Minggu, 30 April 2017

Belajar Toleransi dari Buya Hamka dan KH Idham Khalid

Jum'at, 07 April 2017 14:21:01 WIB
Reporter : Ainur Rohim
Belajar Toleransi dari Buya Hamka dan KH Idham Khalid
Ainur Rohim, Penanggung Jawab media online beritajatim.com

Toleransi itu terlihat masih jadi pekerjaan berat kita bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Gerakan sekulerisme dan fundamentalisme ekstrim merupakan titik bahaya di tengah mappling kenegaraan yang plural.

Dalam kasus penistaan agama yang mendudukkan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai tersangka memperlihatkan mulai rapuhnya di antara kita memaknai dan memahami perbedaan. Terjadi aksi saling melaporkan kepada polisi. Sungguh mengenaskan.

Fakta sejarah menunjukkan tokoh dan negarawan kita di masa lalu memiliki mental dan karakter toleransi sangat kuat. Di antara mereka bisa memahami, menghargai, dan menghormati keyakinan serta ideologi tokoh lain secara smooth, smart, dan prudent.

Dalam konteks ini kita bisa melihat sikap dan watak yang diperlihatkan Buya Hamka dengan KH Idhan Khalid. Keduanya tokoh Islam, namun dari kelompok dan aliran berbeda. Buya Hamka seorang tokoh dan aktivis Muhammadiyah, lama aktif dan pernah jadi anggota Dewan Konstituante dari Partai Masyumi, penentang kebijakan Demokrasi Terpimpin Presiden Soekarno, dan sempat menjalani pengapnya kehidupan penjara selama 2 tahun 4 bulan akibat sikap politiknya terhadap rezim Orde Lama Bung Karno.

Di sisi lain, KH Idham Khalid merupakan tokoh sentral NU sejak Pemilu 1955 sampai awal 1980-an. Dia jadi ketua umum PBNU paling lama dibandingketua umum PBNU lainnya, seperti Gus Dur, KH Hasyim Muzadi, dan lainnya. Kiai Idham dikenal sebagai aktivis NU yang mampu menyesuaikan diri dengan kondisi dan lingkungan politik Indonesia yang seringkali berubah-ubah.

Kiai Idham pernah jadi Wakil Perdana (Waperdam) di era Demokrasi Terpimpin, Kiai Idham juga dekat dengan Bung Karno ketika sang Proklamator itu menjadi pemegang kekuasaan paling efektif di politik nasional periode 1959-1965. Kiai Idham adalah Wakil Ketua MPRS ketika sidang istimewa digelar pada 1967. Kiai Idham yang asli Banjar dan pernah nyantri di Pondok Modern Gontor Ponorogo mampu eksist ketika fase peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru. Sempat masuk kabinet di periode awal kepemimpinan Soeharto pada akhir 1960-an dan awal 1970-an. Kiai Idham tetap berkecimpung di dunia politik nasional di awal Orde Baru, dengan menduduki jabatan Presiden PPP. Dia salah satu deklarator PPP yang merupakan fusi dari 4 parpol berasas Islam.

Buya Hamka dan Kiai Idham merupakan pribadi tokoh Islam dengan aliran tak sama. Buya Hamka Muhammadiyah dan Masyumi, sedang Kiai Idham seorang ketua umum PBNU dan tokoh sentral Partai NU. Buya Hamka sempat berseberangan dengan Bung Karno, kendati saat Bung Karno wafat, Buya Hamka yang diminta untuk memimpin salat jenazah Bung Karno di Wisma Yaso Jakarta. Sedang Kiai Idham memiliki relasi politik, sosial, dan pribadi yang lempeng dengan Bung Karno. Nyaris tak pernah berseberangan secara dikotomis dalam perspektif politik dengan Bung Karno.

Itulah Buya Hamka dan Kiai Idham. Yang menarik, kedua tokoh Islam dari aliran berbeda itu memiliki mental, sikap, dan karakter toleransi luar biasa. Buya Syafi'i Ma'arif, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah dalam buku berjudul: Jalan Cinta Buya Hamka, yang ditulis Haidar Musyafa (2017), menggambarkan secara apik perilaku toleransi antara Buya Hamka dengan Kiai Idham.

Buya Syafi'i menulis, salah satu bukti toleransi Buya Hamka dapat dilihat dari persahabatannya dengan Kiai Idham yang ketua umum PBNU itu. Jika mereka berdua mendapat tugas bareng berdakwah di luar kota dan tiba waktu salat, mereka selalu bergantian menjadi imam. Saat salat Subuh, misalnya, jika Buya Hamka yang jadi imam salat, maka beliau menunaikan salat Subuh dengan menggunakan doa qunut. Tujuannya, menghormati Kiai Idham yang NU, di mana Kiai Idham selalu membaca doa qunut setiap kali menunaikan salat Subuh.

Sebaliknya, jika Kiai Idham yang bertugas menjadi imam salat, maka Kiai Idham tak membaca doa qunut. Tujuannya, untuk menghormati Buya Hamka yang Muhammadiyah tulen, yang tak pernah membaca doa qunut setiap kali salat Subuh. "Selain itu, Buya Hamka sangat toleran dengan kelompok-kelompok tarekat. Salah satu di antara wujud toleransi Buya Hamka terhadap Tarekat Naqsabandiyah adalah ditulisnya buku berjudul: Tasawuf Modern. Buku itu sangat terkenal di kalangan jamaah dan pangamal tarekat," tulis Buya Syafi'i Ma'arif.

Itulah praktek toleransi antara Buya Hamka dengan Kiai Idham. Kedua tokoh Islam itu mampu memahami perbedaan bukan jalan menuju perpecahan dan persatean. Perbedaan benar-benar rahmat, memperkaya khasanah dunia Islam, dan merekatkan ukhuwah Islamiyah di antara keduanya. Bangunan postur Islam yang diperlihatkan Buya Hamka dan Kiai Idham menempatkan Islam berwibawa vis a vis kelompok lain non-Islam dan pemerintah. [air]

Tag : politik

Komentar

?>