Kamis, 16 Agustus 2018

Sriati, Perempuan Perkasa di Hari Kartini

Sabtu, 21 April 2018 22:18:11 WIB
Reporter : Tulus Adarrma
Sriati, Perempuan Perkasa di Hari Kartini

Bojonegoro (beritajatim.com) - Tangan yang mulai keriput itu masih kuat mengayunkan palu dengan keras. Memipihkan batang besi menjadi alat pertanian, pertukangan dan dapur. Menjalani aktivitas  itu sudah biasa dilakukan oleh Sriati (60), pandai besi asal Desa Kedaton, RT 02 Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro.

Setelah menikah dengan Masrun (55), Sriati mulai sering membantu suaminya bekerja sebagai pandai besi. Awal kali membantu suaminya bekerja, ia hanya mendapat bagian pembuat tuas sabit, cangkul, maupun sekrop dari kayu. Di kampung itu awalnya menjadi pusat tukang pandai besi, namun lambat laun mulai berkurang.

Salah satu yang sampai sekarang masih bertahan adalah milik pasangan suami istri tersebut. Berjalannya waktu usaha pandai besi itu terus berkembang. Ia kemudian memiliki dua pegawai (panjak). Namun, panjaknya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Sering tidak masuk kerja, kurang telaten dan lain sebagainya.

"Sehingga saya putuskan untuk tidak menerima panjak lagi. Akhirnya saya harus bisa ikut membantu dari proses awal sampai akhir," ujarnya, Sabtu (21/4/2018).

Ia mulai membantu suaminya memipihkan batang besi yang sudah dipanasi (gepuk) itu sejak 15 tahun terakhir. Namun, kini dia juga sudah menguasai semua proses pandai besi mulai dari gepuk, proses penghalusan dengan gerenda, penajaman mata cangkul maupun sabit dengan alat kikir, hingga pembuatan tuas.

Dari kerjasama pasangan suami istri itu mereka setiap hari bisa memproduksi alat pertanian, pertukangan maupun alat dapur mencapai 15 sampai 20 biji. Perbijinya ia hargai antara Rp30 ribu hingga Rp80 ribu. Bahkan, ia mengaku pernah ada perusahaan perkebunan dari Kalimantan yang pesan kepada dirinya sebanyak 1.000 buah sabit.

Sriati mengaku tidak pernah sakit maupun capek meskipun setiap hari harus bekerja keras. Ia memiliki cara sendiri untuk tetap menjaga stamina agar di usianya yang sudah tua masih kuat menjalani pekerjaannya sebagai tukang pandai besi.

"Kuncinya tidak pernah minum obat, hanya menggunakan jamu dari tanaman obat yang diolah sendiri," ungkapnya. [lus/suf]

Tag : perempuan

Berita Terkait

    Komentar

    ?>