Kamis, 23 Februari 2017

Kebahagiaan dalam 30 Kilometer

Sabtu, 13 September 2014 17:54:23 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Kebahagiaan dalam 30 Kilometer

Jember- Gerak jalan Tanggul-Jember Tradisional bertahan selama puluh tahun, saat kegiatan serupa di sejumlah kota di Jawa Timur mulai tak lagi diselenggarakan atau jarang digelar.

Tahun ini, Tajemtra diikuti 16 ribu orang peserta. Mereka tak hanya terdiri atas orang dewasa atau pria, tapi juga perempuan dan anak-anak. Bahkan banyak juga keluarga yang ikut serta.

"Buat senang-senang saja," kata Binti Kusmiari. Hari ini, Sabtu (13/9/2014), perempuan berusia 25 tahun itu ikut berjalan kaki sejauh 30 kilometer bersama suaminya Soni Tri Lasmanto dan sang anak yang baru berusia 4,5 tahun, Nestadika.

Binti baru sekali ini ikut Tajemtra. Sang suami lebih berpengalaman. Tahun ini ia ikut karena sang anak merengek ingin ikut sang ayah. Apa boleh buat.

Tentu saja, mereka tak memburu kemenangan. Membawa anak kecil tentu susah. Baru berjalan satu kilometer lebih, Soni dan Binti harus berhenti di sebuah gardu tepi jalan untuk menidurkan Nesta. "Anak ini biasanya jam satu siang sudah tidur," kata Binti.

Mereka berjalan santai saja. Peserta resmi yang berjalan sampai garis akhir di alun-alun kota Jember akan mendapat sertifikat. "Tapi buat apa piagam. Yang penting bareng-bareng," kata Binti.

Kebersamaan lebih penting. Soni dan Binti tak sendirian, karena sejumlah tetangga mereka juga ikut serta. "Tajem ini bisa bertahan karena pesertanya dari ke generasi ke generasi. Yang sudah tua sudah tak ikut, diganti anak-anak mereka yang sudah besar. Begitu terus," kata Binti.

Kebersamaan juga jadi alasan Idris Sardi membawa istri dan tiga anaknya ikut Tajemtra. "Si Fia yang nyuruh ikut," katanya menunjuk sang anak sulung yang baru kelas 5 SD.

Mereka pun menempa fisik dengan berjalan kaki setiap sore selama sepekan. Hari ini Idris dan keluarganya tak sekadar jalan kaki. Mereka tampil mirip suporter sepak bola tim nasional Indonesia.

Ada tempelan stiker merah-putih bertuliskan I Love Indonesia. "Ini yang nyuruh beli juga anak-anak," kata Idris menunjuk stiker di pipinya.

Melihat ribuan orang berjalan kaki sejauh itu, saya jadi teringat Forrest Gump dalam film berjudul sama. Forrest adalah seorang cacat (kakinya polio) yang senang berlari. Suatu hari saat dewasa ia berlari dari satu pucuk Amerika Serikat ke pucuk yang lain di negara itu.

Orang-orang heboh. Media massa melempar spekulasi. Mereka butuh sensasi. Untuk apa Anda berlari, Bung? Untuk perdamaian? Protes? Bisnis? Memecahkan rekor dunia? Kepercayaan agama?

Forrest tidak menjawab. Ia malas menjelaskan dalihnya, walau memiliki banyak pengikut yang berlari di belakangnya tepat. Bagi Forrest, orang-orang itu tidak akan memahami. "Saya berlari karena hanya ingin berlari."

Sederhana. Hidup tak selamanya membutuhkan dalih rumit.

Hari ini saya juga melihat alasan sederhana itu ada pada ribuan orang antara Tanggul hingga Jember. Mereka hanya berjalan, karena bahagia. Jika demikian, siapa yang bisa membantah dan menakar kebahagiaan? (Wir)

Tag : budaya

Komentar

?>