Selasa, 25 Juli 2017

Membaca 71 Tahun Jatim dari Duet Pakde Karwo-Gus Ipul

Rabu, 12 Oktober 2016 13:33:34 WIB
Reporter : Ainur Rohim
Membaca 71 Tahun Jatim dari Duet Pakde Karwo-Gus Ipul
Ainur Rohim, Penanggung Jawab media online beritajatim.com

Hari ini, 12 Oktober 2016, Provinsi Jawa Timur (Jatim) tepat berusia 71 tahun. Inilah hari kelahiran provinsi berpenduduk sekitar 38 juta jiwa yang berada di ujung timur Pulau Jawa. Tepat 71 tahun usia Jatim, formasi kepemimpinan Soekarwo (Pakde Karwo) dan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) hampir 8 tahun memimpin provinsi ini.

Ada banyak hal dan perspektif yang bisa kita bedah dari Jatim di usianya yang ke-71 tahun ini. Dalam perspektif ekonomi, misalnya, semua stakeholder paham bahwa Jatim merupakan backbone perekonomian nasional.

Provinsi ini menjadi sumber pangan dalam skala luas secara nasional. Hanya Jatim dan DKI Jakarta yang memiliki tingkat PDRB lebih dari Rp 1.000 triliun per tahun.

Masih dalam perspektif ekonomi, sejak 2 tahun terakhir, setelah Blok Cepu dengan operator ExxonMobil dari Amerika Serikat mampu mencatatkan lifting minyak sekitar 200 ribu barel per hari (BOPD), memposisikan Jatim sebagai backbone produksi minyak nasional.

Selain Blok Cepu dengan ExxonMobil, di Jatim masih banyak operator KKKS lain yang telah eksisting, seperti Joint Operating Body Pertamina-PetroChina East Java yang mengelola Blok Tuban, Pertamina Hulu Energi (PHE) di Blok West Madura Offshore (WMO), Pertamina Eksplorasi dan Produksi (PEP) Asset 4 yang menghandle lapangan Poleng, Husky CNOOC Madura Limited (HCML) yang melakukan eksplorasi di lapangan lepas pantai Sampang, Kangean Energy Indonesia (KEI) di Kabupaten Sumenep, Petronas di lapangan lepas pantai Sampang, dan lainnya.

"Sekitar 25% sampai 30% lifting minyak nasional disumbang Jatim," ujar sebuah sumber yang paham dengan aktifitas kegiatan sektor hulu migas di Jatim. Untuk lifting minyak, Jatim menjadi penyumbang terbesar kedua di bawah Provinsi Riau. Di Riau lama beroperasi KKKS Chevron Pacific Indonesia (CPI), yang tingkat liftingnya lebih dari 300 ribu barel per hari.

Di sektor pertembakauan dan industri hasil tembakau (IHT), sumbangsih Jatim kepada kas keuangan negara sangat besar. Sumbangsih itu berasal dari cukai rokok. Di mana dari penerimaan cukai rokok sekitar Rp 139,5 triliun di tahun 2015 lalu, sekitar 65% sampai 70% berasal dari pabrikan rokok besar, menengah, kecil, dan mikro yang beroperasi di Jatim.

Pada 2016 ini diperkirakan penerimaan dari cukai rokok bergerak di kisaran Rp 144 triliun sampai Rp 145 triliun. Sedang di tahun 2017 mendatang, target penerimaan dari cukai rokok dipatok sebesar Rp 149 triliun lebih.

Di sektor ekonomi manufaktur, posisi Jatim juga tak bisa dipandang sebelah mata. PT Petrokimia Gresik di Kabupaten Gresik adalah produsen pupuk terlengkap dan terbesar di Indonesia. Selain itu, di Kabupaten Tuban dihasilkan sekitar 20% lebih produksi semen nasional. PT Semen Indonesia yang memiliki 4 unit pabrik semen di Tuban mampu berproduksi semen sekitar 12 juta ton per tahun dan 2 unit pabrik semen milik PT Holcim Indonesia tingkat produksinya sekitar 3,4 juta ton per tahun. Total produksi semen dari Jatim yang berasal dari sejumlah pabrikan lebih hampir 16 juta ton per tahun.

Itulah sekilas potret sektor riil Jatim dalam perspektif ekonomi makro. Banyak potensi lain bersifat eksisting sektor perekonomian yang telah bergerak dan tumbuh di Jatim. Satu hal penting kenapa roda perekonomian sektor riil ini mampu bergerak dinamis di provinsi ini. Tentu ada prasyarat yang mesti terpenuhi.

Apa itu? Satu di antaranya adalah modal politik dan modal sosiologis yang mendukung terwujudnya stabilitas Jatim dalam multiperspektif, sehingga pertumbuhan dan akselerasi ekonomi menemukan ruang kondusif untuk berkembang.

Pertama, modal politik Jatim. Faktor yang dimaksud adalah kepemimpinan politik di Jatim selama ini, terutama 8 tahun di bawah duet Pakde Karwo-Gus Ipul. Inilah potret gubernur-wagub yang sepi rumor politik tak sedap. Gubernur- wagub yang tak diselimuti dengan iklim rivalitas politik yang saling menelikung, membopong, dan zero sum game. Gubernur-wagub yang berusaha menjalankan peran dan tupoksinya masing-masing secara istiqomah tanpa saling mengintervensi.

Gubernur paham bagaimana memperlakukan wagub yang tak selayaknya diposisikan sekadar ban serep. Sebaliknya, wagub juga sadar posisi sebagai orang kedua, tak punya otoritas mengambil keputusan, dan mesti memiliki unggah-ungguh politik dalam interaksinya dengan gubernur.

Selama hampir 8 tahun kepemimpinan Pakde Karwo-Gus Ipul, publik tak pernah mendengar secara ekstrim dikotomi birokrasi dalam ungkapan 'ini orangnya Pakde Karwo' versus 'ini orangnya Gus Ipul'. Masing-masing sadar posisi secara tepat dan cermat. Yang kemudian muncul adalah sinergi politik dari kutub Pakde Karwo dan kutub Gus Ipul, sehingga yang melahirkan banyak keunggulan Jatim vis a vis provinsi lain dalam perspektif kepemimpinan politik.

Publik tak akan lupa bagaimana relasi politik antara Gubernur Letjen Purn Bibit Waluyo dan Wagub Rustriningsih saat memimpin Provinsi Jateng sebelum era Gubernur Ganjar Pranowo. Lalu, Gubernur Ahmad Heryawan (Aher) dan Wagub Dede Yusuf di Provinsi Jabar. Gubernur dan wagub di kedua provinsi itu terlihat kurang sinergis dan terlibat dalam pseudo rivalitas politik selama menjalankan kepemimpinan politik di daerahnya.

Realitas politik seperti itu tak terjadi di Jatim, sehingga akselerasi pembangunan di Jatim relatif lebih kencang, karena ditopang modal politik lebih kuat dan mantap.

Kedua, modal sosiologis Jatim. Jatim yang secara kategori budaya bisa dipetakan dalam 3 subkultur: Tapal Kuda (santri), Pendalungan, dan Mataraman (abangan), ternyata antar subkultur tak saling berhadapan secara face to face. Sikap toleransi, penghormatan, dan perilaku moderat antarwarga di masing-masing subkultur cukup tinggi. Fakta ini yang membuat nyaris tak ada pertentangan dan konflik antar subkultur di Jatim.

Sikap moderasi masyarakat Jatim cukup tinggi dalam perspektif politik ideologis, sehingga di provinsi ini bukan lahan subur bagi tumbuh dan berkembangnya ideologi politik bersifat ekstrim. Di Jatim, ideologi ekstrim kanan atau yang paling kanan dan ekstrim kiri atau paling kiri sekali pun sulit berkembang dan tumbuh subur.

Dengan mayoritas warga beragama Islam, Jatim merupakan wilayah tempat lahirnya ormas Islam Nahdlatul Ulama (NU), sehingga membuat ideologi Islam Tradisional merupakan kekuatan mainstream di provinsi ini, selain Islam Modernis (Muhammadiyah).

Karakter sosial religi ini menurun ke watak politik warga Jatim, yang sebagian besar berpaham Islam Ahlussunnah Wal Jamaah. Dalam konteks politik, ada paralelisme kultural dan sosio religi antara paham keagamaan yang diyakini dan pilihan politik kepartaian yang dianut dan didukung.

Karena itu, bukan hal mengejutkan sejak Pemilu 1955, Pemilu 1999, Pemilu 2004, dan Pemilu 2014, PKB menjadi partai terbesar dan pemenang di Jatim.

Fakta dan realitas sosiologis dan sosio religi itu dipahami secara paripurna duet kepemimpinan Pakde Karwo-Gus Ipul selama hampir 8 tahun memimpin Jatim. Sehingga gesekan sosial apalagi benturan politik antara penguasa dengan kelompok-kelompok strategis di Jatim nyaris tak pernah terdengar dan tak ada.

Yang dilakukan Pakde Karwo dan Gus Ipul adalah politik merangkul, berdialog, sharing, dan memperkuat jalinan silaturrahmi politik dengan semua kekuatan strategis di masyarakat Jatim. Terlebih lagi, duet Pakde Karwo-Gus Ipul memiliki karakter dan langgam kepemimpinan yang saling melengkapi dan mengisi.

Pakde Karwo lebih dekat pada tipologi kepemimpinan administrator, kenyang pengalaman dan paham betul seluk-beluk birokrasi pemerintahan. Di sisi lain, Gus Ipul lebih terlihat dalam praksis pada tipologi kepemimpinan solidarity maker. Mudah dan luwes dalam membangun komunikasi dan menumbuhkan solidaritas dengan berbagai segmen sosial masyarakat Jatim dan minim pengalaman di birokrasi pemerintahan.

Karena itu, formasi Pakde Karwo-Gus Ipul merepresentasikan potret Jatim dalam multiperspektif yang bersifat faktual dan ideal. Selamat Milad ke-71 Jatim. [air]

Penulis adalah Penanggung Jawab beritajatim.com

Berita Terkait

    Komentar

    ?>