Minggu, 22 Januari 2017

Lilin-lilin Penjaga Harapan

Jum'at, 13 Maret 2015 08:24:51 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Lilin-lilin Penjaga Harapan

Sebuah pesan disebar berantai di dunia maya dan ponsel cerdas Blackberry. Isinya menohok: "Masih ingatkah kalian apa yg terjadi kala itu ketika 5 sodara kita meregang nyawa di Lamongan?"

Pesan diakhiri dengan ajakan berkumpul di Taman Apsari, Surabaya, pada Selasa, 10 Maret 2015, pukul 19.27 WIB. Acara: mengenang Tragedi Lamongan dan penyalaan seribu lilin.

Tiga tahun berlalu dan duka itu belum sepenuhnya reda. Lima orang suporter Bonek di atas kereta api nonpenumpang melewati Lamongan malam itu, 10 Maret, menuju Bojonegoro untuk menyaksikan pertandingan Liga Primer Indonesia antara Persebaya Surabaya melawan tuan rumah Persibo.

Yang terjadi berikutnya adalah sejarah pahit: mereka tewas menyisakan misteri. Polisi menyatakan lima anak muda itu tewas karena terjatuh dari atas kereta api. Investigasi mandiri Bonek menunjukkan mereka menjadi korban penyerangan dan penganiayaan. Melintasi Lamongan dalam urusan sepak bola, bagi Bonek tak ubahnya melintasi wilayah musuh. Dendam dan kebencian telah beranak-pinak antara dua kelompok suporter sepak bola di dua kota.

Satu pesan berantai dan kemudian orang-orang berdatangan ke Taman Apsari, Selasa malam itu. "Jumlahnya sekitar seribuan orang," kata Husin, salah satu Bonek, dibenarkan Saiful Antoni, bonek lainnya.

Mereka menyalakan lilin dan menundukkan kepala. "Kami akan terus menuntut keadilan, agar pelaku yang bertanggung jawab atas meninggalnya lima Bonek itu ditangkap," kata Saiful.

Saiful mengatakan, dua kali mereka mendatangi Kepolisian Daerah Jawa Timur dan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia untuk mendesak agar persoalan ini diselidiki serius. "Namun jawaban mereka tak sesuai harapan," kata arek Sidoarjo ini.

Harapan Saiful dan Bonek sederhana sebenarnya. Pesan berantai itu menukikkan kritik terhadap banyak orang yang memandang komunitas suporter sepak bola dengan tak adil: 'setiap kesalahan sekecil apapun yang kami lakukan semua berlomba-lomba mengejar dan memberitakan tentang kami. Namun, ketika kami melakukan aksi kebaikan, mencari keadilan bagi kami tak ada yg memberitakan kami dan tak ada yg orang yg mendengarkan kami'.

Tiga tahun berlalu dan para pendukung Persebaya itu sadar bahwa jalan mencari keadilan tak akan pernah mudah. "Namun dengan kebersamaan dan persaudaraan, selama kami benar, kami tak akan pernah berhenti mencari keadilan," kata Saiful.

Mereka meyakini, tanpa keadilan tak akan ada perdamaian. Namun setiap pencarian keadilan, tidak bisa tidak, harus diawali dengan sebuah harapan. Dan nyala ribuan lilin itu sebuah pertanda untuk menjaga harapan itu.

Post Scriptum
Kantor Berita BBC di Inggris melansir pengakuan dosa David Duckenfield, aparat kepolisian yang bertugas saat terjadinya tragedi di Stadion Hillsborough, Sheffield, yang mencabut nyawa 96 orang fans Liverpool pada 1989.

Duckenfield kini sudah berusia 70 tahun dan ia sudah tak sanggup lagi menahan rasa bersalah selama bertahun-tahun. "Ini kesalahan luar biasa dan saya meminta maaf," katanya.

Menurut Duckenfield, semua orang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Polisi bertanggung jawab atas terjadinya tragedi itu, karena membuka gerbang sehingga luapan penonton mengalir ke dalam stadion melebihi kapasitas. "Ini penyesalan terbesar dalam hidup saya," katanya. (Wir)

Tag : persebaya

Komentar

?>