Jum'at, 20 Januari 2017

Aksi Bela Islam dan Politik Gegenpressing

Senin, 28 Nopember 2016 15:05:31 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Aksi Bela Islam dan Politik Gegenpressing
Pertemuan: Jokowi dan Prabowo setelah menggelar pertemuan di Hambalang. [Foto: okezone.com/bj.com]

Gegenpressing atau counter-pressing adalah taktik sepak bola yang dikembangkan Jurgen Klopp, manajer asal Jerman saat melatih Borussia Dortmund dan sekarang Liverpool.

Intinya adalah memasang garis pertahanan setinggi-tingginya, tidak menanti para pemain lawan merangsek masuk ke zona pertahanan, namun merebut bola sejak area pertahanan mereka.

Melalui taktik ini, Klopp memerintahkan para pemainnya lebih banyak menguasai bola. Rebut, kuasai, lari, dan cetak gol. Sederhana. Namun ada kalanya yang sederhana tak mudah dilakukan.

Gegenpressing membutuhkan stamina kuat, napas panjang, dan pemain yang cerdas karena bergerak bebas, mengalir, tanpa bisa dideteksi. Gegenpressing tak mengandalkan satu pemain kunci, karena semua pemain adalah kunci.

Melihat langkah-langkah Presiden Joko Widodo dan para pendukungnya memadamkan 'Aksi Bela Islam 212' (aksi unjuk rasa 2 Desember 2016) tak ubahnya menyaksikan tafsir gegenpressing dalam dunia politik.

Jokowi memilih membangun garis pertahanan setinggi-tingginya dengan tak membiarkan para pendukung 212 melakukan konsolidasi. Dia menemui sejumlah ulama, tokoh agama, dan organisasi Islam, terutama NU dan Muhammadiyah.

Jokowi tahu, dua organisasi Islam terbesar di Indonesia itu memang memilih moderat dalam menyikapi aksi massa yang menuntut dipenjarakannya Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama karena dugaan penistaan agama.

Namun akar rumput kedua organisasi tersebut tetap bergerak dan itulah yang membuat aksi 411 yang berlangsung pada 4 November 2016 berjalan masif, tak hanya di Jakarta, tapi hampir di seluruh kota besar di Indonesia.

Inilah aksi massa terbesar yang masif dan terorganisasi sejak Reformasi 1998.

Garis pertahanan tinggi juga dibangun dengan mendatangi Ketua Umum Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya Prabowo Subianto yang juga mantan komandan Korps Pasukan Khusus (Kopassus). Berikutnya kita tahu, selain foto kemesraan dengan Prabowo, beredar pula foto Jokowi di tengah pasukan Kopassus, seperti melayangkan pesan kepada siapapun: jangan main-main dengan saya.

Jokowi berusaha menutup semua langkah mereka yang didefinisikan sebagai lawan politik yang ingin meruntuhkan kekuasaannya. Sejak 'Aksi 411', Jokowi sudah menyatakan, ada aktor intelektual yang menunggangi aksi massa umat Islam. Ini sebuah upaya mendefinisikan dan mengidentifikasi lawannya.

Namun sampai hari ini publik masih bertanya-tanya siapakah yang dimaksud dengan aktor intelektual tersebut, siapakah provokator itu, dan mengapa tidak segera dibekuk jika memang pemerintah memiliki bukti-bukti kuat. Bukankah aparat keamanan sangat galak, terutama saat membekuk teroris atau menangani aksi unjuk rasa petani?

Di lapangan hijau, gegenpressing membutuhkan apa yang disebut umpan atau decoy untuk mengalihkan perhatian lawan. Semua pemain tim lawan Liverpool selalu mengaku kebingungan menentukan pemain mana yang harus dikawal, karena tak ada 'target man' atau ujung tombak klasik dalam teori gegenpressing Klopp.

Saat Coutinho menggiring bola mendekati kotak penalti, pemain-pemain Liverpool lain bergerak bersamaan ke depan. Pemain lawan harus berhitung banyak opsi: apakah Cou akan melepas operan ke Firmino, Sadio Mane, Adam Lallana, pemain belakang James Milner yang mendadak berlari maju, atau justru melepaskan tembakan langsung ke gawang.

Pertanyaan-pertanyaan yang dibiarkan mengambang seperti itu juga menjadi bagian dari taktik gegenpressing di ranah isu publik yang digunakan pemerintah. Orang dibiarkan bertanya-tanya, berspekulasi, mencurigai pihak lain yang dinilai tak sependapat dan pada akhirnya menekan serta merebut bola isu dugaan penistaan agama yang diusung 'Aksi Bela Islam 411' dari 'lapangan hijau' komunikasi publik.

Pertarungan gegenpressing politik ini sangat terlihat jelas di media sosial. Jika beruntung, kubu lawan tak hanya bingung tapi juga terbelah karena kecurigaan. Potensi untuk terbelah adalah wajar, karena jutaan orang yang bergerak bersama tentu tak selamanya memiliki motif dan persepsi yang sama. Jumlah massa adalah keuntungan sekaligus titik lemah sebuah aksi.

Upaya merebut bola isu dilanjutkan dengan munculnya wacana kebhinnekaan. Mendadak di media sosial, orang ramai bicara keragaman, kebhinnekaan, toleransi, dan mengeksklusi gerakan mereka yang menuntut Basuki dipenjarakan sebagai gerakan anti-toleransi.

Idealnya, isu ini bisa membesar dan merebut ruang publik ketika Parade Bhinneka Tunggal Ika di Jakarta diikuti massa yang sama besarnya dengan aksi Bela Islam 411.

Namun isu itu justru terbanting di media sosial dan tak mengambil panggung utama arus utama pemberitaan, karena sedikitnya jumlah peserta parade. Gegenpressing pemerintah dipatahkan, dan berbalik menjadi wacana 'Basuki gagal galang dukungan di masyarakat'.

Pembalikan wacana ini mudah dipahami, karena orang gampang sekali mengidentifikasi di media sosial bahwa pendukung parade adalah mereka yang selama menentang aksi Bela Islam dan mendukung Basuki.

Jurus pamungkas gegenpressing politik ini tentu saja represi terhadap aksi massa Bela Islam 212, dengan cara sebisa mungkin mencegah mengalirnya massa ke Jakarta pada 2 Desember 2016 nanti. Salah satunya dengan memunculkan stigma bahwa aksi itu identik dengan makar terhadap pemerintah.

Bagaimana akhir drama ini? Apakah gegenpressing politik pemerintah akan berhasil, sebagaimana keberhasilan Klopp memimpin Liverpool menangguk poin demi poin dalam Liga Inggris musim ini?

Sembari menanti, tak ada salahnya jika Anda memutar televisi untuk nonton bagaimana gegenpressing dijalankan Liverpool dan bagaimana The Reds dianggap sebagai klub paling memesona musim ini. [air/wir]

Berita Terkait

    Komentar

    ?>