Selasa, 24 Oktober 2017

Kesenian Banyuwangi yang Nyaris Hilang: Prabu Roro

Minggu, 02 April 2017 08:53:23 WIB
Reporter : Rindi Suwito
Kesenian Banyuwangi yang Nyaris Hilang: Prabu Roro

BANYUWANGI konsisten memunculkan seni dan budayanya. Tak dipungkiri, warga daerah ini kaya akan karya kreasi yang melegenda.

Sayangnya, beberapa karya legendaris mulai redup dan nyaris mati ditelan jaman. Agar tidak benar-benar mati, Pemerintah Bumi Blambangan ternyata memiliki cara jitu dalam nguri-nguri budaya daerah.

Panggung seni yang luas dan menarik disiapkan di hamparan pelataran Taman Blambangan Banyuwangi. Beragam pertunjukan seni budaya lokal ditampilkan.

Acara itu dikemas dalam event yang biasa disebut Banyuwangi Weekend. Meski digelar tiap minggu, panggung ini tidak pernah sepi dari pengunjung. Itu karena dia selalu berganti peran.

Seperti Sabtu malam ini (1/4/2017), seni Prabu Roro ditampilkan secara apik. Prabu Roro atau yang juga disebut Rengganis itu merupakan kesenian drama tadisional yang diperkirakan berasal dari Kerajaan Mataram Islam.

Kesenian ini memang lama menghilang, karena jarang sekali ditemui pada panggung-panggung yang biasa mereka lakonkan. Beda halnya pada era 90 an silam. Pertunjukan yang menitik beratkan pada percakapan drama dan kisah atau cerita kolosal ini sering kali muncul pada acara hajatan warga.

Di eranya, Prabu Poro mampu mengambil hati para warga yang notabene bermukim di wilayah Banyuwangi bagian selatan. Pasalnya, kultur mereka terlebih sama dengan isi cerita dan bahasa yang digunakannya. Karena, mayoritas penggemar kesenian ini adalah warga Jawa Mataraman yang banyak tinggal di selatan.

Sementara di Banyuwangi utara, Rengganis jarang muncul. Karena banyak warga yang bersuku Osing. Mereka lebih memilih kesenian Gandrung, Janger ataupun Barong.

Meski lama tak menampilkan aski panggung, tapi para pelaku prabu roro tetap eksis. Mereka tetap mencoba mempertahankan pakem cerita dan warisan budaya dari pendahulunya.

Beruntung, Banyuwangi memiliki pemerintah yang peduli akan nasib para senimannya. Mereka diberikan ruang untuk tampil pada setiap kesempatan. Sehingga mereka dapat kembali mengambil peran mengenalkan kesenian di tengah generasi muda berikutnya.

Buktinya cukup nyata saat tampil di alun-alun Balmbangan ini. Walau kadang para penonton yang menyaksikan masih meraba-raba isi cerita yang dibawakannya. Namun, tak jarang mereka mampu mengikuti ritme hingga teriuh suasana lakon di panggung. Ada pula yang hanya tertegun dan diam begitu saja.

Malam itu, banyak pengunjung yang melihat langsung pagelaran yang mulai langka ini. Tak  hanya didatangi wisatawan lokal, tapi juga terlihat sejumlah turis asing berjajar rapi di depan panggung. Mereka ada yang datang dari Belgia, California USA, Jerman, Cili, hingga dari Inggris.

"Menyenangkan duduk-duduk di sini, apalagi ada hiburan musiknya. Tamannya bersih lagi," kata Euis Khadijah, wisatawan asal Bandung yang sedang berlibur selama empat hari.

Memang malam itu, wisatawan patut berbahagia lantaran terdapat beberapa stage kesenian yang sengaja ditampilkan. Tak jauh dari panggung Prabu roro, juga digelar musik lokal khas Banyuwangi yang dimainkan oleh musisi jalanan setempat. Mereka main di amphitheatre yang berada di tengah-tengah taman publik, Sri Tanjung.

Bahkan, tak hanya Euis yang beruntung mampu menjumpai beberapa suguhan menarik di Banyuwangi Weekend kali ini. Nungki Noer wisatawan asal Jakarta juga mengaku bahagia. Tak tanggung-tanggung, begitu mendengar lagu khas Banyuwangi ia pun kepincut. Akhirnya, ia harus merogoh kocek untuk membeli compact disc lagu Banyuwangi.

"Nambah koleksi lagu saya. Musiknya enak didengar, artisnya juga banyak yang dikenal di televisi. Sebelum ke sini tadi, saya diajak nonton musik jazz di pantai. Kesenian di sini berkembang sekali ya," ujar Nungki.

Musik jazz yang dimaksud Nungki adalah pertunjukan Banyuwangi Jazz ethnic yang digelar di kampung kawasan Pantai Pulau Santen, Banyuwangi.

Pagelaran musik ini dirancang oleh warga setempat, salah satunya untuk mempromosikan Pantai Pulau Santen, obyek wisata baru yang tengah digarap Pemkab Banyuwangi. Sisi utara pantai ini didesain menjadi pantai Syariah yang dikhususkan bagi kaum hawa.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan atraksi seni setiap akhir pekan ini dirancang untuk memanjakan wisatawan yang berkunjung ke Banyuwangi. Selain ke obyek wisata, para pelancong diberikan alternatif atraksi wisata agar liburannya lebih berwarna.

"Panggung ini juga wadah tampilnya sanggar tari, kelompok seni dan budaya. Setiap malam minggu, mereka tampil menghibur masyarakat dan wisatawan yang singgah di Banyuwangi. Ini bukti kami tetap melestarikan budaya dan seni Banyuwangi. Kami memberi ruang seluas-luasnya kepada kelompok seni dan budaya Banyuwangi," ujar Bupati Anas. [rin/but]

Tag : seni

Komentar

?>