Jum'at, 15 Desember 2017

Mewawancarai Pak Dahlan Iskan Tahun 2000

Sabtu, 29 Oktober 2016 14:04:05 WIB
Reporter : -
Mewawancarai Pak Dahlan Iskan Tahun 2000

Oleh: Tofan Mahdi

Saya adalah wartawan pertama yang mewawancarai khusus Bapak Dahlan Iskan, segera setelah beliau diangkat sebagai Direktur Utama PT Jatim Wira Utama, sebuah BUMD yang nyaris bangkrut milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur, yang kemudian berganti nama menjadi PT Panca Wira Usaha (PWU) Jatim.

Itu sekira tahun 2000. Bukan sesuatu yang istimewa wawancara itu, karena kebetulan saya adalah wartawan desk Ekbis (Ekonomi dan Bisnis) Jawa Pos, Pak Dahlan juga CEO Jawa Pos, dan malam itu kebetulan sedang berada di kantor redaksi.

Wawancara di meja bundar lantai 4 Gedung Graha Pena Surabaya berjalan hampir satu jam. Beberapa pertanyaan yang saya ingat, mengapa Pak Dahlan bersedia menerima jabatan itu, apa misi dan visi yang akan dibangun, apakah juga akan mengajak tim di Jawa Pos membantu di BUMD tersebut, juga tentu saja saya bertanya tentang gaji dan fasilitas yang akan diterima sebagai Dirut BUMD.

"Perusahaan ini hampir mati (PWU), asetnya banyak tapi sebagian besar idle (tidak produktif), juga banyak lini bisnis yang tidak mungkin bisa dipertahankan lagi. Pabrik es batu misalnya, apa masih ada pasarnya saat ini. Tapi banyak juga lini bisnis yang bisa dikembangkan, asal kultur manajemen dan karyawannya diubah total. Saya tidak perlu membawa orang Jawa Pos ke sini, karena saya percaya sebetulnya banyak orang-orang hebat di BUMD ini."katanya kala itu.
 
Pak Dahlan mengatakan, menerima amanah ini sebagai bentuk terima kasih dan sumbangsih kepada bangsa dan negara. "Saya tidak digaji, tidak menerima fasilitas apapun, malah mungkin fasilitas saya di Jawa Pos yang terpakai untuk kepentingan Wira Jatim." Tentu di awal sangat tidak mudah bagi Pak Dahlan.

Jika saat itu kita masuk ke salah satu kantor BUMD tersebut, mungkin kita tidak bisa percaya bahwa itu adalah kantor sebuah perusahaan. Bahkan kesannya jauh di bawah standard sebuah kantor kecamatan atau kelurahan.

Mulai dari satpam yang tak ramah, karyawan-karyawan yang sudah tua dan tidak tahu apa yang sedang dan seharusnya dikerjakan hingga peralatan dan perlengkapan kantor yang sudah ketinggalan zaman.

Namun tangan dingin Pak Dahlan mampu mengubah kondisi itu. Unit usaha yang ada dikonsolidasikan hingga menjadi lima core bisnis utama, aset dan utang-utang direstrukturisasi, juga yang paling penting kultur dan budaya kerja karyawannya diperbaiki.

"Saiki arek-arek keponthal-ponthal Mas (sekarang kami harus lari-lari mengikuti ritme kerja Pak Dahlan, Red), " kata Yan Bastian (almarhum), saat itu menjadi salah satu Direktur BUMD Jatim tersebut. Kala itu Yan Bastian dan direksi BUMD lainnya sedang menunggu untuk meeting dengan Pak Dahlan di ruang meeting Redaksi Jawa Pos.

Bukan pagi atau siang, tapi saat itu sudah jam 10 malam. Rapat BUMD tengah malam begini, bukan satu dua kali, tapi seakan jadi rutinitas baru jajaran direksi PWU.

Gaya manajemen Pak Dahlan yang menggunakan common sense (akal sehat), spontan, dan saat itu juga ingin get the things done, telah mengubah wajah BUMD Jatim yang nyaris bangkrut menjadi PT PWU Jatim seperti yang kita lihat sekarang.

WakGus Arif Afandi, Dirut PWU Jatim setelah Pak Dahlan, tinggal melanjutkan tongkat estafet dengan cetak biru pengembangan perusahaan yang telah dibuat oleh Pak Dahlan.

Gaya manajemen yang spontan ditunjukkan Pak Dahlan tidak hanya pada saat dealing dengan hal-hal yang besar.

Menemukan sampah di lantai kantor, akan langsung dipungut sendiri. Jangan coba-coba menahan lift untuk sekadar ngobrol sebentar dengan teman, risikonya bisa sangat fatal.

Saya sendiri dua kali jadi "korban" gaya manajemen yang spontan seperti ini. Pertama, saat "terpergok" bekerja di Surabaya, tetapi istri dan anak tinggal di Pasuruan.

"Jauh dari keluarga itu tidak baik buat karirmu, bawa (keluarga) ke sini." Alhamdulillah, malam ditegur, keesokan harinya saya sudah dapat kontrakan rumah di Surabaya (Sidoarjo).

Teguran kedua saat saya memutuskan memilih tidak membeli mobil tapi punya rumah dua. "Menurut kamu bagaimana yang dilakukan Tofan itu?" tanya Pak Dahlan kepada Imron Mawardi (saat itu Redaktur Olahraga dan salah satu kader terbaik dan paling dekat dengan Pak Dahlan) dalam suatu kesempatan di dalam sebuah mobil berdua.

Saat itu, saya tidak ada di sana. "Bagus saja Bos. Kan Tofan Redaktur, sudah tidak turun ke lapangan, jadi mungkin gak ada mobil juga tidak apa-apa." Mendengar jawaban Imron, Pak Dahlan menimpali, "Tidak bagus itu, tidak bagus buat image perusahaan." Imron langsung wadul (lapor) ke saya dan keesokan harinya juga saya beli sebuah mobil sedan yang sudah cukup berumur saat itu Mazda Cappella, dengan kredit tentu saja.

Pak Dahlan adalah seorang pimpinan yang objektif terhadap bawahan. Bisa sangat marah jika ketemu anak buah yang  "mbencekno" (njengkelin/ kerja gak bener). Saya bersyukur tidak pernah kena marah Pak Dahlan. Namun, dengan mata kepala sendiri, melihat bagaimana Pak Dahlan bisa sangat marah kepada bawahan yang "mbencekno" tadi.

Sebuah gelas pernah dibanting dan pecah di lantai saat jam 1.30 dini hari, desk Halaman Satu (Nasional) belum juga kelar.

"Bisa bangkrut koran ini. Apa kamu juga gak kasihan sama sopir truk ekspedisi yang harus menyabung nyawa karena ngebut lebih kenceng gara-gara korannya telat. Apa gak kasihan sama loper koran, kalau telat itu korannya gak laku." Redaktur Nasional yang in charge hari itu tampak ndredeg dan dengan segala cara halamannya kelar. Pernah juga gara-gara halaman edisi sore telat, keyboard komputer jadi korban. Sama dengan gelas tadi, keyboard pun dibanting di depan teman redaktur yang in charge dan tuts-nya berantakan. Bahkan, saking dekatnya saya di situ, satu tuts huruf masuk ke saku. Kemarahan kadang juga ditulis dalam bentuk "surat cinta" yang ditempel di tempat yang bisa dibaca rekan-rekan kerja lainnya.

Di sisi lain Pak Dahlan juga sosok yang mudah memberikan apresiasi dan pujian. Seperti halnya rekan-rekan di Jawa Pos lainnya, setidaknya saya tiga kali pernah dipuji Pak Dahlan. Pertama, ketika putra Pak Dahlan, Azrul Ananda, menyampaikan bahwa dia diminta Abahnya belajar dari dua orang: Imron Mawardi dan saya. Itu sekitar tahun 2001, saat Azrul baru pulang setelah lulus kuliah di Amerika.

Kedua, dalam sebuah rapat yang dihadiri jajaran pimpinan di Redaksi Jawa Pos saat itu, tiba-tiba Pak Dahlan memuji laporan jurnalistik saya dari China yang baru saya tulis. "Bagus, sampai saya tidak bisa membedakan itu tulisan Tofan atau tulisan saya." Mas Dhimam Abror yang saat itu jadi Pemimpin Redaksi manggut-manggut, Mas Ali Murtadlo, Redpel, langsung menyalami saya. Pujian ketiga, saat saya sudah tidak lagi menjadi bagian keluarga besar Jawa Pos dan Pak Dahlan baru saja purna tugas sebagai Menteri BUMN.

Dalam sebuah kesempatan, di depan sejumlah pimpinan teras holding perusahaan tempat saya bekerja sekarang, agak ge er juga saya ketika Pak Dahlan menyampaikan, "Tofan ini hebat Pak, bagus. Dulu dia salah satu kader terbaik saya." Saya malu dan hanya bisa menundukkan kepala dan tersenyum. Orang Jakarta mungkin belum lama mengenal sosok Dahlan Iskan. Karena itu, saat masih menjadi Menteri BUMN, ketika Pak Dahlan buka paksa pintu tol Semanggi dan banting kursi, atau saat Pak Dahlan naik KA komuter, ke Istana naik ojek, ramah kepada orang yang baru dikenal dan semua kalangan, banyak yang menyebut itu sebagai pencitraan. Padahal dari dulu, yang saya tahu, ya Pak Dahlan seperti itu.

Gaya manajemen yang common sense dan result oriented tadi, terkadang membuat Pak Dahlan berani mengambil langkah yang sangat cepat, keluar kotak, dan  terkadang melupakan hal kecil yang ternyata bisa jadi fatal di kemudian hari: prosedur administrasi. InsyaAllah Pak Dahlan bisa melewati ujian ini. 

(Bogor, 29 Oktober 2016/ tofan.mahdi@gmail.com)

Tag : dahlan iskan

Berita Terkait

    Komentar

    ?>