Rabu, 23 Agustus 2017

Wisata Banyuwangi, Magis Masa Silam dan Utopia Masa Depan

Rabu, 03 Desember 2014 12:52:52 WIB
Reporter : Ribut Wijoto
Wisata Banyuwangi, Magis Masa Silam dan Utopia Masa Depan

Banyuwangi (beritajatim.com) - Siapa bilang pesona wisata Banyuwangi sekadar keindahan alam? Banyuwangi ternyata lebih dari sebatas ruang. Tapi juga waktu. Kabupaten paling ujung dari pulau Jawa ini memadatkan magis masa silam dan utopia masa depan. Kesemuanya berpadu membikin Banyuwangi menjadi eksotis.

Selain melalui kepulan asap Kawah Ijen; keindahan alam Banyuwangi bisa dinikmati pada kedalaman mistis Alas Purwo, deburan ombak pantai Pulau Merah, rerimbunan mangrove Bedul, ketelatenan penangkaran penyu, keasrian air terjun Kampunganyar pula.

"Banyuwangi punya banyak tempat yang indah," ujar Bramuda, Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, Jumat (21/11/2014).

Dari masa silam, para leluhur mewariskan beragam tradisi dan kesenian. Ada tari Seblang yang mistis, ada rayuan maut tari Gandrung, kerancakan musik Kuntulan, dan lain-lain. Budaya Banyuwangi menjadi sangat kaya karena pada kabupaten terluas di Jawa Timur (5.782,50 km per segi) ini berdiam warga asal suku Jawa, suku Madura, suku Bali, suku Mandar, dan suku Bugis. Adapun masyarakat asli menamakan dirinya suku Osing.

Belum lagi aktivitas budaya masyarakat Osing yang unik. Warganya juga banyak memiliki ritual mistis. Sebagai keturunan kerajaan Blambangan, suku Osing mempunyai adat-istiadat, budaya maupun bahasa yang berbeda dari masyarakat Jawa dan Madura "Banyuwangi itu dikenal dengan santetnya. Tapi itu dulu. Kalau sekarang adanya ilmu cubit, dicubit katut. Ya di sini seminggu saja, ilmu itu bisa dikuasai," tutur Bramudi sembari berkelakar.

Lantas kunci utama dari pesona Banyuwangi sebenarnya terletak pada utopia. Semacam impian-impian yang dengan keras hendak diwujudkan. Sehingga, seluruh potensi wisata Banyuwangi di arahkan ke masa depan. Dikelola. Infrastrukturnya dilengkapi, promosinya digencarkan, lalu keseniannya dipoles lebih mengkilap. Jalanan diperlebar, bandara dibangun, akses internet diperlancar.

"Kita memiliki puluhan even setiap tahun. Selain untuk melestarikan dan mengembangkan tradisi, even itu untuk menunjang wisata. Kita arahkan Banyuwangi sebagai tempat yang nyaman untuk wisata keluarga. Hasilnya sudah tampak. Banyak wisatawan Nusantara maupun manca negara datang. Bahkan, Banyuwangi sering kekurangan kamar hotel. Banyak wisatawan menginap di rumah warga. Nilai positifnya, penduduk terlibat," kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

Walau gencar promosi wisata, bupati kelahiran 6 Agustus 1973 ini menekankan bahwa Banyuwangi tidak pernah menabrak tradisi yang telah dipegang teguh warga. Dia membuat kebijakan, untuk mengurangi tindakan asusila, karaoke hanya diperbolehkan dalam situasi terbuka. Hotel kelas melati dilarang didirikan. "Kita hanya memberi kelonggaran pada turis di tempat yang jauh dari pemukiman. Misalnya di pantai Plengkung dan pulau Labuhan," ujarnya.

Azwar Anas lantas memaparkan beragam program untuk memajukan wisata di Banyuwangi. Tentang pentingnya berkoordinasi dengan instansi lain, semisal Taman Nasional Alas Purwo dan Perhutani. Tentang pencapaian-pencapaian yang telah dirasakan warga. "Kita sangat sedikit menggunakan APBD. Sebaliknya, wisata Banyuwangi justru banyak menyumbang PAD. Tahun lalu wisata menyumbang PAD sebesar 24 persen, tahun ini naik menjadi 31 persen. Ini menunjukkan wisata Banyuwangi telah berkembang pesat," katanya.

Lantas, bagaimanakah tampilan nyata dari keindahan Banyuwangi? Inilah pengalaman penulis selama tiga hari melancong di kabupaten yang kerap dijuluki sebagai Bumi Blambangan.

Keuletan Penyu di Pantai Ngagelan


Jika ingin menikmati kesunyian pantai berpadu dengan melihat kehidupan penyu, sekali-kali datanglah ke pantai Ngagelan. Anda akan bisa merasakan sensasi deburan ombak sendirian saja.

Anda bisa leluasa berjalan menyisir pantai berpasir, sendirian saja. Tanpa perlu merasa terganggu oleh kegaduhan pengunjung lain. Begitu pula bila datang sekeluarga. Menjadi serasa di rumah sendiri.

Hari pertama di Banyuwangi, penulis datang ke pantai Ngagelan, di sebelah barat Trianggulasi, 8 Km dari pusat kota Banyuwangi. Pantai ini tampaknya tidak semata-mata diarahkan untuk tujuan wisata. Meski pemandangannya indah, tidak banyak wisatawan yang datang.

Di pantai yang masuk kawasan Taman Nasional Alas Purwo ini, ada enam petugas yang sehari-hari merawat penyu. Keenamnya dengan sabar menyisir pantai untuk mencari telur penyu lalu ditetaskan. Dan jika sudah menetas, anak-anak penyu dilepas lagi ke pantai.

Kadang yang ditemukan bukan telur tapi induk. "Jika ketemu induknya, kita akan tunggui sampai bertelur. Lalu telurnya kita tetaskan," kata Purwadi, salah satu dari perawat penyu.

Lelaki yang sehari-hidup di hutan dan jarang bertemu anak istrinya itu menuturkan, tiap tahun terdapat sekitar 500 induk penyu yang mendarat di pantai Ngagelan. "Tiap induk rata-rata menghasilkan seratus telur," katanya.

Maka jika musim bertelur tiba, biasanya bulan April, dia bersama lima temannya secara telaten menyusuri pantai sepanjang 18 kilometer untuk mengumpulkan telur. Selanjutnya dibawa ke penangkaran. "Tugas kita ada menyelamatkan telur-telur itu dari predator. Misalnya biawak," tutur pria yang telah bertuhgas sejak tahun 1998 itu.

Telur-telur bakal ditaruh dalam tempat seperti alam buatan. "Kita usahakan sesuai dengan aslinya. Semisal kedalaman pasir dan temperaturnya," katanya.

Setelah ditunggu selama 47 hari, telur akan menetas. Biasanya tingkat sukses sebesar 50 persen. "Misalkan 100 telur ya menetas antara 40 sampai 60 biji. Selanjutnya, anak-anak penyu kita lepas lagi ke pantai. Agar kembali ke habitatnya," tuturnya.

Bagaimana dengan maraknya pencurian hewan langka yang kerap terjadi di lahan konversi lainnya? "Alhamdulillah di sini tidak terjadi. Justru biasanya warga di sini akan melapor ke petugas jika menemukan telur. Kita sendiri juga ada antisipasi. Pada musim bertelur, nelayan kita larang menginap di pantai," tuturnya.

Begitulah, pantai Ngagelan sangat cocok untuk menikmati keindahan pantai. Berwisata sekaligus belajar memahami satwa. Utamanya bagi pelajar dan anak-anak. Agar mereka tahu keuletan untuk menyelamatkan satwa di Indonesia. Agar pelajar lebih memahami dan menghargai alam dan satwa.

Terdapat 4 jenis penyu dari keseluruhan 6 jenis penyu di Indonesia dan 7 jenis di dunia yang mendarat di pantai ini, yaitu penyu Lekang atau Abu-abu (Lepidochelys olivaceae), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), Penyu Belimbing (Dermochelys coreacea), dan Penyu Hijau (Chelonia mydas). Diantara keempat penyu tersebut, penyu Lekang/Abu-abu adalah jenis dominan yang mendarat dan bertelur di Pantai Ngagelan.

Usai dari pantai Ngagelan, penulis bergerak menuju lokasi wisata Bedul. Konon kabarnya, lokasi ini mampu membuat orang terbuai oleh komtemplasi karena disuguhi oleh jajaran pohon mangrove yang hijau lebat.

Sublimasi Mangrove Berpadu Hamparan Air


Sensasi apakah bila melihat rerimbun hijau daun dan berpadu dengan hamparan air? Suasana itulah yang hadir di lokasi Ekowisata Mangrove Blok Bedul Taman Nasional Alas Purwo, Dusun Blok Solo, Desa Sumberasri, Kecamatan Purwoharjo, kabupaten Banyuwangi.

Dengan menaiki perahu kayu yang kerap disebut perahu gondang gandung, penulis melintasi sungai Bedul. Pohon-pohon mangrove yang kokoh berdiri di sepanjang sungai. Kekokohan yang berpadu dengan kelebatan hijau daun.

Angin silir semilir menerpa. Suasana menjadi lebih syahdu. Melihat daun-daun hijau yang lebat, tidak bisa tidak, angin dibuat tenggelam dalam keagungan alam. Membuat pikiran lupakan beragam aktivitas pekerjaan sehari-hari. Kesibukan rutin yang kerap kali membikin suntuk.

Kesegaran rimbun dedaunan juga membuat pikiran nyaman. Betah untuk melihatnya. Beberapa burung kadang terbang melintas. Menambah lengkap suasana.

Akar-akar mangrove yang kokoh menancap di tanah, sebagian terlihat di atas air. Seperti kekokohan kaki-kaki tentara. Menjaga tanah pinggir sungai agar tidak abrasi. Riak air sungai kadang menerpanya, sang kaki mangrove sama sekali tak bergeming.

Robet, staf Dinas Pariwisata Pemprov Jatim, menuturkan bahwa mangrove tumbuh di pinggir DAS Stail sepanjang 17 kilo meter. Tanaman mangrove dirawat warga yang tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata.

Untuk menjaga lingkungan, tiap hari Senin, lokasi mangrove ditutup dari kunjungan wisatawan. "Pokdarwis secara intens menjaga agar ekosistem dan lingkungan mangrove tetap aman dan asri," kata Robert.

Di antara tanaman mangrove, banyak hewan yang memang harus dilindungi keberadaannya. Ada banyak kera kecil bersliweran. Mereka akan mendekat bila melihat orang. Mungkin berharap diberi makanan. Tapi ingat, petugas melarang wisatawan memberi makan kepada kera.

Pada kawasan blok Bedul terdapat 27 jenis mangrove serta beberapa jenis burung seperti burung imigran australia, raja udang, elang laut dan beberepa jenis bangau. Luas hutan mangrove sekitar 1.200 hektar yang membentang sejauh 18 kilometer.

Tapi di sini, hewan special adalah ikan Bedul. Ikan jenis gabus ini bentuknya seperti lele sekaligus seperti kadal. Bisa berenang tetapi juga bisa merayap. Ada sirip lancip di atas pinggungnya. Warga kerap menangkap ikan ini untuk dijadikan lauk. Kata Robert, nama sungai Bedul diambil dari nama ikan tersebut.

Jika sudah lelah, wisatawan bisa beristirahat di gubuk-gubuk bambu yang didirikan di tanah lapang. Berdiri warung-warung berjajar di pinggir lapangan. Menunya sederhana tapi cukup alamiah; sate kerang, ikan bakar, jajanan kripik, es degan, dan lain-lain.

Usai dari wisata mangrove Bedul, penulis kembali ke pusat kota Banyuwangi. Persiapan besok pagi mengunjungi wisata air terjun Kampunganyar dan menyaksikan semarak Banyuwangi Ethno Carnival (BEC).

Wisata Baru: Air Terjun Kampunganyar


Kabupaten Banyuwangi tiada henti mengembangkan potensi wisata. Kali ini obyek wisata yang mulai digarap adalah air terjun Kampunganyar atau kerap disebut air terjun Jagir dan air terjun Tiga Bidadari.

Air terjun terjun yang terletak di Kampunganyar desa Taman Suruh kecamatan Glagah ini sebenarnya biasa saja. Sama seperti air terjun kebanyakan. Tapi sekilas tampaknya bakal menjadi primadona baru di Banyuwangi. Kuncinya adalah pengelolaan.

"Namanya juga air terjun, sejak dulu juga sudah ada. Hanya saja sekarang berbeda. Sekarang mulai ada pengelolaan. Turis Nusantara dan turis asing pun mulai berdatangan," tutur Slamet, pamong desa Kampunganyar yang bertugas merawat air terjun.

Benar memang, walau masih sederhana, beberapa fasilitas telah melengkapi sekitar air terjun. Tersedia lahan parkir yang luas. Jika datang dari arah jalan raya, tanjakan menuju lokasi air terjun sudah dibentuk undak-undakan. Setiap undakan disangga dengan bambu.

Ketika berjalan melintasi jalan setapak berundak itu, seperti ada sensasi tersendiri. Orang merasakan suasana kampung yang kental. Di sisi kiri terlihat kecuraman jurang. Melihat agak jauh, terpampang tebing batu yang sangat kokoh.

Setelah menempuh jarak sekitar 200 meter, gemericik air jatuh mulai terdengar. Dan tampaklah, dua buah air terjun. Tidak terlalu tinggi memang. Mungkin hanya sekitar 15 meter. Tapi orang di situ menjadi merasa nyaman.

Jatuhnya air membentuk kolam jernih. Beberapa pengunjung mandi di situ. Warga telah menyediakan dua kamar sederhana untuk ganti baju. Kamar berdinding bambu dan berpintu kain. Terdapat jembatan kecil yang menghubungkan antara kolam air terjun dengan kamar ganti. Lagi-lagi terbuat dari bambu.

Dua buah warung kecil berdiri di sekitar air terjun. Jangan dibayangkan harganya seperti di lokasi wisata umumnya. Harga dagangan di sini sangat murah. Memang penjualnya masih memakai standar harga desa. Untuk segelas kopi, pembeli cukup merogoh uang dua ribu rupiah.

"Beberapa bulan lalu Pak Bupati (Azwar Anas, red) datang ke sini. Memberi berbagai pengarahan. Ya beberapa sudah kita jalankan. Beberapa yang lain, belum. Kita jalani pelan-pelan. Meski begitu, ini mulai kelihatan hasilnya," tutur Slamet.

Slamet memaparkan, lokasi air terjun sejak dulu sudah didatangi orang-orang. Hanya saja masih berasal dari sekitar saja. Tapi kini setelah dikelola, wisatawan dari jauh kerap berdatangan, bahkan wisatawan dari manca negara.

"Kita belum menarik biaya masuk. Karena belum ada Perda dan Perdesnya. Ini sedang digodok. Jadi sementara ini gratis," ujarnya.

Tiap hari, katanya, pengunjung yang datang antara 50 sampai 70 orang. Pada hari Sabtu dan Minggu, pengunjung bisa dua atau tiga kali lipat.

"Pak Bupati minta warga lebih aktif terlibat. Rencananya, tiap Sabtu dan Minggu, warga sekitar akan berpakaian hitam-hitam untuk memperlihatkan ciri khas Banyuwangi," kata Slamet.

Warga juga mulai rajin berlatih tari. Rencananya, pengunjung bakal disambut dan dihibur dengan tari dan musik tradisional. "Sebenarnya tidak hanya menghibur. Tarian dan musik itu sekaligus memperkenalkan kesenian dan budaya masyarakat sini," ujarnya.

Selain dua air terjun yang bersampingan tersebut, tutur Slamet, sekitar jarak 300 meter, ada pula satu air terjun. "Pemandangannya lebih indah. Air terjunnya juga lebih tinggi. Tapi jalannya belum kita perbaiki. Ya kita memang masih pelan-pelan dan bertahap," katanya.

Begitulah, Banyuwangi memang terus bersolek. Segala potensi wisata dimaksimalkan dengan pengelolaan. Terkonsep dan terencana. Tidak semata-mata mengandalkan keindahan alam, daya tawar utamanya adalah pembangunan infrastruktur yang berkonsep budaya. Wisatawan tidak hanya datang melihat alam tetapi juga disuguhi oleh keelokan budaya lokal.

Semarak Banyuwangi Ethno Carnival


Selepas menikmati guyuran air terjun Kampunganyar, penulis kembali ke tengah kota untuk menyaksikan pergelaran Banyuwangi Ethno Carnival (BEC). Sebuah karnival yang berbeda dengan karnival-karnival di daerah lain.

Ketika tiba di lokasi, BEC ternyata belum dimulai. Sekilas, even ini tampaknya bukan saja ajang untuk mendatangkan wisatawan. Lebih dari itu, ini merupakan ruang kegembiraan warga, sebuah pesta rakyat.

Lihat saja, ratusan warga telah berdatangan sejak pagi. Mereka berkeliling melihat-lihat dan sebagian berbelanja souvernir khas tradisi Banyuwangi yang dijajakan di stan-stan pinggir jalan.

Lebih semarak lagi, sembari menunggu dimulainya BEC, puluhan remaja berebut selfie alias berfoto diri di atas panggung berlogo BEC dan bergambar seorang penari Seblang. Sambil cekikikan ceria, mereka bergiliran memotret diri dan temannya. Ibu-ibu dan anak kecil tidak mau kalah. Mereka turut pula selfie ceria.

"Kapan lagi bisa foto-foto seperti ini. Mumpung ada festival. Ramai sekali ini. Katanya banyak artis Jakarta pula yang datang," ujar Melva, salah satu remaja yang mengaku masih duduk kelas 2 SMP.

Sesaat kemudian, BEC dibuka oleh Bupati Azwar Anas. Di atas panggung, dengan mengenakan ikat kepala khas Banyuwangi, Azwar memperkenalkan BEC kepada seluruh pengunjung. Juga kepada Menteri Pariwisata Arief Yahya dan Menteri Sosial Khofifah Indra Parawansa yang turut hadir di deretan kursi kelas VIP.

"Jadi Pak Menteri dan Bu Menteri, ada yang membedakan BEC ini dengan karnival lain. Kalau di tempat lain, mereka memamerkan budaya dan gaya global, di BEC ini kita memamerkan kekayaan budaya lokal kepada dunia luar. Untuk saat ini, kita mengambil tema 'The Mystic Dance of Seblang'. Bentuk tari asli Banyuwangi yang sangat eksotis sekaligus mistis," kata Azwar Anas.

Ditambahkannya, Seblang juga sangat kental dalam kostum. Begitu pula musiknya. Sehingga, Seblang tersebut bisa menjadi titik tolak terhadap kreativitas lain.

"Minimal kita mengenalkan Seblang kepada generasi muda dan anak-anak sekolah. Perlu saya laporkan juga, seluruh sajian BEC ini murni berasal dari ide-ide para remaja dan masyarakat. Dananya swadaya. Jadi mereka membuat karya kreatif berdasarkan spirit dan tradisi Seblang," tuturnya.

Sementara itu, BEC dimulai dengan tampilan drumband. Berbeda dengan drumband umumnya, pada BEC ini para musisi menampilkan alat-alat musik umum dengan dipadukan alat musik tradisional Banyuwangi. Mereka juga tidak sebatas bermusik, dalam beberapa kesempatan, mereka menggoyangkan tubuh seperti gerakan penari.

Tampilan selanjutnya, seorang remaja putri yang menggunakan gaun tradisional Seblang. Uniknya, gaun tersebut 300 meter panjangnya. Gaun bermotif batik asli Banyuwangi itu turut diangkat olah 150 penari Gandrung.

Lantas muncul 200 ratu penari Seblang yang masih seusia SMP. Mereka melanggang-lenggok sedemikian anggun dan kadang kala ceria tetapi kadang mirip kondisi trance. Busananya yang berumbai-rumbai menambah kemeriahan.

Selanjutnya ada pula devile BEC 2014, ada 33 penari Sebang Olehsari yang kostumnya didominasi warna hijau, ada 67 peserta dengan tema Seblang Bakungan dengan dominan warna merah. Ada pula peserta memakai kostum bertema Porobungkil, yaitu terbuat dari buah-buahan dan palawija.

Beberapa artis ibukota turut pula hadir menyaksikan BEC. Misalnya Abdee Slank, Paramitha Rusadi, Ayu Azhari, Yati Octavia, dan Pangky Suwito. BEC 2014 ditutup oleh penampilan parade Barong Nusantara dan Kemanten Osing Banyuwangi yang akan menjadi tema BEC 2015 nanti.

Melihat semarak BEC, Menteri Arief Yahya memberi apresiasi positif. "Harapannya BEC ini mulai tahun depan masuk dalam kalender even nasional. Karena menterinya saya sendiri, maka langsung saya setujui," kata Arief Yahya.

Apresiasi positif juga datang dari Menteri Sosial Khofifah Indarparawansa. Menurut Ketua Muslimat NU ini, even seperti BEC bisa memacu kesejahteraan warga. "Jika seni dan budayanya maju, kesejahteraan masyarakat tentu juga turut terangkat," katanya.

Hari ketiga menjelang pulang, penulis mendatangi Pulau Merah di Kecamatan Pesanggaran.  Inilah salah satu tempat olahraga layar (surfing) dengan pemandangan terindah di dunia.

Ombak Pecah di Pulau Merah


Begitu tiba di Pantai Merah, deburan ombak langsung menyambut. Menyusuri pantai yang panjangnya tiga kilometer, wisatawan lokal membaur dengan wisatawan manca negara. Beberapa di antaranya bermalas-malasan dengan tiduran di bawah payung merah yang lebar.

Tempat yang berjarak 60 kilometer dari pusat kota Banyuwangi ini memang memiliki dua sisi berseberangan. Pertama, panorama indahnya membuat orang ingin malas beraktivitas. Maunya santai sambil menikmati alam. Kedua, deburan ombaknya membuat orang tertantang untuk semangat berselancar. Dengan ketinggian ombak sekitar 3 sampai 5 meter, peselancar yang baru pemula pun sanggup untuk unjuk kebolehan.

Keindahan pantai di kecamatan Pesanggaran ini semakin lengkap dengan adanya bukit (gunung kecil) di seberang pantai. Pulau Merah namanya. Bukit hijau subur setinggi 200 meter itu dikelilingi oleh pasir coklat kemerahan. Terlihat kokoh dari kejauhan.  Jika air sedang surut, wisatawan bisa berjalan menyeberang menuju pulau.

Mayoritas penduduk sekitar Pulau Merah beragama Islam. Tetapi, sikap toleransi warga terhadap pemeluk agama lain ternyata sangat bagus. Terbukti, di pantai itu berdiri sebuah pura Tawang Alun, tempat ibadah agama Hindu yang cukup besar. Pada upacara tertentu, pura tersebut dikunjungi oleh banyak warga Bali. Mereka bisa menyelenggarakan sembahyang secara aman tanpa gangguan.

Di belakang pantai, ada rerimbunan pohon bukit Tumpang Pitu. Itulah bukit yang menyimpan harta karun tidak ternilai, yaitu emas. Sebenarnya tidak hanya Tumpang Pitu, sepanjang pantai Pulau Merah juga mengandung emas. Hanya saja, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi berkomitmen untuk melarang eksplorasi emas di pantai.

“Kalau ekplorasi diperbolehkan, wisata pantai bakal terganggu. Tidak hanya itu, yang utama adalah, ekosistem laut bisa rusak. Padahal banyak hewan laut hidup di pantai ini. Nelayan juga menggantungkan hidupnya dari ikan-ikan di laut. Jika emasnya diekplorasi, bisa rusak semuanya. Ini komitmen Pak Bupati Azwar Anas,” tutur Mohammad Rofiq, staf Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi.

Tentang keindahan Pulau Merah, wisatawan manca negara pun telah mengakuinya. Demikian diungkapkan oleh Yogi Turnando, penggemar selancar sekaligus salah satu pemilik warung di pantai Pulau Merah. “Mereka (wisatawan manca negara, red) mengatakan bahwa pemandangan di sini merupakan salah satu yang terindah di antara pantai-pantai di dunia yang digunakan olah raga selancar. Sebab di sini, selain ada pulau Merah, juga terdapat pulau-pulau kecil,” katanya.

Tampaknya, kabar keindahan pantai Pulau Merah ini dikabar-kabarkan para peselancar manca negara ke sesama peselancar lain. Mereka seperti menjadi corong promosi ke luar negeri. Sehingga lama kelamaan, keberadaan Pulau Merah semakin terkenal.

Keindahan Pulau Merah tidak hanya dinikmati wisatawan, kondisi tersebut juga mendatangkan rezeki bagi warga sekitar. Berkat wisata yang ramai, ekonomi masyarakat tumbuh semakin pesat.

Wisata Ramai, Ekonomi Masyarakat Tumbuh


Kerapkali potensi alam tidak turut dinikmati warga sekitar. Warga hanya menjadi penonton. Justru warga mendapat dampak negatifnya, semisal kerusakan ekosistem dan pencemaran. Tapi ke semuanya tidak terjadi di pantai Pulau Merah.

Perempuan usia 48 tahun itu bernama Katmini. Pekerjaan sehari-harinya sebagai buruh tani di lahan milik Perhutani sekitar pantai Pulau Merah. Hasilnya tidak cukup banyak. Anak-anaknya pun hanya sanggup dibiayai sampai tamat SMA.

Sejak tahun 2011 ternyata terjadi perubahan besar di Pulau Merah. Wisatawan yang semula sedikit tiba-tiba menjadi sangat banyak. Tetangga-tetangganya pun mulai membuka usaha di lokasi wisata yang ombaknya cocok buat selancar (surfing) itu.

Ada yang menjadi penjaga tiket, merombak rumah untuk dijadikan penginapan, menjadi pengaman pantai, membuka warung, tukang parkir, sampai usaha persewaan payung. Katmini pun, walau agak terlambat, ikut-ikutan mencoba.

Katmini membuka warung kecil terbuat dari bambu. Menunya hanya lontong rujak, es degan, dan jajanan ringan. "Saya tidak kebagian tempat di dekat parkiran. Ya tidak apa-apa agak minggir di sini. Rezeki kan sudah ada yang mengatur," tuturnya.

Katmini menuturkan, berjualan sejak pagi sampai sore, dia biasa mendapatkan uang Rp 200 ribu. "Ini sudah harus disyukuri. Dari mana dapat uang segitu kalau tidak berjualan," katanya.

Untuk lokasi utama, yaitu dekat parkiran, kata Katmini, warung-warungnya buka sampai malam. Satu dua justru buka 24 jam. "Di sana penghasilannya tentu jutaan rupiah setiap hari. Ya memang mereka sudah lebih dulu buka warung," kata Katmini.

Cerita Katmini ternyata dibenarkan oleh Mohammad Rofiq. "Wisata Pulau Merah ini memang dikelola oleh warga sekitar, yaitu Kelompok Sadar Wisata. Mereka yang mengatur tiketing, parkir, penataan warung, dan keamanan pantai. Pemerintah hanya support saja," kata PNS usia 55 tahun ini.

Rofiq menjelaskan, pengelolaan diserahkan agar warga sekitar merasakan langsung dampak positif dari kunjungan wisatawan. "Dari tiket masuk, Pemda hanya mengambil 10 persen. Sisanya dibagi rata antara warga dan Perhutani sebagai pemilik lahan," katanya.

Bahwa pengelolaan diserahkan kepada warga, itu diakui Yogi Turnando. Meski begitu, pria usia 25 tahun yang menjadi koordinator penginapan di Pulau Merah itu tetap mengakui peran pemerintah sangat besar dalam hal promosi.

"Wisata di sini menjadi sangat ramai berkat even-even yang diciptakan Pemda. Misalnya Tour de Ijen yang dilewatkan di sini. Adanya lomba surfing tingkat internasional, kalau tidak salah waktu itu diikuti 15 negara. Juga promosi lewat televisi dan media massa. Banner-banner Pulau Merah yang dipajang di bandara. Tanpa itu semua, orang luar tentu tidak mengenal Pulau Merah," papar pemuda asli Pulau Merah yang buka usaha nasi ikan bakar itu.

Banyuwangi Menatap Masa Depan


Selepas dari Pulau Merah, penulis bersiap-siap pulang kembali ke Surabaya. Banyak kenangan yang menanjap di ingatan. Tidak hanya tentang keindahan alam, lebih dari itu, kekaguman terharap pengelolaan Banyuwangi sebagai daerah yang dikelola rapi, konseptual, modern tanpa meninggalkan tradisi. Sebuah pengelolaan yang patut dicontoh oleh daerah-daerah lain di Jawa Timur.

Banyuwangi sepertinya memahami, tempat indah tidak cukup untuk membuat wisatawan datang berbondong-bondong. Tempat indah perlu dipoles dan dipromosikan. Terbukti, pantai indah banyak terdapat di Jawa Timur, sayangnya, banyak pula yang dibiarkan terlantar tanpa progres konseptual.

Banyuwangi berbeda. Ketika Pulau Merah sudah dikelola, dipromosikan, dibikinkan even internasional; wisatawan datang berbondong-bondong. Usaha yang sama sedang dikerjakan di air terjun Kampunganyar. Juga tempat-tempat wisata lainnya. Jika ini secara konsisten diterapkan, dalam 10 tahun ke depan, Banyuwangi bisa menjadi penantang serius bagi wisata Bali.

Sebagai bentuk keseriusan, lihat saja daftar kegiatan yang digelar Banyuwangi pada tahun 2014 ini. Terdiri dari International Surfing Competition, Barong Ider Bumi, Seblah Olahsari, Banyuwangi Batik Festival, Banyuwangi Art Week, Festival Rujak Soto, Mamah Dedeh Ngaji Bareng Perempuan Banyuwangi, Tumpeng Sewu Kemiren, Seblang Bakungan, International Tour de Banyuwangi Ijen, Festival Anak Yatim, Festival Wayang Kulit, Kebo-keboan Aliyan & Alas Malang, BEC, Festival Ngopi Sepuluh Ewu, Festival Gandrung Sewu, Banyuwangi Jazz Festival, Festival Kuwung, Festival Ngarak 1771 Ancak, Malam Apresiasi Seni Banyuwangi, Agro Expo, International Advanture Traill, dan Refleksi Akhir Tahun bersama Ustad Yusuf Mansur.

Yang lebih mengagumkan lagi, Banyuwangi tidak secara serakah meraup keuntungan wisata. Tradisi dan etika moral yang dipegang masyarakat lokal tetap dihormati. Wisatawan tidak boleh sembarangan membuka baju di depan publik. Dunia gemerlap yang kerap mengarah pada tindak asusila di karaoke sudah jelas dilarang.

“Banyuwangi kita arahkan kepada wisata keluarga. Makanya, saat BEC, kita undang artis-artis yang telah berkeluarga,” ujar Azwar Anas.

Wisata Banyuwangi juga memperhatikan kelestarian lingkungan. Di Ngagelan misalnya, ada aturan-aturan khusus karena  pantai tersebut menjadi tempat penangkaran penyu. Di Pulau Merah, investor dilarang melakukan eksplorasi emas karena bisa menggangu ekosistem.

Selebihnya, Banyuwangi adalah tempat yang cocok untuk berpetualang. “Beberapa akses jalan ke lokasi wisata, kita sengaja biarkan tidak beraspal bagus. Sebab dengan kondisi makadam, itu merupakan sensasi tersendiri bagi jiwa petualang. Misalnya akses ke Alas Purwo dan Kawah Ijen,” kata Azwar.

Kesemua usaha Pemerintah Banyuwangi mendapat dukungan tinggi dari Pemerintah Provinsi Jatim melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. “Pariwisata tidak mungkin tanpa promosi. Pakai promosi saja hasilnya belum tentu bagus. Nah, Banyuwangi ini telah melangkah di jalan yang tepat. Sehingga saat ini, Banyuwangi menjadi salah satu andalan wisata tingkat regional dan nasional. Kita terus membantu sehingga bisa bersaing dengan Bali. Kita juga membantu mempromosikan di luar negeri,” kata Jarianto, Kepala  Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur.

Begitulah, Banyuwangi terus berbenah. Bermodal keindahan alam dan kekentalan tradisi masa silam, Banyuwangi menatap masa depan cerah. Menjadikan Banyuwangi yang nyaman untuk disinggahi. [but]

Tag : budaya

Komentar

?>