuat Erdogan dan partainya memenangi pemilu 2002 dan 2007. Selain tentu karekter pribadi Erdogan yang khas: Memiliki watak antusias dan lembut, sangat menghormati orang tua, pemberani, menegakkan nilai-nilai dasar hukum, keadilan, dan persamaan, serta Erdogan tak pernah ketinggalan ikut takziyah atau berbelasungkawa bagi orang Turki yang keluarganya meninggal dunia dan bahkan dia ikut serta dalam pemakaman.

"Erdogan juga selalu menghadiri undangan dari organisasi pemuda untuk bergabung dalam permainan sepak bola," tulis Syarif Taghian. Ya itulah Turki dan Erdogan. Dia menjadi tawaran alternatif bagi kepemimpinan dunia Islam di tengah kerasnya pertarungan pengaruh politik dan ekonomi antara Arab Saudi (Sunni) dan Iran (Syiah) di kawasan Timur Tengah khususnya dan negara-negara Islam pada umumnya. [air]

Penulis adalah Penanggung jawab beritajatim.com

Tag : turki

Berita Terkait

    Komentar

    ?>