Jum'at, 28 April 2017

Jatim Butuh Perpustakaan Digital

Rabu, 19 Oktober 2016 12:48:18 WIB
Reporter : Ribut Wijoto
Jatim Butuh Perpustakaan Digital
Ribut Wijoto, penulis adalah editor Beritajatim.com

Surabaya (beritajatim.com) - Sejak tahun 1990-an hingga sekarang, teater di Jawa Timur didominasi pementasan-pementasan non realis. Pementasan yang lebih mengutamakan ekplorasi tubuh dan kata-kata daripada narasi dan dramaturgi konvensional. Pada ranah ini ada nama-nama kelompok teater seperti Jaguar, Ragil, Kusuma Untag, Gapus Unair, dan banyak lagi. Persoalannya, mengapa penggarapan tersebut tampaknya tidak maksimal. Jauh dibandingkan pencapaian Teater SAE, Kubur, maupun Teater Payung Hitam.

Beragam alasan bisa diketengahkan. Semisal kurangnya presisi, SDM, pemahaman visual art, ketelatenan proses kreatif, dan lain-lain. Tulisan ini lebih memfokuskan diri pada problem wacana panggung.

Ranah seni pertunjukan membutuhkan rujukan wacana agar bisa berkembang lebih maju. Wacana berguna bagi sumber pengetahuan, wawasan, perbandingan proses kreatif, pedoman manajerial, dan penajaman konsep artistik. Semisal pada wilayah teater, wacana akan memperkuat penyutradaraan, keaktoran, tata lampu, artistik panggung, pun juga modal workshop.

Bagi seni pertunjukkan, setidaknya ada tiga bentuk wacana utama. Pertama adalah wacana dalam bentuk cetak tulis, wacana yang dibangun melalui dialog, dan wacana dalam bentuk pertunjukan panggung. Wacana cetak tertulis bisa didapat dengan mudah di berbagai toko buku dan perpustakaan. Wacana melalui dialog bisa diperoleh melalui diskusi ataupun tatap muka antarpelaku seni pertunjukan. Yang susah ditemukan adalah wacana panggung.

Ada sebuah ungkapan terkenal, teater hidup hanya semalam. Ungkapan tersebut memiliki arti, pertunjukan teater (baca: drama) bersifat temporal. Proses latihan yang berlarat-larat ditujukan untuk pertunjukan yang hanya satu malam. Pada tanggal tertentu dan jam tertentu. Sudah itu selesai.

Persoalannya, pertunjukan yang temporal tersebut kerap kali hanya ditonton oleh orang-orang tertentu. Semisal pementasan drama ‘Pesta Pencuri’ dari Bengkel Muda Surabaya hasil penyutradaraan Zaenuri di Festival Seni Surabaya 2008. Jumlah penonton pementasan tersebut paling banyak 300 orang. Bandingkan jumlah tersebut dengan jumlah masyarakat seni teater di Jawa Timur. Tentu tidak ada 5 persennya. Padahal, karena pertunjukan itu bagus, semestinya semua pelaku seni teater di Jawa Timur melihatnya dengan tujuan perbandingan proses kreatif.

Kasus yang sama juga terjadi di pementasan Teater SAE. Para pengamat seni teater menyatakan, pementasan SAE amat monumental. Pada zamannya, bentuk dan pola artistik pementasan SAE telah menginspirasi berbagai komunitas teater di penjuru Indonesia. Namun sayangnya, SAE telah tidak berproduksi. Sedangkan rekaman pertunjukannya susah dicari.

Beragam latar belakang dan persoalan tersebut mengungkapkan fakta yang cukup negatif. Proses kreatif teater membutuhkan referensi pertunjukan teater. Sementara itu, rekaman pertunjukan teater amatlah sedikit. Pelaku teater kesulitan mencari dokumentasi audio visual dari pementasan-pementasan sebelumnya. Padahal, bila banyak rekaman, proses perbandingan bisa berjalan lancar dan diharapkan hasil artistik panggung bisa lebih maksimal.

Maka itu, JawaTimur membutuhkan adanya perpustakaan digital. Sebuah perpustakaan yang menyediakan rekaman-rekaman pementasan teater. Mulai dari pementasan produksi komunitas teater di Jawa Timur maupun pementasan dari luar. Paling utama adalah rekaman dari pementasan-pementasan standar. Untuk kategori non realis, semisal pementasan Teater SAE, Kubur, Payung Hitam, Garasi, Teater Ruang. Pementasan lain semisal dari Bengkel Teater Rendra, Satu Merah Panggung, Koma, Dinasty, Populer, maupun dari Teater Mandiri.

Lantas siapakah pihak yang paling bertanggungjawab atas program perpustakaan digital. Di Jawa Timur, ada beberapa instansi yang mendapat dana APBD untuk mengembangkan kesenian. Semisal Dinas Pendidikan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Taman Budaya Jawa Timur, Dewan Kesenian Jawa Timur, atau kalau perlu Perpustakaan Daerah Jawa Timur. Semestinya, instansi-instansi tersebut membikin perpustakaan digital sekaligus melakukan distribusi ke publik.

Perspustakaan digital, sebenarnya, tidak hanya dibutuhkan oleh bidang seni teater. Bidang seni lain juga memerlukan. Misalnya seni tari, seni musik, seni sastra, maupun seni film. Artinya, perpustakaan digital mutlak diperlukan untuk pengembangan segala bentuk seni yang berkaitan dengan pertunjukan.

Membangun perpustakaan digital bisa dikata gampang-gampang susah. Yang pasti, modal dana jauh lebih murah dibanding membangun perpustakaan buku cetak. Taruhlah satu buku teori teater setebal 200 halaman, harganya berkisar antara Rp 25 ribu sampai Rp 40 ribu. Biaya foto copy juga mahal. Katakanlah, 200 lembar kali Rp 100. Totalnya sama dengan Rp 20 ribu. Sementara penggandaan VCD dan DVD tidak lebih dari Rp 10 ribu.

Kendala utama adalah pencarian koleksi rekaman pementasan teater. Pasalnya, tidak banyak kelompok teater yang melakukan perekaman audio visual atas pementasan dramanya. Jangankan teater lokal, teater sekelas SAE pun tidak memiliki koleksi utuh atas rekaman pementasannya.

Tapi jika program membangun perpustakaan digital memang benar diniatkan, jalan tentu terbuka lebar. Yang dibutuhkan adalah pembentukan tim khusus. Tim yang secara telaten membangun kerjasama dengan instansi-instansi yang biasa melakukan perekaman pertunjukan. Sekadar gambaran, Dewan Kesenian Jakarta saat ini memiliki 1.000 keping DVD yang berisi rekaman pertunjukan. Taman Budaya Solo juga memiliki banyak koleksi. Atas nama kerjasama dan dengan prosedur tertentu, koleksi tersebut tentu boleh digandakan.

Jalan lain yang bisa ditempuh adalah meminta koleksi pertunjukan terhadap komunis-komunitas teater. Entah satu atau dua keping, kerapkali, komunitas memiliki koleksi pementasan. Komunitas teater tersebut tentu senang bila rekaman pementasannya bisa diakses oleh publik. Pasalnya, pengaksesan sama artinya dengan publikasi.

Yang lebih utama lagi, perpustakaan digital membentuk tim perekam. Tugasnya merekam pertunjukan-pertunjukan teater yang ada di Jawa Timur. Tugas ini sekaligus membantu pendokumentasian pada teater-teater yang telah susah-susah berproduksi namun tidak memiliki biaya untuk perekaman.

Sekali lagi, perpustakaan digital tidak hanya dibutuhkan oleh bidang seni teater. Bidang seni lain juga memerlukan. Bila, program perpustakaan digital bisa direalisasikan, kita bisa berharap, ranah seni pertunjukan di Jawa Timur telah selangkah lebih maju. [but]

Tag : seni

Komentar

?>