Sabtu, 27 Mei 2017

Menakar (In) konsistensi Bonek dan Sepinya GBT

Jum'at, 31 Maret 2017 13:52:22 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Menakar (In) konsistensi Bonek dan Sepinya GBT
Bonek Persebaya

PSSI dan PT Liga Indonesia Baru menempatkan Persebaya Surabaya di Grup 5 kompetisi Liga 2 tahun ini. Klub berjuluk Green Force ini akan menghadapi PSIM Jogjakarta, Persatu Tuban, Persinga Ngawi, Madiun Putra, PSBI Blitar, Persepam Madura United, Martapura FC.

Ada dua pertanyaan mengemuka: apakah Persebaya bakal lolos dari grup ini dan menjuarai Liga 2 dan bagaimana antusiasme Bonek menghadapi kompetisi ini.

Saya salah satu yang percaya, Persebaya bakal terbang tinggi. Dari aspek tim dan finansial, klub ini relatif paling siap dibandingkan klub-klub lain peserta Liga 2. Apalagi Jawa Pos sebagai pemilik baru Persebaya sejauh ini punya komitmen untuk menjadikan klub ini kembali merajai Indonesia.

Saya justru lebih penasaran untuk menunggu aksi Bonek. Melihat 55 ribu penonton menjejali Gelora Bung Tomo saat pertandingan 'Homecoming' melawan PSIS Semarang beberapa waktu lalu, siapapun bakal silau dengan Persebaya. Pertama kali dalam sejarah, panitia mencatatkan pemasukan Rp 1,5 miliar dari tiket.

Musim ini, Persebaya akan memainkan tujuh laga kandang dalam babak penyisihan grup. Kalkulasi matematis, jika setiap laga dijejali 30-50 ribu penonton sebagaimana laga 'Homecoming', maka Persebaya paling minim mendapatkan pemasukan sekitar Rp 1 miliar dalam satu pertandingan. Ini tentu akan banyak membantu pembiayaan operasional klub.

Namun benarkah kalkulasi di atas kertas itu akan terealisasi? Ada dua aspek yang membuat saya tak terlampau yakin, yakni aspek tradisi dan aspek stadion.

Siapapun mengakui bahwa Bonek adalah suporter sepak bola militan di Indonesia. Komitmen dan perjuangan mereka selama lima tahun lebih di tengah dualisme klub menunjukkan bahwa Bonek bukanlah kelompok suporter pemburu kejayaan semata.

Namun militansi Bonek dan kecintaan terhadap Persebaya tak selamanya berbanding lurus dengan jumlah penonton di stadion. Fakta besar: tidak semua pertandingan Persebaya bisa menyedot penonton di atas 10-15 ribu orang. Bonek tergolong selektif dalam urusan memilih pertandingan yang dihadiri langsung.

Berdasarkan catatan PSSI yang dilansir majalah bisnis Marketeers, selama kompetisi Liga Super Indonesia musim 2009-2010, jumlah penonton Persebaya berada di urutan kelima terbanyak di bawah Arema Indonesia, Persija Jakarta, Persib Bandung, dan PSPS Pekanbaru.

Rata-rata penonton Arema pada musim itu adalah 27.860 orang setiap pertandingan, Persija disaksikan 20.757 orang, Persib disaksikan 18.502 orang, dan PSPS ditonton 16.713 orang. Sementara Persebaya disaksikan 14.442 penonton setiap pertandingan.

Saat itu Persebaya menjamu tim-tim besar seperti Arema, Persipura Jayapura, Persib, Persija, PSM Makassar, atau Persema Malang, di Stadion Gelora 10 Nopember Tambaksari. Beberapa pertandingan, terutama saat berhadapan dengan duo klub Malang, Persib, Persija, dan PSM, mampu menyedot puluhan ribu Bonek untuk hadir. Namun sejumlah pertandingan lainnya relatif sepi, apalagi jika digelar tidak pada hari Sabtu atau Minggu.

Saat Persebaya mengikuti Liga Primer Indonesia yang merupakan 'breakway league', jumlah penonton juga tak terlampau spektakuler. Media massa maupun Bonek cenderung memiliki memori selektif dengan hanya mengingat pertandingan Persebaya melawan Arema di Gelora Bung Tomo yang ditonton 51 ribu orang pada 4 Maret 2012.

Jika dikalkulasi, panpel mendapat pemasukan total Rp 1.057.480.000. Saat itu, tiket VIP seharga Rp 100 ribu terjual 182 lembar. tiket kelas utama seharga Rp 50 ribu terjual 986 lembar. Tiket ekonomi dengan harga Rp 20 ribu, terjual 44.999 lembar, dan tiket suporter seharga Rp 18 ribu terjual lima ribu lembar.

Pertandingan Persebaya melawan Arema Indonesia di GBT inilah yang juga dijadikan acuan target panitia pelaksana 'Homecoming', selain pertandingan Persebaya melawan Queens Park Rangers pada medio Juli 2012.

Orang lupa bahwa dalam pertandingan melawan Persepar Palangkaraya di GBT, Minggu (3/6/2013), tiket yang resmi terjual hanya 6.800 lembar. Bahkan jika diasumsikan semua pintu stadion tak dijaga atau dijebol penonton tak bertiket, hari itu maksimal hanya ada 12-15 ribu Bonek yang hadir. Stadion terbesar di Jawa Timur itu kosong melompong. Kondisi yang lebih parah bisa ditemui saat pertandingan LPI Persebaya melawan Pro Duta.

Saya khawatir kondisi ini terulang lagi dalam Liga 2 musim ini. Apalagi Persebaya relatif bakal tak menjamu tim raksasa dengan sejarah rivalitas kuat. Satu-satunya klub yang memiliki sejarah rivalitas sepak bola walau tak kental dengan Persebaya adalah PSIM Jogjakarta. Namun sinar PSIM sendiri tengah redup di bawah bayang-bayang PSS Sleman. Klub-klub di Grup 5 relatif tak punya daya tarik.

Kekhawatiran ini semakin beralasan karena Persebaya memilih berkandang di Gelora Bung Tomo. Stadion ini terletak di daerah perbatasan Gresik, dengan akses jalan dan transportasi umum yang kurang begitu nyaman. Ini kurang bagus dari aspek bisnis jika dikombinasikan dengan harga tiket Rp 35 ribu per lembar untuk kelas ekonomi dan Rp 250 ribu untuk kelas eksekutif.

Anda bisa membayangkan: dengan harga tiket rata-rata Rp 20 ribu dalam Liga Super Indonesia 2009-2010, bermain di Gelora 10 Nopember yang terletak di tengah kota, menjamu klub-klub raksasa, Persebaya hanya bisa mendatangkan rata-rata 14 ribu penonton, bagaimana dengan Liga 2 musim ini?   

Bayang-bayang kecemasan sepinya stadion GBT semakin kuat, jika jadwal pertandingan tak mendukung: laga digelar pada tengah pekan atau hari kerja. Padahal mayoritas pendukung Persebaya berasal dari kelas pekerja.

Siaran langsung televisi juga bisa menurunkan potensi jumlah Bonek yang datang ke stadion. Industri sepak bola terbentuk melalui siaran televisi, dan Persebaya jelas terlalu seksi untuk tidak disiarkan langsung. Liga Super Indonesia musim 2009-2010 membuktikan hal tersebut. Kala itu Persebaya mendapat jatah 13 siaran langsung laga kandang, terbanyak dibandingkan klub lainnya. Sementara rating jumlah penontonnya tertinggi kedua setelah Persib Bandung.

Tentu kita bisa berharap dari siaran langsung tersebut ada pemasukan hak siar dari pengelola kompetisi. Namun hingga saat ini kita semua masih meraba-raba: apakah jumlah pemasukan dari hak siar bakal lebih baik dari jumlah pemasukan dari tiket penonton, atau lebih dari itu, apakah pemasukan yang diterima panitia pelaksana dari tiket dan hak siar cukup untuk menutup biaya operasional pertandingan dan sewa stadion.

Dibandingkan harga sewa sekali pertandingan di Stadion 10 Nopember, harga sewa GBT jauh lebih mahal. Ini berdasarkan Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor Tahun 2013 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 13 Tahun 2010 tentang Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah.

Dalam perda itu, harga retribusi atau sewa lapangan sepak bola di GBT untuk sekali pertandingan kompetisi Divisi Utama dipatok Rp 25 juta dan untuk pertandingan Liga Super Rp 30 juta. Bandingkan dengan harga sewa lapangan di Gelora 10 Nopember yang hanya dipatok Rp 14 juta untuk kompetisi Divisi Utama dan Rp 16 juta untuk kompetisi Liga Super. 

Pemakaian stadion GBT itu masih dikenakan biaya tambahan untuk generator sebesar Rp 2,5 juta per jam, Rp 2 juta untuk pemakaian air, Rp 4 juta per blok per hari untuk pemakaian atrium stadion, Rp 3,5 juta untuk pemakaian halaman parkir per blok per hari, dan retribusi pemakaian tempat untuk pemasangan reklame seperti umbul-umbul dan spanduk. Itu belum lagi biaya operasional untuk keamanan dan lain-lain.

Tentu tak ada yang berharap pengelolaan Persebaya bakal lebih besar pasak daripada tiang. Kita tak bisa membiarkan Persebaya dalam kondisi defisit hanya karena pemasukan dari pertandingan tak sebanding dengan ongkos operasional yang dikeluarkan.

Panitia pelaksana harus mulai mengantisipasi ini sejak awal. Tentu kita tak berharap kekhawatiran saya benar-benar terjadi. Namun jika memang ada tanda-tanda itu, ada dua solusi yang bisa disodorkan: pertama, menurunkan harga tiket, dan kedua, mengupayakan pemindahan lokasi kandang dari GBT ke Tambaksari. Opsi kedua tentu saja harus dibicarakan dengan Pemerintah Kota Surabaya. Mungkin tidak semua pertandingan digeser ke GBT. Namun setidaknya Gelora 10 Nopember bisa jadi alternatif, terutama untuk pertandingan yang tak terlampau menyedot penonton.

Selain lebih menghemat biaya operasional dan berpotensi mendatangkan penonton lebih banyak, pemakaian Gelora 10 Nopember juga bisa meningkatkan atmosfer dukungan untuk Persebaya. Bagaimanapun, Gelora 10 Nopember adalah stadion keramat dalam sejarah Persebaya. Sesuatu yang layak dipertimbangkan oleh semua pihak.

Terakhir, kita berharap, Bonek konsisten dengan militansinya. Militansi yang ditunjukkan selama memperjuangkan kembalinya Persebaya saatnya diwujudkan melalui kehadiran di stadion untuk memberikan dukungan langsung. Tentu saja, dengan membeli tiket. No ticket no game. [wir/ted]

Berita Terkait

    Komentar

    ?>