Rabu, 29 Maret 2017

Jalan Sunyi Mbah Karno

Rabu, 05 Nopember 2014 13:19:39 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Jalan Sunyi Mbah Karno
foto: cyberprolite.blogspot

Namanya: Sukarno Dwidjo Asmoro. Ia lahir di Nganjuk, Jawa Timur, 10 Juni 1943. Namun sebagian besar hidupnya diabdikan untuk dunia kesenian tradisional di Kabupaten Jember. Ia mendirikan Sanggar Seni Laras Agung agar sejumlah seni tradisi tak mati digilas zaman.

Saya bertemu dengan Mbah Karno di rumahnya di Kecamatan Gumukmas, Jember, pertengahan 2014 silam. Hari itu hari nan riuh. Sebuah panggung kecil berdiri di pelataran. Warga sekitar meriung, melingkar, menyaksikan beberapa remaja menari dengan diiringi tetabuhan gamelan. Ini perayaan atas hidup, perayaan atas perjuangan Laras Agung selama dua dekade lebih.

Sanggar seni ini berdiri pada 1 April 1992. Pengembangan seni budaya makin lama makin tersisih oleh pengaruh global. Mbah karno tahu itu. Ia nekat dengan biaya sendiri melestarikan lokalitas dengan cara mendirikan sanggar. Sanggar ini wadah kesenian yang beraneka ragam, terutama dari seni tradisional Jawa.

"Seni Jawa adiluhung pada akhirnya punah, misalnya wayang purwo, wayang orang, ketoprak, ludruk, janger dan seni lain, karena generasi muda makin lama makin enggan untuk melihat dan mempelajarinya. Mereka cenderung memilih kesenian modern, yang serba cepat dan alat serba canggih," kata Mbah Karno.

"Saya sudah merasakan bagaimana mempelajari seni tradisi memerlukan waktu lama. Kalau penari modern seperti breakdance, tak sampai sehari sudah bisa. Tapi menari remo, menari Gatot Kaca Gandrung, tarian Topeng Malang, memerlukan waktu lama," tambahnya.

Awalnya, Mbah Karno mengajarkan sendiri semua seni tradisi. Mulai dari mendalang, menabuh gamelan, karawitan, hingga tari tradisional. Mulai dari  ketoprak, ludruk, janger, hingga menyiapkan busana pengantin Jawa. Ia mengajarkan kepada siapa saja yang berminat: bocah taman kanak-kanak, mahasiswa, warga biasa.

Bekerja sebagai guru dan penilik kebudayaan membuat Mbah Karno dikenal baik oleh para guru dan kalangan akademisi perguruan. Ini membuat sanggarnya tak sepi peminat. "Rata-rata yang diterima di sini sekitar 50-60 setiap tahun, mulai dari tingkat TK sampai perguruan tinggi. Sekitar 75 persen siswa sini dari lingkungan Kecamatan Gumukmas, Kencong, Puger, dan Kota Jember. Yang dari Jember kebanyakan mahasiswa," katanya.

Mbah Kano tak memilih dan memilah. Dari sana kaderisasi berjalan. Beberapa muridnya kian ahli dan mempelajari seni tradisi secara formal di perguruan tinggi, seperti di Institusi Seni Indonesia Surakarta. Jumlahnya saat ini sepuluh orang dan Mbah Karno menyebut mereka sebagai soko guru.

Ada masa di mana Mbah Karno harus menghadapi masa sulit. Salah satu tantangan yang harus dihadapinya adalah meyakinkan para pemuka agama. Sebagian pemuka agama Islam yang puritan memandang ikhtiar Mbah Karno dengan tajam. "Ada yang masih tabu menyaksikan kesenian ini, karena katanya haram, katanya tak sesuai lingkungan sini," katanya.

Setiap kecurigaan, syak wasangka, berawal dari ketidakmengertian. Mbah Karno paham itu. Ia mendekati kalangan pesantren dan tokoh agama, memberikan penjelasan. Tak hanya dari ucapan, tapi juga dari laku. "Mbah Karno tak keberatan, suatu saat jika dibutuhkan pondok pesantren, kiai-kiai membutuhkan apa, kami bantu," katanya.

Saat ini, pemerintah sudah memberikan bantuan dana kepada Mbah Karno. Namun bertahun-tahun sebelumnya, ia dihadang masalah finansial. Dalam keterbatasan, Sanggar Seni Laras Agung dirawat dan dibiayainya sendiri. Mbah Karno tak mengeluh. Kelelahannya tuntas, setelah melihat anak-anak asuhnya bisa tumbuh dan hidup dari seni tradisi yang diajarkannya.

Tak ada yang memberikan puja-puji kepada Mbah Karno. Ia tahu, ia paham, bahwa jalan budaya adalah jalan sunyi.  [wir]

Tag : budaya

Komentar

?>