Minggu, 30 April 2017

Carok dan Euforia Sepakbola Madura

Kamis, 13 April 2017 18:19:38 WIB
Reporter : Samsul Arifin
Carok dan Euforia Sepakbola Madura
Samsul Arifin

CAROK dan kekerasan memang bukanlah hal tabu bagi sebagian masyarakat Madura dan sudah tidak lagi asing di telinga masyarakat luas. Sekalipun carok saat ini sudah tidak lagi terjadi dalam skala tertentu.

Selama ini Pulau Garam memang selalu diidentikkan dengan berbagai nuansa keras. Tidak hanya dalam aspek sosial kultur masyarakat, kondisi alam yang tandus dan panas juga menjadi penilaian tersendiri bagi banyak orang di luar Madura.

Memang salah satu slogan khas Madura; "Lebih bhegus pote tolang e tembheng pote mata (lebih baik putih tulang daripada putih mata)" cenderung diidentikkan dengan kekerasan. Orang Madura terkesan tidak mau dipermalukan dan cenderung akan bertindak dengan cara keras.

Bahkan mereka juga terkesan tidak melihat besar kecilnya persoalan jika berhubungan dengan etika estetika orang Madura. Sekecil apapun masalahnya tentu akan berakibat fatal jika sudah berhubungan dengan harga diri.

Lambat laun pemikiran itu sudah mulai terkikis keadaan. Carok tidak lagi mengandalkan keberanian masing-masing individu dengan bertarung layaknya para pendekar dan jawara. Termasuk juga dalam menyikapi berbagai persoalan juga dilakukan dengan cara bijaksana.

Hal itu tidak lepas dari peran para tokoh masyarakat dan ulama di Madura. Mereka selalu berupaya menangkal sekaligus menghilangkan paradigma negatif yang sudah cenderung identik dengan watak dan karakter Madura.

Pelan namun pasti, dua istilah tersebut mulai menghilang. Pendidikan dan olahraga disinyalir menjadi salah satu faktor penentu perubahan paradigma masyarakat Madura. Mulanya keras mulai berganti menjadi lembut, bahkan mereka juga bisa menyesuaikan diri dengan berbagai macam perbedaan.

Salah satunya olahraga cabang sepakbola, jenis olahraga yang digandrungi masyarakat luas itu juga mampu merubah paradigma keras khas masyarakat Madura. Dengan sepakbola mereka bisa hidup berdampingan dan memberikan dukungan terhadap tim kebanggaan masing-masing.

Mungkin kita masih ingat ungkapan Presiden Pertama Republik Indonesia Soekarno yang menyatakan jika olahraga khususnya cabang sepakbola menjadi salah satu alat perekat dan pemersatu bangsa.

Di Madura tercatat sebanyak empat tim sepakbola terdaftar sebagai anggota induk tertinggi sepakbola tanah air (PSSI), mulai dari Perseba Bangkalan, Persepam Pamekasan, Persesa Sampang dan Perssu Sumenep. Sekalipun saat ini sudah minus Perseba Bangkalan yang sudah pindah kepemilikan ke luar pulau.

Saat ini tercatat hanya dua tim yang menunjukkan geliat menyakinan mengukir prestasi. Masing-masing Persepam-MU Pamekasan dan Perssu Sumenep yang akan berkompetisi di Liga 2 2017 mendatang.

Sementara Persesa Sampang masih berupaya untuk lebih baik agar bisa tampil di kompetisi tertinggi sepakbola tanah air, tentunya juga dengan membawa nama baik Madura di kancah sepakbola Nasional.

Namun tidak hanya dua klub tersebut yang akan membawa nama besar Madura di kancah sepakbola, dua tim lainnya juga tidak kalah menarik dengan langsung menamakan diri dengan klub Madura. Masing-masing Madura FC dan Madura United FC.

Mungkin nama Madura FC terlalu asing bagi publik sepakbola, tidak terkecuali bagi masyarakat bola di Madura. Sebab klub tersebut memang baru tahun ini akan bermarkas di Madura, guna mengikuti kompetisi Liga 2 2017 mendatang.

Madura FC merupakan klub sepakbola yang baru di akuisisi dari salah satu tim perserikatan asal Jawa Timur, Persebo Bondowoso. Tim yang nantinya dikabarkan bermarkas di Stadion Gelora A Yani Sumenep, satu kandang dengan Perssu Sumenep.

Selain itu, tim yang menggunakan julukan Laskar Jokotole sudah fokus dan mengeglar pemusatan latihan atau Training Centre (TC) di Kota Mojokerto Jawa Timur. Namun dalam beberapa hari kedepan, mereka akan segera merapat ke Madura.

Adanya tim baru bernama Madura FC jelas akan menambah semarak dan euforia masyarakat Madura terhadap sepakbola. Sebab selain tiga tim yang akan berlaga di Liga 2, nantinya juga bakal ada tim Madura yang akan berlaga di kasta tertinggi sepakbola tanah air Liga 1, Madura United FC.

Dalam hitungan hari, keempat tim tentunya sudah menyiapkan diri untuk memberikan yang terbaik bagi publik bola Madura. Mereka tentunya berharap dukungan dari masyarakat, sekaligus memberikan tontonan menghibur dengan menunjukkan kebersamaan dan kebanggaan bagi pulau Madura.

Sehingga keberadaan empat tim yang akan berlaga di kompetisi resmi bisa menjadi obat penawar sekaligus menghilangkan stigma Madura sebagai pulau yang keras dengan tradisi carok, menjadi masyarakat gila bola dengan nuansa kebersamaan, saling asa, saling asih dan saling asuh.

Tentunya tetap dengan harapan memprioritaskan paradigma positif khas masyarakat Madura dengan potensi religius yang selalu mengedepankan etika dan moral dalam sosial kemasyarakatan. [pin/but]

Tag : budaya

Komentar

?>