Selasa, 21 Nopember 2017

Belajar dari Longsor Ponorogo

Senin, 03 April 2017 11:42:20 WIB
Reporter : Ainur Rohim
Belajar dari Longsor Ponorogo
Ainur Rohim, Penanggung Jawab media online beritajatim.com

Diperkirakan masih 26 warga Dusun Tingkil, Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo, Jatim yang masih tertimbun material longsor. Mereka membutuhkan bantuan segera. Baru 2 jenazah korban longsor di Ponorogo yang berhasil ditemukan.

Bencana alam tanah longsor mengingatkan kembali kita untuk bersahabat dengan alam. Lingkungan alam yang diperlakukan tak bersahabat hakikatnya tinggal tunggu waktu kapan 'kemarahan' alam itu muncul dan meluluhlantakkan apapun, termasuk nyawa warga yang ada di sekitarnya.

Tanah longsor di Ponorogo merupakan bencana alam akibat hidrometeorologi. Kondisi alam bersifat terbuka, kemiringan lebih dari 45 derajat, minim tumbuhan tegakan, dan kurangnya wilayah tangkapan air membuat air bah yang turun di musim hujan mencari jalannya sendiri. Secara geologi dan hidrologi, air hujan akan masuk ke rongga-rongga tanah yang bersifat terbuka.

Tanah jadi kantong air dengan tingkat daya tampung dan bertahan bersifat terbatas. Sebab, tak ada akar tunggak kuat dari tumbuhan tegakan di atasnya. Konversi lahan dari kawasan konservasi ke lahan budidaya, dengan komoditas pertanian berbeda sama sekali, merupakan bencana tersembunyi yang tinggal menunggu waktu kapan menghantamnya.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim, menyebutkan, dari 38 kabupaten/kota di provinsi berpenduduk 38 juta jiwa ini, sekitar 29 kabupaten/kota di antaranya rawan bencana alam tanah longsor dan banjir. Kabupaten Ponorogo termasuk di antaranya. Wilayah ini dikepung kawasan pegunungan di sisi selatan yang berbatasan dengan Kabupaten Pacitan, sisi timur berbatasan dengan Kabupaten Trenggalek, dan sisi barat berbatasan dengan Kabupaten Wonogiri, Jateng.

Bencana alam tanah longsor Ponorogo menyadarkan kita terus bersahabat dengan alam. Hikmah lain di balik tanah longsor Ponorogo adalah kesiapsiagaan dan ketangguhan warga menghadapi bencana.

Bencana itu tak hanya datang dari realitas alam yang tak bersahabat, tapi juga bisa karena kegagalan teknologi. Kabupaten Gresik, Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Bojonegoro, Kabupaten Tuban, dan Kabupaten Pasuruan termasuk wilayah yang rawan bencana akibat kegagalan teknologi.

Warga yang bermukim dan atau menjalankan aktifitas sosial ekonomi di daerah rawan bencana alam mesti dibekali dengan informasi dan pengetahuan yang komprehensif soal mapping bahaya daerahnya. Akses informasi tentang bahaya daerah mesti dibuka dan dikampanyekan seluas-luasnya. Mereka juga harus memiliki ketangguhan mental dan karakter dalam menghadapi bencana yang sewaktu-waktu datang. Daya lentingnya harus kuat.

Yang paling penting meski terlihat sepele adalah simulasi kebencanaan harus terus-menerus dijalankan. Hal itu sangat bernilai dalam menanamkam kesadaran dan kewaspadaan pada warga bahwa sewaktu-waktu bencana bisa datang tanpa permisi terlebih dahulu. Bencana bisa datang kapan saja dan di mana saja. Bencana bisa menyapa di pagi hari, siang hari, sore hari, malam hari, dan dan dini hari.

Semua tanda-tanda alamiah bencana itu hakikatnya bisa diprediksi dan diperkirakan, termasuk bencana alam tanah longsor. Sampai sekarang hanya bencana alam gempa bumi yang sulit dideteksi sejak dini. Karena itu, sikap dan perilaku tak meremehkan alam adalah sangat penting agar ketika bencana alam itu datang kita bisa menyelamatkan diri sejak dini. Sehingga kerugian material dan jatuhnya korban jiwa bisa dihindarkan. [air]

Penulis adalah Penanggung Jawab beritajatim.com

Komentar

?>