Senin, 11 Desember 2017

Pengalaman Mengamankan Semeru FC vs Persebaya di Jember

Kapolres Jember: Digaji Rakyat, Kalau Tak Bisa Mengamankan, Saya Malu

Sabtu, 07 Oktober 2017 14:43:38 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Kapolres Jember: Digaji Rakyat, Kalau Tak Bisa Mengamankan, Saya Malu

Jember (beritajatim.com) - Kepala Kepolisian Resor Jember Ajun Komisaris Besar Kusworo Wibowo mendapat banyak pujian dari berbagai pihak, karena berhasil mengamankan pertandingan Semeru FC melawan Persebaya Surabaya, Rabu (4/10/2017), di tengah suasana panas pasca bentrokan Bonek dengan Persaudaraan Setia Hati Teratai di Surabaya.

Sejauh ini, baru dua kapolres di luar Surabaya yang berani mengamankan pertandingan Persebaya dengan massa ribuan orang, yakni Madiun dan Jember. Namun, Kusworo kalem saja menanggapi pujian kepadanya.

"Tugas polisi memang pengamanan. Saya makan gaji dari uang rakyat. Kalau saya tidak bisa mengamankan, saya malu makan gaji dari uang rakyat. Ada izin atau tidak ada izin pertandingan, saya harus siap," katanya, dalam rapat gevaluasi pelaksanaan pertandingan sepak bola Semeru FC melawan Persebaya, di gedung parlemen, Jumat (6/10/2017).

Kusworo bekerja keras mengantisipasi benturan massa, dengan mendatangi ketua cabang dan ranting PSHT di Kabupaten Jember beberapa hari sebelum pertandingan. "Saya mengondisikan agar tidak ramai. Saya membayangkan puluhan ribu Bonek datang berhadapan dengan massa PSHT," katanya.

Seluruh kepala kepolisian sektor diinstruksikan melakukan pendekatan dengan ketua ranting PSHT di tingkat kecamatan, sejak 1 Oktober 2017. "Sampai ke lini terbawah, harus disampaikan bahwa kita siap menjadi tuan rumah yang baik. Sampai saya bikin banner dengan foto Ketua PSHT cabang dengan ajakan tidak ada aksi balas dendam, untuk dipasang di kecamatan-kecamatan," kata Kusworo.

Kusworo berkoordinasi dengan jajaran kepolisian resor tetangga Jember dan kepolisian Surabaya agar ikut merazia massa dari kelompok manapun yang datang dari arah kota mereka. Intinya, cegah massa datang dengan membawa senjata tajam.

Kusworo meminta kepada rekan-rekannya di Surabaya agar tak memberikan izin Bonek berangkat malam hari. "Saya dengar informasi Bonek mau berangkat jam sebelas malam, sampai di sini subuh. Saya bilang: 'Jangan, Bang.' Kondisi anggota saya belum siap. Ini rawan. Akhirnya, Bonek berangkat dari Surabaya jam tiga, sampai di sini pagi," katanya.

Polisi mengantarkan para Bonek yang baru tiba ke Stadion Notohadinegoro yang menjadi titik konsentrasi massa. Problem muncul, karena tidak semua Bonek membawa bekal. Suporter Berni dan panita pelaksana hanya mempersiapkan makan siang, bukan sarapan.

Kusworo memutar otak. "Saya datangi semua warung di sekitar stadion. Saya kasih nomor ponsel saya. Saya bilang kepada pemilik warung: 'Bu, tidak usah khawatir, biarkan mereka makan. Berapa biayanya, saya ganti. Ini nomor HP saya," katanya.

Kusworo berpikir taktis, karena tahu Bonek yang tidak membawa bekal ini adalah suporter yang berangkat tanpa koordinasi. Jumlah mereka tidak sebanyak suporter Bonek yang berangkat terkoordinasi dan membawa bekal. Namun kendati jumlah Bonek yang tak membawa bekal lebih sedikit, mereka tetap harus diperhatikan. Kusworo kemudian menelepon Bupati Faida agar ikut membantu pembiayaan uang makan Bonek yang tak terkoordinasi tersebut.

Jam sepuluh siang, Kusworo mengumpulkan semua Bonek dan memberangkatkan mereka ke Stadion Jember Sport Garden. Dia kembali menelepon Bupati Faida. "Bu, saya pinjam semua kendaraan milik pemerintah daerah hari ini. Mau Dishub, Mau Satpol PP, mau Dinas Lingkungan Hidup, semua mobil saya pinjam untuk memulangkan Bonek ke Surabaya."

Di lapangan, Kusworo juga menyiapkan sembilan ekor anjing untuk menghadapi massa yang bersenjata tajam. "Kalau misalkan mereka tidak takut sama manusia, tinggal lepas anjingnya, biar berkelahi sama anjing," katanya.

Polisi semakin harus bekerja keras, karena hari itu banyak beredar berita bohong. Massa mudah disulut oleh berita bohong.

Dua jam sebelum pertandingan, setelah jatuh korban, Bupati Faida meminta Kusworo untuk membatalkan pertandingan. Namun pertandingan sudah tak mungkin dibatalkan. Sebanyak 15 ribu suporter Bonek sudah berada di dalam stadion. Membatalkan pertandingan justru membuat situasi makin parah. Akhirnya Kusworo memutuskan untuk mengimbau para suporter.agar pulang ke Surabaya dengan kendaraan yang disediakan aparat. "Kalau ada yang naik kereta api, hanguskan tiketnya. Kalau ada yang naik bus, hanguskan tiketnya," katanya.

Bonek mematuhi ucapan Kusworo. Bahkan seusai pertandingan mereka berhasil diredam polisi untuk tidak keluar kawasan stadion melakukan perlawanan terhadap massa yang menanti, sehingga tak terjadi pertumpahan darah lebih besar di dua kubu.

Hanya satu petunjuk Kusworo yang tak dipatuhi Bonek: mencopot atribut dan kaos hijau yang mereka pakai. Para Bonek menolaknya dengan menyanyikan lagu. "Kami ini Bonek Mania, kami selalu dukung Persebaya. Di mana kau berada, di situ kami ada, karena kami Bonek Mania."

Sementara itu di luar stadion, massa anti-Bonek berkumpul membawa senjata tajam. Polisi bertindak tegas dan mengeluarkan tembakan peringatan. Massa berhasil dipukul mundur. Seluruh ketua ranting PSHT dikumpulkan untuk ikut mengendalikan massa dan memulangkan mereka.

Kusworo benar-benar cemas, karena membayangkan kemungkinan terburuk. Ribuan Bonek pulang ke Surabaya melewati sejumlah kecamatan bentrok dengan kelompok-kelompok massa. Akhirnya ia memerintahkan pasukannya untuk membubarkan massa yang berkumpul di setiap jalan yang akan dilalui rombongan Bonek ke Surabaya.

"Alhamdulillah, pertolongan Allah, berkat pertolongan Allah, bukan karena bagusnya kami bekerja, 15 ribu orang bisa jalan ke Surabaya. Itu pun ternyata masih ada seribu orang Bonek yang belum bisa dipulangkan karena tidak ada kendaraan," kata Kusworo.

Dalam situasi demikian, bantuan datang dari sejumlah warga Jember. Kusworo mengontak sejumlah orang. Bantuan datang. Ketua Fraksi Kebangkitan Bangsa Hafidi meminjamkan tujuh unit bus sekolah Yayasan IBU miliknya. FKB juga merogoh kas untuk menyewa tambahan lagi. Juga ada pengusaha tebu Arum Sabil yang meminjamkan beberapa truk. Seluruh Bonek akhirnya bisa dievakuasi jam sepuluh malam dan bisa kembali ke Surabaya tanpa ada korban jiwa.

Kusworo mengaku sudah siap mempertaruhkan jabatan malam itu. "Saya ikhlas jabatan saya dicopot jika terjadi pembantaian massal."

Ucapan selamat meluncur ke ponsel Kusworo dari banyak orang. Di media sosial, sejumlah akun personal dan grup Bonek maupun warga biasa memberikan pujian. Kuworo juga menerima video ucapan terima kasih dan selamat dari manajer dan pelatih Persebaya, Chairul Basalamah dan Angel Alfredo Vera.

"Pak Kusworo luar biasa. Beliau beserta jajaran bekerja keras mengamankan kami sebagai tamu, tim Persebaya, dan suporter kami Bonek, sehingga suasana di Jember bisa kondusif," kata Basalamah.

"Saya lihat Pak Kapolres turun sendiri sampai malam. Semoga ini tetap dipertahankan. Menghadapi Bonek memang tidak mudah. Tapi Bonek sudah berubah dan kemarin 'match': teman-teman Bonek juga mengikuti apa yang disampaikan Pak Kapolres. Sekali lagi terima kasih," kata Basalamah.

Kusworo sendiri justru berterima kasih kepada orang-orang yang membantunya di masa genting itu. Keberhasilan pengamanan pertandingan Rabu itu disebutnya sebagai keberhasilan bersama. "Saya tidak mau dipuji. Saya tidak sedang cari suara," katanya. [wir/but]

Tag : tokoh

Komentar

?>