Sabtu, 16 Desember 2017

Agus Ahok Anies

Kamis, 02 Februari 2017 14:13:50 WIB
Reporter : Ribut Wijoto
Agus Ahok Anies

AKHIRNYA kami harus menerima kenyataan pahit, caci maki di mana-mana. Tudingan muncul tiap hari, tiap jam, tiap detik. Petuah disalah-artikan, tuntunan tiba-tiba berubah jadi tuntutan. Kebodohan bertukar tempat dengan kebenaran, dan sebaliknya. Sopan santun ketimuran kami, entah pergi kemana.

Tidak ada yang kami percaya dari orang-orang yang kami anggap lawan. Orang-orang yang kami nilai berseberangan paham. Entah dia ulama, tokoh masyarakat, pensiunan tentara, pejabat teras, ataupun budayawan.

Gus Mus yang santun, dia tiba-tiba dicela seorang anak muda. Goenawan Mohamad yang senantiasa memikirkan format ideal kebudayaan Indonesia, dia tiba-tiba dikecam. KH Ma’ruf Amin yang dihormati kaum Nahdliyin pun turut dituduh tidak bijaksana. Presiden dicela, mantan-mantan presiden jadi bahan olokan.

Itulah situasi yang mengiringi Pemilihan Gubernur (Pilgub) Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta saat ini. Pemilihan berlangsung di Jakarta, imbasnya meluas ke berbagai pelosok Indonesia.

Jakarta ibukota kami, memang. Pucuk-pucuk pimpinan, kantor-kantor besar, perputaran ekonomi Indonesia, semua berpusat di Jakarta. Tapi jika Pilkada Jakarta lantas membuat kisruh orang-orang seantero tanah air, ini tentu saja berlebihan.

Namun itulah kenyataannya. Kami tidak bisa berpaling, tidak bisa menghindar. Diam pun disalahkan. Sebab diam dinilai sebagai sikap angkuh, ranah abu-abu, ogah berjuang, banci.

Di sebuah desa, di pinggir pantai, 24 kilometer dari kota Tulungagung, ada 2 bocah bertengkar. Usianya masih sekitaran kelas 3 sekolah dasar. Saling ejek, saling tantang, akhirnya salah satu menonjok kepala dan tangis pun pecah. Mereka berselisih karena beda dukungan soal Pilgub DKI.

Bayangkan, imbas Pilgub DKI meluas beratus-ratus kilometer menjangkau hingga ke sebuah desa di kabupaten Tulungagung. Membuat dua bocah kecil bertengkar. Namun itulah kenyataannya. Kami tidak bisa menghindar.

Padahal jika kami mau menengok ulang sosok-sosok yang saat ini menjadi calon gubernur DKI, kami musti mengakui, mereka tokoh-tokoh hebat. Agus Ahok Anies tidak bisa dipungkiri adalah aset-aset nasional. Artinya, siapapun yang terpilih menjadi gubernur DKI lima tahun ke depan, dia adalah orang yang tidak perlu diragukan kredibilitasnya.

Agus Harimurti Yudhoyono, seorang prajurit yang cerdas dan berwawasan luas. Selama berkarier di militer, dia kerap panen penghargaan. Menjadi narasumber di berbagai universitas. Di usia terbilang muda, masih 38 tahun, Agus mampu mendedahkan gagasan secara terperinci dan terstruktur.

Ahok, siapa tak kenal Ahok, pria bernama asli Basuki Tjahaja Purnama itu sudah terkenal sejak menjadi wakil gubernur dan terus berlanjut sampai menjadi gubernur DKI. Pola kepemimpinan yang berani dan tegas membuat dia diapresiasi positif banyak kalangan. Demi kota Jakarta, preman Tanah Abang maupun preman Kalijodo tanpa gentar dihadapi Ahok.

Anies Baswedan adalah orang yang serius dan rela mengabdikan hidupnya bagi kecerdasan bangsa. Dia menginisiasi gerakan Indonesia Mengajar, sebuah tawaran solusi terhadap kurang meratanya kualitas guru di Indonesia, terutama di daerah pelosok. Sampai kini, program ini telah berhasil mengirimkan ratusan pengajar muda ke berbagai pedesaan.

Sayangnya kebaikan maupun kepiawaian ketiganya kini hanya tampak oleh mata pendukungnya. Bagi pendukung sebelah, borok-borok saja yang ada. Sasaran caci maki ujungnya. Hal ihwal kebaikan terabaikan. Seperti jejak-jejak kaki di pesisir, lenyap begitu saja ditelan ombak.

Rusuh opini dalam pemilihan presiden Amerika Serikat beberapa waktu lalu sepertinya telah kami foto kopi habis-habisan di tanah air. Informasi palsu (hoax) merajalela. Laris manis. Website yang memproduksi hoax jadi media favorit, banjir kunjungan. Satu hoax belum terbongkar kedoknya, sudah muncul hoax yang lain, muncul lagi dan muncul lagi. Hoax-hoax bertebaran, tumpang tindih, berkelindan, tumpah ruah, saling menghabisi. Dan anehnya, kami lebih mudah terpesona oleh hoax dibanding susah payah mencari sumber terpercaya.

Mungkin zaman memang menghendaki situasi labirin seperti sekarang. Ketika teknologi berkembang lebih cepat dibanding kesadaran. Ketika pengetahuan lebih diagungkan dibanding filsafat. Ketika pembelajaran etika dinilai kedaluwarsa. Dan kami berada di dalamnya.

Zaman memanjakan sekaligus melenakan kami dengan teknologi. Zaman cyber. Lihat saja, harga smartphone semakin murah. Akses internet gratis bisa diperoleh cukup dengan memesan segelas minuman di warung kopi. Dengan google, kami seakan bisa menjangkau seluruh peradaban dunia. Bersama twitter, kami bisa terhubung dengan tokoh-tokoh penting yang saban hari muncul di televisi. Maka tidak heran, suatu kali, ada tukang sate yang tiba-tiba ditangkap polisi gara-gara dinilai mengganggu stabilitas politik.

Kami tidak tahu apa solusi dari situasi ini. Toh, kami tidak mungkin melawan perkembangan zaman. Sebab kami sendiri berada dalam pusarannya. Kami tidak mungkin mencegah anak-anak mengakses internet, sementara di sekolah dasar pun, mereka sudah mendapat pelajaran Teknologi Informasi Komunikasi (TIK). Kami juga tidak bisa melarang tetangga-tetangga kami yang berceloteh pedas di media sosial.

Sebagian dari kami mungkin hanya bisa berharap, Pilgub DKI segera berakhir. Tentu saja harapan yang sia-sia. Sebab, Pilgub DKI bakal bersambung ke pilgub-pilgub di provinsi lain. Berlanjut ke pilkada-pilkada, ke pemilu, ke pilpres. Berulang-ulang. Situasi yang benar-benar membuat kami pesimistis.

Kami terjebak seperti yang digambarkan penyair Subagio Sastrowardoyo dalam puisi berjudul ‘Kampung’, yang diterbitkan tahun 1957:

Kalau aku pergi ke luar negeri, dik
karena hawa di sini sudah pengap oleh
pikiran-pikiran beku.

Hidup di negeri ini seperti di dalam kampung
di mana setiap orang ingin bikin peraturan
mengenai lalu lintas di gang, jaga malam dan
daftar diri di kemantren.

Di mana setiap orang ingin jadi hakim
dan berbincang tentang susila, politik dan agama
seperti soal-soal yang dikuasai.

Di mana setiap tukang jamu disambut dengan hangat
dengan perhatian dan tawanya.

Di mana ocehan di jalan lebih berharga
dari renungan tenang di kamar.

Di mana curiga lebih mendalam dari cinta dan percaya.

Kalau aku pergi ke luar negeri, dik
karena aku ingin merdeka dan menemukan diri.


Lantas apa yang bisa kami lakukan untuk mengatasi keberisikan gejolak politik ini? Sepertinya, memang, tidak ada yang bisa kami lakukan. Kami hanya bisa kembali menekuni profesi masing-masing. Entah kami seorang polisi, guru, kuli bangunan, wartawan, penjual tahu bulat, atau penjaga kamar mayat; kami wajib menjalani secara tekun dan tanggung jawab. Selebihnya, kami tetap beragama.

Pancen wolak-waliking jaman, amenangi jaman edan, ora edan ora kumanan, sing waras padha nggagas, wong tani padha ditaleni, wong dora padha ura-ura, beja-bejane sing lali, isih beja kang eling lan waspadha. (Ramalan Jayabaya)

Tag : politik

Komentar

?>