Jum'at, 28 April 2017

Filosofi Timnas: Serangan Tujuh Hari Tujuh Malam

Jum'at, 16 Desember 2016 15:39:39 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Filosofi Timnas: Serangan Tujuh Hari Tujuh Malam
foto: telegraph.co.uk

SEJAK LAMA, kita gagal mendefinisikan filosofi sepak bola yang digunakan tim nasional Indonesia, termasuk dalam Piala AFF 2016. Kita tak pernah tahu, sebenarnya timnas bermain dengan filosofi apa, karena realitas di lapangan hijau selalu kontras dengan semua filosofi sepak bola besar di dunia.

Kick and rush ala Inggris? Para pemain timnas memang doyan memainkan umpan-umpan lambung langsung ke area pertahanan lawan, dan membiarkan para pemain depan beradu cepat dengan pemain bertahan lawan. Namun 'kick and rush' membutuhkan akurasi umpan panjang dan stamina kuat. Semua penggemar sepak bola negeri ini mafhum: pemain timnas tak punya napas kuda dan mulai ngos-ngosan bila sudah mendekati menit 60. Umpan-umpan panjang mereka bolehlah disebut 'long pass gak pas' alias lebih sering meleset kena kaki pemain lawan daripada mampir ke teman sendiri, dan lebih pada manifestasi kepanikan: buang bola ke depan secepat-cepatnya daripada direbut pemain lawan.

Tiki-taka? Jangan berlebihan. Sepanjang sejarah tim nasional bisa ditonton televisi, mungkin baru tim nasional yunior di bawah asuhan Indra Sjafri yang bisa memainkannya dengan apik. Ini timnas yang menjadi anomali dalam sejarah sepak bola Indonesia, dan selayaknya anomali, mereka tak bertahan lama. Indra saat itu memperkenalkan filosofi 'Pepepa', akronim dari 'pendek-pendek-panjang'.

Total Football? Alamak, apa pula itu. Indonesia dijajah Belanda ratusan tahun. Namun tak sedikit pun filosofi sepak bola yang diilhami kemampuan memahami ruang tersebut mampir ke dalam kesadaran rakyat Indonesia. Saya menduga ini tak lepas dari kondisi geografis Indonesia yang berbeda jauh dengan Belanda. Indonesia negara kepulauan, tak pernah ada problem dengan masalah luas wilayah. Jangan bandingkan dengan rakyat Belanda yang senantiasa harus berpikir memanajemen ruang sedetail mungkin karena keterbatasan lahan di sana. Manajemen ruang yang akhirnya juga terinternalisasi dalam filosofi sepak bola.

Catenaccio? Justru sisi pertahanan Indonesia sepanjang turnamen Piala AFF 2016 tak ubahnya rumah dengan gerendel rusak yang tak bisa diperbaiki. Banyak gol-gol lawan yang tercipta karena kepanikan pemain belakang. Tiga kali pertandingan penyisihan grup, Kurnia Meiga harus tujuh kali memungut bola di gawangnya. Catatan kebobolan ini terburuk di antara delapan negara peserta Piala AFF, bahkan Laos, juru kunci Grup B. Rerata gol kebobolan timnas kita hingga final pertama adalah 1,8, terburuk keempat dalam sejarah keikutsertaan Piala AFF setelah tahun 2014, 1998, dan 2000.

Gegenpressing? Filosofi sepak bola pelatih asal Jerman Jurgen Klopp ini mewajibkan pemain memasang garis defensif setinggi-tingginya. Ini filosofi khas kaum pekerja keras Jerman yang mengharuskan pemain berlari terus. Kuasai bola selama mungkin, rebut saat kehilangan dari penguasaan tim sejak di zona pertahanan lawan. Ini berbeda dengan timnas Indonesia yang begitu kehilangan bola memilih cepat-cepat mundur ke belakang.

Jogo Bonito ala Brasil? Dalam bahasa Indonesia, Jogo Bonito diterjemahkan menjadi permainan nan indah. Ini mengibaratkan sepak bola sebagai seni dan itu dinisbatkan kepada Brasil yang memiliki ratusan ribu seniman di atas lapangan hijau. Kita tentu sepakat permainan tim nasional Indonesia jauh dari kata indah. Jogo Bonito hanya bisa lahir dari sebuah negara yang hedonis, mencintai pesta dan kegembiraan, hidup dengan dua hal itu.

Pass and Move? Filosofi taktik ini diperkenalkan Bill Shankly saat melatih Liverpool FC di era 1960-1970. Intinya: oper, bergerak, terima bola. Ini derivasi dari ideologi sosialisme Shankly. Phil Neal, salah satu pemain Liverpool mengatakan, Shank membebaskan pemain berekspresi di lapangan, tapi harus menjadi bagian dari 'Mesin Merah' yang terus berputar tanpa henti. Pemain Indonesia seringkali tak menyadari jika bermain dalam sebuah tim yang bergerak bagai mesin. Pass and Move mengharuskan kesadaran 'sosialisme', bermain dengan kolektivitas. Namun kita seringkali gemas melihat pemain Indonesia lebih suka menggiring bola sendirian daripada mengoperkan ke teman. Alhasil, mesin serangan tim pun macet.

Lalu datanglah sebutan 'serangan tujuh hari tujuh malam' dari bibir seorang komentator televisi nasional. Sebenarnya si komentator menyebutkannya untuk memperlihatkan betapa dahsyatnya tekanan permainan ofensif tim lawan. Namun entah kenapa, itu justru layak untuk mengimajinasikan filosofi permainan timnas Indonesia.

'Serangan tujuh hari tujuh malam' dengan tepat menunjukkan betapa Indonesia secara kemampuan taktis kalah jauh dibandingkan tim lawan. Tengok saja pertandingan semifinal kedua di My Dinh National Stadium, Rabu (7/12/2016). Indonesia memang menang secara agregat 4-3 atas Vietnam. Namun semua suporter Indonesia berkali-kali harus menahan napas melihat serangan pemain Vietnam tiada henti, bahkan saat mereka bermain dengan sepuluh pemain.

Para pemain Indonesia jatuh-bangun. Basah kuyup. Menahan kram dalam permainan tempo tinggi. Hal serupa juga terjadi saat pertandingan pertama melawan Thailand di Stadion Pakansari, Bogor, Rabu (14/12/2016).

Namun secara tidak langsung, 'serangan tujuh hari tujuh malam' juga menggambarkan filosofi sepak bola Indonesia: bermain dengan semangat spartan dan keberanian. Taktik urusan nomor dua, kemampuan individu urusan kesekian. Hal terpenting adalah semangat pantang menyerah. Semangat ini ada dalam DNA orang Indonesia sejak dulu yang membuat bangsa ini bergerak maju melampaui keterbatasan.

Tidak akan ada kapal-kapal penjelajah di Makasar yang membelah lautan, jika tak ada semangat ini. Tak ada kemerdekaan, tanpa pertempuran-pertempuran dan perang gerilya tanpa henti.

Tak ada taktik perang muluk dan canggih yang digunakan para pejuang Indonesia saat menghadapi tank, pesawat, kapal perang, dan pasukan terlatih Inggris yang mendarat di Surabaya. Yang dibutuhkan hanya kenekatan, keberanian, dan 'team talk' berapi-api dari Bung Tomo sebelum pertempuran meletus. Menang atau kalah, urusan belakangan. Maka pasukan Inggris pun berkeringat menghadapi orang-orang nekat yang menyerbut tank mereka hanya dengan berbekal pisau. Inggris melakukan 'serangan tujuh hari tujuh malam', namun pejuang Indonesia melawan balik pula dengan gagah.

Filosofi semangat 'serangan tujuh hari tujuh malam' berhasil melangkahkan satu kaki Indonesia ke podium juara Piala AFF untuk pertama kalinya. Gol Rizky Pora dan Hansamu Yama Pranata menunjukkan bahwa tak ada yang mustahil di tengah 'serangan tujuh hari tujuh malam'. Kita tunggu apakah semangat yang sama akan muncul di Thailand, Sabtu (17/12/2016), dan mengubah 'serangan tujuh hari tujuh malam' menjadi 'pesta kemenangan tujuh hari tujuh malam'. [wir/but]

foto: telegraph.co.uk

Tag : sepakbola

Komentar

?>