Kamis, 23 Maret 2017

Pecahan Sejarah Berserakan di Bojonegoro

Senin, 06 Maret 2017 11:54:12 WIB
Reporter : Tulus Adarrma
Pecahan Sejarah Berserakan di Bojonegoro

PECAHAN-PECAHAN sejarah berserakan. Seperti puzzle yang harus dikumpulkan perkepingnya. Hingga segalanya menjadi utuh. Batu bata, pecahan keramik, dan peninggalan bangunan Belanda itu menjadi satu kesatuan sejarah yang besar.

Pecahan-pecahan itu salah satunya berada di Desa Gunungsari, KecamatanBaureno Kabupaten Bojonegoro. Sedikit kepingan akan saya tulis disini. Mungkin nanti, suatu kali akan ada yang menambahi. Puzzle ini untuk siapa saja.

Daerah yang berbatasan dengan Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan. Wilayah itu termasuk dataran tinggi di sisir timur Kabupaten Bojonegoro. Sebenarnya banyak yang mendatangi tempat itu.

Alasannya, ada sebuah goa yang menjadi keindahan terbentuknya. Goa Cinta, orang-orang menyebutnya. Goa itu memang unik, karena mulut goa seperti berbentuk love. Namun sayang, belum banyak yang mencari tahu sejarah terbentuknya semua itu.

Salah seorang kawan, Nurcholis yang merelakan hidupnya untuk "menikahi" Goa Cinta itu. Bukan hanya Goa Cinta sebenarnya, ada Sendang Gong atau biasa disebut juga Sendang Karan, juga tempat perkemahan, lahan konservasi.

Semua ia sentuh menjadi satu kesatuan dengan sejarah terbentuknya di sana. Kampung tandus, bukit kapur yang kemudian menjadi lahan konservasi dan tumbuh berbagai jenis tumbuhan, kini. Ia mengakrabi semua itu seperti nafasnya.

Dalam sebuah obrolan, dia mengaku sejak kecil mengenal tentang keseimbangan harus dijaga antara alam dan manusia dari kakeknya. Yang kemudian memperkenalkannya akan Jannah (surga dunia). Tak ayal jika darah keturunan itu sekarang mengalir pada jiwanya.

Ia suka merawat lingkungan, pandai merawat sejarah agar tidak hilang. Barang-barang sejarah yang masih tersisa dia rawat betul. Juga terus mencari keabsahan dari terbentuknya lingkungan yang ia tempati saat ini.

"Dari kecil sudah diajarkan untuk hidup harmonis dengan alam. Dulu kakek merawat Sendang Gong ini. Awal mula itu daerah rawa dan banyak ditemukan penyu," ceritanya.

Lahan konservasi itu awal mulanya merupakan lahan pertanian yang dikuasai warga. Namun secara kepemilikan lahan tersebut masih menjadi rebutan.

Tradisi membakar tanaman menjadi tradisi lokal untuk menguasai pertanian yang ada di daerah setempat. Pohon-pohon besar yang awalnya tumbuh di sekitar sendang akhirnya mati karena ikut terbakar.

"Persoalan yang paling pelik itu tradisi menanam dan membakar. Akhirnya petani diminta untuk melapaskan garapan pada tahun 1989. Dan ditanduri massal pohon Mahoni, Imba, Mentaos, dan Flamboyan," tutur pria kelahiran 7 Maret 1974 itu.

Akhirnya warga setempat kebanyakan memilih menjadi pedagang. Karena wilayahnya yang strategis sehingga mengalami perkembangan yang sangat pesat. Seperti menjadi pusat kota.

Di Kecamatan Baureno, termasuk di Desa Gunung Sari menjadi wilayah pusat industri (perdagangan masa kuno). Sejak Masa Kerajaan Kahuripan dengan Raja Airlangga jalur tersebut sudah menjadi jalur perdagangan.

Para pedagang masa itu dari Pelabuhan Kambang Putih yang ada di Laut Tuban menuju ke jalur selatan (Jombang). Letak wilayahnya yang dekat dengan aliran Sungai Bengawan Solo juga menjadi tempat yang sangat strategis. Perdagangan tumbuh subur dan industri mengikuti.

"Dulu berdiri pabrik-pabrik di puncak itu dan lampu kerlip menyala kalau malam," ucapnya.

Pada sekitar tahun 2010 lahan tandus bertanah kapur itu disulap sebagai lahan konservasi. Lahan yang kemudian sampai saat ini mampu menyumbang banyak oksigen secara gratis.

Kepiawaiannya dalam bertanam diperolehnya saat masih menjadi manusia gunung. Dalam rentang usianya dia pernah hidup di atas Gunung Lawu. Membantu dalam misi penghijauan kawasan hutan di gunung. Sekarang, lahan itu masih berfungsi bagi semua makhlukNya.

Puncak gunung tandus di Bojonegoro timur itu sekarang sudah penuh dengan pepohonan. Berderet tanaman Kemiri Sunan. Tingginya baru sekitar satu meter hingga dua meter. Di sendang, juga ada lapangan yang sekarang dikembangkan menjadi lokasi outbond, kemah pramuka maupun wisata.

Seperti yang dilakukan kelompok Telisik Bojonegoro Minggu (5/3/2017) lalu. Bersama dengan pelajar dari SMP Negeri 1 Baureno. Mereka melakukan outbond dan bersih lngkungan.

"Ini merupakan salah satu bentuk pembelajaran karakter bagi siswa di luar kelas," kata Guru Bahasa Jawa SMP Negeri 1 Baureno, Emi Sudarwati. [lus/but]

Tag : wisata

Komentar

?>