Selasa, 21 Nopember 2017

Tak Dilirik Diawal, Moncer, Madura United Jadi Korban Rating

Minggu, 11 Desember 2016 13:38:27 WIB
Reporter : Samsul Arifin
Tak Dilirik Diawal,  Moncer, Madura United Jadi Korban Rating

Pamekasan (beritajatim.com) - Madura United FC merupakan nama sekligus tim baru dalam kencah sepakbola Indonesia sejak diakuisisi dari Persipasi Bandung Raya (PBR) oleh Achsanul Qosasi, Minggu (10/1/2016) lalu.

Pada awal kendali pria yang akrab disapa AQ itu, tim berjuluk Laskar Sape Kerrab memilih Gomes de Olivera sebagai juru taktik demi mengusung target bisa menjadi pembeda dalam kencah sepakbola tanah air.

Bahkan sejumlah pemain perpengalaman dan berkualitas juga masuk dalam radar manajemen guna merealisasikan misi, semisal Fabiano Beltrame, Munhar, Slamet Nurcahyo dan sejumlah pemain lainya.
Namun publik bola nasional belum juga 'melirik' Madura United FC sebagai tim menjanjikan.

Diawal kiprahnya sebagai tim baru, mereka mengikuti turnamen Piala Gubernur Kalimantan Timur. Bahkan pada turnamen pra musim tersebut, mereka tampil mengejutkan sekaligus menjadi runner up di akhir turnamen.

Sebulan berselang, Madura United kembali ambil bagian di turnamen jangka panjang yang digagas PT Gelora Trisula Semesta (GTS) Indonesia Soccer Championship (ISC) A.

Lagi-lagi pada turnamen itu mereka kembali menjadi tim yang tidak terlalu diperhitungkan.

Bahkan pada awal turnamen, sangat jarang mereka tampil live (langsung) di televisi sekalipun sudah memiliki nama usai keluar sebagai runner up Piala Gubernur Kaltim.

"Di awal game (ISC), Madura selalu tidak live. Hanya tayang di O Chanel," kata Manajer Madura United FC Haruna Sumitro, Minggu (11/12/2016).

"Dari tidak punya apa-apa (nama besar) kita menjadi tim yang memiliki rating tinggi di televisi. Sepakbola industri menjadi hal mendasar bagaimana tim ini bisa menjadi daya panggil bagi para suporter," sambung Haruna.

Kondisi tersebut berbanding terbalik saat Madura United FC berhasil memimpin klasemen sementara di pekan ke-10 ISC A, namun hal itu justru 'dimanfaatkan' dengan tingginya rating hak siar.

"Begitu minggu ke-10, Madura naik dan semakin tinggi. Akibatnya kita menjadi alat komersil untuk rating, seperti saat laga melawan Persela," imbuhnya.

"Kita bersukur bisa mencapai rating bagus, tapi justru dijual dengan alasan rating. Itu resiko yang paling nampak," tegas mantan Ketua Asprov PSSI Provinsi Jawa Timur itu.

Namun pihaknya tidak ingin mempersoalkan itu dan lebih memilih untuk menatap kompetisi mendatang. "Kita tidak ingin melihat kebelakang, Kita sama-sama bersyukur dan mengajak kepada semuanya untuk lebih baik. Tim ini bukan apa-apa (di awal ISC) dan di akhir kompetisi kita punya rangking cukup bagus," jelasnya.

Bahkan pihaknya juga mengaku bangga dengan kondisi Madura United FC, sebab Fabiano Beltrame dan kawan-kawan justru tampil mengejutkan dan menjadi perbincangan banyak pihak.

"Kita berterima kasih kepada masyarakat Madura khususnya, Indonesia pada umumnya. Saat ini kita berada di atas tim-tim yang memiliki kualitas dan nama besar di kencah sepakbola tanah air," pungkasnya. [pin/ted]

Komentar

?>