Sabtu, 19 Agustus 2017

Kongres PSSI

Selasa, 11 Oktober 2016 14:28:41 WIB
Reporter : Ainur Rohim
Kongres PSSI
Ainur Rohim, Penanggung Jawab media online beritajatim.com

Kongres Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) tak lama lagi digelar. Direncanakan pada 17 Oktober 2016 nanti, perhelatan untuk memilih ketua umum PSSI dan agenda lain terkait organisasi sepakbola itu dilakukan. Memang, belum ada informasi terbaru dan bersifat final tentang lokasi kongres PSSI: Makassar atau DI Yogyakarta.

Keputusan awal kongres PSSI akan dilangsungkan di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Tak lama berselang, muncul rekomendasi dari Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, agar lokasi kongres dipindah ke DI Yogyakarta dari Makassar.

Terlepas di mana lokasi kongres PSSI nanti, setidaknya ada beberapa hal yang bisa dicatat dari perhelatan kongres PSSI tahun ini. Pertama, pada kongres PSSI tahun ini terjadi 'perang bintang'. Kontestasi antarcalon ketua umum dengan latar belakang militer yang pernah dan atau sedang memangku jabatan militer bersifat strategis.

Ada sejumlah calon ketua umum berlatar militer. Tapi sorotan tajam dan perhatian intens diberikan kepada mantan Panglima TNI Jenderal Purn Moeldoko dan Panglima Cadangan Strategis TNI AD (Kostrad) Letjen TNI Eddy Rahmayadi.

Moeldoko adalah seorang persiunan jenderal TNI AD bintang 4 dan sepanjang Pileg dan Pilpres 2014 lalu, terbukti mampu memerankan fungsi kepemimpinannya dengan baik. Dia membawa kereta besar bernama TNI sebagai kekuatan yang ada di tengah dan netral pada pesta demokrasi rakyat tersebut. Sehingga kontestasi politik itu, terutama Pilpres 2014 yang berpola head to head, Jokowi-JK versus Prabowo-Hatta, bisa berlangsung aman, damai, demokratis, dan tanpa mengorbankan stabilitas nasional.

Di sisi lain, Letjen TNI Eddy Rahmayadi bukan nama sembarangan. Tokoh militer dengan 3 bintang di pundak ini berasal dari Kota Medan, Sumatera Utara dan selama ini gandrung dengan sepakbola. Letjen Rahmayadi saat ini menjabat Pangkostrad, satuan cadangan dan elite TNI AD selain Komando Pasukan Khusus (Kopassus).

Dari perspektif senioritas, Moeldoko lebih senior dan jumlah bintangnya lebih banyak satu bintang dibanding Rahmayadi. Moeldoko sudah pensiun dari dinas kemiliteran, sedang Rahmayadi sedang memangku jabatan penting-strategis di lingkungan TNI AD. Moeldoko kini sebagai warga negara biasa, sedang Rahmayadi jadi 'orang pemerintah' yang sedang menduduki jabatan penting-strategis: Pangkostrad.

Kedua, kongres PSSI tahun ini, tampaknya, diselimuti ghirah dan spirit back to barak. Ada aspirasi dan ekspektasi arus bawah cukup kuat yang berkeinginan kepemimpinan puncak PSSI dipercayakan kepada figur berlatar militer (TNI). Karena itu, sangat logis ketika nama Jenderal TNI Purn Moeldoko dan Letjen TNI Eddy Rahmayadi disebut-sebut memiliki kans paling besar memenangkan kontestasi jabatan ketua umum PSSI.

Dari perspektif historis, lahirnya spirit, aspirasi, dan ekspektasi agar figur berlatar militer memimpin kembali PSSI itu bukan gejala a-historis, tapi bersifat faktual. Sebab, jauh-jauh sebelumnya, cukup banyak figur berlatar militer (TNI) memimpin PSSI. Figur dimaksud antara lain: Letjen Purn Agum Gumelar (1999-2003), Letjen Purn Azwar Anas (1991-1999), Marsekal Kardono (1983-1991), Letjen Purn Mar Ali Sadikin (1977-1981), Bardosono, dan lainnya.

Spirit dan ekspektasi itu muncul karena tingginya keinginan mewujudkan stabilitas PSSI dalam perspektif dinamika berorganisasi. Paradigma ini jangan lantas ditafsirkan bahwa sepanjang dipimpin figur berlatar sipil PSSI kerapkali diterpa ketidakstabilan tata kelola organisasi, karena faktor kepemimpinan an sich.

Stabilitas organisasi ini bisa terwujud bukan sekadar ditentukan faktor internal PSSI, tapi unsur eksternal PSSI sangat besar pengaruhnya. Sehebat dan sekuat apapun ketua umum PSSI kalau tak ada dukungan dari pemerintah, jalannya organisasi dipastikan tertatih-tatih.

Demikian pula sebaliknya, sekuat apapun dukungan pemerintah, tapi kalau karakter kepemimpinan puncak PSSI lemah, tak mungkin PSSI mampu menjalankan khittah, visi, misi, dan programnya secara efektif dan optimal.

Karena itu, kongres PSSI tahun ini menjadi entry point bagi PSSI dan stakeholders yang ada di dalamnya untuk melakukan reformulasi kebijakan dan program pembinaan sepakbola dan peningkatan prestasi sepakbola di ranah internasional. Organisasi ini membutuhkan stabilitas bersifat dinamis dan semua pihak yang ada di dalamnya mesti memahami khittah pendirian PSSI pada 1930 lalu.

PSSI merupakan organisasi yang memayungi sepakbola nasional, bukan instrumen politik untuk mencari popularitas dan merebut jabatan publik (politik) tertentu. [air]

Penulis adalah Penanggung Jawab beritajatim.com

Tag : pssi

Komentar

?>