Jum'at, 20 Januari 2017

Jurgen Klopp dan Anfield yang Murung

Jum'at, 07 Oktober 2016 16:56:58 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Jurgen Klopp dan Anfield yang Murung
foto: eurosport.co.uk

Jurgen Klopp datang saat Liverpool dan para pendukungnya mulai percaya bahwa mereka ditakdirkan untuk sial.

Liverpool terakhir kali menjuarai Liga Inggris pada musim kompetisi 1989-1990, terakhir menjuarai Piala FA pada 2006, dan menjuarai Liga Champions Eropa 2005. Satu-satunya trofi terbaru yang mereka angkat adalah Piala Liga pada 2012.
 
Dari tribun The Kop di Stadion Anfield, lama tak terdengar nyanyian ‘We’re Gonna Win The League’. Musim 2013-2014, di bawah komando Brendan Rodgers, The Reds nyaris menjuarai liga.

Mereka berhasil membekuk rival terdekat, Manchester City 3-2. Manajer City Manuel Pellegrini pun hanya berharap keajaiban Liverpool bakal terpeleset di sisa laga.
 
Keajaiban terjadi, dan Liverpool benar-benar terpeleset dalam arti sesungguhnya. Lebih tepatnya, Steven Gerrard terpeleset dan kehilangan bola di daerah pertahanan sendiri saat melawan Chelsea. Liverpool hanya butuh seri hari itu. Namun Demba Ba berlari cepat mencuri bola dari Gerrard, melaju sendirian ke gawang Simon Mignolet, dan menaklukkan sang penjaga gawang dengan mulus.
 
Hari itu Chelsea menang 2-0, dan kemurungan kembali ke Anfield setelah selama sekian pekan optimisme merebak. Lagu berisi puji-pujian untuk Rodgers mulai lirih.
 
Brendan Rodgers Liverpool
He leads the way to glory
Build the team like Shankly did
And Kids will have a story

 
Benarkah Rodgers akan menjadi Next Shankly? Setelah Gerrard terpeleset, orang mulai percaya, bahwa Liverpool seperti dikutuk. Bagaimana mungkin pemain sehebat Gerrard terpeleset pada saat menentukan? Dia terpeleset pada saat bola seharusnya dengan mudah dioperkan ke depan, tanpa ada tekanan dari pemain lawan, karena Chelsea saat itu hanya menempatkan Demba Ba di depan dan memilih ‘memarkir bus’ di barisan pertahanan.
 
Ini tak masuk akal, di luar nalar. Gerrard, sang pahlawan Istanbul yang menjadi mesin kebangkitan Liverpool saat tertinggal 0-3 dari AC Milan di final Piala Eropa, terpeleset saat hujan tak turun di Anfield. Apakah ini kutukan dari para korban Heysel dan Hillsborough? Tentu saja tak ada yang percaya tahyul. Tapi keragu-raguan dan keputusasaan menebal.
 
Bahkan Gerrard pun putus asa jika mengingat hari itu, Minggu, 27 April 2014. Air mata menetes. Dia merasa ingin menghilang dalam sebuah lubang gelap yang tak berdasar. Istrinya, Alex, mencoba menghibur. Tapi Gerrard lebih tahu. “Tak akan ada lagi Keajaiban Istanbul kali ini,” katanya dalam buku My Story.
 
Gerrard merasa sunyi.
 
Para suporter Liverpool masih mencoba berharap. Ini hanya kegagalan kesekian. Mereka sudah terbiasa gagal selama bertahun-tahun. Ini jauh lebih ringan dibandingkan pada era 1950-an, saat Liverpool terjerumus ke kasta kedua dan sang rival Everton tegak di Divisi I (setara Liga Primer).

Saat itu, fans hanya bisa berseru: ‘kami akan kembali. Lihat saja’. Tapi mereka sendiri tak tahu kapan itu akan terwujud. Ucapan itu bagaikan mantera yang diulang-ulang, hingga datanglah Bill Shankly menggantikan Phil Taylor pada Desember 1959.
 
Kedatangan Shankly disambut gembira pendukung Merseyside Merah. Harian Liverpool Echo memberitakan dengan antusias. Redaktur koran itu, Leslie Edwards menyebut Shankly: ‘a 100 percent club man’.
 
Shankly menyadari harapan itu. Tapi dia mencoba menenangkan euforia para fans. “Saya tidak menjanjikan apapun, kecuali sejak mengambil alih, saya akan melakukan semua ikhtiar.”
 
Selanjutnya adalah sejarah. Musim ketiga sebagai manajer, Shankly membawa gelar juara Divisi II sekaligus menerbangkan Liverpool ke kasta utama. Shankly mengkhiri karirnya di Liverpool pada musim 1973-1974. Selama 15 tahun, dia mendaratkan tiga gelar juara Divisi I, dua gelar juara Piala FA, dan satu gelar juara Piala UEFA.
 
Tanggal 8 Oktober 2015, Jurgen Klopp datang ke Anfield dan orang berharap dia titisan Shankly, ‘Messiah from Glenbuck’. Tak ada yang memperhitungkan Liverpool bakal mampu menarik Klopp dari masa istirahat, setelah pensiun dari Dortmund.

Majalah Four Four Two justru membuat skenario tiga potensi: Klopp menggantikan Louis van Gaal di Manchester United, menggantikan Manuel Pellegrini di Manchester City, atau menggantikan Arsene Wenger di Arsenal.
 
Klopp sendiri mengakui banyak tawaran masuk, tapi hanya Liverpool yang membuatnya mengangguk setuju.  “It was the only club that could have broken up my holiday. I had enough offers, I was saying ‘no, no, sorry, not now…’.”
 
Sebagaimana Shank, Klopp tidak pernah melatih dan memperkuat klub raksasa. Sebelum Liverpool, dia melatih Mainz 05 dan Borussia Dortmund. Dia membawa Mainz naik ke Bundesliga, dan memimpin Dortmund mengangkat piring juara dua kali.
 
Seperti Shank yang menduduki kursi Taylor, Klopp juga menggantikan manajer Liverpool sebelumnya, Brendan Rodgers, di tengah musim kompetisi. Jika Shankly punya filosofi bermain ‘pass and move’ yang mengandalkan pergerakan pemain dan operan tanpa henti, Klopp punya Gegenpressing alias couter-pressing. Para pemain bergerak tanpa henti mengejar bola ke mana pun. Heavy metal football.
 
Satu hal lagi yang membuat keduanya langsung dicintai warga Liverpool: kecintaan terhadap klub. “I know how this sounds, and what people will say, but I fell in love,” kata Klopp.
 
“Without being the most confident person in the world, I think I am the right person for Liverpool,” kata Klopp.
 
Ini tentu mengingatkan Shankly yang mengatakan: "Liverpool was made for me and I was made for Liverpool”.
 
Namun Klopp tak mau terjebak dengan romantisme dan euforia. “I am the normal one.” Klopp menyatakan dirinya orang yang biasa-biasa saja.
 
Di mata Klopp, fans berhak bermimpi. Tugas dirinya dan seluruh pemain Liverpool adalah mewujudkannya. Liverpool hari ini harus menciptakan sejarahnya sendiri, dan untuk itu, ada satu hal yang harus dibenahi: mental. “Kita harus berubah dari peragu menjadi seorang yang percaya,” katanya dalam wawancara dengan Liverpool TV.
 
“I don’t sleep too long. Here is a moment when the club needs consistency in this chair—they need the right person and I am the right person, because most of the time I am really serious, but normal.”
 
Dia mengubah semua aspek klub, termasuk etos. Gegenpressing tak membutuhkan satu pemain bintang. Semua harus bergerak, merebut bola, menciptakan ruang, dan membuat peluang sebanyak mungkin. Klopp tidak percaya dengan nama besar. Dia hanya membutuhkan pemain yang cocok dengan filosofinya, terlepas itu bintang atau pemain yang dianggap medioker. “Saya hanya percaya latihan,” katanya.
 
Klopp memoles ulang pemain-pemain yang dibeli pada era Brendan Rodgers dan mempertajam potensi mereka. Dejan Lovren, pemain belakang asal Kroasia yang semula flop, kini menjadi tulang punggung barisan belakang bersama Joel Matip. James Milner disulap menjadi bek kiri yang tangguh. Adam Lallana menjadi gelandang pekerja yang hebat yang tak hanya bisa memberikan operan berujung gol, tapi juga mencetak gol.
 
Musim 2015-2016, Liverpool menduduki peringkat kedelapan Liga Primer Inggris. Namun Klopp berhasil membawa Liverpool ke final Piala Liga dan Piala UEFA. Dua momentum itu memang berujung nihil. Namun orang mulai melihat, ada yang berubah di Liverpool. “Mereka calon juara liga,” kata Antonio Conte, manajer Chelsea.
 
Manajer legendaris Man United Alex Ferguson mulai merasakan ‘ngeri-ngeri sedap’ merambati punggungnya. "I don't like saying that, being Liverpool, because I'm worried about it but, no, he'll do well."
 
Setahun di Anfield, Klopp mencetak 30 kemenangan, 18 hasil seri, dan 13 kekalahan. Musim 2016-2017 baru berjalan tujuh pekan. Namun Liverpool mencatat 18 gol, empat gol di antaranya ke gawang Arsenal di Emirates Stadium, empat gol ke gawang juara bertahan Leicester di Anfield, dan dua gol ke gawang Chelsea di Stamford Bridge. Catatan gol ini sama tajamnya dengan Man City yang berada di puncak klasemen.
 
Dalam urusan daya jelajah, Liverpool terunggul di Liga Primer: 116 kilometer. Para pemain Reds juga terbanyak dalam urusan sprint, yakni 588 kali percobaan. Mereka melepaskan 135 tembakan akurat, dengan akurasi 53 persen, terbaik di Inggris.
 
Kelemahan terbesar tetap di pertahanan. Tujuh pekan Liga Inggris berjalan, tidak pernah ada catatan clean sheet. Dua kiper, Simon Mignolet dan Loris Karius, belum bisa diharapkan menjadi benteng tangguh yang tak kebobolan. Total Liverpool kebobolan sepuluh gol, sama buruknya dengan Middlesbrough yang berada di peringkat 16.
 
Dari tepi lapangan, Klopp membenahi mental para fans untuk tidak berhenti berteriak dan memberikan dukungan, sebagaimana makna lagu Ýou’ll Never Walk Alone. Saat Liverpool kalah 1-2 dari Crystal Palace di Anfield, Klopp mengutarakan kekecewaan terhadap para suporter.
 
“Saya merasa sendirian,” kata Klopp, menunjuk sejumlah penonton yang meninggalkan stadion saat pertandingan masih tersisa 12 menit.
 
Saat masih melatih Dortmund, Klopp meyakini bahwa kemenangan memang tak terlepas dari taktik. Tapi hal-hal yang emosional juga bisa membuat perbedaan. Dia ingin para pemain Liverpool merasakan itu, dan mengajak mereka berdiri di hadapan tribun The Kop untuk memberikan aplaus dan lambaian hormat kepada fans saat menahan imbang West Bromwich Albion 2-2. Hari itu, Reds selamat oleh gol di menit akhir Divock Origi.
 
Klopp menjanjikan perjuangan hingga menit terakhir bagi seluruh pendukung Reds, dan kita pun disuguhi drama: 4-3 melawan Borussia Dortmund, 5-4 melawan Norwich City, 3-3 melawan Arsenal, 2-1 melawan Crystal Palace. Semuanya melibatkan gol di menit terakhir. Tak ada kekalahan tanpa perlawanan.
 
Perjalanan Klopp masih panjang. Tak ada perayaan satu tahun keberadaannya di Anfield. Namun dukungan mengalir untuknya. “Saya senang dia bersama kami,” kata legenda Liverpool Jan Molby.
 
“Klopp adalah manajer istimewa, dan saat ini saya tidak membayangkan kami akan bisa memperoleh manajer laun yang lebih baik dan cocok dengan klub,” kata Jamie Carragher, mantan pemain belakang Liverpool.
 
Dan kita pun masih akan mendengar The Kop bernyanyi: Jurgen Klopp. La la la la la. [wir/ted]

Tag : liverpool

Komentar

?>