Kamis, 29 Juni 2017

Jawa Pos, Persebaya, dan (Tak Sekadar) Takdir Sejarah

Rabu, 22 Maret 2017 12:56:12 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Jawa Pos, Persebaya, dan (Tak Sekadar) Takdir Sejarah

SAAT Jawa Pos mengambil alih mayoritas saham PT Persebaya Indonesia, sejarah seperti berulang. Keduanya seperti ditakdirkan untuk saling menopang pada masa-masa sulit, seperti pada era 1980-an.

Dekade 1980-an awal bukanlah dekade emas bagi Persebaya dan Jawa Pos. Setelah menjuarai kompetisi Perserikatan 1977-1978, Persebaya tenggelam di bawah bayang-bayang Niac Mitra, klub Liga Sepak Bola Utama (Galatama) yang didirikan A. Wenas. Niac Mitra merajai sepak bola Indonesia dengan dua kali menjuarai Galatama dan menjadi satu-satunya klub yang bisa mengalahkan Arsenal dalam rangkaian lawatan uji coba di Indonesia.

Dahlan Iskan menyebut prestasi Persebaya pada 1984 amat buruk. Sebagai pimpinan Jawa Pos, ia memutuskan pengurus Persebaya harus 'digebuki' setiap hari. "Isi koran setiap hari hanya mengolok-olok pengurus," katanya.

Harapan Dahlan sederhana saja. Kritik di koran membuat Persebaya terlecut dan bangkit. Namun kritik itu bertepuk sebelah tangan: Persebaya tak juga membaik. Maka Dahlan putar haluan. Dia melihat semakin Persebaya ditekan media massa, semakin buruk performa para pemain. "Sebuah klub ternyata harus dipuja," katanya.

Mulailah Jawa Pos membentuk citra Persebaya. Hasilnya, Persebaya lolos ke final Perserikatan 1987 dan menjadi runner-up setelah kalah 0-1 dari PSIS Semarang. Hasil yang mengecewakan. Namun Persebaya mengalami titik balik. Kini warga Surabaya tak lagi hanya menyebut nama Niac Mitra. Jawa Pos menumbuhkan fanatisme, tak hanya pada warga Surabaya tapi juga Jawa Timur.

Atas usulan redaktur olahraga Zainal Muttaqien, Dahlan memberi julukan 'Green Force' atau 'Laskar Hijau'. Kata 'Force' mengingatkan orang pada pasukan tempur khusus yang pemberani dan terlatih. Pilihan menggunakan kosakata bahasa Inggris tak lepas dari inspirasi yang diperoleh Dahlan saat berkunjung ke London. Jawa Pos juga mencetak dan menjual ribuan topi, kaos, selendang, semua serba hijau, yang menjadi atribut identifikasi para suporter Persebaya.

Saat klub-klub sepak bola di Indonesia tak punya slogan khusus, Jawa Pos menciptakan 'Kami Haus Gol Kamu' dibarengi logo kepala lelaki berikat kepala khas pejuang dengan mulut berteriak. Belakangan logo itu disebut 'Ndas Mangap' dan mengalami modifikasi beberapa kali sesuai perkembangan zaman.

Jawa Pos pula yang memprakarsai dan menjadi pemberi subsidi pemberangkatan suporter ke Senayan menyaksikan Persebaya berlaga. Berikutnya adalah sejarah: puluhan ribu orang bergerak dari Surabaya ke Jakarta dan menjadi gelombang 'awayday' pertama dan terbesar yang membelah Jawa kala itu. Jawa Pos menyebutnya 'tret tet tet' yang menirukan suara terompet gas yang biasa dibunyikan suporter di lapangan. 

Jawa Pos bukannya tak punya motif bisnis di balik ini semua. "Ini promosi bagus bagi Jawa Pos," kata Dahlan, sebagaimana dilansir Majalah Tempo. Jawa Pos memang butuh 'mesin' untuk bisa bangkit dan menggeser Surabaya Post dari posisi penguasa pasar Jawa Timur. Persebaya hadir pada saat yang tepat. Ini hubungan saling menguntungkan.

Kelak, setelah era Reformasi, resep ini jadi cetak biru promosi semua semua anak perusahaan Jawa Pos bernama 'Radar'. Radar adalah koran suplemen Jawa Pos di semua kota, terutama di Jawa Timur. Mereka memiliki awak redaksi tersendiri dan terpisah dari Graha Pena, markas besar Jawa Pos. Namun dalam urusan sepak bola, semua Radar meniru sang induk: mendukung total klub sepak bola lokal.

Jawa Pos sempat menjadi sponsor Persebaya pada awal dekade 2000. Dahlan memainkan peran penting sebagai manajer. Berkat Dahlan pula, Persebaya kedatangan penjaga gawang muda asal China bernama Zeng Cheng. Kelak Cheng menjadi kiper tim nasional China. Kehadirannya memperluas jangkauan suporter Persebaya ke kelas menengah atas Tionghoa.

Setelah Dahlan Iskan menyerahkan Jawa Pos untuk dikelola putranya, Azrul Ananda alias Ulik, pemberitaan soal Persebaya tak segencar sebelumnya. Ulik lebih suka menghidupkan atmosfer kompetisi bola basket pelajar melalui Deteksi Basketball League.

Namun cinta lama bersemi kembali. Tahun 2017, Jawa Pos resmi memiliki 70 persen saham Persebaya. Azrul resmi menjadi Presiden Persebaya. Dia tak mau membuka nominal duit yang ditanam di klub tersebut dan menampik motif sekadar berburu laba.

"Saya selalu tertawa ketika membaca comment yang meminta agar manajemen tidak mencari untung terlalu banyak. Lha jujur, kalau saya mau untung secara pribadi, ya saya tidak terjun di Persebaya. Wong saya pribadi tidak mengambil gaji di Persebaya. Hidup saya sudah jauh lebih cukup (lebih untung) dari yang lain," tulisnya dalam salah satu kolom di Jawa Pos.

Azrul tak berlebihan jika mengatakan tak banyak keuntungan pribadi yang bisa diambil dari Persebaya. Ini sebenarnya berlaku tak hanya di Persebaya, tapi juga bisnis sepak bola secara keseluruhan. Simon Kuper dan Stefan Szymanski dalam buku Soccernomics sudah mengingatkan bahwa sepak bola adalah bisnis kecil yang buruk. Kebodohan adalah bagian dari bisnis ini.

"Soccer is not merely a small business. It’s also a bad one. Until very recently, and to some degree still today, anyone who spent any time inside soccer soon discovered that just as oil was part of the oil business, stupidity was part of the soccer business."

Dengan telak, Kuper dan Szymanski membandingkan pendapatan yang diperoleh klub sepak bola terkaya di dunia, Real Madrid, dengan perusahaan distributor makanan tak terkenal United Natural Foods. Tahun 2013, United Natural Foods meraup pendapatan tahunan hingga Agustus sekitar 6,06 miliar dollar Amerika Serikat dengan pemasukan bersih 108 juta dollar Amerika Serikat. Bandingkan dengan Real Madrid yang hingga September 2013 mencatat pendapatan 688 juta dollar Amerika Serikat untuk tahun fiskal 2012-2013. Madrid, Barcelona, dan Manchester United adalah liliput di hadapan United Natural Foods.

Tahun 2010, Dahlan sendiri pernah menyebut sudah insyaf dari dunia sepak bola. Dalam kolom di majalah World Soccer, ia mengkritik dunia sepak bola Indonesia. "Setelah sepuluh tahun saya 'insyaf', sepak bola ternyata masih diurus orang yang itu-itu juga, dengan prestasi yang juga masih sejelek saat saya ikut mengurus dulu. Kapan mereka insyaf?"

Terjun dalam bisnis sepak bola Indonesia sama artinya bersiap menghadapi sederet kemungkinan yang kadang tak masuk nalar. Ini bisnis penuh risiko. Andaikata Kuper dan Szymanski menulis Soccernomics dalam bingkai Indonesia, saya yakin, mereka tak hanya menyebut ketololan sebagai bagian dari bisnis sepak bola, tapi juga ketidakpastian dan keculasan. Selama bertahun-tahun Indonesia selalu terperosok dalam lubang yang sama: suap, pengaturan skor, politisasi, maupun regulasi kompetisi yang tak pasti. Pebisnis boleh saja mau menjadi sponsor dalam sepak bola Indonesia. Namun menjadi Roman Abramovich yang memiliki dan mengelola sebuah klub dengan kalkulasi bisnis murni? Hanya orang-orang ajaib dengan perhitungan matang kelas dewa yang bersedia melakukannya.

Jadi, jika kemudian Jawa Pos kembali ke Persebaya tujuh tahun setelah artikel Dahlan itu diterbitkan, saya percaya, itu bukan sekadar takdir sejarah. Ini bagian dari kalkulasi bisnis yang matang. Ini keterlibatan Jawa Pos paling serius dalam sepak bola, tak sebanding dengan yang dilakukan pada 1980-an maupun saat menjadi sponsor biasa pada era Liga Indonesia. Bahkan ini lebih serius daripada ikhtiar 'crowdfunding' untuk menyelamatkan Niac Mitra dulu dan berujung pada metamorfosis klub Mitra Surabaya pada era 1990-an.

Mengakuisisi 70 persen saham PT Persebaya Indonesia jelas bukan main-main. Apalagi Jawa Pos melunasi utang berupa gaji semua pemain, beban yang selama bertahun-tahun membuat investor keder. Dahlan Iskan bukan anak kemarin sore. Dia tak akan terjun dalam sesuatu yang secara bisnis dianggapnya tak menguntungkan. Saat sejumlah media anak perusahaan Jawa Pos dianggap tak menguntungkan dan justru menghambat laju korporasi, maka Dahlan tak segan untuk menutupnya.

Saya melihat ada nuansa simbiosis mutualisme sebagaimana era 1980-an: Persebaya butuh investor untuk bangkit setelah empat tahun lebih vakum dari persepakbolaan nasional, dan Jawa Pos butuh promosi besar untuk membangkitkan bisnis media cetak yang tengah redup dihantam media dalam jaringan (daring). Persebaya mungkin tak akan memberikan pemasukan sebesar bisnis lain Jawa Pos. Abramovich juga tak berharap Chelsea bakal jadi mesin pengeruk uang melampaui bisnis minyak yang dikelolanya. Namun tak bisa diingkari, Chelsea yang membuat Abramovich lebih dikenal. Chelsea adalah ikon, bagian dari reputasinya. Selama Chelsea tidak merugi dan terlampau membebani bisnis utamanya, maka semua akan baik-baik saja.

Sebagaimana Abramovich, yang diperlukan Jawa Pos adalah menjaga Persebaya sebagai entitas bisnis stabil dan tak merugi secara finansial. Setelah itu biarkan nama Persebaya bekerja untuk menguatkan reputasi Jawa Pos sebagaimana yang pernah terjadi pada era 1980-an. Tantangannya memang berbeda dibandingkan dulu. Namun beradaptasi adalah keharusan dalam dunia bisnis, dan kita tahu, salah satu hal yang membuat Jawa Pos bertahan adalah kemampuan beradaptasi. Persebaya memiliki semua faktor bagus untuk dikelola secara bisnis dan beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Persebaya adalah 'mesin' lama yang terbukti digdaya dalam sepak bola Indonesia. Federasi mencoba mematikannya sejak 2010, dan hari ini kita tahu siapa yang akhirnya memenangkan perang itu dan siapa yang menderita kerugian besar.

Persebaya terbukti sebagai klub yang bernilai tinggi. Duplikasi Persebaya tempo hari menunjukkan bahwa nama klub ini masih menjual secara bisnis. Andaikata Persebaya hanya klub kecil biasa yang tak punya reputasi panjang dalam sejarah sepak bola Indonesia dan tidak terletak di kota terbesar kedua di negeri ini, boleh jadi nasibnya akan berbeda. Bisa saja Persebaya akan dibiarkan mati secara alamiah tanpa harus repot-repot harus dikloning.

Salah satu aspek yang paling seksi dari Persebaya tentu saja adalah para penggemarnya. Mereka memiliki loyalitas produk yang diidamkan semua pelaku bisnis di dunia. Mereka bukan penonton film bioskop yang mudah berganti tempat sesuai selera. Menampik untuk hadir di stadion selama bertahun-tahun karena klub mereka dimatikan adalah kesetiaan tertinggi yang tidak memiliki preseden dalam dunia sepak bola Indonesia. Loyalitas ini yang tampaknya dikalkulasi betul oleh Jawa Pos sebagai ladang bisnis.

Namun bicara bisnis tak hanya soal aspek internal. Aspek eksternal dalam sepak bola Indonesia ada kalanya lebih banyak berpengaruh. Faktor nonteknis yang selama ini banyak berperan dalam menentukan hasil pertandingan memunculkan 'ekonomi biaya tinggi'. Azrul Ananda tentu banyak belajar dari sang ayah soal ini. Dia harus belajar cepat, karena tantangan terbesar yang bakal dihadapinya bukan hanya menjadikan Persebaya benar-benar 'bagus untuk bisnis'. Lebih dari itu, dia harus mengelola ekspektasi Bonek yang ingin menyaksikan klub mereka juara tanpa harus terserimpung 'ekonomi biaya tinggi' yang berpotensi membuat bangkrut. Ini bukan bisnis dalam industri bola basket, dan kita percaya Azrul paham itu. [wir/but]

Tag : persebaya

Komentar

?>